
Keesokan harinya, rasa tegang menyelimuti hati penduduk kota Baixan dan 25 ribu pasukan yang siap bertempur. Hal itu berbeda dengan 5 ribu orang dari kelompok Pendekar.
Mereka adalah anggota dari Sekte Pedang Dewa, Sekte Pedang api yang dipimpin langsung oleh Xie Bing, Ayah Xie Han. Selain itu juga terlihat anggota Sekte Pedang Angin, Kuil Cahaya Keadilan dan Sekte Tapak Naga.
Sementara dua ribu Anggota Sekte Bulan Sabit yang dipimpin Ketua Yi Min, berada di barisan belakang. Ia bersama ribuan anak buahnya, bersiap untuk merawat prajurit yang terluka.
Kelompok dari pendekar ini terlihat santai, walau melihat pergerakan ribuan orang sejauh satu kilometer di depan mereka. Pergerakan mereka terlihat lambat, karena membawa alat-alat berat yang akan mereka gunakan.
Iring-iringan barisan pasukan musuh itu, selebar hampir setengah kilometer. Terlihat sepuluh alat pelontar batu, tiga alat pendobrak pintu gerbang, serta seratusan tangga panjang, sedang mereka bawa mendekati Kota Baixan.
Di atas Benteng Kota Baixan, terlihat Xie Han bersama Liu Ling yang terlihat ceria, karena kedatangan kakak Angkatnya Zhu San dan isterinya Bian Chi.
Di tempat tidak jauh dari mereka, terlihat empat orang sepuh yaitu Fu Kuan yang bersiap dengan Pedang Bintang, Lin Kai yang kini memegang Pedang Berat milik Qiao Bun, Tetua Zheng An serta Nenek Qin Rui yang kini telah membawa Sepasang Pedang Kembar .
Lima ribu pasukan pemanah, telah bersiaga di tempat mereka masing-masing. Pasukan pemanah yang berada di atas tembok pagar bagian selatan sepanjang satu kilometer itu, setidaknya berjumlah seribu orang.
Sementara lima ribu pasukan pemanah, berada di bawah tembok pagar bersama ribuan pasukan Infanteri dan Kavaleri. Wajah mereka terlihat tegang, walau tiga jenderal memimpin mereka dengan wajah yang penuh semangat.
Sementara di pihak lawan, sembilan ribu prajurit yang membawa busur berada di barisan depan. Di belakangnya, terlihat tiga alat pendobrak pintu gerbang yang dibawa oleh pasukan infanteri bersama seratusan tangga.
Pasukan lawan berhenti pada jarak seratus lima puluh meter dari tembok pagar selatan kota Baixan. Mereka sedang bersiap dengan sepuluh alat pelontar Batu Api.
Namun sesaat kemudian terdengar teriakan cukup keras, yang membuat Xie Han terkesiap. Sekitar lima ribu pasukan kuda yang membawa busur dengan ujung anak panah yang memiliki kantung putih kecil, tiba-tiba bergerak maju.
“Gawat! Panah Bubuk Beracun!” Xie Han terlihat panik. Zhu San dan Bian Chi pun terkejut. Xie Han segera memperingatkan pasukannya untuk bersiaga dengan kain sebagai penutup hidung mereka.
“Dewi Selaksa racun benar-benar merepotkan. Akan Aku bunuh dia hari ini!” Suara Lin Kai terdengar sangat geram.
__ADS_1
”San’er! Kita Hadang Anak Panah Mereka! Jangan sampai memasuki Kota!” Lin Kai segera melesat ke udara bersama Fu Kuan.
Sementara Zhu San dan Bian Chi segera mengeluarkan Pedang masing-masing. Lalu keduanya melemparkan pedang itu, ke arah Pasukan Kuda yang telah bersiap melepaskan panah mereka.
“Chi’er kau tunggu disini, Aku akan ke sisi kanan, Kita gunakan Tapak Elemen Angin Tornado untuk merontokkan panah-panah itu.” Zhu San berkata seraya melesat ke arah sisi kanan tembok kota dengan sangat cepat.
“Guru mohon mundur sejenak, biar Kami yang menghadang serangan!” Sambil melesat Zhu San berkata kepada kedua gurunya saat Ia melewati mereka berdua.
Fu Kuan dan Lin Kai memundurkan posisi melayang mereka, setelah mendengar perkataan Zhu San.
Benak keduanya dipenuhi pertanyaan dengan apa yang akan dilakukan oleh Zhu San dan Isterinya itu. Hal yang sama dirasakan oleh
Setibanya di posisi yang dirasanya cukup, Zhu San segera segera memberitahu Bian Chi agar memadukan Angin Tornado mereka dan mempertemukannya di tengah-tengah.
Bian Chi yang kini terpaut sejauh lima ratus meter dari suaminya, segera mengerahkan Energi dalam jumlah besar ke arah kedua telapak tangannya.
Angin tornado itu bergulung sangat cepat dan bertemu tepat di depan pintu gerbang kota. Ribuan anak panah yang melesat di udara, tiba-tiba berubah arah dan ikut tergulung oleh pusaran angin tornado raksasa itu.
Sun Li yang melihat hal itu, sangat terkejut. Demikian juga dengan Luo San dan Sesepuh Quan Yu serta para pendekar tingkat tinggi lainnya.
Sementara Fu Kuan dan Lin Kai yang sempat terpental, sesaat setelah kedua angin tornado itu bertemu, memandang takjub dengan apa yang terlihat oleh mata mereka.
Tidak ada satupun dari ribuan anak panah itu, yang bisa melewati gulungan angin tornado yang kini berubah menjadi gulungan asap berwarna putih itu.
“Bahaya! Cepat mundur!!“ Sun Li berteriak, memberi perintah pada pasukannya, untuk segera mundur menjauhi tempat tersebut, ketika Ia melihat gulungan Angin tornado itu, mulai bergerak ke arah tempat mereka berada.
“Sesepuh Quan, bisakah anda menahan dan menghancurkan Angin Tornado itu sebelum mengenai prajurit kita?” Luo San yang mencoba tenang, berkata kepada Quan Yu.
__ADS_1
“Jika sendirian tentu saja Aku tidak mampu, Setidaknya di butuhkan lima hingga sepuluh orang untuk menahannya.”
Quan Yu mengelus janggut putihnya sambil memandang pusaran angin tornado yang bergulung tidak semestinya itu. Ia kemudian melihat ke arah dua muridnya.
“Saudara Huang, Saudara Lima Elang Setan mohon bantu Sesepuh Quan Yu untuk menghadang serangan itu.” Luo San berkata dengan suara sedikit bergetar melihat Angin Tornado semakin dekat dengan mereka.
Quan Yu segera melesat ke udara, diikuti oleh Dua Jagal Iblis, Huang Jun dan Huang Jin serta lima Elang Setan. Mereka pun berpencar saat melesat ke depan, mendekati gumpalan Angin tornado berwarna putih itu.
“Chi’er waspadalah … Mereka mencoba untuk menghancurkan angin tornado kita. Saat serangan mereka datang, segera bekukan asap ini dengan energi Es. Kita buat anak panah dan tembakan ke arah mereka.”
Zhu San berkata demikian, setelah Ia melihat sepuluh orang lawan melayang dan bersiap menghadang serangan Angin Tornado mereka berdua.
Sesaat kemudian terdengar sepuluh teriakan keras saat sepuluh orang itu membuka kedua tapak tangan mereka ke depan. Dari tapak tangan mereka, memancar Angin yang kuat ke arah Angin Tornado.
“Sekarang!” Zhu San berteriak dalam benaknya memberi aba-aba kepada Bian Chi.
Seketika itu juga, keduanya segera mengalirkan Energi Inti Es ke dalam Angin Tornado yang membuat asap putih, segera membeku.
Tepat saat serangan energi angin dari sepuluh orang itu menghantam, gulungan Angin Tornado itu berubah menjadi gumpalan Es yang sangat keras.
Sepuluh orang itu terkejut, saat melihat perubahan yang terjadi pada Angin Tornado dengan begitu cepat itu.
Dan mereka pun segera waspada, ketika dari gumpalan Es itu, memunculkan ribuan es yang berujung runcing seperti mata sebuah tombak.
“Awas serangan!”
Quan Yu segera berteriak menggunakan tenaga dalamnya. Suaranya menggema begitu kuat hingga terdengar oleh seluruh prajurit di belakangnya.
__ADS_1
*****