
Empat anggota Raja Pisau yang lain terkesiap melihat kematian ketua mereka yang begitu cepat. Tidak sedikitpun mereka menduga akan menemui kenyataan menyedihkan seperti itu.
Rasa sedih dan marah terhadap kematian saudara mereka sedari kecil, berhasil menindih rasa jerih di hati keempatnya.
Mereka pun segera menerjang Zhu San dengan dua buah pisau yang tergenggam di kedua tangan masing-masing.
Bian Chi yang sudah sangat kesal, melesat mendahului Sang Suami. Ia menebaskan pedang dengan sangat kuat setelah bergerak cepat menghadang mereka berempat.
Tak butuh lama bagi Bian Chi untuk menghabisi keempatnya. Perbedaan kekuatan diantara kedua pihak terlalu jauh. Kecepatan Bian Chi sulit untuk diikuti oleh mata mereka.
Dalam waktu kurang dari satu menit, keempat pria bercadar itu tewas dengan kondisi mengenaskan. Leher mereka nyaris putus oleh tebasan pedang Bian Chi yang bergerak sangat cepat itu.
Tepat setelah Bian Chi membunuh orang keempat, satu batalion infanteri datang ke tempat tersebut bersama sosok yang dipanggil oleh para prajurit dengan sebutan Panglima Luan Hu.
“Kepung mereka!” Panglima berusia sekitar lima puluh tahun dengan tubuh tinggi besar itu segera memberi perintahnya.
Puluhan prajurit segera mengepung Zhu San dan Bian Chi, setelah mendengar perintah Panglima Luan Hu.
Beberapa saat kemudian, Kaisar Shi Sung dan Permaisuri keluar dari dalam kediaman itu. Tepat saat Zhu San selesai mengobati Si Bayangan Semu dengan cara mengeluarkan racun dari tubuhnya.
“Terimakasih Pendekar Muda, telah membantu dan menyelamatkan nyawa Kami bertiga.”
Si Bayangan Semu dan kedua rekannya segera berlutut mengucapkan terimakasih kepada Zhu San. Zhu San segera meminta keduanya berdiri dan meminta mereka untuk tidak bersikap seperti itu.
Sementara Bian Chi sedang tertegun menatap Permaisuri Qiang Ji yang juga tengah menatap ke arah dirinya dengan berbagai pertanyaan mengisi benaknya.
“Ji’er … Gadis itu … Aku seperti melihat dirimu yang dua puluh tahun lalu. Siapakah dia? Mungkinkah dia puteri kita yang hilang belasan tahun lalu?”
Kaisar Shi Hung yang rupanya juga sedang menatap ke arah Bian Chi, berkata dengan suara bergetar kepada isterinya, Qiang Ji.
Permaisuri Qiang Ji ingin berkata, namun suara Panglima Luan Hu yang menggelegar terdengar lebih dulu.
“Tangkap Kedua orang itu!” Perintah Panglima Perang Kekaisaran Qing itu membuat Si Bayangan Semu terkejut. Ia segera menahan para prajurit yang hendak bergerak.
__ADS_1
“Tunggu, Jenderal Luan, mereka berdua telah membantu kami bertiga dan membunuh lima orang penyusup yang hendak mencelakai Yang Mulia Kaisar.”
Panglima Luan Hu sedikit terkejut, namun Ia mempunyai pemikiran yang berbeda dengan Si Bayangan Semu.
“Siapa mereka berdua? Apa Kau mengenalnya? Dan apa tujuan mereka bisa berada di dalam kompleks Istana di tengah malam begini?”
Si Bayangan Semu terdiam mendengar perkataan Jenderal Luan Hu.
Keduanya tidak mengetahui jika Kaisar Shi Hung dan Sang Permaisuri, telah berada di depan pintu yang suasananya gelap karena beberapa lampion, telah dipadamkan oleh Lima Raja Pisau sejak dari tadi.
“Tunggu Jenderal Luan Hu! Aku akan bertanya sendiri kepada mereka berdua!”
Sontak seluruh prajurit berlutut, mengikuti apa yang dilakukan oleh Jenderal Luan Hu dan tiga orang pengawal pribadi Kaisar, setelah mengetahui keberadaan Kaisar Shi Hung.
Hanya Zhu San dan Bian Chi yang masih berdiri tegak. Membuat Jenderal Luan Hu menjadi sangat geram melihat sikap mereka yang tak menghormati Kaisar.
“Anak muda, siapakah kalian berdua? Dan kenapa mendatangi istana di tengah malam seperti ini?” Suara berwibawa sang Kaisar membuat Zhu San segera berlutut dan memberi hormat.
Setelah Bian Chi ikut berlutut, Zhu San lalu menjawab pertanyaan Sang Kaisar. Sementara hati Bian Chi berdebar-debar saat melihat Sang Kaisar dan Permaisuri mendekat ke arah mereka.
“Yang Mulia, mohon jangan terlalu dekat dengan orang asing. Mereka berdua sangat …” Jenderal Luan Hu terdiam ketika Kaisar Shi Hung mengangkat tangannya.
“Tenanglah Jenderal Luan, jika mereka berniat jahat, mungkin mereka tidak akan menolong Si Bayangan Semu dan membiarkannya tewas oleh racun musuh.”
Jenderal Luan Hu terdiam, namun Ia tetap waspada terhadap Zhu San dan Bian Chi.
“Bangunlah Nak, Kau cantik sekali. Kata suamiku, wajahmu mengingatkan dirinya akan wajahku di masa dua puluh tahun lalu, saat diriku seumuran dengan mu. Siapakah nama kedua orang tuamu? Dan dari mana mereka berasal?”
Permaisuri Qiang Ji yang merasa ada getaran batin saat melihat Bian Chi, segera menarik pundak Bian Chi untuk berdiri. Ia sedikit terkejut saat melihat air di mata Bian Chi.
Rasa bahagia dan haru yang sangat besar di hatinya, membuat Bian Chi terisak dan tak bisa bicara sepatah kata pun. Sang Permaisuri segera memeluk Bian Chi untuk menenangkannya.
Saat itulah Ia merasakan Bian Chi memeluknya dengan kuat, menangis terisak seraya berkata yang membuat semua yang mendengar perkataannya terkejut, kecuali Zhu San.
__ADS_1
“Ibu … Aku .. Shi Ling …. Puterimu!” Tangis Bian Chi segera meledak kembali dan memeluk tubuh Sang Permaisuri Qiang Ji dengan erat.
Kaisar Shi Hung yang terkejut sempat terjajar dua langkah ke belakang. Sementara Jenderal Luan Hu terdiam sejenak sebelum berkata yang membuat Permaisuri melepaskan pelukannya dengan berat hati.
“Ampuni Hamba Yang Mulia Permaisuri, perkataan perempuan ini harus dibuktikan terlebih dahulu kebenarannya. Bagaimana jika mereka adalah mata-mata musuh yang hendak menyusup.”
Zhu San menatap kesal ke arah Jenderal Luan Hu yang berkata demikian.
Namun Ia menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh Jenderal itu, adalah sebagai wujud loyalitas dan kekhawatiran pada keselamatan Ayah dan Ibu Mertuanya.
“Chi’er … Tunjukan tanda lahir di belakang bahu kirimu serta Pedang Phoenix milik Nenek Mi Lin kepada Yang Mulia Permaisuri. Mohon Yang Mulia Permaisuri memastikan hal itu, agar kesalahpahaman ini tidak berkepanjangan.”
Zhu San berkata dengan posisi tetap berlutut, Ia bisa melihat jika raut wajah terkejut Permaisuri Qiang Ji dan Kaisar Shi Hung setelah mendengar perkataannya.
Sambil menahan air matanya, Bian Chi lalu mengeluarkan pedang Phoenix dari Cincin Jiwanya. Hal itu membuat semua orang terkejut saat sebuah pedang, tiba-tiba muncul di tangan Bian Chi.
Melihat hal itu, Permaisuri Qiang Ji yang memiliki kemampuan beladiri cukup tinggi segera melesat mundur.
Namun sesaat kemudian matanya melotot lebar saat mengenali pedang di tangan Bian Chi. Ia pun segera bertanya kepada Bian Chi dan memintanya untuk memainkan jurus yang juga diajarkan Guru Mi Lin kepadanya.
“Jurus itu … Jurus milik Guru Mi Lin, Hung Gege… Dia benar puteri kita Shi Ling!”
Permaisuri Qiang Ji berkata dengan suara bergetar. Tak ada lagi keraguan di hatinya tentang identitas Bian Chi. Ia pun segera melesat sambil berteriak.
“Ling’er !… Kau benar-benar Shi Ling Puteriku!” Bian Chi yang baru saja selesai memainkan jurus yang diminta oleh Sang Permaisuri, segera memasukan kembali Pedang Phoenix dan menyambut pelukan Ibundanya.
Kaisar Shi Hung pun segera datang dan memeluk Keduanya dengan airmata yang berurai.
Keduanya melepas kerinduan mereka terhadap puteri satu-satunya yang telah terpisah selama belasan tahun itu.
Zhu San menahan air yang akan mengalir dari matanya. Rasa bahagianya begitu besar saat melihat Sang Isteri telah bertemu dengan Ayah dan Ibu yang selama ini diketahui telah tiada.
*******
__ADS_1