
Dua minggu kemudian, Zhu San dan Bian Chi terlihat sedang melatih jurus Amarah Suci Pedang Yinyang untuk ke sekian kalinya.
Keduanya berteriak bersamaan menggunakan energi qi mereka yang membuat Alam Jiwa bergetar hebat, akibat kuatnya energi suara tersebut.
Tujuh cincin udara yang terbentuk dari energi yang melesat dari dalam mulut keduanya, segera menyelubungi dua pedang energi dari dua energi elemen yang berbeda itu.
Di depan Zhu San, Pedang Energi dari elemen tanah sepanjang lima meter, berhimpit dengan Pedang Energi dari elemen api yang berkobar dengan panjang dan besar yang sama.
Kedua Pedang Energi itu, kemudian bersatu oleh ikatan ketujuh Cincin Energi Angin dari Zhu San dan membentuk sebuah Pedang Energi baru yang jauh lebih besar.
Pedang Energi yang terbentuk dari gabungan tiga elemen itu, memancarkan aura panas yang sangat kuat karena api yang berkobar, kini berwarna kebiruan dengan jilatan api mencapai dua meter lebih.
Di sisi lain berjarak sepuluh meter dari Zhu San, Bian Chi melakukan hal yang sama. Hanya saja Pedang Energi Bian Chi berasal dari Elemen Air dan Elemen Es yang berwarna biru keputihan.
Hawa dingin terasa hingga radius belasan meter dari Pedang yang bersatu oleh ikatan Elemen Angin berbentuk tujuh cincin itu.
“Amarah Suci Pedang Yin!”
“Amarah Suci Pedang Yang!”
Keduanya berteriak seraya menggerakkan Pedang Energi itu ke satu arah yang sama, gunung kecil dimana Kawah Suci Inti Api berada.
BLAAAMM!!!
Kedua Pedang Energi berhawa panas dan dingin itu, menghantam gunung kecil hingga menghancurkannya, dengan suara ledakan yang menggelegar sangat kuat.
Selain Alam Jiwa bergetar hebat, Zhu San dan Bian Chi terbelalak saat melihat Energi pedang mereka menembus dinding dimensi Alam Jiwa sehingga keduanya bisa melihat awan yang berada di dunia manusia.
Namun dinding yang tertembus itu, segera menutup kembali dalam waktu kurang dari lima detik kemudian.
__ADS_1
Kehebohan terjadi di Sekte Kuil Lonceng Dewa, Dimana Biksu Thio San dan ratusan muridnya yang sedang bermeditasi, dikejutkan oleh suara menggelegar dan dua Pedang energi besar melesat ke angkasa.
“Itukah Jurus Amarah Suci Pedang Yinyang? Sungguh kekuatan yang dahsyat sekali!” Biksu Thio San berkata dalam benaknya dengan mata melotot takjub ke arah hilangnya kedua Pedang Energi itu.
Sementara Di Alam Jiwa, Zhu san dan Bian Chi Terlihat sedang duduk bermeditasi. Mengatur lima energi yang bergejolak hebat dalam tubuh mereka.
Setelah setengah jam kemudian, keduanya berdiri dan saling berpelukan. “San Gege … Akhirnya kita bisa menguasai Jurus Amarah Suci Pedang Yinyang. Aku Sudah merindukan ibu dan ingin segera menemuinya.”
Zhu San tertegun saat mendengar hal itu. Dalam rencana mereka, keduanya akan mempelajari jurus Replika Diri terlebih dahulu sebelum keluar dari Alam Jiwa.
“Chi’er … Bersabarlah, kita harus mempelajari jurus Replika Diri terlebih dahulu.” Bian Chi melepaskan pelukannya.
“Tidak bisakah ditunda terlebih dahulu?” Zhu San menggelengkan kepalanya. Bian Chi akhirnya tertunduk dan mengikuti keinginan sang suami.
Saat keduanya selesai membaca petunjuk di dalam Salinan Kitab Sakti Energi Alam, Wajah Zhu San terlihat murung. Ia tidak menduga untuk bisa menggunakan jurus itu, mereka harus memiliki setidaknya lima ratus Kristal qi.
Hal itu mustahil untuk mereka lakukan, karena mereka hanya memiliki seratus Kristal qi saja. Walau ada satu cara lain, namun cara itu sangat tidak manusiawi yaitu menggunakan jasad seseorang yang telah tewas.
Keduanya disambut dengan wajah setengah ceria dari Biksu Thio San. Terlihat raut wajah Ketua Sekte Kuil Lonceng Dewa menyimpan sebuah masalah dalam benaknya.
Setelah menerima ucapan selamat, karena telah menguasai jurus Amarah Suci Pedang Yinyang, Zhu San bertanya apa yang telah terjadi kepada Biksu Thio San.
Biksu Thio San lalu menjelaskan bahwa setelah seminggu Zhu San memasuki Alam Jiwa, datang seorang biksu dari Sekte Kuil Lonceng Abadi yang terletak di Kekaisaran Wei, membawa berita duka kepadanya.
Berita tentang kematian adik seperguruannya oleh seorang gadis belia bersama dua orang rekannya. Gadis itu mengenalkan diri sebagai Dewi Kematian.
Zhu San dan Bian Chi terkejut mendengarnya. Yang keduanya ketahui adalah Reinkarnasi Dewi Kematian seharusnya berada di Kekaisaran Hun bukan di Kekaisaran Wei.
“Apa yang Ia cari sehingga berada di kekaisaran Wei?” Zhu San bergumam sendiri.
__ADS_1
“Ia telah mengambil Kitab Sakti Energi Alam dari jasad adik seperguruanku.” Biksu Thio San menjelaskan yang membuat Zhu San dan Bian Chi terkejut.
“Situasi semakin berbahaya dengan Ia memiliki Kitab itu. Sesepuh Thio, Aku dan Isteriku meminta izin untuk pergi ke mencari Dewi Kematian dan mengambil kembali Kitab Sakti Energi Alam untuk Anda simpan kembali.”
Biksu Thio San tersenyum mendengar hal itu, Ia pun meminta Zhu San dan Bian Chi agar berhati-hati saat bertarung menghadapi Dewi Kematian.
Setelah berbasa-basi sejenak, Zhu San dan Bian Chi lalu meninggalkan Sekte Kuil Lonceng Dewa dan melesat ke arah timur, menuju ke kota Qingzhen.
“San Gege … Bagaimana jika kita gunakan energi qi untuk melayang. Aku penasaran secepat apakah kita bisa melayang.” Bian Chi berkata melalui telepati kepada Zhu San yang segera menyetujuinya.
Bian Chi yang sudah merasa rindu kepada kedua orang tuanya, segera mengalirkan qi ke arah telapak kakinya. Seketika tubuhnya melesat dua kali lebih cepat dari kecepatan maksimal mereka sebelumnya.
Mata Zhu San melotot lebar, melihat sang isteri sudah ratusan meter berada di depannya. Ia pun segera mengalirkan qi ke arah telapak kakinya dan mengejar Bian Chi.
Keduanya tiba di kota Qingzhen dalam waktu beberapa jam saja karena kecepatan baru yang mereka miliki dengan melayang menggunakan energi qi.
Keduanya disambut Kaisar Shi Hung dan Permaisuri Qiang Ji dengan penuh kerinduan, setelah tiga minggu berpisah sejak mereka bertemu pertama kalinya.
“Ling’er Kau baik-baik saja bukan?” Tanya Permaisuri Qiang Ji setelah melepas pelukan dari puterinya. “Aku biak-baik saja Ibu, Ayah.” Jawab Bian sambil tersenyum manis.
Saat Qiang Ji akan berkata kembali, Jenderal Teng Ji dan Lu Fang serta Xiong Gi, memasuki ruang Aula Istana tempat dimana mereka berada saat ini.
“Hormat Yang Mulia, mohon Izin untuk memberi berita yang baru kami dapatkan.”
Jenderal Teng Ji dan keduanya segera memberi hormat kepada Kaisar Shi Hung dan yang lainnya dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
“Ada berita apa Jenderal Ji? Katakanlah!” Kaisar Shi Hung memberi titahnya. Jenderal Teng Ji lalu menjelaskan berita yang baru mereka dapatkan dengan cepat dan jelas.
“Mereka akan menyerang kembali dengan kekuatan yang lebih besar dari seminggu lalu? Apakah yang telah terjadi?” Tanya Bian Chi penasaran, saat Jenderal Teng Ji selesai dengan penjelasannya.
__ADS_1
“Benar Tuan Puteri. Seminggu yang lalu, Tiga Dewa Pisau, guru dari Lima Raja Pisau yang telah Tuan Puteri bunuh, datang untuk menuntut balas.” Jawab Jenderal Teng Ji dengan suara bergetar.
********