Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
048: Ambisi Murid Durhaka


__ADS_3

Saat ketua Chen Hu hendak menaiki kuda yang tali kekangnya dipegang oleh Gao Yan, sebuah suara terdengar dan membuatnya terkesiap.


Ketua Chen Hu terkejut dengan mata yang melotot lebar, saat merasakan sakit di bagian jantungnya tepat dimana pedang Gao Yan menembus dada kirinya.


“Murid Biadab!!! Kenapa … Kau lakukan … hal hina … ini..”


Tubuh Ketua Chen Hu pun jatuh terjungkal setelah menyelesaikan perkataannya. Ia pun memandang marah pada Gao Yan yang sedang menyeringai kepadanya.


“Ketua … Kau dan Ayahku adalah murid Kakek Fu Kuan, tetapi kau selalu mendapat kasih sayang lebih dari kakek sehingga Ayahku selalu kalah darimu.”


Gao Yan berkata dengan keras melepaskan kekesalannya selama ini.


“Dengan kematianmu maka Ayahku akan menjadi Ketua Sekte. Dan di masa depan Akulah yang akan menjadi ketua sekte berikutnya… Hahahaha.”


Mulut Ketua Chen Hu ingin mengatakan sesuatu, namun karena dipenuhi darah, hanya erangan yang terdengar darinya sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Gao Yan segera mencabut pedangnya, Ia membiarkan mata Ketua Sektenya itu tetap melotot dalam kematiannya.


“Shan’er apa kau sudah selesai menyiapkan alibi untuk kita?”


“Sudah Kakak … tapi kita harus melukai diri kita terlebih dahulu.” Gao Shan menjawab pertanyaan kakak kandungnya itu dengan antusias.


Ia lalu lalu mulai menjelaskan alibi yang akan keduanya berikan kepada Ayah mereka dan Kakek Gurunya nanti.


“Sempurna … Jika begitu lekas gores lengan kiriku terlebih dahulu.”


Gao Yan tersenyum puas setelah mendengar alibi yang disusun oleh adiknya yang memang terkenal jenius dalam hal yang berkaitan dengan strategi itu.


“Kakak dimana kita akan menyembunyikan Pedang Bintang Merah itu?” Gao Shan bertanya kepada Gao Yan seraya mengedarkan pandangan matanya.


“Bagaimana kalau kita sembunyikan dengan mengikat di dalam lubang kayu besar itu?” Gao Shan kembali bertanya kepada Gao Yan.


Gao Yan lagi-lagi tersenyum, mendapati kejeniusan sang adik. Keduanya melangkah mendekati sebuah kayu besar yang telah berlubang di bagian pangkal batangnya.


Setelah menyembunyikan pedang tersebut dengan rapi, mereka pun segera membuat tempat tersebut seolah telah terjadi pertarungan sengit.


Gao Yan tersenyum sesaat setelah mereka berdua berada di atas kuda. Wajah Qin Yu kembali mengisi benaknya. Satu langkah telah Ia lakukan demi untuk mendapatkan hati dan cinta gadis cantik yang Ia sukai itu.


Dengan menjadi Anak Ketua Sekte terkenal yang kelak akan menjadi Ketua Sekte berikutnya, Ia berharap jika Qin Yu akan menerima cintanya, kelak saatnya tiba untuk Ia ungkapkan perasaannya.


Demikian juga halnya dengan Gao Shan yang dalam diamnya, telah menyukai sesosok gadis yang baru saja Ia lihat kecantikannya yang tiada tara.


Hanya satu hal yang membuat keduanya sedikit khawatir, Sosok pemuda yang merupakan paman Guru mereka.

__ADS_1


Mereka hanya berharap bahwa Kakek Guru Fu Kuan tidak mengangkat Zhu San untuk menggantikan Ayah mereka. mengingat kemampuannya yang tinggi bahkan bisa melayang di udara.


Keduanya pun segera memacu kuda mereka kembali menuju ke sekte Pedang Bintang esok hari. Karena mereka akan menginap terlebih dulu di desa yang satu jam lagi akan mereka datangi.


Tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata tua mengawasi apa yang mereka lakukan sesaat setelah Gao Yan membunuh Ketua Sektenya sendiri.


Sosok tersebut segera melesat ke arah batang pohon yang sangat besar itu. Senyumannya terkembang saat berhasil mengambil Pedang yang sangat terkenal itu.


Sosok itu, segera melesat ke arah utara. Dari teknik peringan tubuhnya yang tinggi, menunjukan jika Ia adalah seorang pendekar tingkat tinggi.


*****


TRANG !!!


Pedang Awan Biru berbenturan dengan sebuah golok besar milik seorang pria bertubuh tegap.


Sosok yang mengenakan topeng singa itu, terkejut saat tiba-tiba saja dari udara, sebuah pedang berbilah biru menahan serangannya ke leher seorang Nenek.


Pertarungan seketika terhenti dengan kehadiran Zhu San yang tiba-tiba dengan cara yang tak biasa itu.


“Nenek … Tolong lindungi Yu’er, biar aku yang menghajar kedua bedebah ini.” Qin Rui terlihat senang saat melihat kehadiran Zhu San yang tepat waktu sehingga bisa menyelamatkan dirinya.


Qin Rui menghadapi dua orang lawan yang memiliki kemampuan di bawahnya. Namun karena perhatiannya yang terpecah dan mengkhawatirkan Qin Yu, nyaris saja dirinya celaka.


Suasana yang remang-remang diantara pepohon besar itu, membuat suasana yang hening menjadi semakin mencekam.


“Hati-hati San’er, mereka berdua adalah Gu Xiang, Ketua Sekte Topeng Siluman dan Bhu Lao, Ketua Sekte Kuda Besi.”


“Baik Nenek … Bisakah Nenek menolong mereka yang telah terikat itu?”


“Aku yang akan mengurus mereka, berhati-hatilah.”


Qin Rui menjawab pertanyaan Zhu San dengan cepat karena melihat pemuda itu melangkah mendekati Bhu Lao dan Gu Xiang dengan santainya.


“Siapa Kau anak muda? Berani sekali Kau mencampuri urusan kami?” Bhu Lao membentak Zhu San setelah jarak mereka hanya terpaut tiga meter saja.


“Aku hanya seorang pemuda yang baru saja lewat dan melihat dua orang lelaki tak tahu malu yang sedang mengeroyok seorang Nenek Tua.”


Zhu San menyeringai setelah menjawab demikian membuat Bhu Lao menjadi marah mendengarnya.


Lelaki berusia lima puluhan tahun itu, segera melompat seraya melesatkan tendangan keras ke arah kepal Zhu San.


Zhu San yang memang telah siaga, segera melompat lebih tinggi untuk menghindari tendangan tersebut.

__ADS_1


Bhu Lao terkejut dengan kecepatan gerak yang dimilik Zhu San, dan Ia pun bersusah payah menangkis tendangan kuat dari Zhu San.


PLAAK!!!


Suara tendangan Zhu San yang ditahan oleh lengan Bhu Lao terdengar keras seiring tubuh Bhu Lao yang terpental mundur dengan wajah yang terkejut.


Melihat Zhu San hendak menyerang rekannya, Gu Xiang si Topeng Siluman Singa segera melesat menghadang seraya menebaskan goloknya.


TRANG !!!


Suara benturan senjata kembali terdengar dan tubuh tegap Gu Xiang terpental mundur dengan suara terkejut yang terdengar seperti singa mengaum itu.


Kedua Ketua Sekte Aliran Hitam itu memandang Zhu San dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana Bisa di usia semuda itu memiliki tenaga dalam yang sangat besar.


“Pemuda ini bukan pendekar biasa, tenaga dalamnya besar sekali walau kemampuan tarungnya belum tinggi.”


Bhu Lao berkata kepada Gu Xiang yang masih belum percaya jika dirinya bisa terpental.


“Benar … Bukankah Pedang di tangannya itu milik Sesepuh Lin Kai? Bagaimana bisa berada di tangannya?”


Gu Xiang menjawab pertanyaan Bhu Lao sekaligus bertanya balik.


“Entahlah … kita harus mengerahkan seluruh kekuatan kita untuk mengalahkan pemuda itu.”


Selepas berkata demikian, Bhu Lao lalu mengalirkan sembilan puluh persen tenaga dalamnya ke arah kedua kakinya.


Ketua Sekte Kuda Besi itu, bersiap dengan jurus andalannya yaitu Tendangan Kuda Liar yang telah terkenal dengan kecepatan dan kekuatannya bagai seekor kuda liar yang tengah mengamuk.


Gu Xiang pun segera membaca mantera untuk mengeluarkan kekuatan yang dimiliki oleh topeng Siluman Singa yang Ia kenakan.


Suara Auman singa segera terdengar sesaat kemudian seiring dengan Gu Xiang melemparkan goloknya karena tangannya kini telah berubah berbentuk bagai telapak kaki depan seekor singa.


Zhu San segera memasukan pedang Awan Biru ke dalam sarung yang berada di punggungnya.


Ia pun segera mengerahkan lima puluh persen tenaga dalamnya dan bersiap dengan jurus Tinten Siba.


Aura Panas dan dingin segera saja terpancar kuat dalam waktu yang bersamaan dari tubuh Zhu San.


Qin Yu menatap dengan rasa kagum yang mendalam terhadap Zhu San. Perasaan nyaman dan selalu terlindungi, membuat dirinya bertekad dalam hati untuk tidak mencintai siapapun selain Dia.


*****


Yang lagi Jomblo jangan baper lagi ya …

__ADS_1


😂🙏🙏🙏


__ADS_2