
Karena begitu banyaknya jasad prajurit, Xie Han akhirnya menguburkan jasad para prajurit yang tewas di sebuah jurang kecil yang terletak dua kilometer di sebelah utara kota Baixan.
Mayat-mayat itu dibawa menggunakan puluhan kereta pengangkut barang dan baru selesai saat malam telah tiba.
Untuk menutupi mayat-mayat itu, Xie Han dan puluhan pendekar yang turut membantu, menghancurkan sebuah tebing dengan tenaga dalam mereka.
Xie Han pun kembali ke Kota Baixan dan segera menghadap Kaisar Liu Feng, setelah terlebih dulu membersihkan diri dan mengganti pakaian perangnya dengan jubah biasa.
“Selamat Jenderal Xie Han, Kau berhasil memenangkan pertempuran dengan hebat.” Kaisar Liu Feng berkata menyambut Xie Han dengan tersenyum lebar kepadanya.
“Ampuni Hamba Yang Mulia, semua itu berkat kegagahan para prajurit dan pendekar yang membantu kita dengan sepenuh jiwa. Ini adalah kemenangan Kita semua.” Xie Han berkata dengan hati-hati.
Semua mereka yang berada di tempat itu, para menteri, Zheng An dan bangsawan Mu Bai, tersenyum lebar mendengar ucapan Xie Han. Demikian juga dengan Sang Kaisar.
Kaisar Liu Feng tersenyum lebar, karena salah satu hal yang membuatnya mengangkat Xie Han adalah sifat rendah hatinya ini.
Ia pun berniat untuk segera menikahkan Xie Han dengan Liu Ling. Namun Ia menyadari bahwa situasi saat ini belum kondusif.
Untuk itulah, Kaisar Liu itu meminta kepada Xie Han agar memberitahu beberapa tokoh penting, untuk melakukan rapat tentang rencana ke depannya.
Rapat akan dilaksanakan esok pagi di aula pertemuan kediaman bangsawan Mu Bai. Xie Han segera berlalu dari tempat tersebut untuk melaksanakan tugasnya. Ia berencana menemui Zhu San dan kedua gurunya.
Saat itu, Lin Kai sedang menatap kesal ke arah Fu Kuan yang sedang diobati oleh Isterinya, Qin Rui. Lengan kiri Fu Kuan sempat tergores oleh oleh anak panah, saat pertempuran hampir selesai.
Fu Kuan yang sudah cukup lama tidak berdebat dengan Lin Kai, memiliki sebuah ide untuk menjahili Lin Kai dengan bermanja-manja kepada Qin Rui. “Rui’er tolong pijati bahuku sayang, rasanya pegal sekali.”
“Cih … Cuma tergores sedikit saja, manjanya minta ampun!” Lin Kai mendengus sambil mengangkat cawannya. Arak di cawan itu pun segera berpindah ke dalam perutnya dalam sekali teguk.
Fu Kuan tertawa terbahak-bahak.”Makanya cepatlah menikah lagi.” Qin Rui pun tersenyum mendengar perkataan suaminya. Saat mereka sedang berdebat, adalah saat yang selalu membuat Qin Rui bisa tertawa lepas.
__ADS_1
Lin Kai ingin membalas perkataan Fu Kuan, namun Zhu San dan Bian Chi telah datang. Keduanya baru saja berbincang-bincang dengan Liu Ling, tentang rencana Zhu San untuk memberikan Kristal Yin kepada Xie Han.
“Chi’er, terimakasih telah membunuh perempuan iblis untuk Kami berdua.” Lin Kai berkata kepada Bian Chi setelah keduanya memberi salam dan duduk di depan mereka.
“Sudah selayaknya seorang murid melakukan hal itu Guru. Sun Li memang perempuan yang licik, sudah sepantasnya Ia mendapat hukuman dengan kematiannya itu.”
Tepat saat Bian Chi menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara Xie Han yang meminta izin untuk menemui mereka. Xie Han pun masuk, setelah Fu Kuan mempersilahkannya.
“Maaf mengganggu Istirahat Sesepuh bertiga dan saudara Zhu San serta Saudari Bian Chi. Saya kemari mendapat titah dari Kaisar untuk menyampaikan undangan bahwa besok pagi Yang Mulia Kaisar meminta kepada ketiga Sesepuh dan Saudara Zhu San untuk hadir dalam rapat tersebut.”
Xie Han berkata setelah duduk diantara mereka dan menenggak secawan arak yang dituangkan oleh Zhu San.
Setelah berbincang-bincang beberapa waktu, Xie Han pun pamit undur diri. Ia berencana menemui Tan Kuan dan Yu Mei yang berada di bangunan yang lain.
Lin Kai pun segera bertanya, kapan Zhu San akan kembali ke Kota Songdu. Karena Ia ingin menghadiri pemakaman Lin Mi.
“Rencananya, murid besok pagi akan berangkat Guru kedua. Tapi tidak menghadiri undangan Yang Mulia Kaisar adalah sebuah kesalahan. Jadi murid akan berangkat setelah selesainya pertemuan itu.”
Fu Kuan pun menyetujui hal tersebut, Ia dan Qin Rui akan ikut ke kota Songdu. Selain memberi penghormatan terakhir kepada Lin Mi, ada satu misi penting yang akan mereka lakukan berdua.
***
Keesokan paginya, suasana di Aula Pertemuan yang bisanya digunakan oleh Bangsawan Mu Bai untuk berunding dan menjamu koleganya, telah dipenuhi oleh beberapa tokoh penting yang akan membahas rencana berikutnya.
Kaisar Liu Feng kemudian menjelaskan bahwa Ia berencana untuk kembali ke Istana Kekaisaran di Ibukota Shangyu, tiga hari lagi, untuk segera mengendalikan situasi kekaisaran.
Kaisar Liu Feng juga meminta bantuan dari golongan pendekar, untuk ikut serta membangun kembali Kekaisaran Liu secara bersama-sama. Hal itu di sambut baik oleh beberapa ketua Sekte Aliran Putih.
Kemudian Kaisar berencana untuk menangkap ketiga Bangsawan yang menjadi dalang atas kudeta yang mereka lakukan. Dan mengambil alih tiga kota mereka.
__ADS_1
Saat Kaisar Liu Feng akan berbicara tentang pengelolaan terhadap tiga kota tersebut, terdengar suara keributan di depan pintu masuk Aula pertemuan yang tertutup rapat.
Xie Han segera bergegas keluar dan membuka pintu dan menemukan keributan dimana dua orang yang berpakaian seperti bangsawan, memaksa masuk ke Aula Pertemuan itu.
“Siapakah Anda berdua dan mengapa memaksa masuk ke dalam ruangan ini?” Tanya Xie Han dengan wajah yang keheranan karena merasa familiar dengan senyum dan suara orang tersebut.
“Han’er izinkan kami untuk masuk ke dalam, Aku ingin menemui kakakku?” Sosok Pria tersebut berkata yang membuat Xie Han terkejut.
“Tidak mungkin … Bukankah anda telah … Ah silakan masuk Tuan Zhu Han. Maafkan sikap prajurit Kami.”
Xie Han segera memberi hormatnya lalu Ia membuka pintu, mempersilakan kedua suami Isteri itu masuk. Zhu Han tersenyum tipis, karena Xie Han mengenali penyamarannya.
Wajah Zhu Han dan Mu Rong memang berbeda, namun mata dan bibir serta suara mereka, tidak bisa diubah. Tidak seperti gurunya, Pendekar Seribu Wajah yang bisa begitu sempurna dalam penyamarannya.
“San Gege … Mereka berdua adalah orang yang memberiku gaun ini.” Suara Bian Chi terdengar bergetar ketika Zhu Han dan Mu Rong telah berada di tengah-tengah mereka.
Bangsawan Mu Bai sedikit terkejut mendengar perkataan Bian Chi. Sudah sedari tadi Ia ingin bertanya kepada Bian Chi, tentang asal Gaun Merah yang sepertinya pernah Ia lihat hampir dua puluh tahun lalu itu.
Ia pun lalu memperhatikan dengan seksama, wajah kedua orang yang baru saja membungkuk memberi hormat kepada Sang Kaisar.
“Hormat kepada Yang Mulia Kaisar, Ampuni Kami telah mengganggu rapat penting ini.”
Mulut Zhu San terbuka lebar, matanya memandang tak percaya ketika mendengar suara yang sangat dirindukannya itu. Suara Sang Ayah yang telah diberitakan tewas oleh Aliansi Aliran Hitam.
Ia pun memandang kesal Ke arah Tan Kuan yang juga sedang memandangnya dengan tersenyum lebar menahan tawa.
Sementara Bangsawan Mu Bai segera berdiri dan setengah berlari mendatangi sang adik, demikian juga Mu Rong.
“Rong’er Kau masih …” Bangsawan Mu Bai segera memeluk Mu Rong dengan tangis kebahagiaan yang mendalam, saat mendapati adik satu-satunya ternyata masih hidup.
__ADS_1
*******