
Bian Chi yang mengkhawatirkan Ayah dan Ibunya segera melesat ke bangunan tempat dimana mereka berdua berada. Dan Ia menemukan situasi yang membuat amarahnya kembali memuncak.
Bayangan Semu dan dua anak buahnya sedang di keroyok oleh lima orang yang memiliki kemampuan setara dengan mereka bertiga, hingga membuat ketiga pengawal pribadi Ayahnya itu, terdesak dengan luka di tubuhnya.
Bian Chi segera melesat ke tengah-tengah pertarungan dengan sangat cepat sambil melepaskan Tapak Naga Es. Hal itu membuat satu orang lawannya harus tewas dengan tubuh yang membeku.
“Tuan Puteri Shi Ling! Ah Syukurlah.” Si Bayangan Semu segera berteriak senang melihat kedatangan Bian Chi. Demikian juga dengan dua orang anak buahnya.
Empat orang lawan yang bergerak mundur setelah melihat rekan mereka tewas oleh satu serangan, melotot lebar melihat yang membunuh rekan mereka dengan mudah, ternyata seorang gadis cantik.
“Lindungi Ayahku! Biar aku yang mengurus mereka!”. “Siap Tuan Puteri!” Si Bayangan Semu dan tiga orang lainnya segera melesat masuk ke dalam ruangan besar.
Si Bayangan Semu dan dua anak buahnya segera membantu Sosok lelaki berusia Sekitar lima puluh tahun yang sedang bertarung dengan tiga orang lawannya.
Sementara Permaisuri Qiang Ji berada dekat dengan mereka dengan tangan memegang pedang, melindungi suaminya Kaisar Shi Hung dari lawan yang mendekat ke arah mereka.
Kedatangan Bayangan Semu dan dua Anak buahnya, membuat jalannya pertarungan itu berubah menjadi berbalik. Ketiga orang yang hendak menghabisi Kaisar Shi Hung, mulai terdesak hebat.
Sementara di halaman bangunan itu, Bian Chi yang sudah sangat marah, mengeluarkan kekuatan yang membuat keempat lawannya, harus menelan ludah mereka.
“Kalian! Berani sekali menyerang Istana Ayahku! Rasakan ini!” Bian Chi bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata ketiga lawannya yang lain.
Ketiganya tewas dengan satu kali serangan dengan tubuh yang membeku, terhantam jurus Tapak Naga Es Yinyang dari Bian Chi. Sementara satu orang lain sempat menghindari serangan Bian Chi yang bisa Ia lihat.
“Siapa gadis ini? Kecepatannya sangat tinggi?” Ia tertegun untuk sesaat. Namun Bian Chi tak memberinya jawaban atas pertanyaan dalam benaknya, melainkan memberi serangan yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Hanya dua kali saja serangan Bian Chi bisa Ia hindari. Pada kali yang ketiga, tapak tangan Bian Chi mendarat telak di punggungnya hingga membuat tubuh pendekar itu membeku dan tewas sebelum menyentuh tanah.
Bian Chi segera melesat masuk ke dalam dimana terdengar jerit kematian. Tepat saat Ia mask, satu orang lawan yang menyerang Ayahnya berhasil dibunuh oleh sosok yang tidak Ia kenali.
__ADS_1
“Ling’er … Syukurlah Kau telah kembali Nak!” Kaisar Shi Hung berteriak keras melihat Bian Chi memasuki ruangan itu.
Bian Chi hanya tersenyum sesaat ke arah Ayahnya sebelum Ia melesat dan membunuh kedua lawan yang mencoba membunuh Ayahnya.
Pertarungan pun seketika berakhir. Permaisuri Qiang Ji dan Kaisar Shi Hung segera menyambut Bian Chi dengan pelukan erat.
“Ling’er … Berilah salam pada Pamanmu Shi Lung. Ia telah datang beberapa hari yang lalu dan melindungi kami dari serangan Ketiga orang itu.”
Kaisar Shi Hung segera mengenalkan pria yang tadi berjibaku melawan tiga orang itu kepada Bian Chi. Dia adalah Adik Sepupu dari Ayahnya.
Bian Chi pun segera memberikan salam dan penghormatannya kepada Shi Lung yang masih memandanginya dengan tatapan penuh kekaguman.
“Dimana San’er?” Tanya Permaisuri Qiang Ji. “Ia sedang membantu yang lainnya menghadapi lawan. Ayah, Ibu tetaplah disini bersama mereka, Aku akan membantu yang lainnya.”
Bian Chi segera melesat keluar dari ruangan. Sesampainya di halaman bangunan itu, Ia melihat betapa situasi masih sangat kacau. Bian Chi segera melesat dan mengeluarkan pedang Phoenix dari Cincin Jiwanya.
Tanpa berbasa-basi lagi, Bian Chi menyerang lawan Jenderal Teng Ji yang tewas tertebas pedangnya setelah lima kali serangan.
Ia pun segera melesat ke tempat lain, membunuh setiap lawan yang Ia lihat dan lantas membunuhnya dengan dua hingga tiga kali serangan saja.
Akhirnya Ia tiba di dekat tempat dimana Zhu San tengah bertarung di udara dengan lawan yang memiliki kemampuan tinggi. Sementara Xiong Gi dan Lu Fang sedang menghadapi seorang Lawan yang bisa menahan serangan kedua sesepuh itu.
“Sesepuh! Biar Aku yang melawannya!” Bian Chi berkata setelah Ia melesat ke udara dan berada di dekat mereka bertarung.
Xiong Gi dan Lu Fang yang mulai terdesak, segera melesat mundur menjauhi lawan dan mendekati Bian Chi.
“Tuan Puteri, bagaimana yang Mulia Kaisar? Apakah Ia baik-baik saja?” Tanya Lu Fang yang membuat Bian Chi terharu. Walau keduanya mengalami luka, namun mereka lebih peduli kepada Ayahnya daripada luka mereka sendiri.
“Sesepuh berdua tidak perlu khawatir, Ayah dan Ibu baik-baik saja sedang dilindungi oleh Paman Shi Lung dan Paman Bayangan Semu. Siapa dia Paman? Kemampuannya cukup tinggi.” Tanya Bian Chi sambil menatap Lawan mereka berdua tadi.
__ADS_1
“Tuan Puteri hati-hatilah, Ia adalah Zhuang Ji Ketua Sekte Awan Merah dari Kekaisaran Wei.” Jawab Xiong Gi yang mengenali siapa sosok Kakek yang sedang berdiri menatap mereka dengan kesal.
“Apakah Kalian sudah selesai mengobrolnya? Ayo kita lanjutkan pertarungannya!” Tanya Zhuang Ji dengan suara bernada mengejek.
“Sesepuh, biar Aku yang membunuh si Tua bangka itu. Karena Ia berani menyerang Istana Ayahku.” Bian Chi meminta izin sambil melesat ke arah Zhuang Ji berada.
“Apa Kalian berdua bercanda? membiarkan seorang gadis muda untuk bertarung denganku?” Tanya Zhuang Ji sambil menatap ke arah Xiong Gi dan Lu Fang dengan nada mengejek.
Jika saja tidak di malam hari, mungkin Zhuang Ji bisa melihat senyum lebar kedua orang itu yang mentertawakan kesombongannya.
Bian Chi segera melesat menyerang Zhuang Ji karena marah diremehkan olehnya. Serangan cepat itu, berhasil membuat Zhuang Ji terkejut walau Ia berhasil menangkis dengan pedangnya yang berbilah warna merah.
Tangannya terasa kebas saat mereka berbenturan senjata tadi. Hal yang menunjukan jika tenaga dalam gadis di depannya itu, tidak lebih rendah darinya.
“Hohohoho begitu rupanya. Kau memiliki kemampuan yang lumayan juga.” Zhuang Ji masih bersikap jumawa setelah Ia melesat mundur menjauhi Bian Chi.
“Cih! Dasar Tua Bangka cerewet!” Bian Chi yang telah sangat marah sedari tadi segera kembali menyerang Zhuang Ji dengan lebih cepat dan lebih kuat.
Zhuang Ji yang sudah mengalirkan tenaga dalam lebih besar dari sebelumnya, menangkis kembali serangan yang dilesatkan Bian Chi. Dua Pedang pusaka itu, kembali berbenturan menimbulkan gelombang kejut di udara.
Lagi-lagi Zhuang Ji terkejut saat merasakan tangannya lebih kebas bahkan tubuhnya terjajar ke belakang hingga dua meter.
Raut wajahnya berubah saat melihat Bian Chi menyerangnya kembali dengan sangat cepat dan mematikan. Keduanya pun mulai bertukar serangan dengan dahsyat.
******
Hari ini satu Chapter dulu ya🙏🙏🙏
Ada acara tujuh Harinya Kepergian Ibu.
__ADS_1