
Saat itu Zhu San yang sedang mengendalikan Pedang Yinyang melawan dua senjata Pusaka yang bergerak sendiri itu. Saat Hong Qi tewas, kapak besar miliknya pun jatuh ke tanah. Hal yang sama juga terjadi dengan Tongkat Darah.
Namun saat hendak mengambil kedua senjata pusaka itu, keanehan kembali terjadi. Entah karena alasan apa, makhluk penghuni pusaka itu, tidak membiarkan Zhu San mengambilnya begitu saja.
Zhu San merasakan kedua senjata itu menjadi sangat berat yang memaksanya untuk mengerahkan tenaga dalam dengan jumlah besar.
Setelah beberapa kali meningkatkan tenaga dalamnya. Akhirnya Zhu San pun berhasil memasukan Kedua senjata itu ke dalam Cincin jiwanya.
Bian Chi dan Nenek Lin Mi datang hampir bersamaan mendatangi Zhu San. Keduanya baru teringat kepada Ju Yan, setelah Zhu San bertanya bagaimana kondisinya.
Setelah berpamitan Guru dan murid itu pun segera melesat kembali ke arah kediaman bangsawan Song Yu.
“Lung’er!! Kemarilah!”
Zhu San yang sedang termenung, apakah Ia akan melanjutkan rencananya atau tidak, menoleh saat suara panggilan Song Ruo dan segera melesat ke atas tembok pagar.
“Lung’er apa rencanamu selanjutnya? Kurasa Kita harus membatalkan rencana semula.” Song Ruo berkata setelah Zhu San berada di depannya.
“Tidak Paman … Biarkan Aku sendiri yang ke sana, mengetahui jumlah mereka sangatlah penting untuk pertempuran besok.” Zhu San bersikukuh dengan rencana awalnya.
“Bukannya terlalu berbahaya, mengingat adanya pendekar tingkat tinggi yang bersama dengan mereka?” Song Ruo masih berusaha untuk menahan Zhu San.
“Ku rasa tidak paman, mungkin hanya mereka berdua yang terkuat diantara pendekar yang ada disana. Karena hal itulah mereka berdua berani menyusup ke Kota Songdu.”
Song Ruo terdiam sejenak. Perkataan Zhu San ada benarnya juga. Ia pun akhirnya mengalah dan membiarkan Zhu San tetap dengan rencananya.
Zhu San pun kembali melesat ke udara setinggi dua ratus meter dari tempat pamannya berada. Sementara Song Ruo segera memerintahkan beberapa orang prajurit untuk membereskan mayat kedua kakek pendekar itu.
Sesampainya di ketinggian dua ratus meter, Zhu San segera memasang kembali cadar yang sempat Ia lepas tadi. Ia pun segera melesat ke arah perkemahan dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Zhu San untuk tiba di sana. Ia melihat ribuan tenda prajurit berada di bawahnya.
“Jumlah pasukan ini setidaknya dua kali dari jumlah pasukan yang dimiliki Kota Songdu. Jika mereka berhasil memasuki Kota itu, selesai sudah.”
Zhu San berkata sendiri sambil mengelus dagunya yang masih belum ditumbuhi oleh bebuluan itu.
Saat mengedarkan pandangannya, Zhu San menemukan beberapa peralatan perang yang diketahuinya bernama Ketapel. Ketapel berukuran raksasa itu, akan digunakan untuk menjebol pagar tembok Kota.
“Ah sepertinya aku harus menghancurkan alat itu terlebih dahulu. Terlalu berbahaya jika mereka menggunakan benda itu.”
Setelah memastikan bahwa jumlah Ketapel Raksasa itu ada sepuluh buah, Zhu San segera melesat ke arah benda itu berada, berniat untuk merusaknya.
Tidak ada satupun dari ribuan orang itu yang mengetahui jika mendung hitam yang aneh, telah berarak dan bergulung mengikuti kemana Zhu San pergi. Bahkan Zhu San sendiri pun tidak mengetahuinya.
Zhu San memperhatikan sejenak struktur peralatan ketapel raksasa itu. Setelah memahami cara kerjanya, Zhu San segera mematahkan beberapa bagian dari alat itu dan membuangnya ke dalam Cincin Jiwa.
Beberapa kali Zhu San hampir ketahuan oleh para prajurit yang berjaga. Namun karena Ia mengenakan pakaian hitam, mudah baginya untuk segera menghilangkan keberadaan dirinya.
Hingga akhirnya Zhu San tiba di sebuah tenda besar, tenda yang dijaga oleh belasan prajurit itu sepertinya adalah tenda yang penting. Mengingat hanya di tenda itu saja yang penjagaannya paling ketat diantara tenda yang lainnya.
Zhu San mengendap-endap hingga berjarak cukup dekat baginya bergerak melumpuhkan mereka tanpa menimbulkan suara. Dan Ia segera melesat dengan Peringan Tubuh Fukai yang membuatnya bisa bergerak cepat.
Satu-persatu belasan prajurit jatuh meregang nyawa tanpa sempat berteriak lagi. Zhu San segera mengintai ke dalam tenda dan menemukan bahwa Tenda Besar itu adalah tenda penyimpanan perbekalan pangan.
Zhu San segera memasuki tenda, setelah memastikan tidak ada lagi penjaga berada di dalamnya. Ia tersenyum saat akhirnya memutuskan untuk mencuri saja perbekalan itu dan dibagikan kepada penduduk kota.
Zhu San pun segera melambaikan tangannya, seluruh bahan pangan yang ada di tenda itu, akhirnya menghilang berpindah ke dalam Cincin Jiwa.
Zhu San lalu kembali keluar dan mendatangi satu tenda lainnya. Dengan cara yang sama, Zhu San mengosongkan isi tenda itu.
__ADS_1
Zhu San kembali melesat ke udara setinggi dua ratus meter di udara, memandangi perkemahan itu sekali lagi sebelum bergerak kembali ke kota Songdu dan menyampaikan informasi yang Ia lihat dari udara itu.
Baru saja Zhu San bergerak menjauhi perkemahan itu dan telah berada pada jarak sekitar tiga ratus meter darinya, Zhu San tertegun.
Saat itulah Zhu San merasakan adanya suatu energi sangat besar yang membuat tubuhnya tertarik ke atas dengan sangat kuatnya. Ia pun menoleh ke atas, ke arah dari mana sumber energi itu berasal.
Zhu San baru menyadari jika Bulan tidak lagi terlihat, suasana malam yang gelap, kini bertambah gelap karena mendung hitam yang memenuhi langit di atas tempat dimana Ia berada.
“Kekuatan apakah ini, mengapa semakin kuat menarik tubuhku?!”
Hati Zhu San mulai merasakan kepanikan saat Ia terus meningkatkan jumlah tenaga dalamnya untuk melawan tarikan energi yang juga semakin menguat itu.
Dari lima puluh persen, meningkat ke tujuh puluh persen dan hingga akhirnya Zhu San menggunakan seratus persen kekuatannya untuk menahan tarikan Awan Hitam itu.
***
Sementara di kediaman Bangsawan Song Yu, Bian Chi merasakan hal yang sama tubuhnya merasa dan Ia bisa merasakan pancaran tenaga dalam Zhu San dengan kekuatan penuhnya.
“Guru Aku keluar sebentar …” Bian Chi meminta izin kepada Gurunya. Saat itu Lin Mi dan Qin Yu serta In Xeuxu sedang berada di ruangan dimana Ju Yan terbaring lemah.
“Malam sudah sangat larut, Kau mau kemana?” Lin Mi pun bertanya. “Aku ingin menenangkan diri dulu guru.” Bian Chi segera keluar setelah berkata demikian.
Lin Mi mengetahui kebiasaan Bian Chi jika sedang merasa marah atau kecewa. Ia akan ke udara dan menatap bintang-bintang untuk menenangkan kegundahannya.
Bian Chi segera melesat ke udara setinggi seratus meter dari tanah, saat itulah Ia bisa dengan tepat memastikan keberadaan Zhu San dari Pancaran energinya yang sangat kuat itu.
“Apa yang terjadi dengan San Gege? Sepertinya Ia bertemu dengan lawan yang hebat.” Bian Chi berpikir seperti itu sebelum akhirnya dia merasakan adanya Kekuatan besar yang menarik tubuhnya ke arah tempat dimana Zhu San berada.
*****
__ADS_1