
Cakram energi dengan api berwarna biru itu, kini telah berubah menjadi puluhan cakram kecil. Cakram-cakram kecil itu lalu melesat mengepung Iblis Merah.
Dengan sebuah lecutan keras dari Cambuk Naga Api di tangan Yang Xio, puluhan cakram energi itu bergerak menyerang Iblis Merah yang terlihat tenang menghadapinya.
Sesaat lagi cakram-cakram itu mengenai dirinya, tubuh Iblis Merah melesat sangat cepat ke udara lalu Ia melepaskan sebuah serangan energi berbentuk bola.
BLAAAR
Bola energi itu menghantam puluhan cakram dan membuatnya meledak secara bersamaan. Namun di luar dugaan Iblis Merah, Yang Xio yang tubuhnya telah dikendalikan Roh Cambuk Naga Api, telah berada tiga meter di belakangnya.
CTAAARRRR
AAARGGGGHHHHH
Raungan keras terdengar dari mulut Iblis Merah saat ujung Cambuk Naga Api menembus tubuhnya sekaligus membakar tubuh rohnya. Hal yang tidak di duga sama sekali oleh Iblis Merah maupun Xin Qung yang kini wajahnya telah memucat.
Api biru itu bukanlah Api biasa, melainkan api dari Sang Dewa Naga Api yang membuat cambuk tersebut.
Iblis Merah terlihat meraung-raung kesakitan, Ia mengejar Yang Xio dan mencoba untuk membunuhnya di sela rasa sakit pada tubuh rohnya.
Namun hal itu membuat kondisi Iblis Merah semakin buruk karena Yang Xio kembali melecutkan Cambuk Naga Api secara bertubi-tubi pada tubuh rohnya.
Akhirnya Tubuh Roh Iblis Merah itu Hancur menjadi asap dan bersamaan dengan hal itu, sepasang tanduk di tangan Xin Qung pun hancur berkeping-keping.
“Kurang Ajar! … Pusakanya ternyata sangat Hebat, Aku tak mungkin menang darinya jika Ia menggunakan pusaka itu.” Dalam benaknya Qin Xung memaki-maki Yang Xio dengan kesal.
“Ku Akui Cambuk Pusakamu ternyata luar biasa. Kini aku tak bersenjata lagi, Apakah Kau ingin melanjutkan pertarungan dengan orang yang tak memakai senjata?”
Melihat Yang Xio Menyimpan Cambuk Pusaka itu ke dalam Jubahnya, hati Xin Qung bersorak gembira. “Pendekar Aliran putih memang naif-naif. Dengan bertarung tanpa senjata, aku memiliki harapan untuk menang.”
Xin Qung sangat memahami bahwa Pendekar Aliran Putih menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan juga kode etik dalam dunia persilatan.
__ADS_1
Berbeda jauh dengan pendekar Aliran Hitam yang akan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya, tidak perduli cara itu benar atau salah. Seperti yang baru saja Ia lakukan.
Sebuah rencana licik terbersit di dalam benak Xin Qung saat melesat menyerang Yang Xio dengan tenaga dalam yang terpusat di telapak tangan kanannya.
Pertarungan keduanya kembali terjadi dengan sengit hingga akhirnya mereka berdua mengeluarkan energi tenaga dalam masing-masing dengan bentuk yang berbeda.
Yang Xio membentuk energinya menjadi gumpalan awan yang perlahan menjadi sebuah pedang raksasa yang mengeluarkan kilatan petir pada bilahnya.
Sementara Xin Qung melakukan perubahan bentuk pada energinya menjadi sesosok Ular Cobra yang sangat besar. Namun dibalik semua itu, Xin Qung bersiap dengan serangan tersembunyinya.
Sebuah Pisau sepanjang satu jengkal yang telah dilumuri racun mematikan, segera Ia lesatkan bersamaan dengan melesatnya energi berbentuk ular cobra itu ke arah Yang Xio.
Pedang Awan berpetir itu pun menyambut serangan Ular Cobra namun tanpa sepengetahuan Yang Xio, Pisau beracun milik Xin Qung melesat lebih cepat dan telah berada di belakang Pedang Awan saat kedua energi besar itu bertemu.
BLAAAAMMM
AAARGGGHHH
Tubuh Xin Qung melayang jatuh dengan cepat, Kakek Pendekar Hantu yang melesat untuk meraih tubuh sahabatnya itu, tertegun karena terlambat. Tubuh Xin Qung tergeletak di tanah dengan kepala yang retak.
Tian Long yang bergerak sangat cepat berhasil meraih tubuh Yang Xio yang kehilangan kesadaran dan lima meter lagi membentur tanah.
“Ah… Pisau Beracun!” Tian Long terkejut saat mendapati sebuah pisau tertancap di paha kanan Yang Xio. Ia mencabut pisau tersebut dan darah yang keluar berwarna hitam yang menandakan pisau itu beracun.
Racun menjalar cukup cepat ke seluruh tubuh Yang Xio. “Guru! …. Sesepuh Tian bagaimana kondisi guruku?” Tanya Tang Yun yang baru tiba di tempat tersebut.
Wajah Tian Long terlihat sedih. “Ia terkena Pisau beracun yang mematikan, racun itu menjalar dengan cepat dan separuh tubuh gurumu telah terkena racunnya.”
“Sesepuh… Biar Aku membawanya kepada San’er” Tang Yun segera meraih tubuh Yang Xio dan melayang ke arah dimana Zhu San berada di udara.
“Paman, rebahkan tubuhnya dan jaga tetap dalam posisi seperti itu.” Zhu San yang terkejut melihat kondisi Yang Xio. segera memberi aba-aba kepada Tang Yun yang sedang membopong tubuh gurunya.
__ADS_1
Setelah meletakkan tangannya di perut Yang Xio, Zhu San segera mengalirkan energi Penyembuh Yinyang ke dalam tubuh yang setengah bagiannya telah menghitam akibat terkena racun.
Dari luka yang berada di paha Yang Xio, perlahan mengucur darah berwarna hitam yang berbau anyir. Setelah hampir lima menit, perlahan-lahan darah yang keluar berubah menjadi merah.
Tubuh Yang Xio yang menghitam pun terlihat kembali normal. Namun Zhu San terkejut ketika mendapati salah satu organ dalam Guru Tang Yun itu rusak dan tak bisa Ia sembuhkan lagi.
Hal itu membuat sebagian tenaga dalam Yang Xio punah. “Ada apa San’er?” Tanya Tang Yun saat melihat raut wajah Zhu San berubah.
“Paman Aku berhasil menyembuhkan luka Sesepuh Yang, namun salah satu organ dalamnya rusak. Tenaga dalamnya akan berkurang setengahnya.”
Wajah Tang Yun sangat terkejut, namun Ia masih bisa menerima hal itu karena tidak kehilangan gurunya. “Semoga Guru bisa menerima kondisi ini setelah Ia sadarkan diri nanti.”
Zhu San mengangguk, Ia pun berharap hal yang sama. Kehilangan tenaga dalam adalah hal yang paling buruk bagi seorang pendekar. Jauh lebih buruk daripada kematian sekalipun.
Tang Yun segera membawa tubuh gurunya yang masih tak sadarkan diri itu. Sementara Zhu San tersenyum melihat Qiu Lan dan Bian Chi bersiap untuk melanjutkan pertarungan mereka.
Namun keinginan mereka terhenti saat tiba-tiba merasakan aura yang mencekam berasal dari tempat dimana Sepasang Pendekar Hantu dan Tian Long berada.
“Kurasa kita memiliki keinginan yang sama bukan?” Tanya Qiu Lan kepada Bian Chi yang disambut anggukan kepala isteri Zhu San itu. Mereka berdua memang ingin menyaksikan pertarungan para jagoan yang berbeda aliran itu.
Pendekar Hantu bersiap dengan jurus pamungkas mereka yang bernama Sepasang Hantu Menghukum Jiwa. Tubuh keduanya kini diselimuti oleh asap hitam yang mengeluarkan aura kematian yang sangat mencekam.
Sesaat kemudian terdengar teriakan keras dari kedua jagoan tua Aliran Hitam itu. Mata Tian Long melotot lebar saat melihat kedua bola mata Sepasang Pendekar Hantu itu, berubah menjadi hitam seluruhnya.
“Hmmm mereka telah mampu membuat roh merasuki dirinya. Pusaka apa yang mereka bawa?” Tian Long menyadari apa yang terjadi dengan kedua lawannya itu.
Mata tuanya menatap tajam ke arah tubuh Sepasang Pendekar Hantu untuk mengetahui pusaka apa yang mereka gunakan.
Saat itulah Tian Long baru menyadari kedua kalung bermata tengkorak manusia dengan ukuran sebesar ibu jari kaki, tersemat di leher Sepasang Pendekar Hantu.
“Kalung itu! … Jangan-jangan … “ Ucapan Tian Long yang terkejut melihat kalung itu, terhenti seketika saat melihat apa yang terjadi pada tubuh Sepasang Pendekar Hantu.
__ADS_1
-----------------------O-----------------------