
“Hahahaha … Sepertinya guruku yang akan menang Ruan Lao.” Dao Chai sang Ketua Sekte Kapak Emas yang juga murid pertama Cao Lung, tertawa senang melihat situasi pertarungan gurunya.
Ruan Lao hanya terdiam dengan rasa khawatir yang besar di dalam hatinya. “Apakah guru akan kalah semudah itu?” Benaknya Ketua Sekte Pedang Bumi itu, terisi pertanyaan yang sebentar lagi akan menemukan jawabannya.
Tian Long menyadari kekhawatiran orang-orang di sekitarnya. Ia tersenyum tipis sebelum memutuskan untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya.
Semua orang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Tian Long. Ruan Lao tak menduga jika gurunya itu akan mengembalikan Pedang Bumi dengan melemparkan senjata pusaka itu ke arahnya.
“Guru …!” Ruan Lao berteriak setelah meraih Pedang Bumi. Tian Long mengangkat tangan kirinya agar Ruan Lao diam. “Menjauhlah dari tempat ini tiga puluh meter lagi. Cepat!”
Semua orang terkejut saat tiba-tiba aura kekuatan sangat besar memancar dari tubuh Tian Long. Bersamaan dengan hal itu, asap kuning keemasan tiba-tiba muncul dan menyelimuti tubuh Tian Long.
Cao Lung segera bersikap waspada. Ia belum pernah melihat jurus yang akan digunakan Tian Long kali ini. “Tua Bangka itu … masih memiliki jurus andalan rupanya! Kalau begitu lawanlah jurus pamungkasku ini.”
Cao Lung segera mengalirkan lebih besar energi qi pada Kapak Emasnya. Seketika Kapak dari energi itu, menjadi dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Begitu pula dengan petir yang dipercikkan.
Dengan sebuah teriakan keras Cao Lung melepaskan Kapak raksasa itu ke tubuh Tian Long dan Cao Lung pun terkejut saat melihat sekujur tubuh Tian Long telah diselimuti Petir berwarna putih.
Dengan teriakan keras Tian Long mengibaskan telapak tangannya ke arah Kapak Emas dari energi itu. Lalu melesatlah sebuah petir sangat besar dari tangan Tian Long dan menghantam Kapak energi.
BLAAAM
Seketika Energi Kapak Emas meledak hebat. Udara berfluktuasi dengan sangat kuat membuat Ruan Lao dan yang lainnya terlempar hingga dua puluh meter lebih.
Zhu San dan ketiga orang lainnya, masih bisa berada di tempat mereka. Apa yang terjadi kemudian membuat Zhu San tersenyum lebar.
Tian Long yang sudah gelap mata, segera membungkukkan badannya. Lalu Ia melepaskan belasan petir dari tubuhnya ke arah Cao Lung yang baru saja terpental dan menguasai posisi melayangnya.
Mata Cao Lung membelalak sat melihat lecutan petir begitu cepat mengarah ke dirinya. Dengan panik Ia segera membuat Kapak Emas menjadi tameng untuk menahan petir yang datang menyambar bertubi-tubi ke tubuhnya.
__ADS_1
Satu dua petir berhasil Cao Lung hadang dengan kapak pusaka tersebut, walau Ia harus terpental setiap kali kapaknya berbenturan dengan petir Tian Long.
Pada serangan petir yang kesepuluh, Cao Lung harus pasrah saat dua petir datang bersamaan dan posisi melayangnya masih oleng akibat benturan itu.
JEDAAARR
Satu buah Petir menyambar perut Cao Lung dan membuat perut itu terkoyak dan mengeluarkan asap hitam. “Tidaaaaak Mungkinn!”
Teriakan itu menjadi teriakan terakhir Cao Lung sebelum Ia tewas. Tubuhnya melayang jatuh ke tanah dengan cepat dan menimbulkan suara berdebum yang keras.
JLEEEB
Kapas Emas Cao Lung yang terlepas dan terlempar ke atas tadi, kini jatuh dan tepat menancap di dada Jagoan nomor satu Aliran Hitam itu.
Zhu San pun segera melesat cepat saat melihat kondisi Tian Long yang tiba-tiba terkulai lemas. Hal itu karena jagoan tua itu, mengerahkan seluruh kekuatannya pada serangan terakhir tadi.
Tubuh tuanya tak mampu menahan beban energi yang sangat besar, sehingga mengalami kerusakan cukup parah saat Zhu San memeriksanya.
”Aku tahu itu, Aku sudah terlalu tua untuk tetap hidup. Aku sudah tenang untuk meninggalkan dunia ini, karena musuh terkuatku telah lebih dulu pergi ke dunia lain. Terimakasih San’er …”
Akhirnya jagoan tua itu menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam dekapan Zhu San yang entah mengapa, tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak.
Ruan Lao tak bisa menyembunyikan kesedihan di wajahnya saat Ia tiba di dekat Zhu San dan mendapati sang guru yang berusia lebih dari seratus tahun itu, telah tiada.
“Sesepuh Lao … Silakan ..” Zhu San menyerahkan jasad Tian Long dan memberikan hormatnya setelah jasad itu berada dalam pelukan Ruan Lao.
Ruan Lao lalu membawa jasad Tian Long ke arah belakang dari pertempuran ribuan pendekar yang masih berlangsung dengan sengit.
Yang Xio dan Tang Yun terkejut saat mendapati Tian Long telah tewas. “Tua Bangka ..! Kau telah berjanji akan bertanding catur denganku bukan?! Kenapa Kau mengingkarinya!”
__ADS_1
Yang Xio berkata dengan air yang menetes dari pelupuk matanya. Hatinya tak kuasa menahan kesedihan akan kematian rekannya yang beberapa hari ini selalu bersama dirinya.
*** ‘
“Baiklah … mari kita lanjutkan pertarungan kita!” Zhu San berkata dengan ekspresi wajah yang sangat dingin. Hal itu membuat Bian Chi tertegun.
“Sepertinya kematian Sesepuh Tian, membuat San Gege sangat marah.” Ucapan Bian Chi dalam benaknya, sangatlah tepat pada situasi hati serta pikiran Zhu San saat ini.
Qiu Lan mengerutkan dahinya, saat tiba-tiba merasakan aura sangat besar memancar dari tubuh Zhu San. “Yan Gege hati-hatilah!”
Gao Yan yang sudah sangat ingin kembali bertarung dengan Zhu San menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. “Jangan khawatir kali ini aku pasti bisa membunuhnya.”
Namun Qiu Lan tidak sependapat dengan ucapan Gao Yan yang telah melesat ke arah Zhu San yang terlihat masih diam mematung.
Apa yang menjadi kekhawatiran Qiu Lan akhirnya terjadi beberapa saat kemudian. Setelah menangkis tendangan Gao Yan, Zhu San segera menghantam dada pengkhianat sekte gurunya itu.
Gao Yan menggerung marah sambil mengusap dadanya, setetes darah yang keluar dari sudut bibirnya, segera Ia seka dengan mata menatap marah ke arah Zhu San.
Gao Yan memutuskan untuk menggunakan jurus Tapak Pembalik langit level tiga. Ia tak ingin berlama-lama lagi bertarung dengan Zhu San.
Dua buah Tapak dari energi yang berukuran besar, segera terlihat di atas kepala Gao Yan. Zhu San yang masih sedih dan marah atas kematian Tian Long segera mengeluarkan tujuh puluh persen energi qi dari tubuhnya.
Qiu Lan terkejut merasakan aura energi yang sangat besar itu. Rasa khawatirnya terhadap Sang Suami membuat Ia berniat membantu Gao Yan.
“Mau kemana Kau? Akulah lawan mu?” Bian Chi yang mengetahui gelagat itu, segera menghadang Qiu Lan.
Qiu Lan, mendengus kesal sebelum melesatkan sebuah tendangan kuat dan cepat ke arah Bian Chi. Bian Chi yang telah siap dengan mudah menghindari serangan itu.
Keduanya kembali bertukar serangan dengan cepat. Suara benturan tangan atau pun kaki, terdengar sangat keras mengisi udara di sebelah barat kota Hung Dao itu.
__ADS_1
-----------------------O---------------------------------