
Pagi berikutnya Zhu San dan Bian Chi telah tiba di Kota Hangzu, Kota kelahiran Qiu Lan. Saat memasuki kota tersebut, keduanya mendapati suasana yang terlihat mencekam.
Banyak sekali terlihat para pendekar dengan wajah tidak bersahabat sedang bersantai sambil meminum arak mereka. Zhu San dan Bian Chi mengabaikan tatapan liar mereka.
Keduanya pun akhirnya menemukan kedai besar yang terlihat ramai. Saat keduanya memasuki tersebut, tatapan liar kembali di alami oleh Bian Chi.
Di dalam ruangan tersebut, terlihat banyak sekali para pendekar yang sepertinya berasal dari aliran hitam. Namun Zhu San dan Bian Chi tetap duduk dengan santainya setelah memesan hidangan mereka.
Saat sedang menyantap hidangan tujuh orang Prajurit Keamanan Kota memasuki kedai tersebut. Wajah Pemilik kedai menjadi pucat saat mereka meminta pajak yang belum waktunya untuk diserahkan.
Tak ingin kedainya ditutup, Pemilik Kedai pun akhirnya membayarkan uang pajak yang seharusnya dua minggu lagi disetorkan. Ia tak berdaya dengan situasi yang Ia hadapi.
Saat itulah beberapa prajurit melihat kecantikan Bian Chi yang membuat lima dari tujuh orang tersebut segera menghampirinya. Dan mereka mulai menggoda Bian Chi dengan kata-kata yang tak pantas.
“Ah ada gadis cantik rupanya di sini, bagaimana jika kau menemani kami untuk minum arak Nona?”
Bian Chi yang sudah kesal sedari tadi menjawab perkataan itu dengan melambaikan tangan kirinya. “Pergi kalian! Mengganggu orang sedang makan saja!”
Kibasan yang disertai emosi itu, membuat tiga orang diantara mereka terpelanting dengan kepala membentur tiang bangunan dan lantai. Ketiganya tewas seketika.
Sementara dua orang prajurit yang lain terlempar dan menghancurkan dua meja serta apa yang ada di atasnya. Beberapa orang pendekar yang berada di ruang itu, tersentak kaget melihat apa yang Bian Chi lakukan.
“Pendekar Tingkat Tinggi? Semuda itu? Aku tak percaya jika tidak melihatnya sendiri.” Salah satu prajurit berkata dengan wajah yang terlihat takjub.
“Benar … Aku pun tak percaya jika tidak melihatnya sendiri.” Pendekar yang lain menimpali ucapan rekannya.
Suasana menjadi hening dan tegang, dua orang prajurit yang tidak ikut menggoda Bian Chi, segera berlari keluar dari kedai itu dengan wajah yang ketakutan.
Zhu San dan Bian Chi meneruskan menyantap hidangan mereka seolah tidak terjadi sesuatu apapun di dalam kedai itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, keduanya selesai dan berniat melanjutkan perjalanan setelah membayar hidangan sekaligus mengganti kerugian meja yang rusak akibat kejadian tadi.
Selain itu Zhu San juga memberikan beberapa koin emas kepada pelayan agar mengurus mayat para prajurit itu.
Saat keduanya baru beberapa langkah meninggalkan kedai tersebut, dua orang prajurit menghadang dan dengan membawa sekitar lima belas orang pendekar yang memiliki tubuh kekar.
“Nona itu tadi yang membunuh para prajurit kita Tuan.” Salah satu dari dua orang prajurit yang lari tadi berkata sambil menunjuk ke arah Bian Chi.
Pria yang dipanggil tuan adalah Sosok yang ditunjuk aliansi aliran hitam untuk memimpin anggota aliansi aliran hitam yang menjaga kota Hangzu.
Ia segera melangkah mendekati Zhu San dan Bian Chi yang masih terlihat santai. “San Gege jangan menghalangi Aku membunuh mereka semua. Aku muak melihat tatapan mereka kepadaku!” Ucap Bian Bian Chi melalui telepati mereka.
“Terserah Kau saja Chi’er … Lakukan dengan cepat!” Kata Zhu San sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Nona Kau harus kami tangkap dan bertanggung jawab atas kematian ketiga prajurit Kekaisaran Hun. Menyerahlah!” Pemimpin Aliansi aliran Hitam Kota Hangzu berkata dengan suara arogan kepada Bian Chi.
“Menangkapku?! Lakukanlah jika kalian punya kemampuan!” Bian Chi tersenyum sinis sebelum Ia bergerak dengan tiba-tiba dan cepat.
Rasa jerih di hati pemimpin itu, muncul dan berakhir dengan seketika, saat tapak Bian Chi yang berhawa sangat dingin, menghantam dadanya dengan telak.
Melihat pemimpin mereka mati, para pendekar aliansi yang lainnya segera bergerak mundur dengan wajah ketakutan. Bian Chi berteriak lantang saat bertanya siapa yang ingin menemani pemimpin mereka ke alam baka.
Para pendekar itu Bukannya menjawab, mereka malah berlarian menjauhi tempat tersebut. “Sudahlah Chi’er Kita berangkat saja!” kata Zhu San sambil melesat ke udara. Bian Chi segera menyusulnya.
Para pendekar dan semua orang terpana melihat apa yang Zhu San tunjukan. Sementara para pendekar yang tadi berniat menangkap mereka terkejut dengan kemampuan yang ditunjukkan oleh keduanya.
“Pantas saja ketua mati dalam dua kali serangan saja. Nona itu bukan pendekar biasa.” Salah satu pendekar berkata yang disetujui oleh temannya dengan menganggukkan kepala.
Zhu San dan Bian pun segera melesat ke arah barat. Mereka sudah tak sabar untuk segera tiba di kota Hungdao. Mencari keberadaan Bangsawan Wu Lei dan Bangsawan An He yang merupakan dalang pembunuh pamannya.
__ADS_1
Keduanya tiba di kota Hungdao setelah melayang sekitar tiga jam. Saat melihat kota yang sangat besar itu berada dua kilometer lagi di depan mereka, Zhu San memutuskan untuk turun dari udara.
“Chi’er .. Saatnya kau menggunakan Jurus Tulang Lunak Otot Kenyal yang kau latih selama ini.” Kata Zhu San ketika Bian Chi bertanya mengapa mereka turun di hutan kecil itu.
***
Setengah jam kemudian, dua orang yang sudah sepuh, meminta izin memasuki Kota Hungdao kepada para penjaga pintu gerbang timur kota tersebut.
Tanpa pemeriksaan yang ketat, keduanya diizinkan masuk. “San Gege … kemanakah kita akan mencari mereka?” Tanya Bian Chi yang kini berwujud seorang Nenek keriput.
“Kita mencari kedai yang paling ramai dan mahal karena para bangsawan biasanya mendatangi tempat-tempat seperti itu.” Jawab Zhu San.
Mengingat wajah mereka sudah dikenali oleh Wu Ming putera bangsawan Wu Lei, Zhu San terpaksa mengubah penampilannya. Hal itu agar memudahkan mereka untuk mencari keberadaan kedua bangsawan itu.
Dengan langkah terseok-seok layaknya orang tua, keduanya menyusuri Kota Hungdao yang begitu ramai. Suasananya sedikit berbeda dengan kota Hangzu, walau banyak sekali pendekar Aliran Hitam yang berkeliaran di sana.
Di kota ini, para penduduk masih terlihat bisa beraktivitas dengan wajah yang santai, berbeda dengan penduduk di kota Hangzu, yang terlihat berwajah tegang.
Setelah beberapa jam kemudian, keduanya menemukan sebuah kedai sekaligus penginapan yang mewah. Zhu San tersenyum lega. Keduanya pun segera memutuskan untuk singgah dan bermalam di penginapan tersebut.
Namun sayangnya mereka tidak mendapatkan kamar yang masih kosong. Semua telah disewa oleh pelanggan yang lain. Zhu San memutuskan hanya memesan hidangan sambil memikirkan langkah selanjutnya.
Seorang pendekar yang mengetahui hal tersebut merasa kasihan akan situasi yang dihadapi oleh Kakek dan Nenek tersebut. Ia pun mendatangi meja dimana Zhu San dan Bian Chi berada.
Setelah dipersilakan duduk oleh Zhu San, pendekar tersebut segera mengutarakan maksud dan tujuannya, yaitu memberikan kamar yang telah Ia sewa kepada Zhu San dan Bian Chi.
Setelah menerima kompensasi pengganti atas sewa kamar tersebut, Pendekar berusia sekitar lima puluh tahun bernama Tang Yun itu pergi meninggalkan Zhu San dan Bian Chi.
“San Gege … Apakah menurutmu ini tidak aneh? Sepertinya Ia bukan Pendekar dari Aliran Hitam.” Tanya Bian Chi melalui telepati mereka.
__ADS_1
“Benar Chi’er … Aku bisa merasakan Ia bukan pendekar Biasa. Kemampuannya mungkin setara dengan Paman Tan Kuan. Tapi untuk apa Ia berada di sini ya?” Jawab Zhu San dengan benak dipenuhi berbagai dugaan.
------------------O--------------------