Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
216: Situasi Ju Yan


__ADS_3

Ketiganya tiba di pegunungan Laosan lima belas menit kemudian. Pegunungan yang memiliki banyak jurang dan juga sebuah sungai besar yang berasal dari air terjun yang cukup tinggi.


“Air Terjun itukah yang Sesepuh maksud?’ Tanya Zhu san yang berhenti melayang saat mereka melihat Air Terjun itu.


“Benar Tuan Muda, mengapa kita berhenti disini?” Tanya Lu Fang keheranan. “Tunggu sebentar, orang yang mengikuti kita masih tertinggal agak jauh. Aku ingin Ia menemukan kita.” Jawab Zhu San dengan santai.


Setelah orang yang mengikuti mereka berada dalam jarak seratus meter, Zhu San dan yang lainnya kembali bergerak lalu turun di tepi sungai.


Setelah memastikan bahwa yang orang yang menguntit mereka bisa melihat kemana mereka akan pergi, Zhu San lalu mengajak yang lainnya menerobos Air terjun tersebut.


Sosok pria yang mengikuti ketiganya tersenyum puas. Karena telah berhasil mengetahui keberadaan Kaisar Shi Hung yang sedang dicari oleh Bangsawan Qiang Cao dan para pendekar yang bekerjasama dengannya.


Ia pun bergegas melesat meninggalkan tempat tersebut. Menuju ke kota Qingdao, dimana Bangsawan Qiang Cao dan yang lainnya berada. Senyum terkembang, membayangkan jika sebentar lagi, lima ratus keping emas akan berada di tangannya.


****


“Apakah Kau yakin mereka semua berada di sana, Bayangan Kilat?” Tanya Qiang Cao yang wajahnya masih terlihat murung. Pria yang berjuluk Bayangan Kilat itu, mengangguk dengan yakin.


“Jika kau membohongi kami, maka kepalamu akan kupecahkan!” Sosok sepuh di samping Shao Meng terdengar gusar setelah mendengar laporan tentang keberadaan mereka.


“Aku Yakin Sesepuh Ji, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.” Suara Bayangan Kilat sedikit bergetar mendengar ancaman dari sosok yang merupakan jagoan nomor tiga Aliran Hitam Kekaisaran Wei itu.


Shao Meng dan Tong Bai hanya tersenyum pahit mendengar kearoganan yang ditunjukkan oleh Kang Ji. Namun mereka tidak berani menyuarakan hal tersebut. Demikian juga dengan Hou Ming yang memilih diam.


Walau Ia disebut sebagai jagoan nomor satu Aliran Netral di kekaisaran Wei, namun untuk berurusan dengan Kang Ji, Ia memilih untuk mengalah dan diam.


Hal itu karena Ia menyadari jika Kang Ji lebih kuat darinya. Walau Ia sendiri tidak mengetahui sejauh apa perbedaan kekuatan diantara mereka berdua.


“Sesepuh Ji, apakah anda akan segera mendatangi tempat itu?” Qiang Cao berkata dengan hati-hati dan suara yang lembut, saat Ia bertanya kepada Kang Ji.


“Jika menunggu, apa yang kita tunggu?! Tentu saja akan segera ku datangi!” Suara Kang Ji terdengar ketus seolah sedang marah. Ia lalu berdiri dan memandang sesaat ke arah Hou Ming.

__ADS_1


“Baiklah.” Hou Ming menjawab dan lalu berdiri diikuti oleh Tong Bai dan Shao Meng.


Sementara Bayangan Kilat tersenyum seraya memasukan sekantung uang emas pemberian dari Qiang Cao sebagai upahnya.


“Huh … Lambat Kau.. Cepat tunjukan arah kepada kami!” Kang Ji kembali membentak Bayangan Kilat yang seketika menghilang senyuman di bibirnya.


Ia segera melesat ke udara tanpa diperintah dua kali, empat orang sepuh yang berkemampuan tinggi itu segera melesat mengikutinya.


****


Kembali kepada Zhu San dan Bian Chi serta Lu Fang yang baru saja menerobos air terjun. Lu Fang yang datang bersama keduanya, kembali merasa takjub saat menyadari, pakaian yang Ia gunakan tidak basah.


Hal itu karena pengaruh energi qi yang Zhu San dan Bian Chi alirkan untuk melindungi mereka dari terpaan air terjun yang sangat kuat itu.


“Yan Gege!” Hal yang pertama Bian Chi temui adalah kondisi Ju Yan yang terlihat pucat dan baru saja memuntahkan darah.


Sementara Qin Yu terlihat sedang duduk bermeditasi. Wajahnya terlihat pucat dengan setitik darah kering berada di sudut bibirnya.


Bayangan Semu yang terlelap, segera terbangun dan siap menyerang, saat mendengar teriakan Bian Chi. Namun Ia akhirnya tersenyum saat melihat siapa yang datang.


“Bagaimana kondisi Yang Mulia Kaisar? Dimana Beliau berada?” Tanya Zhu San setelah membalas penghormatan Bayangan Semu.


“Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri baik-baik saja. Saat ini sedang istirahat di sebuah ruangan rahasia di dalam goa ini.” Jawab Bayangan Semu.


“San Gege … Cepatlah Obati Yan Gege! Kondisinya semakin memburuk.” Bian Chi memanggil Zhu San dengan suara panik.


Zhu San segera berkelebat mendekati Ju Yan yang hampir kehilangan kesadarannya. Ia segera membuat Ju Yan duduk lalu bergerak ke belakang tubuh Suami Qin Yu itu.


Qin Yu yang mendengar teriakan Bian Chi segera membuka matanya dan berdiri untuk menghampiri Sang Suami. Baru dua langkah saja, Ia merasakan pandangannya tiba-tiba menjadi gelap.


Tubuh Qin Yu yang nyaris jatuh, berhasil di raih oleh Bian Chi dan membawanya kembali untuk duduk. Air mata Bian Chi kembali berlinang melihat kondisi Qin Yu.

__ADS_1


“Enchi Yu … Maafkan kami yang datang terlambat, hingga harus membuatmu menderita luka separah ini.” Di sela isakannya, Bian Chi berkata lirih.


Hooooaakk!!


Suara Ju Yan yang memuntahkan darah kental berwarna ungu, membuat semua mata di ruangan itu menatap ke arahnya. Perlahan namun pasti, Wajah Ju Yan kembali terlihat cerah.


Setelah tiga puluh menit, akhirnya semua luka Ju Yan telah selesai diobati oleh Zhu San. Tepat di saat itu, Qin Yu tersadar dari pingsannya. J Yan segera berdiri dan melangkah cepat menghampiri Isterinya.


“Yu’er … luka ku sudah sembuh berkat Saudara San. Duduklah… Biar Saudara San mengobati lukamu.” Ju Yan membuat Qin Yu yang hendak berdiri, kembali duduk.


Qin Yu mengangguk lemah, wajahnya pun semakin memucat saat Zhu San telah bersiap mengobati di belakangnya.


Zhu San lalu mulai menempelkan tangannya ke punggung Qin Yu. Namun beberapa saat kemudian, Ia tersentak dan menarik kembali tangannya.


Hal itu membuat semua mata terarah kepada Zhu San dengan tatapan yang penasaran dan sekaligus kekhawatiran yang besar. Terutama Ju Yan.


“Saudara San! Ada apa? Katakanlah?” Ju Yan nyaris berteriak karena begitu khawatir dengan kondisi isterinya.


“Yu’er … Apa kau belum memberitahunya?!” Bukannya menjawab pertanyaan Ju Yan, Zhu San malah bertanya kepada Qin Yu yang menggeleng lemah.


“Selamat Yan Gege … Tak lama lagi Kau akan menjadi seorang Ayah.” Zhu San berkata dengan suara lembut seraya melirik ke arah Bian Chi, seolah berkata “Kapan Aku akan menjadi Ayah?.”


Bian Chi hanya tertunduk dengan pipi yang merona merah. Sementara Ju Yan seketika memeluk Qin Yu dengan sangat erat dan berterimakasih kepadanya.


“Yan Gege, aku tidak bisa mengobatinya jika kau terus memeluk Yu’er seperti itu.” Zhu San berkata sambil cengar-cengir dengan sedikit rasa iri di hatinya.


“Oh Maaf … Maaf.” Ju Yan berkata dengan senyum malu saat melepas pelukannya pada Qin Yu.


Zhu San pun lalu mulai mengobatinya dengan sangat hati-hati. Mengingat keberadaan janin yang baru terbentuk itu. Setelah dua jam kemudian, barulah kondisi Qin Yu berhasil dipulihkan.


Zhu San menghela nafas setelah selesai mengobati Qin Yu. Tiba-tiba raut wajahnya berubah.

__ADS_1


“Mereka telah datang rupanya.” Ucap Zhu san mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan itu.


--------------------o---------------------


__ADS_2