
Peperangan itu telah terhenti sejenak sebelum kemunculan Zhu San dan Bian Chi. Hal itu karena adanya suara yang menggelegar, saat Zhu San dan Bian Chi menembakkan energi mereka untuk membuat Terowongan Dimensi.
Setelah suara menggelegar, di langit terbentuk gumpalan awan hitam yang bergulung- gulung seperti yang dilihat oleh Zhu San dan Bian Chi, sebelum mereka memasuki Alam Jiwa.
Saat ribuan orang itu melihat sepasang muda- mudi keluar dari terowongan awan hitam, wajah mereka memperlihatkan rasa takjub dan benak yang dipenuhi pertanyaan, di pihak mana keduanya berada.
Sorak sorai prajurit kota Songdu, membuat ribuan prajurit Aliansi Aliran Hitam akhirnya mengetahui, di pihak mana kedua orang yang sedang melayang itu berada.
Rasa jerih mulai terlihat pada wajah mereka. Namun suara teriakan agar kembali menyerang dari pemimpin mereka, segera membuyarkan rasa itu.
Zhu San terlihat kesal saat ribuan orang itu mulai kembali bergerak memasuki Kota Songdu yang gerbangnya telah hancur. Sementara para prajurit Kota Songdu berusaha menahannya.
Zhu San segera melesat ke arah pintu gerbang, Pedang Yinyang segera Ia keluarkan dan melemparnya ke bagian terdepan pasukan lawan yang telah bertarung dengan prajurit Kota Songdu.
Tanpa bersuara, Pedang Yinyang segera beraksi dengan membantai mereka yang berada dekat dengan pintu gerbang itu. Rasa terkejut para prajurit, berubah menjadi teriakan kematian dan juga ketakutan.
Mereka yang berada cukup jauh dari pedang itu, segera berbalik untuk berlari menjauhinya. Namun Zhu San menghadang mereka bersama Bian Chi yang sudah mencabut pedang Yangyin miliknya.
Dalam beberapa menit, ratusan prajurit tewas oleh aksi Zhu San dan Bian Chi serta Pedang Yinyang.
Jika saja Bian Chi telah mempelajari teknik dalam Kitab Yangyin, mungkin saat ini akan ada dua pedang yang menjadi Dewa Kematian bagi prajurit Aliansi Aliran Hitam.
Setelah sepuluh menit sejak kedatangan Zhu San, kini setidaknya dua ribu orang prajurit Aliansi Aliran Hitam telah tewas.
Pedang Yinyang adalah penyebab terbanyak dari kematian itu. Pedang yang bergerak dengan sangat cepat, itu selalu membunuh lawannya dengan satu kali serangan tusukan yang menembus tubuhnya.
Selain itu, hujan anak panah yang kembali di lesatkan oleh Prajurit Kota Songdu dari atas tembok pagar adalah penyumbang terbanyak ke dua yang menyebabkan kematian prajurit Aliansi Aliran Hitam.
“Mundur! Mundur!” Teriakan Jenderal pemimpin prajurit Aliansi, sontak membuat ribuan orang bergerak menjauhi Zhu San dan Bian Chi.
__ADS_1
“Pasukan Pemanah bersiap!” Sang Jenderal kembali memberi aba-aba. “Serang!!”
Seiring suara Sang Jenderal yang berteriak sangat keras, ribuan anak panah pun melesat ke arah Zhu San dan Bian Chi.
Melihat hujan anak panah itu, Zhu San segera menarik kembali Pedang Yinyang. Dengan cepat Zhu San menggunakan jurus ke tiga dari Kitab Yinyang.
“Pedang Angin Yinyang!”
Zhu San lebih banyak mengalirkan energi Yang di dalam tubuhnya, sehingga dari ujung Pedang Yinyang, melesat Angin Tornado yang panas dan segera membesar dan terus membesar.
Ribuan anak panah yang hampir mengenai Zhu San dan Bian Chi, segera saja tersapu putaran Angin Tornado yang semakin lama semakin membesar.
Angin itu seperti halnya payung yang melindungi pemakainya dari tetesan air hujan. Tak ada satu pun anak panah yang mengenai Zhu San atau Bian Chi.
Zhu San segera mengubah arah ujung pedang, dari menghadap ke udara, kini menghadap ke arah dimana ribuan prajurit Aliansi Aliran Hitam berada.
Angin Tornado itu, segera saja mengikuti pusat putaran yang berada di ujung pedang. Gerakannya sekarang mendatar dan segera menyapu ratusan prajurit yang berada paling depan.
Sang Jenderal yang tadi memberi perintah, terlambat untuk bergerak menjauhi Zhu San. tubuhnya pun tergulung angin yang berhawa sangat panas itu, bersama ratusan prajuritnya yang telah tewas terbakar.
Sang Jenderal pun menemui ajalnya, dengan tubuh yang menghitam. Semua mayat yang jatuh tidak ada satupun yang memiliki rambut di kepalanya.
Sesaat kemudian Angin Tornado itu menghilang bersama dengan Zhu San yang jatuh terduduk. Tenaga dalamnya telah menipis dan kurang dari tiga puluh persen lagi.
“San Gege! …” Bian Chi yang sedari tadi diam karena takjub melihat jurus yang Zhu San gunakan, segera tersadar dan melesat ke arah dimana Zhu San berada.
Sementara belasan ribu prajurit Aliansi Aliran Hitam, telah mundur dan kini berjarak lebih dari dua ratus meter dari tempat mereka berdua.
“San Gege! … Bagaimana kondisimu?” Bian Chi segera duduk di samping Zhu San yang masih sedikit terengah-engah.
__ADS_1
“Aku tak apa-apa, hanya saja tenaga dalam ku berkurang banyak. Mungkin saat ini hanya tersisa kurang dari tiga puluh persen saja.”
Zhu San menjawab sambil menatap belasan ribu prajurit Aliansi Aliran Hitam yang kini telah berhenti dan kembali menyusun barisan mereka.
“San Gege … Kemanakah Guru dan Paman Song Ruo serta Yu’er? Mengapa aku tidak melihat mereka di atas tembok pagar kota Songdu?”
Pertanyaan Bian Chi menyadarkan Zhu San yang membuatnya terdiam, mencoba mencari tahu mengapa mereka tidak terlihat berada di atas gerbang timur kota Songdu .
Zhu San pun memandang ke arah belasan ribu prajurit Aliansi. Sesaat kemudian Ia teringat sesuatu yang membuat wajahnya tiba-tiba berubah menjadi tegang.
“Chi’er segera pergilah ke Kediaman Paman Ruo! Cepat! Mungkin mereka sedang diserang oleh pasukan khusus Aliansi yang merupakan para pendekar!” Zhu San berkata dengan keras mengejutkan Bian Chi.
“Iya baiklah, San Gege jaga dirimu!!” Bian Chi yang sedari tadi mengkhawatirkan gurunya, segera melesat ke udara menuju pusat Kota Songdu.
“Tak ku sangka situasinya akan seburuk ini?” Zhu San berkata dalam benaknya saat Ia sedang menyerap Energi dari Kristal Yinyang yang berada di pangkal bilah Pedang Yinyang.
“Pantas saja gerbang timur berhasil di hancurkan oleh lawan. Karena Nenek Lin Mi dan Juga Paman Ruo tidak berada di sini.”
Zhu San berkata sambil terus menyerap energi Kristal Yinyang. Matanya menatap lurus ke depan dan berharap jika belasan ribu prajurit itu, tidak kembali dan menyerang dirinya.
Namun harapan Zhu San tidak mewujud nyata. Melihat dirinya sedang duduk, seorang Jenderal lain yang memimpin prajurit itu, segera berteriak untuk kembali menyerang.
Entah apa yang dia katakan, ribuan prajurit yang awalnya merasakan ketakutan, kini bergerak kembali dengan wajah yang dipenuhi oleh kemarahan dan nafsu membunuh.
“Gawat … mereka mulai bergerak lagi!’ Zhu San yang melihat hal itu, menjadi sedikit panik. Ia merasakan energi tenaga dalamnya baru pulih sekitar lima puluh persen.
“Bagaimana caraku menghadapi dan menahan mereka semua?” Zhu San bertanya dalam benaknya sendiri. Beberapa saat kemudian Senyum Zhu San terkembang saat Ia menemukan cara untuk menahan mereka.
*****
__ADS_1
Lebih baik langsung dua chapter diwaktu bersamaan atau dua chapter di waktu yang berbeda seperti sebelumnya?
Jangan lupa Like di setiap Chapternya.