
“Berdirilah Paman berdua, Aku bukan pangeran pangeran Kekaisaran Qing lagi.” Ju Yan yang merasa tak enak hati melihat penghormatan kepadanya itu, segera meminta keduanya berdiri.
“Tidak Pangeran, bagi Kami dan juga yang mulia Kaisar Hung, Anda adalah Pangeran Kekaisaran Qing yang akan menduduki Tahta Kekaisaran selanjutnya.”
Jenderal Teng Ji dan Kolonel Weng Dan, segera berdiri setelah Jenderal Teng Ji berkata demikian kepada Ju Yan.
Sontak perkataan itu membuat keempat orang lainnya terkejut. Terutama Qin Yu dan Ju Yan sendiri. Ia menatap tajam ke arah Jenderal Teng Ji untuk memastikan jika Ia tidak salah ucap.
“Apa maksud Paman berkata seperti itu? Apa Paman ingin Aku melakukan kudeta dan merebut Tahta Paman Shi Hung?”
Jenderal Teng Ji dan Weng Dan, sangat terkejut mendengar perkataan Ju Yan. Keduanya kembali berlutut, menyadari ada yang salah dengan kalimatnya dan membuatnya bisa berada dalam bahaya yang besar.
“Bukan begitu Pangeran, Hamba tidak bermaksud seperti itu. Yang Mulia Kaisar sendiri yang mengatakan akan menyerahkan Tahta Kekaisaran Qing kepada Anda. Karena Andalah yang berhak atas Tahta itu. Itulah mengapa Yang Mulia Kaisar memerintahkan Kami untuk mencari anda dan mengajak Anda pulang.”
Dengan suara yang bergetar, Teng Ji berhasil menyelesaikan kalimatnya. Empat bangsawan muda itu, akhirnya menarik nafas lega setelah mengetahui situasi sebenarnya.
Ju Yan lalu menjelaskan jika Ia akan kembali setelah menyelesaikan urusannya di Kekaisaran Liu, yaitu menikahi Qin Yu satu bulan lagi dari sekarang.
Karena Sebelum Nenek Lin Mi meninggal, gurunya itu telah sepakat dengan Song Ruo untuk menikahkan dirinya dengan puterinya Qin Yu.
“Ini berita yang sangat penting, Jika begitu kami akan segera kembali ke Kekaisaran Qing untuk memberitahu Yang Mulia Kaisar tentang hal ini. Pasti Beliau sangat senang mendengarnya.” Raut wajah Teng Ji dan Weng Dan terlihat berseri-seri mendengar hal tersebut.
“Baiklah Paman, jika begitu kami akan ke bawah menunggu paman di sana. Silahkan Paman berdua berkemas.” Zhu San yang sedari tadi diam, segera berkata.
Keempatnya lalu menuju ke lantai satu dan memesan Arak. Lima belas menit kemudian, Jenderal Teng Ji dan Weng Dan tiba. Suasana Kedai saat itu sedang sepi. Belasan pelanggan baru saja meninggalkan mejanya.
Jenderal Teng Ji segera memanggil seseorang. Terlihat orang yang dikenal sebagai pemilik kedai dan penginapan terbesar kedua di Kota Songdu ini, datang dengan terburu-buru dan memberikan hormatnya.
__ADS_1
Pemilik kedai itu lalu mengikuti Jenderal Teng Ji yang segera berkata kepadanya setelah tiba di hadapan Zhu San dan lainnya.
“Tuan Sha Meng jika Keempat Tuan Muda ini singgah disini berikan pelayanan terbaik dan jangan pungut biaya sepeserpun. Paham?”
“Siap Tuan Jenderal, hamba akan mengingat hal ini.” Pemilik Kedai yang dipanggil Sha Meng itu, segera menjawab dengan cepat.
“Mengapa harus begitu Paman Teng Ji? Bukankah itu akan merugikan Paman ini?” Bian Chi segera bertanya kepada Jenderal Teng Ji.
“Tidak Tuan Puteri, Penginapan dan Kedai Ini adalah milik Yang Mulai Kaisar. Tuan Sha Meng adalah penanggung jawab usaha ini.” Jawab Jenderal Teng Ji sambil tersenyum lebar.
Mengetahui hal itu, Sha Meng dan belasan Pelayan yang segera datang, segera berlutut dan secara serempak memberi salam kepada Tuan Puteri mereka.
Suara itu terdengar hingga ke luar, dua orang penjual Bakpau yang berada tak jauh dari pintu penginapan itu, saling berpandangan sejenak lalu tersenyum lebar.
“Akhirnya Dia menemukan yang Ia cari, Kita Akan mendapat hadiah besar dari Tuan Qiang Cao setelah menangkap Tuan Puteri. Tidak sia-sia satu tahun kita membuntuti mereka berdua.”
Tak berapa lama, Jenderal Teng Ji dan Kolonel Weng Dan keluar bersama Zhu San dan yang lainnya. Sementara kedua orang tadi, menjadi bingung saat melihat dua gadis cantik bersama dua orang pemuda berada di belakang Jenderal Teng Jin dan Kolonel Weng Dan.
“Sudah tidak usah berpikir kita tanya saja mereka!” Setelah berkata demikian, Ia pun melesat menghadang Jenderal Wen Ji dan yang lainnya. Sang rekan pun segera mengikutinya.
Kedatangan kedua orang yang menghadang dengan pedang terhunus, membuat mereka terkejut. Para penduduk kota yang melihat hal itu segera menjauhi tempat tersebut.
“Siapa Kalian berdua? Apa maksud Kalian dengan menghadang kami seperti ini?” Jenderal Teng Ji segera waspada. Ia dan Kolonel Weng Dan segera meletakan buntelan perbekalan mereka, lalu mencabut pedangnya.
“Hahahaha .. Teng Ji … sudah setahun lebih aku mengikuti mu dari kota ke kota dengan menyamar menjadi pedagang. Tak ku sangka hari ini tiba saatnya kami unjuk diri. Katakan yang mana Tuan Puteri Shi Ling itu!”
Salah satu Pedagang Bakpau palsu itu, segera melepas Jenggot dan kumis palsunya. Demikian juga dengan rekannya. Sesaat kemudian, tubuh Jenderal Teng Jin dan Weng Dan bergetar hebat saat mengenali siapa mereka.
__ADS_1
“Tu Lei dan Xing Du!” Suara keduanya sangat keras dengan rasa takut yang besar di dalamnya.
“Paman Jenderal, Siapa mereka berdua itu?” Zhu San pun segera bertanya.”Mereka adalah dua pengawal pribadi Qiang Cao. Dan ..”
“Mereka berdua yang telah membunuh Ayahku bukan? Saudara San biar aku yang mengurus mereka berdua,” Ju Yan tiba-tiba memotong kalimat Jenderal Teng Jin.
Ju Yan segera melangkah ke depan, menatap tajam ke arah dua orang yang wajahnya tak asing lagi baginya.
“Anak Muda apa maksudmu mengatakan kami telah membunuh Ayahmu? Siapa Ayahmu itu?” Sosok yang bernama Xing Du bertanya kepada Ju Yan dengan nada meremehkannya.
“Mungkin kalian lupa telah membunuh Ayahku belasan tahun lalu, Saat kalian melakukan kudeta dan membunuh Ayahku yang saat itu menjadi Kaisar Qing. Akulah yang kalian cari selama ini.”
Xing Du dan Tu Lei terkejut mendengar perkataan Ju Yan. “Hahahaha … kita panen besar Lei, rupanya Pangeran yang kita cari berada disini juga.” Xing Du berkata dengan riang sembari tertawa bersama Tu Lei.
PLAK!
Ju Yan yang sudah sangat marah sedari tadi, mengakhiri tawa Xing Du dengan sebuah tamparan yang keras, setelah Ia melesat sangat cepat ke arahnya.
Tidak menduga hal itu, Xing Du pun terlempar hingga tubuhnya menghantam gerobak dagang milik mereka.
Mata Tu Lei melotot lebar melihat hal itu, tidak Ia duga jika Pangeran yang hendak mereka penggal kepalanya itu, memiliki kemampuan yang sangat tinggi.
Hal yang sama di alami oleh Xing Du yang baru saja bangkit dengan bibir berdarah dan empat gigi yang tanggal. Ia mendengus sambil menatap Ju Yan dengan rasa marah yang besar.
“Tak Ku sangka Kau memiliki kemampuan yang cukup lumayan Pangeran Yan. Tapi Aku bukanlah lawan yang lemah.” Xing Du segera mengerahkan tujuh puluh persen tenaga dalamnya.
******
__ADS_1