
“Nyonya Mu Rong … Jangan takut. Saya Rei Ji, maaf telah kurang ajar memasuki ruangan pribadi Anda.”
Rei Ji berkata setelah Ia melompat turun dari atas dan masuk dengan menjebol genteng bangunan kediaman Bangsawan Zhu Han.
Ia pun segera berkata seraya menarik topeng hitamnya, saat melihat wajah Mu Rong begitu ketakutan karena kemunculan dirinya dari atas bangunan.
Rei Ji merasa sangat iba melihat keadaan Ibu Zhu San tersebut. Wajahnya terlihat tirus dan tubuh yang juga kurus.
“Saudara Rei Ji … Kenapa Kau nekad datang kemari? Tempat ini sangat berbahaya, cepatlah pergi sebelum suamiku pulang.”
Mu Rong berkata demikian setelah Ia mengenali Rei Ji dan juga mendengar suara keributan dari arah depan bangunan itu.
“Tidak Nyonya Mu Rong … Aku ke sini karena perintah seseorang yang ingin bertemu denganmu. Orang itu memiliki kemampuan beladiri yang tinggi dan sedang bertarung di depan.”
Rei Ji sengaja tidak menyebutkan siapa yang memerintahkan dirinya.
Hal itu karena Zhu San meminta Rei Ji, untuk tidak menyebutkan keberadaan dirinya.
Saat mendengar jika dirinya masih hidup, maka Ibunya itu pasti akan segera menemui dirinya yang tengah mengalihkan perhatian para penjaga di kediaman itu.
“Tidak … Aku akan tetap di sini, Aku tidak bisa pergi ber … “
Perkataan Mu Rong terputus saat Rei Ji segera bergerak dengan cepat, menotok Ibu Zhu San hingga hilang kesadarannya.
Rei Ji segera bergerak untuk meraih tubuh Mu Rong dan dengan cepat memanggulnya.
“Maafkan kelancangan saya Nyonya … Ini semua atas perintah Tuan Muda Zhu Lung, putera anda yang ternyata masih hidup.”
Rei Ji berkata seraya melesat keluar dari pintu setelah memastikan tidak ada orang yang melihatnya.
Ia pun segera melompat kembali ke atas atap dan bergerak dengan cepat melompati atap demi atap bangunan lainnya.
Beberapa saat kemudian, Ia telah sampai dimana Komandan Zhao Fan menunggu mereka pada jarak dua ratus meter dari Gerbang Barat Kota Shinzu.
Suasana malam yang gelap, membuat keberadaan mereka di balik pepohonan tidak terlihat oleh para prajurit penjaga kota Shinzu.
“Saudara Rei … Bagaimana situasi Lung’er saat ini?” Komandan Chao Fan segera bertanya kepada Rei Ji setelah Ia meletakan Tubuh Mu Rong di atas sebuah kuda.
__ADS_1
“Ia baik-baik saja, Chou Bai sepertinya sedang tidak berada di kediaman itu. Aku sempat melihat sekilas, Lung’er sedang di keroyok oleh dua orang pengawal pribadi Chou Bai.”
Rei Ji segera menjawab pertanyaan Komandan Chao Fan. Lalu Ia mendatangi salah satu dari sepuluh anak buahnya yang mengenakan topeng hitam seperti dirinya.
“Shinobi ke 9 Kau jaga Nyonya Mu Rong dengan naik kuda bersamanya. Yang lainnya kawal mereka berdua.”
“Baik Ketua …”
Suara seorang perempuan terdengar dari balik topeng yang dipanggil sebagai Shinobi ke 9 itu.
Diantara sepuluh orang anak buahnya yang tergabung dalam kelompok yang bernama Pasukan Heise itu, dua diantaranya adalah perempuan muda.
Rei Ji pun meminta Komandan Chao Fan memimpin Enam orang Pasukan Heise yang ikut bersama dengan mereka.
Rei Ji lalu kembali melesat setelah melihat Komandan Chao Fan bergegas pergi dengan menaiki kudanya.
Kurang dari satu menit Ia telah sampai di atap bangunan Kediaman Bangsawan Zhu Han, dimana di halaman depan, terlihat Zhu San sedang bertarung melawan tiga orang Pengawal Pribadi Chou Bai.
Rei Ji tak berhenti berdecak kagum, melihat tingginya kemampuan Zhu San yang dengan lihainya, menghindari setiap serangan yang datang dengan cepat dan mematikan itu.
Jurus yang mengandalkan tebasan beruntun dan berubah-ubah arah dengan cepat itu, terlihat tidak bekerja pada tubuh Zhu San membuat pedangnya seolah-olah tumpul.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Peng Hu dan Di Yun. Golok Besarnya yang sangat tajam, seperti membentur baja saat mengenai tubuh pemuda yang jubahnya telah sobek di banyak bagian.
Di Yun merasakan firasat buruk ketika ia melihat senyum tak manis pemuda lawannya, saat melihat ke arah atap bangunan.
Zhu San yang menyadari kedatangan Rei Ji yang mengacungkan jempolnya, segera melompat dan menjauhi ketiganya.
Mengetahui Ibunya telah diselamatkan, membuat Zhu San tak ingin lagi mengulur waktunya.
Ia pun segera mengeluarkan Pedang dari Cincin Jiwa Yinyang. Hal itu membuat ketiga lawannya sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Sebuah pedang dengan bilah berwarna merah api dan biru keputihan muncul secara ajaib saat Zhu San mengangkat tangan kanannya ke udara.
Hawa udara pun seketika berubah drastis dalam radius sepuluh meter. Membuat tubuh ketiga pengawal Chou Bai itu segera merasakan sensasi yang menakutkan.
“Tak salah lagi … Itu Pedang Yinyang Legendaris seperti yang pernah diceritakan oleh guru. Melawan orang yang memegang pedang itu sama saja mencari mati.”
__ADS_1
Tubuh Cong Hai menjadi bergetar hebat setelah berkata demikian dalam benaknya. Ia pun berencana melarikan diri ketika mendapat kesempatan untuk itu.
“Baiklah … sekarang Aku tidak akan bermain-main lagi. Sebelum kalian pergi ke neraka, akan kuberitahu mengapa kalian harus mati di tanganku.”
Zhu San lalu mengusap wajahnya dengan tangan kiri beberapa kali. Sesaat kemudian wajahnya kembali ke wajah aslinya.
“Aku adalah Zhu San, putera Bangsawan Zhu Han yang telah kalian aniaya dan kalian lemparkan tubuhnya ke dalam jurang tiga tahun yang lalu.”
Ketiga lawan lawan Zhu San terperanjat, mereka tidak menduga bahwa apa yang mereka lakukan tiga tahun lalu diketahui oleh orang lain.
Mereka pun tidak punya waktu untuk terkejut lebih lama. Hal itu karena Zhu San telah melesat dengan kecepatan tinggi seraya menebaskan pedangnya.
TRAAK
AARRGGGH
Golok besar di tangan Peng Hu patah menjadi dua, saat Ia menahan tebasan Pedang Yinyang Zhu San.
Pedang itu terus melaju dan membuat tubuh Peng Hu terpotong menjadi dua bagian dengan darah yang mengalir deras.
Wajah Di Yun dan Cong Hai seketika memucat saat melihat kematian Peng Hu yang mengenaskan.
Keduanya segera melompat menjauhi Zhu San. Selain karena hawa panas dan dingin yang kuat dari Pedang Yinyang, keduanya merasa jerih dengan kekejaman Zhu San.
Zhu San tersenyum tipis seraya memandang Cong Hai yang tubuhnya kini gemetar. Tak ada lagi keberanian Cong Hai, untuk kembali melawan Zhu San.
Ia pun segera meraih dua buah pisau kecil dari balik jubahnya. Dengan sekuat tenaga Ia melemparkan kedua pisau itu ke arah Zhu San, lalu melesat ke arah pagar tembok pagar kediaman bangsawan Zhu Han.
“APA!! Mustahil !!… “
Cong Hai berkata dengan wajah pucat saat kakinya baru saja menginjak bagian atas pagar setinggi tiga meter itu. Matanya melotot lebar akan apa yang Ia lihat.
Hal yang sama juga di alami oleh Di Yun, Pria yang bersenjatakan kapak itu, terkejut bukan kepalang.
Ia pun berbalik dan mencoba lari ke arah kediaman Bangsawan Zhu Han, namun sebuah serangan pedang yang panjang, memaksanya melompat mundur.
*****
__ADS_1