Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
159: Kesedihan Mendalam


__ADS_3

Tangis Ju Yan dan Bian Chi segera terdengar. Keduanya memeluk Sang Guru yang telah tewas dengan bibir yang tersenyum.


Tubuh Zhu San bergetar hebat, antara marah dan sedih melihat apa yang terjadi. Ia segera mendekati Bian Chi yang menangis. Hal yang sama juga dilakukan oleh Qin Yu yang segera mendekati Ju Yan.


Setelah beberapa waktu, akhirnya Bian Chi dan Ju Yan melepaskan pelukan mereka dari tubuh Sang Guru. Zhu San lalu mengangkat tubuh Lin Mi dan membawanya ke ruangan yang telah dipersiapkan oleh Bangsawan Song Yu


Sebuah peti besar telah dipersiapkan oleh Bangsawan Song Yu, Zhu San lalu segera meletakkan jasad sang nenek, di sebelahnya. Untuk dilakukan persiapan sebelum dimasukkan ke dalam peti.


“Lung’er … Bisakah paman berbicara padamu sebentar saja?” Song Ruo berkata pada Zhu San walau Ia merasa situasinya belum tepat.


“Baik Paman … “ Zhu San berkata dan mengikuti Song Ruo dengan benak yang dipenuhi pertanyaan.


“San’er … Beberapa hari yang lalu, Nenek Lin Mi akan berkunjung untuk meminta bantuan ke kota Songdu dan Ia bertemu dengan Guru Kedua mu yang juga akan meminta bantuan ke Kota Songdu.”


Song Ruo mengawali pembicaraannya dengan Zhu San setelah keduanya berada di luar Ruangan Duka. Perkataan Song Ruo, membuat Zhu San terkesiap mendengarnya.


Song Ruo pun segera menjelaskan lebih lanjut tentang informasi yang Ia ketahui dari nenek Lin Mi setelah kembali dari perjalanannya. Raut wajah Zhu San seketika memburuk.


“Lung’er … Segera pergilah ke sana, Paman menduga bahwa di Kota Baixan saat ini sedang terjadi pertempuran besar atau setidaknya telah dikepung puluhan ribu pasukan musuh.”


Song Ruo melanjutkan kalimatnya, bahwa Ia akan menunda pemakaman sampai Zhu San dan Bian Chi kembali. Dan jika dalam tiga hari mereka belum kembali, maka di hari keempat, Jasad nenek Lin Mi akan dimakamkan.


Zhu San pun setuju dengan rencana pamannya. Ia pun segera menghubungi Lin Mi melalui telepatinya, agar segera keluar dan menemui dirinya.


Dengan raut wajah yang keheranan, Bian Chi pun keluar dan menemui Zhu San dan Song Ruo. Setelah mendengar penjelasan singkat, Bian Chi pun menyetujui rencana tersebut.


“Paman Kami pergi dulu, mohon bantuan paman dalam mengurus Jasad Guruku.” Bian Chi berkata sebelum mengikuti Zhu San yang telah melesat terlebih dahulu ke udara.


Song Ruo hanya menganggukkan kepalanya, Ia sadar jika Bian Chi sedang terburu-buru. Hal itu terlihat saat keduanya melesat sangat cepat, ke arah barat dimana Kota Baixan berada.

__ADS_1


***


Di hari yang sama dengan terjadinya serangan pada kota Songdu, nun jauh di wilayah Kekaisaran Wei, Qiu Lan sedang bersitegang dengan seorang Ketua Sekte.


Hal itu karena Qiu Lan meminta Sang Ketua Sekte untuk menyerahkan sebuah cincin yang Qiu Lan rasakan berada di Sekte tersebut.


“Maaf nona … Di sini begitu banyak cincin, kami tidak tahu cincin mana yang anda maksud? Dan juga mungkin pemiliknya tidak ingin memberikannya kepada Nona.”


Ketua Sekte Pedang Bayangan yang bernama Cui Hong itu, masih berusaha berkata bijak setelah melihat sikap arogan Qiu Lan.


“Cincin itu ada di sana! Suruh keluar orang yang berada di dalam ruangan itu!” Qiu Lan berkata seraya menunjuk ke sebuah bangunan.


Mata semua orang menatap Qiu Lan dengan rasa marah di hati mereka. Karena arah yang ditunjuk oleh Qiu Lan, adalah kediaman Ketua Sekte mereka.


Cui Hong mengerutkan dahinya, Ia menatap ke arah di mana Isterinya sedang berada di dalam sana. Seketika firasat buruk segera mengisi benak Cui Hong, membuatnya bergegas mendatangi Sang Isteri.


“Hong Gege … Bagaimana ini? Apakah Kau akan memberi gadis itu Cincin pernikahan kita?” Ding Yu Isteri Cui Hong yang sempat mengintip dan mendengar perkataan Qiu Lan berkata dengan panik.


Dari Sang Suami, Ding Yu mengetahui jika Cincin itu adalah Cincin milik Keluarga Suaminya yang telah diwariskan secara turun temurun sejak ratusan tahun lalu.


Ia pun telah mengetahui jika Cincin itu adalah Cincin Pusaka Sang Dewi Kematian. Cincin itu ditemukan oleh Leluhur mereka yang merupakan anak buah dari Dewi Kematian.


“Yu’er … Sebagaimana pesan Ayahku, Jika ada seorang gadis yang mengetahui Cincin ini dari Auranya, maka Ia adalah pemilik sebenarnya cincin tersebut. Kita berikan Cincin itu padanya karena dia adalah Dewi Kematian.”


Ding Yu menatap sedih ke arah Sang Suami, Bagaimana pun juga cincin itu adalah Cincin Pernikahan mereka. Berat baginya untuk memberikannya pada seorang gadis yang tak dikenal.


“Hong Gege … Apakah Kau tidak bisa mengalahkan gadis itu?” Perempuan berusia sekitar empat puluhan tahun itu, bertanya kepada Cui Hong dengan tatapan sendu.


“Yu’er … Aku tak yakin bisa mengalahkannya. Dia adalah reinkarnasi Dewi Kematian yang diceritakan memiliki kemampuan tak tertandingi. Hanya Sepasang Suami Isteri bertubuh Yinyang Sejati yang mampu mengalahkannya.” Cui Hong menjawab dengan sedihnya.

__ADS_1


Ia tahu jika isterinya, enggan untuk memberikan Cincin itu kepada gadis yang memperkenalkan dirinya dengan nama Qiu Lan itu.


Demi keselamatan Sang Suami, Ding Yu akhirnya melepaskan Cincin tersebut dan lalu menyerahkan kepada suaminya.


Saat itulah terdengar jerit kematian dari beberapa orang, dari arah halaman sekte mereka.


Cui Hong segera melesat keluar dengan tangan menggenggam cincin yang Ia hadiahkan kepada sang isteri sebagai hadiah pernikahannya dulu. Saat tiba di halaman, mata Cui San dan Ding Yu yang menyusul suaminya, melotot lebar.


Terlihat dua orang Tetua Sekte mereka tergeletak, di tanah dengan leher yang patah. Sementara satu orang lagi, sedang melayang ke arah dimana tangan Qiu Lan sedang bersiap untuk mencengkeramnya.


“Nona Lan … Mohon lepaskan Tetua Sekte Kami, Kami akan berikan yang nona minta.” Cui Hong segera berteriak dan melesat ke arah Qiu Lan, sambil menyodorkan Cincin berbentuk Aneh itu.


Raut wajah Qiu Lan seketika berubah ceria, saat Ia melihat Cincin Jiwa miliknya di masa seribu tahun lalu itu, telah berada dihadapannya.


Namun saat Ia hendak mengulurkan tangannya, sebuah selendang berwarna biru, tiba-tiba bergerak menyambar tangan Cui Hong. Cincin di tangan Cui Hong pun terpental.


Seolah memiliki nyawa, selendang itu bergerak menggulung Cincin Jiwa itu dan menariknya dengan cepat ke arah seorang Nenek yang merupakan pemilik selendang itu.


“Guru! ..” Ding Yu segera berteriak ketika mengenali siapa sosok Nenek yang baru saja tiba itu.


Sementara wajah Qiu Lan kembali berubah menjadi marah. Sosok Tetua Sekte yang tadi melayang ke arahnya, segera saja Qiu Lan tarik kembali tubuhnya.


Tubuh Tetua Sekte itu melesat kencang ke arah tangannya. Setelah dalam jangkauannya, Leher Tetua Sekte itu segera Ia cengkeram dengan sangat kuat.


KREEK


Terdengar suara leher yang patah, tanpa jerit kematian, Tetua Sekte itu pun tewas. Hal itu membuat Cui Hong seketika menjadi marah.


*******

__ADS_1


__ADS_2