
“Siapapun namamu Pemilik Tubuh Jenis Yinyang Sejati, kau bisa membuka peti khusus ini untuk mengeluarkan Kitab Pedang Inti Bumi yang berada di dalamnya. Gunakan kedahsyatan jurus ini untuk membela kebenaran dan keadilan. Hancurkan segala bentuk kebatilan yang kau temui.”
Zhu San sedikit bingung mengapa Roh Yao San tidak mengenalinya. Ia baru tersadar jika pesan ini telah dibuat di masa seribu tahun lalu. Jauh sebelum Ia bertemu dengan Roh Yao San dan isterinya Gong Yi.
Zhu San lalu membuka peti tersebut dengan cara yang disebutkan oleh Roh Yao San dalam pikirannya.
Sesaat kemudian, sebuah kitab bersampul kuning keemasan, terlihat di dalam peti kecil tersebut. Wajah Ketua Ruan Lao terlihat berseri dengan dada berdegup kencang. Rasa bahagia segera memenuhi relung hatinya.
Zhu San mengeluarkan kitab tersebut setelah menghilangkan energi pelindung yang berhawa panas dan dingin yang menyelimuti Kitab Pedang Inti Bumi yang telah berusia seribu tahun lebih itu.
“Ketua Lao, bolehkan Aku melihat isi dari kitab pusaka ini sebentar saja?” Tanya Zhu San. Ketua Ruan Lao tentu saja segera menganggukkan kepalanya.
Zhu San dan Bian Chi lalu membuka kitab tersebut secara perlahan-lahan. Keduanya membaca petunjuk dan mengingat gambar yang terpampang di dalam kitab itu hingga selesai.
“Jurus yang hebat, Pedang Bumi yang Sesepuh miliki adalah Pedang Pusaka yang mengguncang Dunia di masa seribu tahun lalu dengan Jurus Pedang Inti Bumi ini. Selamat Ketua Lao, kemampuan anda dan anggota sekte ini, akan meningkat pesat.”
Wajah Ketua Ruan Lao terlihat berseri-seri mendengar perkataan Zhu San. Walau rasa penasarannya semakin besar, ketua sekte berusia lebih dari tujuh puluh tahun itu berusaha menindihnya.
Ia tak berani meminta Zhu San memberikan kitab tersebut, sebelum Zhu San sendiri yang memberikannya. Wajah Ketua Ruan Lao terlihat takjub saat Ia membuka beberapa lembar dari kitab tersebut sesaat setelah Zhu San memberikan kepadanya.
“Ketua Lao … Kami hendak pamit sekarang untuk melanjutkan perjalanan kami ke Kota Hungdao.”
Ketua Ruan Lao segera menutup Kitab di tangannya. Ia berniat untuk berlutut kembali di depan Zhu San. Namun sebuah energi tak kasat mata menahannya.
“Ketua Lao … Jangan membuatku malu dengan penghormatan anda yang berlebihan. Aku ingin menyampaikan pesan bahwa Roh yang menyegel kitab tersebut mengatakan bahwa Jurus Pedang Inti Bumi harus digunakan untuk membela kebenaran dan keadilan. Bisakah anda berjanji untuk hal itu?”
“Aku berjanji akan selalu berjalan di atas jalan kebenaran seperti yang telah dilakukan oleh para leluhur kami. Dan berjanji menggunakan Teknik Pedang Inti Bumi untuk membela kebenaran dan keadilan.”
__ADS_1
Setelah terdiam beberapa saat Ketua Ruan Lao mengucapkan janji di depan Zhu San yang tersenyum mendengarnya.
Siang itu Juga Zhu San meninggalkan Sekte Pedang Bumi diiringi oleh ratusan pasang mata Anggota Sekte Aliran Putih terkuat nomor tiga di Kekaisaran Hun itu.
Mereka terlihat begitu kagum akan apa yang telah Zhu San lakukan. Nama Zhu San dan Bian Chi akan selalu tersimpan di hati dan ingatan mereka sebagai seorang Pendekar Besar yang akan menjadi legenda di masa depan.
“Chi’er kenapa Kau membuka pintu Alam Jiwa?” Tanya Zhu San setelah mereka melayang sejauh lima kilometer dari Sekte Pedang Bumi.
“Aku ingin memperagakan jurus Pedang Inti Bumi tadi di alam Jiwa.” Jawab Bian Chi melalui telepatinya.
“Benarkah? Ku kira kau ingin memperagakan teknik baru di ranj … “Ucapan Zhu San terhenti karena Bian Chi telah menyumpal mulutnya dengan hasrat menggelora yang sudah Ia tahan sejak bertarung dengan Setan Air yang menggunakan Jurus Iblis Buang Airnya.
Keduanya menghilang dari pandangan seseorang kakek berusia seratus tahun yang melihat mereka dari atas sebuah dahan pohon setinggi lima puluh meter.
“Mereka berdua terlihat seperti dari Sekte Pedang Bumi? Apakah terjadi sesuatu dengan Lao’er?”
Sang Kakek yang berjubah putih itu, segera melayang dengan kecepatan tinggi ke arah dimana Sekte Pedang Bumi berada dengan kekhawatiran di dalam hatinya.
Kota Hungdao adalah ibukota Kekaisaran Hun yang saat ini tengah ramai dikunjungi oleh ribuan orang pendekar. Kedatangan mereka untuk menghadiri pesta pernikahan Kaisar yang akan digelar selama tiga hari tiga malam.
Selain itu ada tujuan lain mengapa para pendekar yang sembilan puluh persen berasal dari aliran hitam itu, berduyun-duyun mendatangi kota Hungdao.
Hal yang sebenarnya, hanya diketahui oleh para Ketua dan Petinggi Sekte yang tergabung dalam aliansi yang dibentuk oleh Qiu Lan itu.
Sementara Qiu Lan terlihat sedang bermeditasi di dalam ruangannya. Di depannya Kitab Tapak Pembalik Langit sedang terbuka. Hal yang menujukan dirinya sedang mempelajari teknik tersebut.
Beberapa saat kemudian Qiu Lan membuka matanya, Ia mendengar suara ketukan di pintu disusul oleh suara seorang lelaki yang tak lain adalah Gao Yan.
__ADS_1
“Lan’er … Apakah Kau sudah selesai?” Tanya Gao Yan dengan suara yang terdengar lembut. “Aku sudah selesai, Yan Gege … Masuklah!” Gao Yan segera memasuki ruang pribadi Qiu Lan yang sangat besar dan mewah itu.
“Bagaimana latihanmu? Apakah menemui kesulitan?” Tanya Gao Yan. Qiu Lan tersenyum manis dan mengatakan bahwa Ia telah selesai mempelajari kitab tersebut dan menguasai jurus Tapak Pembalik langit pada tahap sempurna.
“Benarkah itu? Bagaimana kalau kita berlatih tanding di bukit yang berada di sana?” Ucap Gao Yan sambil menunjuk sebuah bukit besar yang berada sejauh lima kilometer di utara Kota Hungdao.
Qiu Lan terlihat senang mendengar hal tersebut, karena Ia memang ingin melakukan latih tanding bersama Gao Yan, calon Suaminya.
Keduanya melesat ke arah bukit tersebut dalam waktu beberapa detik saja. Mereka menjejakan kaki di sebuah tempat yang cukup lebar di puncak bukit besar itu.
“Lan’er Bersiaplah! Aku akan menggunakan lima puluh persen kekuatanku.” Gao Yan segera bersiap dengan kuda-kuda dari Jurus Tapak Pembalik Langit.
Qiu Lan melakukan kuda-kuda yang sama. Ia hanya menggunakan dua puluh persen dari energi qi yang dimilikinya. Namun Ia mengatakan kepada Gao Yan bahwa dirinya menggunakan kekuatan yang sama dengannya.
Dua tapak besar yang tercipta dari energi tenaga dalam mereka segera terbentuk beberapa saat kemudian. Terdengar teriakan Qiu Lan saat ia mulai menyerang Gao Yan.
Suasana bukit yang semula hening, kini menghilang. Berganti dengan suara ledakan yang tercipta dari energi keduanya.
Pepohonan dalam radius lima puluh meter dari mereka berdua, terlihat bertumbangan setelah keduanya melakukan latih tanding selama tiga puluh menit.
Kondisi puncak bukit besar itu, jauh berbeda saat ini dengan kondisi saat keduanya baru tiba di sana. Kini terlihat beberapa lubang besar, menghiasi puncak bukit yang indah itu.
“Lan’er … kau benar-benar hebat.” Puji Gao Yan setelah Ia terpental untuk kesekian kalinya akibat berbenturan serangan dengan Qiu Lan.
“Yan Gege … Apakah Kau terluka?” Qiu Lan mengabaikan pujian Sang Kekasih. Ia terlihat mengkhawatirkan kondisi Gao Yan.
“Aku Baik-baik saja Lan’er.” Jawab Gao Yan seraya merengkuh Qiu Lan dalam pelukannya. Qiu Lan tersenyum manis, Ia menengadahkan wajahnya ke arah wajah Gao Yan yang berada sangat dekat itu.
__ADS_1
Gao Yan tak bisa menahan lagi keinginannya. Ia pun segera merengkuh Sang Kekasih dengan sangat erat. Dan yang apa yang terjadi kemudian, sungguh membuat dunia serasa milik mereka berdua.
-----------------O------------------------