Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
177: Kebenaran yang Sebenarnya


__ADS_3

“Hanya satu cara untuk menjawab pertanyaan Anda Tuan Muda, jika pemuda bernama Ju Yan itu memiliki sebuah Kalung dengan taklik berupa kotak yang terbuat dari emas, maka kami bisa memastikan apakah dia Tuan Muda Qiang Yan atau bukan.”


Pernyataan Jenderal Teng Ji, membuat Zhu San tersenyum lebar. “Baiklah Paman, Aku akan memastikan sendiri hal tersebut. Paman tunggu saja berita dariku.” Zhu San lalu berdiri, berniat meninggalkan ruangan itu.


“Maaf Tuan Muda Zhu San, bolehkan Aku bertanya satu hal lagi?”


“Silakan Paman Jenderal.” Zhu San lalu menghentikan gerakan tangannya yang akan memberi hormat.


“Saya mengetahui bahwa di Kota Shinzu ada seorang bangsawan yang memiliki marga yang sama dengan Anda. Apakah Anda adalah Putera Bangsawan Zhu Han yang dikabarkan telah tiada itu?”


“Benar Paman Jenderal, Aku memang Putera Bangsawan Zhu Han. Tapi berita tentang kematian Ayahku belum bisa dipastikan kebenarannya.” Zhu San menjawab dengan sedikit berbohong tentang Ayahnya.


Hal itu sengaja Zhu San lakukan, karena bagaimana pun Ia harus tetap berhati-hati dengan keduanya sebelum memastikan identitas mereka berdua.


Zhu San pun lalu memberi salam hormatnya dan pergi meninggalkan ruangan itu dengan benak yang dipenuhi rasa penasaran akan identitas Bian Chi dan Ju Yan yang sebenarnya.


Sementara itu Jenderal Teng Ji dan Kolonel Weng Dan, saling tersenyum lebar.


”Saudara Dan, Jika Tuan Muda Zhu San ini adalah Putera Bangsawan Zhu Han, maka Yang Mulia Kaisar akan menerima sepenuh hati dirinya. Mengingat Yang Mulia Kaisar mengenal dengan baik Ayah Tuan Muda Zhu San.”


“Benar Jenderal Ji, aku pun berpikir demikian.” Jawab Kolonel Weng Dan.


“Ah panggil saja Aku Saudara Ji, kita bukan atasan dan bawahan dalam tugas ini, Saudara Dan.” Jenderal Teng Ji menunjukan wajah kesal mendengar panggilan Kolonel Weng Dan padanya.


Weng Dan pun menelan ludahnya, rasa hormat dan segannya bertambah besar pada atasannya itu.


“Setelah Tuan Muda Zhu San memastikan jika mereka berdua adalah sosok yang Kita cari, secepatnya Kita harus segera kembali. Sebelum pihak Kekaisaran Wei bergerak menyerang Kekaisaran Qing.” Raut wajah Jenderal Teng Ji terlihat khawatir ketika berkata demikian.

__ADS_1


Sebagai komandan bagian intelijen, Ia telah mengetahui jika Pangeran Qiang Cao yang berhasil melarikan diri ke Kekaisaran Wei, telah bekerja sama dengan Pihak Kekaisaran untuk merebut kembali Tahta Kekaisaran Qing.


Bayangan perang besar akan terjadi, adalah hal yang membuatnya merasa ingin cepat kembali ke Kekaisaran Qing.


****


“Ada apa saudara San, sepertinya ada hal penting yang ingin Kau sampaikan?” Ju Yan bertanya setibanya Ia, Qin Yu dan Bian Chi berada di ruangan mereka.


“Maafkan Aku Yan Gege. Ada hal yang bersifat pribadi yang Ingin kutanyakan kepadamu.” Zhu San menghela nafas sejenak.


“Yan Gege? Apa maksudmu memanggilku seperti itu saudara San?” Raut wajah Ju Yan menjadi serius saat berkata demikian.


“Tidak ada maksud tertentu, aku hanya ingin bertanya tentang sesuatu yang mungkin Yan Gege miliki sejak dari kecil, sebuah kalung yang bermata kotak emas kecil.”


Wajah Ju Yan seketika memperlihatkan rasa terkejut yang sangat hebat, membuat Bian Chi dan Qin Yu yang melihatnya menjadi heran.


“San Gege, mengapa kau bertanya demikian pada Yan Gege? Ada apa sebenarnya ini?”


“Darimana Kau mengetahui jika Aku memiliki Kalung ini Saudara San?” Ju Yan berkata sambil mengeluarkan kalung dari balik jubahnya yang selama ini selalu Ia tutupi keberadaannya.


Zhu San pun tersenyum, Ia memandang Bian Chi dengan tatapan penuh kasih.”Benda itulah yang menjadi alasanku memanggilmu Yan Gege. Karena namamu yang sebenarnya adalah Qiang Yan bukan?”


Wajah Ju Yan seketika berubah marah. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba mengepalkan tangan dengan sangat erat. Qin Yu pun segera mendekati tunangannya itu, berusaha menenangkannya di sela rasa terkejutnya.


“San’er dari mana Kau tahu nama asliku itu? Siapa yang mengatakannya padamu?” Ju Yan berkata dengan tatapan yang dipenuhi oleh kemarahan.


Setelah menelan ludahnya itu, Zhu San lalu menceritakan ulang apa yang Ia dengar dari Jenderal Teng Ji. Tubuh Bian Chi bergetar hebat ketika Zhu San selesai dengan ceritanya.

__ADS_1


“Mengapa mendiang guru, tidak menceritakan hal ini padaku? Mengapa?” Airmata Bian Chi segera mengalir deras setelah mengetahui jika kedua orang tuanya masih hidup bahkan menjadi Kaisar di negeri kelahirannya.


“Karena Guru telah berjanji kepada Ayah dan Ibumu untuk merahasiakan indentitas kita sampai mati, demi keselamatan kita berdua. Ayah dan Ibumu merasa tidak bisa selamat dari rencana keji Paman Qiang Cao. Namun siapa sangka langit berpihak pada Paman dan mengangkatnya menjadi Kaisar.”


Ju Yan yang tak ingin Bian Chi menyalahkan guru mereka berdua yang telah begitu banyak berjasa pada, segera menjawab pertanyaan Bian Chi, yang seketika terdiam memandang Ju Yan dengan tajam.


“Yan Gege, Kau telah tahu sejauh itu dan masih merahasiakannya padaku? Kenapa!” Bian Chi seketika marah dan membentak Ju Yan.


“Chi’er! Tenangkan dirimu! Yan Gege pasti punya alasan melakukan hal itu!” Qin Yu yang tidak terima tunangannya dibentak oleh Bian Chi, seketika balas membentaknya.


Zhu San dan Ju Yan akhirnya menjadi repot ketika Bian Chi dan Qin Yu mulai berdebat dan bersiap untuk bertarung. Setelah kedua perempuan itu berhasil diredam kekesalan hatinya, Ju Yan Lalu kembali berbicara.


“Chi’er … Kau telah menikah, kau harus lebih dewasa dalam hal mengendalikan diri. Sifatmu yang mudah marah ini, membuat Guru memintaku untuk menjelaskan semuanya setelah Beliau Wafat. Hanya saja situasinya membuat aku belum bisa menjelaskannya.”


“Baiklah jika begitu, semua sudah jelas. Saat ini Jenderal Teng Jin sedang menungguku. Sebaiknya kita berempat menemui mereka sekarang.”


Zhu San akhirnya memutuskan hal tersebut, Ju Yan pun menyetujuinya. Ia meminta jika hal ini harus dirahasiakan dan hanya mereka berempat saja yang boleh mengetahuinya.


Keempatnya segera menuju ke penginapan dimana Jenderal Teng Jin dan Kolonel Weng Dan berada selama ini.


Setibanya di ruang tempat mereka menginap dan setelah duduk dan memberi salam, Ju Yan pun lalu mengeluarkan kalung yang bermata kotak dari Emas.


“Apakah Kalung ini yang paman berdua cari?” Ju Yan berkata sambil menunjukan huruf yang tertulis di salah satu sisi Kotak emas itu, dimana tertera nama ayahnya, Qiang Hung.


Kalung itu Ju Yan ingat adalah Kalung yang diberikan oleh Kakeknya, Kaisar Qiang Hu kepada setiap anaknya.


Setelah melihat kalung yang serupa dengan kalung yang dimiliki oleh Sang Permaisuri Qiang Ji atau Ibu Bian Chi itu, Jenderal Teng Ji dan Kolonel Weng Dan tiba-tiba berlutut, membuat mereka semua terkejut melihatnya.

__ADS_1


“Hormat Kepada Pangeran Qiang Yan dan Tuan Puteri Shi Ling.”


******


__ADS_2