Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
161: Sepasang Pengemis


__ADS_3

Zhu San dan Bian Chi telah tiba di Kota Baixan. Dari ketinggian dua ratus meter dari tanah, keduanya melihat ribuan tenda didirikan pada jarak dua kilometer dari tembok pagar selatan Kota Baixan.


Keduanya menyadari bahwa pasukan Aliansi Aliran Hitam, belum melakukan serangan. Entah apa alasan yang melatarbelakangi mereka. sehingga menunda serangannya.


“San Gege … Apa langkah kita selanjutnya? Apakah menyerang mereka?” Bian Chi yang melihat perkemahan itu, seolah terbakar hatinya saat Ia teringat kematian Sang Guru.


“Kita ke kota dahulu, membeli gaun untukmu. Aku tidak ingin kau menemui Kedua Guruku dengan gaun yang ketat seperti ini.” Zhu San membuka matanya lebar-lebar sambil menatap dada sang Isteri dengan pandangan nakal.


Bian Chi hanya tersenyum tipis melihat hal itu, Ia tidak memperdulikan sang suami yang tengah menggoda dirinya.


Zhu San lalu mengeluarkan jubahnya, lalu memakaikan jubah tersebut kepada Bian Chi.


Hal itu membuat Bian Chi kembali tersenyum tipis dengan benak dipenuhi pertanyaan, seseksi apakah dirinya hingga Sang suami bersikap demikian padanya.


Keduanya segera melesat menurunkan ketinggian terbang mereka. Keduanya berencana memasuki kota Baixan dengan berjalan kaki saja.


Setelah melewati pemeriksaan yang ketat, Zhu San akhirnya berhasil memasuki kota. Namun Suasana di kota Baixan sangat berbeda jauh dengan terakhir kali mereka lihat.


“Sepertinya seluruh penduduk sedang dilanda ketakutan sehingga banyak diantara mereka yang menutup semua tokonya.” Zhu San berkata demikian kepada Bian Chi.


“Sepertinya begitu, San Gege sebaiknya kita berpencar saja. Dan bertemu kembali setengah jam kemudian di sini.” Bian Chi berkata setelah mereka melewati Blok yang keempat. Namun belum juga menemukan toko yang menjual pakaian.


Zhu San pun menyetujuinya, Ia lalu berjalan lurus ke depan sementara Bian Chi berbelok ke kanan. Namun tanpa mereka sadari sepasang mata sedang mengawasi keduanya dari balik jendela di lantai dua sebuah penginapan.


Sesaat kemudian, Bian Chi terlihat tengah berjalan dengan santainya. Namun Ia sadar jika sedang diikuti oleh dua orang. Saat berbelok di jalan yang lengang, Bian Chi melesat ke udara.


Dua orang yang mengikutinya itu, adalah sepasang suami isteri yang mengenakan pakaian seperti dua orang pengemis. Pengemis perempuan itu membawa buntelan besar di punggungnya.


Bian Chi memperhatikan keduanya, tiga meter dari atas mereka berdua. Ia terlihat keheranan mengapa kedua pengemis itu mengikutinya.


“Kemana perginya gadis itu ya?” perempuan berpakaian pengemis itu, bertanya kepada lelaki yang berpakaian sama dengannya.

__ADS_1


“Mengapa kalian berdua mengikuti Aku?!” Pertanyaan Bian Chi dari atas kepala mereka, mengejutkan keduanya.


Namun tidak ada rasa takut atau kagum di wajah mereka, melihat dirinya bisa melayang di udara. Hal itu membuat Bian Chi menjadi lebih waspada dan menjaga jarak, saat Ia melayang turun menjejakkan kakinya di tanah.


“Siapa Paman dan Bibi berdua? Dan mengapa mengikuti aku?” Bian Chi berbicara dengan nada yang lebih lembut, saat menyadari keduanya berusia seumuran dengan Song Ruo.


“Ah … Maafkan kami Nona, Kami hanya ingin mengetahui apakah pemuda yang bersamamu tadi adalah kekasih atau temanmu?” perempuan itu tersenyum ramah dan terlihat penuh kasih kepadanya.


Saat itulah Bian Chi menyadari jika mata perempuan setengah baya itu, memiliki kemiripan dengan suaminya.


“Dia suamiku, kami telah menikah sejak sebulan yang lalu. Apakah Bibi mengenalnya?” Tanya Bian Chi dengan wajah keheranan, melihat raut wajah keduanya yang sepertinya terkejut, setelah mendengar perkataannya.


Kedua pengemis itu saling berpandangan, lalu perempuan pengemis itu kembali bertanya padanya, membuat Bian Chi menjadi terkejut.


“Apakah Kau bernama Song Yi puteri Tuan Song Ruo atau dikenal juga dengan Qin Yu?”


“Bukan! Aku bukan Adik Yu. Siapa sebenarnya Paman dan Bibi ini, kenapa mengenal Paman Song Ruo juga?” Tanya Bian Chi sambil menatap tajam ke arah keduanya.


Saat itulah, lelaki yang memiliki tompel di pipi kanannya, tersenyum membuat Bian Chi tercekat. Senyuman lelaki pengemis itu, begitu mirip dengan senyum suaminya.


“Namaku Bian Chi, Siapa Paman dan Bibi Ini? Mengapa Paman bertanya namaku? Apakah ada sesuatu yang ingin paman ketahui tentang aku dan suamiku?”


Bian Chi kembali bertanya dengan tatapan yang semakin tajam. Dalam benaknya Bian Chi pun berkata:


”Bibi ini memiliki mata seperti mata San Gege … Sedang Paman ini memiliki senyum yang begitu mirip dengan San Gege? Jangan-jangan …. Ah Tidak mungkin … Ayah dan Ibu mertuaku telah meninggal. San Gege melihat sendiri makamnya.”


“Nona apakah kau sedang mencari toko pakaian? Saat ini semua toko selain kedai makan telah tutup.” Perempuan pengemis itu bertanya, mencoba mengalihkan pertanyaan Bian Chi.


“Benar Bibi, tapi dari mana Bibi mengetahui hal tersebut?” Bian Chi pun semakin keheranan.


“Jangan heran, Kau mengenakan Jubah milik suamimu, pasti pakaianmu ternoda oleh darah dan Kau ingin menggantinya bukan?”

__ADS_1


Perempuan pengemis itu, menyodorkan buntelan besar yang sedari tadi berada di punggungnya.


“Di dalam Buntelan ini terdapat beberapa gaun yang sepertinya pas dengan ukuran tubuhmu. Ambillah!” Perempuan pengemis itu berkata dan membujuk Bian Chi yang terlihat diam saja dan tidak mengulurkan tangannya.


Perempuan pengemis itu, segera menarik tangan Bian Chi dan memaksanya untuk menggenggam buntelan kain itu. Setelah melakukan hal itu, perempuan dan pengemis laki-laki itu tersenyum lalu segera pergi.


Bian Chi tercenung dan hanya bisa diam saja, Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Bian Chi lalu memeriksa ingin buntelan itu.


Dan Ia pun terkejut, saat melihat gaun sutera berwarna merah yang menurutnya hanya para bangsawan yang bisa memiliki gaun semahal itu. Kecurigaan membersit dalam benaknya.


Bian Chi segera menutup buntelan kain itu, Ia segera mengejar kedua pengemis yang telah sedari tadi berbelok dari jalan tadi.


Namun Ia tidak lagi menemukan keduanya. Bian Chi yang penasaran, segera menelusuri jalan yang Ia lalui tadi hingga kembali ke persimpangan tempat dimana Ia dan Zhu San berpisah.


“Ah kenapa aku lupa menanyakan nama mereka? Aku harus segera menghubungi San Gege.” Bian Chi segera memejamkan matanya. Ia mencoba menghubungi Zhu San dengan telepatinya.


Semenjak menyerap energi Murni Lima Elemen, kekuatan Telepati Zhu San dan Bian Chi meningkat. Keduanya bisa bertelepati dalam jarak jauh hingga sejauh satu kilometer.


Itulah sebabnya, Zhu San datang beberapa saat kemudian. Ia menatap heran Sang Isteri yang kini telah membawa buntelan.


“Chie’er apakah Kau telah menemukan toko pakaian yang buka?” Tanya Zhu San setibanya di depan Bian Chi.


Bian Chi menggelengkan kepalanya, lalu menceritakan dari mana Ia memperoleh buntelan kain berisi gaun merah yang sangat bagus dan mahal itu.


“San Gege … saat memandang mata Bibi itu, Aku seperti memandang mata milikmu. Dan senyuman Paman itu, sangat mirip dengan senyumanmu. Aku merasakan kasih sayang seorang ibu dan ayah, saat mereka menatap dan berbicara kepadaku.”


Air mata Bian Chi tiba-tiba mengalir setelah Ia berkata demikian. Saat itu pula Ia teringat jika dirinya tidak pernah melihat raut wajah kedua orang tuanya sedari kecil.


Zhu San segera memeluk Isterinya dan membiarkannya menangis dalam pelukannya. Hal itu membuat sepasang mata dari balik jendela penginapan di lantai dua melotot.


“Han Gege … Benar katamu, dia tidak berbohong. Tidak mungkin putera kita berani berlaku seperti itu jika nona Bian Chi bukan isterinya.”

__ADS_1


Perempuan pengemis yang tidak lain adalah Mu Rong itu. berkata kepada lelaki pengemis yang ternyata adalah Zhu Han, suaminya.


******


__ADS_2