
“Siapa Kau Hah?! Lancang sekali mendatangi kediaman Ayahku dengan cara menerobos seperti ini!” Seorang pemuda bangsawan berkata keras sambil menunjuk wajah Zhu San.
Zhu San, yang baru saja tiba di kota Dongyin setelah beberapa jam melayang di udara dengan Bian Chi, hanya tersenyum mendengar perkataan pemuda itu.
“Suruh Ayahmu keluar! Katakan padanya, Putera Bangsawan Zhu Han datang untuk menuntut balas atas kematian kedua orang tuanya!”
Zhu San berkata demikian karena Ia meyakini jika berita kekalahan Aliansi Aliran Hitam, belum mereka ketahui saat ini, demikian juga dengan kenyataan tentang Ayahnya.
Pemuda yang tak lain adalah Yin Hu itu, terkejut ketika mendengar perkataan Zhu San. Ia segera sadar apa yang akan terjadi. Lalu memerintahkan para pengawal pribadinya, untuk menyerang Zhu San.
Yin Hu segera berlari menuju ke ruangan Ayahnya. Namun tak lama kemudian, Zhu San memasuki ruangan dan menghancurkan pintu dengan sekali tendang saja.
“Kau rupanya yang bernama Yin Lu, berani sekali Kau membunuh kedua orang tuaku dan membakar rumahku hingga rata!”Zhu San melangkah dengan santai. Membuat Wajah Ayah dan anak itu semakin pucat.
“Bu … Bukan .. Aku .. itu Ide Bangsawan An He … Dia .. yang melakukan .. itu.” Dengan suara terbata-bata Bangsawan Yin Lu berusaha membela dirinya.
Namun kemarahan Zhu San telah mencapai puncak yang tidak bisa lagi diredakan oleh kata-kata. Dengan energi tenaga dalam dari ujung jari telunjuknya, Zhu San memenggal kepala Bangsawan Yin Lu dan Puteranya, Yin Hu.
Para prajurit yang baru saja tiba di pintu ruangan itu, terkesiap melihat apa yang baru saja terjadi.
Tubuh mereka gemetar saat melihat Zhu San berbalik dan melangkah ke arah mereka. Sontak para prajurit itu berbalik badan, lari secepat mungkin untuk menjauhi Zhu San.
Zhu San lalu melangkah keluar dari ruangan itu, setibanya di bagian belakang bangunan. Ia pun melesat ke udara, setelah membakar bagian belakang bangunan itu dengan api yang berasal dari tapak tangannya.
Setelah memastikan api tadi menyala dan membakar kediaman Bangsawan Penguasa Kota Dongyin itu, Zhu San pun segera kembali ke kedai, tempat dimana Bian Chi sedang menunggunya.
Terlihat ruangan kedai itu yang sedikit berantakan, seolah baru saja terjadi sebuah pertarungan.”Chi’er apa yang terjadi?” Tanya Zhu San seraya duduk dan menuangkan arak.
“Beberapa pemuda mencoba menggoda aku setelah San Gege tadi pergi. Aku memberi sedikit pelajaran pada mereka. Apakah kau berhasil menghabisi mereka?” Jawab Bian Chi dengan santainya.
Zhu San menganggukkan kepalanya, Ia kemudian memanggil pemilik kedai yang datang dengan raut wajah sedikit takut, setelah tadi melihat bagaimana Bian Chi menghajar tiga orang pemuda yang menggodanya.
__ADS_1
“Paman … Ini uang untuk memperbaiki kerusakan kursi dan meja milik anda beserta makanan ini. Apakah ini sudah cukup?” Tanya Zhu Sambil mengulurkan dua keping uang emas kepada lelaki itu.
“Oh … Iya terimakasih Tuan Muda, ini lebih dari cukup. Sebentar saya ambilkan kembaliannya.” Kata pemilik kedai dengan wajah yang ceria. “Tidak usah Paman, ambil saja untuk Paman.”
Zhu San segera bangkit diikuti oleh Bian Chi. Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan walau hari telah senja, meninggalkan kota Dongyin yang akan gempar, karena berita terbakarnya kediaman bangsawan Yin Lu.
Saat hari telah menjadi gelap, Zhu San dan Bian Chi tiba di tepi sungai Liao, sungai yang pernah menyeret tubuh Zhu San dengan arusnya yang sangat deras.
Setelah melihat sejenak untuk sekedar mengingat masa lalunya, keduanya pun segera melesat dengan cepat ke arah selatan.
Saat malam mencapai puncaknya, Bian Chi melihat sebuah kota yang sangat besar. Hawa dingin udara, membuatnya meminta kepada Sang Suami untuk beristirahat dengan mencari sebuah penginapan.
“Apakah Kau tak bisa menahan hawa yang tak seberapa dingin ini Chi’er?” Tanya Zhu San sedikit keheranan. “Alirkan Energi Yang untuk membuat tubuhmu menghangat.”
Seharusnya udara dingin yang menerpa tubuh mereka saat ini, bukanlah sesuatu yang bisa mengganggu perjalanan mereka, begitulah yang ada dalam benak Zhu San.
“Dasar lelaki ga peka!” Maki Bian Chi dalam benaknya. Lalu melalui telepatinya, Bian Chi mengatakan kepada sang suami, bahwa Ia ingin istirahat dan tidur nyenyak dalam pelukannya.
Saat itulah Zhu San baru memahami apa yang diinginkan oleh Bian Chi, Ia pun akhirnya menuruti Bian Chi untuk turun dan singgah di kota tersebut.
Setelah menyelesaikan pembayarannya, Zhu San menanyakan nama kota yang masih terlihat ramai itu, kepada Pemilik penginapan.
“Kota ini bernama Ningguo, kota terbesar yang berada di wilayah utara Kekaisaran Qing, Kemanakah tujuan Tuan dan Nyonya ini? Pemilik penginapan itu balik bertanya.
“Kami hendak Ke ibukota Qingzhen, karena lelah kami beristirahat dulu malam ini.” Jawab Zhu San.
“Keputusan Anda sangat tepat Tuan, saat ini jalan menuju ke kota Qingzhen, sedang rawan. Sering terjadi perampokan dan pembunuhan oleh beberapa kelompok perampok, terutama Kelompok Kelelawar Merah.”
Tanpa diminta, pemilik penginapan itu menjelaskan situasi, yang Ia ketahui dari para pedagang yang menginap di penginapannya.
“Terimakasih Informasinya Paman. Kami memang akan melanjutkan perjalanan besok pagi saja.” Zhu San dan Bian Chi segera mengikuti seorang pelayan yang mengantar keduanya, ke ruang mereka di lantai tiga.
__ADS_1
Karena ramainya orang yang menginap, lantai satu dan dua telah penuh, sedang lantai tiga yang merupakan ruang menginap termahal, masih kosong. Dari tiga ruangan yang ada, Zhu San dan Bian Chi diantar ke sebuah ruangan yang berada di ujung kanan.
Setelah mengucapkan terimakasih dan memberi sekeping uang emas, pelayan itu segera pergi dengan wajah yang sangat bahagia. Karena mendapat tips yang sebesar dua bulan gajinya.
“Ruangan ini mirip dengan ruangan yang dihuni oleh Paman Teng Ji dan Weng Dan di kota Songdu. Apakah penginapan ini juga milik Ayahmu?” Tanya Zhu San kagum.
“Entahlah, melihat bentuk ruangannya sepertinya memang begitu.” Kata Bian Chi yang segera menghempaskan tubuhnya, ke atas pembaringan yang cukup besar bagi mereka berdua.
“San Gege … Apa yang kau pikirkan? Kenapa Kau tidak segera tidur?” Tanya Bian Chi dengan wajah yang semakin memerah, menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya.
“Aku sedang memikirkan, bagaimana jika besok kita melanjutkan perjalan dengan berkuda saja. Siapa tahu kita bertemu dengan para perampok Kelelawar Merah itu dan bertarung dengan pimpinannya.” Jawab Zhu San seraya duduk di tepi pembaringan.
“Itu kita pikirkan besok saja, saat ini kau harus bertarung dulu dengan isterimu ini.” Kata Bian Chi sambil memeluk dan mencium telinga suaminya dengan sangat mesra.
Setelah mematikan lampion dengan kibasan tangannya, Zhu San pun segera memenuhi keinginan Sang Isteri.
Pertukaran serangan di atas pembaringan itu, segera terjadi dan berlangsung dengan sangat dahsyatnya.
Desahan dan erangan keduanya pun silih berganti dan baru berhenti setelah dua jam kemudian dengan diakhiri jeritan tertahan dari keduanya.
Mereka pun terlelap dengan saling memeluk satu sama lainnya. Membiarkan seluruh pakaian mereka berserakan di lantai ruangan.
Saat pagi tiba, keduanya bertarung sekali lagi atas permintaan Zhu San. Pertarungan yang lebih dahsyat dan membuat Bian Chi menjerit tertahan sebanyak dua kali dan harus mengakui kehebatan Sang Suami.
Saat matahari telah cukup tinggi, barulah keduanya melanjutkan perjalan dengan menunggangi seekor kuda yang mereka beli di kota itu.
Keduanya menyusuri jalanan utama menuju ke kota Qingzhen. Seperti apa yang dikatakan oleh Pemilik penginapan, setelah melewati sebuah desa kecil, mereka harus berhati-hati saat melintasi jalan yang tak jauh dari hutan yang bernama Hutan Kelelawar Merah itu.
“Chi’er apakah kau merasakan sesuatu yang ganjil dari arah hutan itu?” Tanya Zhu San yang duduk di atas kuda, tepat di belakang Bian Chi.
Bian Chi hanya terdiam, Ia memang merasakan adanya keganjilan dengan hutan di sebelah kiri mereka itu. Sebuah hawa energi yang cukup menyeramkan memancar kuat dari sana.
__ADS_1
Namun keganjilan lain yang sangat kuat, Ia rasakan dari arah berbeda. Keganjilan yang berasal tepat dari belakangnya, yang menekan pinggulnya sangat keras sedari tadi.
*******