Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
138: Memasuki Alam Jiwa


__ADS_3

“Permisi Nona … Bolehkan saya ikut bergabung di meja anda?”


Wu Ming berkata dengan senyum dan sikap yang penuh hormat, setelah melihat mereka bertiga selesai menyantap hidangannya.


Dua orang pendekar perempuan akan marah kepada pemuda bangsawan itu. Namun Qiu Lan telah berkata lebih dahulu.


“Silakan Tuan Muda …” Wu Ming segera duduk di kursi yang hanya tinggal satu lagi itu. Setiap meja kecil di kedai itu, masing-masing memiliki empat buah kursi.


“Siapakah Tuan Muda ini? Jarang sekali seorang bangsawan seperti anda, sudi semeja dengan rakyat jelata seperti kami.” Qiu Lan kembali berkata dengan tersenyum manis.


Perkataan yang dibarengi senyum manis Qiu Lan, membuat Wu Ming menjadi salah tingkah. Senyum itu terlihat begitu mempesona di mata Putera Bangsawan Wu Lei itu.


“Ah.. Nona jangan merasa sungkan. Namaku Wu Ming, aku berasal dari Kota Wuchang. Ayahku bernama Wu Lei. Siapakah nama Nona dan dari mana Nona berasal?”


“Namamu Qiu Lan, Aku berasal dari Kekaisaran Hun. Kami bertiga akan menemui Guru Kami di Kekaisaran Wei. Mereka berdua adalah kakak seperguruanku.” Qiu Lan menjawab santai namun penuh dengan kebohongan.


Akhirnya Ia berhasil mengingat siapa Wu Ming dan Bangsawan Wu Lei. Senyum lebar segera terkembang di bibirnya, seiring dengan siasat buruk muncul di dalam kepala.


Ia sudah berada di Kota Shangyu sejak kemarin siang dan mencari Informasi tentang situasi Kekaisaran Liu, sejak kudeta yang terjadi beberapa bulan lalu.


Mendengar nama Wu Lei yang merupakan salah satu dari empat bangsawan bangsawan yang memberontak, sebuah niatan untuk rencananya ke depan segera terbersit dalam hatinya.


“Tuan Muda … Tadi anda mengatakan jika berasal dari Wuchang bukan? Mengapa Anda sekarang berada di sini?” Tanya Qiu Lan.


Melihat senyum di bibir gadis itu, Wu Ming merasa senang. Ia pun segera menjelaskan bahwa Ia pergi ke Kota Shangyu bersama kedua orang tuanya.


Mereka sedang mengadakan pertemuan untuk membahas masa depan Kekaisaran Liu bersama bangsawan lainnya. Saat ini mereka sedang berencana untuk menaklukkan Kota Baixan.


Setelah menaklukkan kota Baixan, selanjutnya mereka akan memilih salah satu dari tiga bangsawan untuk menjadi kaisar Liu berikutnya.

__ADS_1


Qiu Lan tersenyum mendengar penjelasan Wu Ming, Ia bisa memahami bahwa Wu Ming dan keluarganya adalah bagian dari Aliansi Aliran hitam yang melakukan kudeta.


“Terimakasih penjelasannya Tuan Muda Wu Ming, Kami akan melanjutkan perjalanan Kami ke Kekaisaran Wei. Semoga kita bisa bertemu kembali.” Qiu Lan sengaja memberikan senyum termanisnya kepada Wu Ming.


Terlihat raut kekecewaan di wajah Putera Dewi Selaksa Racun itu. Namun dengan cepat ia berkata kepada Qiu Lan.


“Nona Lan … Jika anda Telah kembali dari Kekaisaran Wei dan melewati Kota Wuchang, Singgahlah di kediaman kami.”


“Terimakasih Tuan Muda Wu Ming, Aku akan selalu mengingatnya. Permisi.” Qiu Lan berkata seraya memberi hormatnya sebelum pergi meninggalkan meja tersebut.


Wu Ming memandanginya dengan kekecewaan di hati dan juga harapan bahwa Qiu Lan akan berkunjung ke kota Wuchang. Harapan yang akan terwujud dengan situasi yang berbeda dari yang ada dalam pikiran di benaknya saat ini.


***


Setelah mendapat persetujuan dari Lin Mi, Zhu San dan Bian Chi lalu menemui Song Ruo dan In Xeuxu di ruang tamu besar di Kediaman mereka.


“Maafkan Kami Paman … Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan. Yaitu tentang rencana kami berdua untuk berlatih di Alam Jiwa. Sebuah tempat yang berbeda dimensi dengan alam kita.”


Dahi Song Ruo mengerut, In Xeuxu datang dan membawa minuman untuk sang suami. Ia lalu memanggil pelayan agar menghidangkan teh untuk Zhu San dan Bian Chi.


“Berapa lama kalian akan berlatih di Alam Jiwa itu?” Song Ruo bertanya karena merasa Kota Shongdu belum benar-benar aman dari aliansi aliran hitam. Ia masih berharap Zhu San dan Bian Chi berada di kota itu.


“Kami belum tahu, berapa lama kami berhasil menguasai semua teknik dalam Kitab yang akan muncul nanti Paman. Mungkin setahun atau kurang dari itu.” Zhu San menjawabnya.


“Setahun!?” Song Ruo menelan ludahnya. Setahun bukan situasi yang sebentar dalam situasi seperti ini. Akan banyak hal terjadi dalam situasi selama itu.


“Benar paman, 1 tahun di Alam Jiwa mungkin sekitar satu sampai dua bulan di alam kita.” Zhu San lalu menjelaskan perbandingan lamanya waktu antara alam manusia dan Alam Jiwa.


Song Ruo tersenyum dan Ia pun mengizinkan Zhu San untuk pergi ke Alam Jiwa selama masa waktu dua bulan itu.

__ADS_1


Setelah menghabiskan tehnya, Zhu San dan Bian Chi segera berpamitan. Di iringi oleh tatapan dari mereka berdua, Nenek Lin Mi, Ju Yan dan Qin Yu serta Nenek Qin Ji, Zhu San dan Bian Chi.


Keduanya berencana membuka gerbang dimensi ke Alam Jiwa di hutan yang berjarak lima kilometer dari Kota Shongdu.


Hal itu karena gumpalan awan yang bergulung dan membentuk terowongan Ke Alam Jiwa, akan menarik perhatian para penduduk dan membuat kehebohan.


Sesampainya di hutan Zhu San dan Bian Chi segera menyatukan kekuatan mereka. Tak lama kemudian, gumpalan awan Hitam berkumpul dengan petir yang menyambar-nyambar.


Keduanya segera melesat memasuki terowongan setelah melapisi tubuh mereka dengan tenaga dalam. Untuk melindungi mereka agar tetap tersadar saat melewati terowongan dimensi yang dipenuhi energi itu.


Keduanya tiba di Alam Jiwa, di tempat yang cukup jauh dari pohon yang mereka temui, saat pertama kali memasuki Alam Jiwa pertama kalinya.


Mereka tak ingin membuang waktu lagi. Lalu masing-masing mengeluarkan Kitab Pusaka Yinyang dan Yangyin dari Cincin Jiwa-nya.


Dengan metode yang dijelaskan oleh Roh Yao Shan, Zhu San dan Bian Chi membuat kitab masing-masing mengambang di udara dengan diselimuti aura panas dan dingin dari energi mereka.


Setelah menyeimbangkan besarnya energi, lalu perlahan mereka mendorong kitab yang mengambang di depan mereka untuk saling bersatu di udara.


Sebuah cahaya keemasan segera memancar kuat dan Alam jiwa pun bergetar hebat, saat kitab itu bertemu dan mulai menyatu.


Zhu San dan Bian Chi memejamkan mata mereka. Keduanya mengetahui apa yang sedang terjadi saat itu.


Alam Jiwa sedang memunculkan Lima tempat yang akan mereka kunjungi satu persatu sesuai dengan urutan yang tertera dalam kitab gabungan itu.


Seiring menghilangnya guncangan itu, penyatuan kedua kitab itu pun selesai sudah. Keduanya membuka mata mereka dan mendapati sebuah kitab dengan sampul berwarna kuning keemasan, tengah melayang diantara keduanya.


Zhu San pun segera meraih kitab tersebut dan Bian Chi pun datang mendekat. Keduanya bisa membaca tulisan besar yang menjadi judul dari kitab tersebut. “KITAB LIMA ELEMEN.”


*****

__ADS_1


__ADS_2