Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
221: Akhir Pertarungan.


__ADS_3

Dua kekuatan besar dari dua senjata pusaka yang berhawa Iblis, menderu ke arah Zhu San dan Bian Chi yang telah bersiap dengan Jurus yang mereka persiapkan untuk menghadapi Dewi Kematian.


Energi berbentuk Ular Naga dari Jurus Amarah Suci Pedang Yinyang, menghadang laju kedua kekuatan dari senjata Kang Ji dan Hou Ming.


Tidak pernah kedua Jagoan itu menduga sebelumnya, jika mereka akan binasa di tangan dua orang yang masih sangat muda. Hal itu mereka ketahui sesaat sebelum sebuah ledakan besar menggelegar.


Tubuh keduanya tiba-tiba saja tidak bisa digerakkan sesaat setelah menyalanya kedua bola mata Ular Naga dari energi itu. Mata Kanan berwarna biru dan mata kiri berwarna merah.


“Kekuatan macam apa ini?! Hanya Dewa saja yang seharusnya memiliki kekuatan ini!” Dalam benaknya Kang Ji berteriak setelah tidak berhasil menggerakan tubuhnya sama sekali.


“Kekuatan ini?!” Hou Ming menyadari sesuatu yang membuatnya hanya terdiam. “Rupanya ini akan menjadi hari terakhirku.” Ia pun tersenyum pasrah tepat saat tiga energi itu bertemu di udara.


BUUUUMMMM!!


Energi berbentuk serigala merah dan sosok menyerupai Iblis yang tubuhnya berselimutkan petir itu, meledak setelah bersentuhan dengan Ular Naga Yinyang.


Tanah bergetar begitu hebatnya seolah sedang dilanda gempa yang dahsyat. Hal itu terasa hingga radius satu kilometer dari pusat ledakan besar itu terjadi.


Ledakan energi itu demikian hebatnya sehingga seluruh pepohonan dalam radius lima ratus meter, hancur berkeping-keping. Demikian juga dengan tubuh Kang Ji dan Hou Ming.


Jatuhnya Air terjun sebesar itu pun sempat berubah arah. Tidak ke bawah, melainkan ke atas udara. Hal yang sangat sulit ditemui dalam dalam keadaan di hari-hari biasa.


Bahkan Pang Ou dan yang lainnya masih terdorong beberapa meter akibat hempasan angin yang begitu kuat menerpa tubuh mereka.


Ju Yan dan Qin Yu terlihat begitu kagum dengan kekuatan yang Zhu San dan Bian Chi tunjukkan, saat melihat kedua orang itu datang melesat menghampiri mereka.


Kecemasan di wajah Kaisar Shi Hung dan Permaisuri Qiang Ji, seketika sirna melihat keduanya. Semua orang menunjukkan wajah lega setelah Zhu San dan Bian Chi tiba dengan keadaan tidak terluka sedikitpun.


“Sesepuh Ou, terimakasih telah datang membantu kami.” Zhu San memberi hormatnya kepada Pang Ou yang tersenyum kagum kepada Zhu San.


Sementara Bian Chi terlihat sedang dipeluk oleh Permaisuri Qiang Ji yang terlihat sangat gembira karena bisa melihat kondisi puterinya.

__ADS_1


Atas perintah Kaisar Shi Hung mereka pun kembali ke kota Qingzen yang telah luluh lantak akibat serangan dari Kang Ji dan yang lainnya, beberapa hari lalu.


***


Wajah Qing Cao memburuk setelah dua hari kemudian Ia tidak mendapati berita dari Kang Ji dan lainnya yang hingga saat ini belum kembali ke kota Qingdao.


Setelah mendengar terjadi sebuah pertarungan hebat di pegunungan Laosan keesokan harinya, Qiang Cao memutuskan untuk meninggalkan kota Qingdao.


“Aku harus mencari sosok yang lebih kuat lagi dari sesepuh Kang Ji. Orang bernama Zhu San ini, apakah kekuatannya begitu tinggi? Sehingga tidak ada yang bisa mengalahkannya? Aku yakin pasti ada yang bisa mengalahkannya.”


Berbekal keyakinan ini, Qing Cao lalu kembali ke Kekaisaran Wei, Ia berniat membujuk sosok jagoan nomor dua dan Nomor satu Aliran Hitam Kekaisaran Wei yang pernah menolak Ia ajak bergabung dulu.


“Bagaimana caranya agar Sesepuh Jin Fang mau bergabung? Ia sepertinya tidak tertarik dengan koin emas yang aku tawarkan.”


Qiang Cao terlihat ragu setelah satu minggu kemudian Ia tiba di sebuah bangunan besar yang berada di sebuah desa kecil di kekaisaran Wei itu.


Di bangunan besar itulah, Jin Fang Jagoan Nomor satu Aliran Hitam Kekaisaran Wei itu berada beberapa tahun terakhir ini bersama kedua orang murid perempuannya.


Jin Li dan Jin Mei adalah nama kedua puteri Jin yang Fang memiliki kecantikan di atas rata-rata warisan dari ibu mereka masing-masing. Namun keduanya memiliki sifat kejam seperti Ayah mereka.


Sejak bertemu dengan kedua puterinya itulah, Jin Fang lebih mulai menaik diri dari dunia persilatan untuk melatih kedua puterinya yang kini menjadi jagoan hebat.


Hanya saja nama mereka berdua belum terdengar di dunia persilatan Kekaisaran Wei, apalagi di dunia persilatan kekaisaran lain.


Hal itu memang sengaja dilakukan oleh Jin Fang yang menahan keinginan mereka untuk berkelana di dunia persilatan, sebelum mewarisi seluruh jurus dan teknik yang Ia miliki.


Kedatangan Qiang Cao disambut dingin oleh Jin Fang. Sosok sepuh berusia tujuh puluh tahunan itu, menatap Qiang Cao dengan kesal.


“Sudah ku bilang, Aku tidak mau bekerjasama denganmu! Apa kau sudah bosan hidup berani ke datang lagi ke sini?!”


Qiang Cao menelan ludahnya mendapati perkataan kasar Jin Fang. Dengan terbata-bata Ia lalu menjelaskan bahwa ada seorang pemuda yang mengalahkan Kang Ji dengan mudah lalu menyebut dirinya sebagai Jagoan nomor satu di dunia di empat Kekaisaran.

__ADS_1


Wajah Jin Fang terlihat geram mendengar perkataan Qiang Cao. “Siapa nama pemuda sombong itu? Dan dimana Ia berada?!” Tanyanya dengan gusar.


“Namanya Zhu San, Ia berada di Kekaisaran Qing tepatnya di Kota Qingzen.” Jawab Qiang Cao dengan cepat. Merasa caranya berhasil, wajah Qiang Cao terlihat gembira.


“Jika kau ingin Aku membunuhnya, Kau harus memberiku sepuluh ribu Koin Emas di muka dan sembilan puluh ribu Koin emas setelah selesai. Selain itu, Aku ingin kau berjanji untuk menjadikan kedua muridku menjadi pengawal mu, setelah Kau berhasil menduduki Tahta Kekaisaran Qing. Bagaimana?”


Tanpa pikir panjang, Qiang Cao mengangguk dan tersenyum dengan cerah. Ia lalu memanggil pelayan setianya, untuk menyerahkan sepuluh ribu Keping Emas.


****


Satu bulan telah berlalu dari sejak terjadinya pertarungan di pegunungan Laosan. Istana Kekaisaran Qing telah kembali dibangun dengan megah.


Atas saran dari Zhu San, Kompleks Istana dibangun dengan sistem pertahanan yang baru. Selain itu, Zhu San membuat sendiri sebuah terowongan rahasia yang panjangnya mencapai lima ratus meter.


Terowongan itu Ia buat dari sebuah bangunan yang rencananya akan ditempati oleh Kaisar Shi Hung dan Permaisuri Qiang Ji. Setelah mereka menyerahkan Tahta Kekaisaran kepada Ju Yan.


Sementara Ju Yan memimpin pembangunan kembali rumah-rumah penduduk kota Qingzen yang telah hancur. Semua didanai dari gunungan koin emas yang Bian Chi ambil saat memasuki goa di pegunungan Qingxiu.


Berinteraksi langsung dengan para penduduk, membuat Ju Yan dikenal mereka dengan sangat baik, apalagi dengan sikap Ju Yan yang tidak sombong, sekalipun Ia akan menjadi Kaisar.


Hingga akhirnya tiba hari dimana Ju Yan dinobatkan menjadi Kaisar Qing. Seluruh rakyat berduyun-duyun mendatangi tanah lapang dimana acara itu dilangsungkan.


Acara penobatan yang awalnya berlangsung khidmat itu, berubah meriah oleh pesta kembang api sebagai acara penutup hingga malam hari.


Hiruk pikuk penduduk yang berbahagia dengan Kaisar baru itu, sempat membuat Zhu San hampir lengah sebelum merasakan sebuah kekuatan besar.


“Siapa Pemilik kekuatan ini? Dimana Ia?” Zhu San mengedarkan pandangannya ke arah kerumunan penduduk yang sedang menikmati kegembiraan mereka.


“San Gege … Apakah Kau merasakan juga aura kekuatan besar ini?” Tanya Bian Chi. Zhu San mengangguk, lalu berbicara melalui telepatinya jika Ia gagal menemukan keberadaan orang tersebut.


“Kekuatannya sama besar dengan kekuatan yang Guru Long Niu miliki. Kita harus waspada Chi’er.” Bian Chi pun mengangguk.

__ADS_1


---------------O---------------


__ADS_2