Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
316: Perang Besar Dunia Atas II


__ADS_3

Tebasan Pedang Yin Bian Chi, memang berhasil menebas leher ketua Sekte Pedang Kelabang Ungu, namun saat tubuh Pria seusia ketua Gong Fei itu hampir mencapai tanah sesuatu keanehan terjadi.


Tubuh pria berjuluk Pendekar Kelabang Ungu itu, berhenti dari jatuhnya dan kembali berdiri walau lehernya hampir putus dengan tubuh yang nyaris membeku.


Hal aneh lainnya pun segera terjadi, ratusan mayat para pendekar Aliansi Kegelapan yang masih utuh tiba-tiba kembali melayang ke udara dengan mata yang terlihat hitam semua dan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.


Aura mencekam pun memancar kuat dari tubuh ketua kelabang Ungu dan sekitar enam ratus sembilan puluh sembilan mayat lainnya. Sehingga kini ada tujuh ratus mayat hidup yang memiliki kemampuan di tingkat pendekar Dewa tahap akhir.


“San Gege! Apakah kau belum selesai?! Cepatlah situasi berubah drastis!” Bian Chi segera bertanya kepada Zhu San yang beberapa detik lagi akan selesai mengobati Ketua Gong Fei.


“Aku sudah selesai apa yang …”


Perkataan Zhu San melalui telepati itu, segera terhenti saat Ia membuka matanya dan mendapati ribuan Mayat Hidup melayang dengan aura kekuatan yang besar dan mencekam, mengepung seluruh pendekar Aliansi Aliran Putih.


Setelah menghilangkan bola energi yang mengurung tubuhnya dan Ketua Gong Fei, Zhu San segera meminta ketua Sekte Pedang Suci itu untuk mengajak masuk seluruh Pendekar Bumi dan berlindung di balik Perisai yang Ia buat.


Ketua Gong Fei yang telah pulih sepenuhnya itu, segera berteriak memerintahkan para Pendekar Bumi agar masuk ke dalam Perisai pelindung setelah Zhu san membuka celah selebar sepuluh meter.


“Guru … Sepertinya Guru masih ingin disini dan menemani kami. Benarkah begitu guru?” Zhu San sebenarnya berharap jika Sang Guru segera berlindung di balik Perisai yang Ia buat.


“Tentu saja, Aku tahu kekuatan mereka sekarang jauh di atasku. Tetapi sebagai ketua aliansi, Aku tidak bisa menyerahkan semua tanggung jawab itu kepadamu.” Zhu menganggukkan kepalanya.


Zhu San pun segera menutup kembali celah itu, bertepatan dengan Bian Chi yang kembali bertarung dengan Mayat Hidup Pendekar Kelabang Ungu.


Berbeda dengan sebelumnya, gerakan mayat hidup itu, jauh lebih cepat dan bertenaga. Hal yang membuat Bian Chi menjadi kesal karena sempat terkejut dengan kekuatan baru lawannya.


Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, Bian Chi menebas lengan kanan mayat hidup Pendekar Kelabang Ungu hingga membuatnya berhasil merampas pedang yang beracun itu.


Walau lengannya telah putus, namun mayat hidup itu terlihat tidak perduli ataupun merasakan sakit.


Ia terus menyerang Bian Chi dengan cepat menggunakan cakaran tangan kirinya. Sekali lagi Bian Chi menebas lengan kiri sebatas siku yang membuat posisi melayang mayat hidup itu menjadi goyah.

__ADS_1


“kalian semua! tebas lehernya hingga putus! Mungkin dengan begitu Ia akan segera mati!”


Long Niu yang mengamati pertarungan itu sedari tadi, mencoba mencari kelemahan dari Mayat Hidup itu saat melihat Zhu San terkejut mendapati lawan masih bisa menyerang walau kedua kakinya telah dihancurkan.


Keempat orang yang mendengar perkataan Long Niu, segera mengalihkan serangan mereka ke arah leher mayat hidup yang terus berebut menyerang mereka.


Mudah saja bagi ke empat Pendekar Dewa Sejati itu, melakukan serangan terhadap leher lawan yang memiliki kekuatan satu tingkat di bawah mereka.


Sesaat kemudian, terlihat tubuh mayat hidup mulai berjatuhan. Mendapati ucapan Sang Guru benar, Zhu San dan Bian Chi segera menyerang dengan brutal.


Hal itu karena mereka berdua bisa merasakan sebuah aura aneh yang sangat kuat, sedang bergerak ke arah mereka dari tempat yang sangat jauh.


“San Gege … Apakah Kau merasakan aura besar di atas sana?” Tanya Bian Chi di sela-sela serangannya kepada mayat hidup yang kini jumlahnya kurang dari separuhnya itu.


Zhu San pun membenarkan ucapan Bian Chi. Karena hal itulah Ia segera melesat dengan kecepatan penuhnya. Pedang Yang di tangan Zhu San, segera berkelebat membunuhi korbannya.


Dalam waktu lima menit kemudian, seluruh pasukan mayat hidup itu berhasil dihabisi oleh mereka berlima. Dan suasana pun menjadi hening untuk beberapa saat.


Sementara itu, di belakang barisan pasukan Aliansi Kegelapan, terlihat dua orang berkekuatan besar, menunjukkan kekhawatiran mereka sesaat setelah merasakan Aura Besar yang lain di tempat yang sangat jauh di atas kepala mereka.


Ia bertanya kepada kakak seperguruannya yang bernama Ke Hin yang segera tersadar dari lamunannya tentang kekuatan besar yang Ia rasakan.


“Cheng Yun, Empat orang berkekuatan besar itu harus kita habisi terlebih dahulu. Tapi jika hanya kita berdua saja tidak mungkin bisa menang melawannya. Kita harus keluarkan Makhluk Kuno penghuni Tongkat Sihir agar membantu kita.”


Cheng Yun tertegun sejenak, namun Ia juga setuju akan hal tersebut. Tubuh keduanya tiba-tiba berubah menjadi asap dan menghilang dari tempat tersebut.


Beberapa detik kemudian, tubuh keduanya terlihat telah berada di depan Zhu San dan yang lainnya.


“Kalian semua tak akan Kami ampuni lagi! Ku pastikan kematian Kalian akan sangat menyakitkan!”


Ke Hin, murid pertama Penyihir Kuno itu segera membaca mantera sambil mengalirkan energi ke arah tongkatnya yang berwarna Biru Laut.

__ADS_1


Demikian juga halnya dengan Cheng Yun yang segera mengalirkan energi qi ke tongkatnya yang berwarna merah darah.


Sesaat kemudian terjadi hal yang sama dengan apa yang Zhu San dan ketiga orang lainnya pernah menyaksikan hal itu sebelumnya saat bertarung dengan Chu Hong.


“Jadi kalian berdua adalah murid Labamba dan Labimbi. Baguslah jika begitu!”


Zhu San tersenyum dan berkata kepada Bian Chi melalui agar tidak membunuh mereka berdua, tetapi melumpuhkannya untuk ditanyai dimana tempat kedua guru mereka berada.


Tentu saja Ke Hin dan Cheng Yun terkejut mendengar hal tersebut. Apalagi setelah mendengar perkataan Zhu san berikutnya.


“Jadi, mahkluk Kuno seperti apa yang akan kalian keluarkan dari tongkat sihir kalian itu!”


Wajah kedua murid Labamba dan Labimbi itu, seketika memburuk.


Mereka akhirnya menyadari bahwa sosok di depan mereka adalah orang yang telah membunuh Chu Hong dan orang yang disebutkan oleh guru mereka untuk tidak mereka lawan.


Namun hal itu sudah terlambat karena mereka telah membaca mantera dan memanggil Makhluk Kuno yang berada di dalam Tongkat sihir masing-masing.


Pancaran cahaya dari kedua tongkat mereka, tidak bisa dihentikan. Cahaya yang seketika bergulung sejak beberapa detik lalu itu, kini telah bergulung dan perlahan-lahan membentuk sebuah wujud yang terlihat asing.


Mata Long Niu melotot lebar demikian juga dengan semua orang yang menyaksikan hal itu dari balik perisai pelindung kota.


Kini di udara terlihat dua makhluk yang memiliki kekuatan sangat besar serta wujudnya yang sangat aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Dari tongkat Biru laut di tangan Ke Hin muncul makhluk seperti ikan yang memiliki panjang lima meter dan memiliki sayap di kedua sisi tubuhnya, sementara kepala ikan itu, memiliki tiga tentakel seperti gurita. Di bagian ekornya yang runcing dan seperti ekor belut, terlihat percikan kecil seperti petir.


Sementara dari Tongkat di tangan Cheng Yun, muncul makhluk yang tak kalah anehnya. Tubuh hewan yang diselimuti api itu, berbentuk seperti kuda namun memiliki tiga kepala seperti ular naga dan juga dua sayap serta tiga ekor yang seperti cambuk sepanjang dua meter.


Firasat buruk menyelimuti benak Long Niu melihat Aura besar yang terpancar dari tubuh kedua makhluk kuno itu. Hal itu membuatnya meminta Zhu San agar membuka celah Perisai pelindung kota.


Zhu San pun menyetujui hal tersebut, mengingat efek pertarungan dengan kedua mahkluk kuno yang jauh lebih kuat dari milik Chu Hong itu, akan sangat berbahaya bagi Sang Guru.

__ADS_1


Setelah selesai menutup kembali celah dinding perisai kota Xiangqing, Zhu San segera bersiap dengan membagi tugas kepada Lian Li dan Phoenix Putih agar bertarung dengan kedua murid penyihir Kuno itu.


-------------------------O---------------------------


__ADS_2