
Suasana haru di Aula pertemuan itu, terjadi hingga beberapa menit setelah Zhu Han dan Mu Rong melepas sebuah topeng tipis yang menutupi wajah mereka.
Kaisar Liu Feng pun terlihat gembira melihat Bangsawan Zhu Han masih hidup dan baik-baik saja.
Zhu San dan Bian Chi segera kembali ke tempat duduk mereka setelah keduanya bersujud sebanyak tiga kali di hadapan Mu Rong dan Zhu Han. Keharuan terjadi saat Mu Rong memeluk Bian Chi dengan sangat eratnya.
Pertemuan pun dilanjutkan dengan membahas tentang rencana pengambil alihan tiga kota besar yaitu Wuchang, Hangyao dan Dongyin.
Kaisar Liu Feng juga merencanakan untuk menyita seluruh harta milik ketiga bangsawan yang berkhianat dan memberikannya ke tiga bangsawan yang membantunya.
Kota Wuchang perdagangannya akan dikuasai oleh Bangsawan Mu Bai. Kota Dongyin akan dikuasai oleh Bangsawan Song Yu. Sedangkan Kota Hangyao, Akan dikuasai oleh Bangsawan Zhu Han.
Setelah pertemuan di Aula itu berakhir, Bangsawan Mu Bai, Zhu Han dan isterinya, Tan Kuan dan Yu Mei, Zhu San dan Bian Chi serta kedua guru Zhu San, mengadakan pertemuan untuk mendengar penjelasan Zhu Han.
Saat semuanya telah berkumpul di ruangan Bangsawan Mu Bai, Zhu Han pun memulai penjelasannya tentang kamuflase kematiannya.
“Semua ini atas kehendak Guru, Guru berkata bahwa Aku harus tetap hidup, karena kota Shinzu masih sangat membutuhkan Aku. Aku mencoba untuk menolak saran Guru. Tapi aku tak berdaya ketika memaksa dengan caranya sendiri.”
Zhu Han berkata dengan suara bergetar, Ia pun melanjutkan penjelasannya tentang rencana Pendekar Seribu Wajah, setelah mendengar berita jika lima orang pengawal bangsawan Yin Hu dan Bangsawan An He, akan mendatangi Kota Shinzu berniat untuk membunuh dirinya.
Benar atau tidaknya berita itu, Pendekar Seribu Wajah mengusulkan sebuah rencana yang telah lama Ia susun untuk memalsukan kematian Zhu Han demi keselamatan muridnya itu.
Rencana itu terbersit dalam benak Pendekar Seribu Wajah sejak, kedatangan beberapa orang dari Kekaisaran Qing yang ingin membunuh Zhu Han termasuk Chou Ong.
Pendekar Seribu Wajah mengajak Rei Ji dan Sepuluh Pasukan Heise untuk menjalankan rencana yang telah dipersiapkan dengan matang olehnya.
Rei Ji dan sepuluh Pasukan Heise bersedia melaksanakan semua rencana yang disusun oleh Kakek Guru Zhu San itu. Mereka bersedia berkorban nyawa sekalipun, demi keselamatan belasan ribu penduduk kota Shinzu.
__ADS_1
Rei Ji bersedia menjadi Zhu Han palsu. Salah satu anggota perempuan Pasukan Heise, bersedia menyamar menjadi Mu Rong. Dan satu orang lelaki bersedia menyamar menjadi sosok berwajah Rei Ji.
Dengan perlengkapan topeng yang telah dipersiapkan sebelumnya, Pendekar Seribu Wajah segera membuat penyamaran bagi kelima orang tersebut.
Rei Ji asli menggunakan topeng tipis berwajah Zhu Han dan mengenakan Jubah yang sering dipakai sehari-hari oleh Bangsawan penguasa kota Shinzu itu.
Sementara satu orang perempuan anggota Pasukan Heise, memakai topeng berwajah Mu Rong. Satu orang lelaki anggota Pasukan Heise mengenakan topeng berwajah Rei Ji yang akan mengawal Mu Rong ke Kota Baixan.
Zhu Han dan Mu Rong diberi dua topeng yang berbeda raut wajahnya oleh Pendekar Seribu Wajah.
Setelah persiapan selesai, Mu Rong palsu memasuki kereta kuda. Sedangkan Rei Ji palsu duduk di depan dan menjadi sais bagi kereta tersebut.
Sedang Zhu Han dan Mu Rong, menaiki kuda bersama delapan orang anggota Pasukan Heise. Mereka pun berangkat meninggalkan Tan Kuan, Pendekar Seribu Wajah dan Rei Ji yang kini menjaga kediamannya.
Zhu Han menghela nafas sejenak, sebelum melanjutkan kembali penjelasannya.
Namun sepuluh anggota Pasukan Heise itu bersujud meminta kepadanya, untuk tetap mengikuti rencana Pendekar Seribu Wajah demi masa depan penduduk Kota Shinzu.
Dengan wajah yang sangat sedih, Zhu Han dan Mu Rong lalu memacu kudanya ke arah timur, melintasi jalan kecil yang akan membawa mereka ke sebuah desa besar.
Sepanjang jalan, mereka berdua berharap tidak terjadi hal buruk pada seluruh orang yang terlibat dalam rencana tersebut.
Sesampainya di desa besar yang bisa dibilang sebuah kota kecil, Zhu Han menuju sebuah kedai makan. Ia lalu menemui pemilik kedai dan memberikan surat yang dititipkan oleh Sang Guru kepada pemilik kedai itu.
Pemilik Kedai itu, adalah orang yang pernah diselamatkan nyawanya oleh Pendekar Seribu Wajah. Bahkan Ia dimodali olehnya untuk membuka kedai makan tersebut hingga menjadi Kedai terbesar di kota kecil itu.
Pemilik Kedai itu mengajak Zhu Han dan Mu Rong ke bagian belakang lalu menunjukan sebuah kamar besar yang cukup mewah untuk mereka tempati selama dibutuhkan.
__ADS_1
Zhu Han selalu mengganti pakaian yang mereka kenakan saat keluar dari bangunan tersebut, mereka berpakaian seperti pengemis, Pakaian yang telah dipersiapkan oleh gurunya.
Dengan pakaian seperti itu, mereka membaur bersama pengemis lain. Lalu berhasil menemui pimpinan pengemis yang merupakan informan rahasia bagi Sang Guru.
Mereka adalah para pendekar bebas yang akan selalu mengawasi gerak-gerik pendekar Aliansi Aliran Hitam dan melaporkannya kepada Pendekar Seribu Wajah.
“San’er di Kota kecil itulah Aku dan Ibumu bertemu denganmu dan Adik Ruo yang memberi kami uang sebelum memasuki kedai. Apakah kau masih ingat?” Zhu Han bertanya kepada Zhu San yang terkejut mendengar hal itu.
“Iya … Aku masih ingat hal itu Ayah, tapi wajah Ayah dan Bunda saat itu berbeda sekali, dan aku tidak menduganya. Kenapa Ayah tidak menemui kami dan mengatakan yang sebenarnya?” Zhu San balik bertanya.
“Yang dikatakan oleh Kakek Gurumu adalah hal yang membuat kami tidak mengatakan yang sebenarnya, walau kami ingin sekali menemuimu dan mengatakannya.” Zhu Han berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Guru berpesan bahwa aku boleh membuka penyamaranku jika Aliansi Aliran Hitam berhasil dikalahkan seluruhnya. Dan Kami terus menyamar selama perjalanan ke Kota Baixan ini selama lebih dari satu bulan berjalan kaki.”
Fu Kuan dan Lin Kai menganggukkan kepala beberapa kali. Keduanya menjadi lebih hormat kepada sahabat mereka, yang bersedia mati demi muridnya dan keselamatan orang lain.
“Gurumu memang orang yang sangat hebat, Semoga Ia tenang berada di alam sana, melihat muridnya begitu berbakti padanya.” Fu Kuan berkata dengan suara bergetar, membuat Zhu Han segera menunduk memberi hormat.
Bangsawan Penguasa Kota Shinzu itu, lalu menatap kepada Tan Kuan. “Kakak Tan terimakasih telah berkorban untuk kami, Siapakah adik dia? Apakah Calon Isteri Kaka?”
Zhu Han segera bertanya kepada Tan Kuan yang membuat wajah Kakak seperguruannya itu menjadi memerah, sebelum menjelaskan siapa Yu Mei. Ia juga mengatakan akan segera menikahi Yu Mei dalam waktu dekat ini.
Zhu Han dan semua orang segera memberi selamat kepada Tan Kuan dan Yu Mei yang kini wajah cantiknya merona merah.
Dengan dahi yang berkerut, Fu Kuan menatap wajah Lin Kai yang terlihat sedih. Lalu Ia pun bertanya, mengapa sahabatnya memasang demikian.
“Aku selalu sedih ketika mendengar orang akan menikah. Selalu hadir pertanyaan “Aku kapan menikahnya?” Jawab Lin Kai sambil menghembuskan nafas panjang.
__ADS_1
*****