Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
103: Rencana Jahil Zhu San


__ADS_3

Yang membuat Zhu San berdebar bukanlah melihat paras gadis itu saja. Samar-samar Ia merasakan adanya pancaran hawa panas dan dingin dari tubuh gadis itu.


Hawa itu semakin kuat saat gadis yang teramat cantik itu, melintas di depan Zhu San. Mata Zhu San melotot lebar, saat melihat Cincin Jiwa yang sama persis dengan cincin yang Ia miliki, berada di jari manis gadis itu .


“Inikah gadis pemegang Pedang Yangyin yang ditakdirkan menjadi isteriku?” Zhu San pun menelan ludahnya.


Setelah Ia melepas Cincin Jiwa Yinyang dari jari manis di tangan kanannya, Zhu San pun segera menyembunyikan Cincin Jiwa itu ke balik jubahnya.


Zhu San pun kembali menatap gadis berjubah merah itu, yang kini telah duduk bersama seorang Nenek dan juga seorang pemuda yang sangat tampan.


“Siapakah Pemuda tampan itu? Apakah Dia Kekasih gadis itu?”


Zhu San hanyut dalam pertanyaan sendiri, ada rasa aneh yang tak Ia ketahui namanya, muncul di dalam hati, hingga tak menyadari hidangan yang Ia pesan, telah tersaji di depannya.


“Silakan Tuan … Ini hidangan pesanan anda.”


Pelayan tersebut berkata sambil menatap Zhu San yang tengah memandang ke suatu arah.


Saat pelayan laki-laki itu melihat apa yang sedang dilihat pemuda buruk rupa itu, Ia tersenyum sinis sambil pergi meninggalkan Zhu San.


“Pemuda jelek itu, mungkin sedang berpikir untuk menikahi gadis secantik bidadari itu. Hahaha ..” Tentu saja pelayan itu berbicara dalam benaknya saja.


Tanpa sepengetahuan Zhu San, gadis bagai bidadari yang tak lain adalah Bian Chi, juga sedang asik dengan pikiran yang juga sama dengannya.


Saat Ia melewati pemuda buruk rupa yang duduk sendiri itu, Bian Chi merasakan hawa panas dan dingin menerpa tubuhnya.


Dalam hatinya Bian Chi menangis pilu, saat mendapati bahwa Pemuda bertubuh Yinyang Sejati yang ditakdirkan menjadi suaminya, ternyata memiliki wajah teramat jelek.


“Chi’er … Apa yang sedang Kau pikirkan? Kenapa Kau diam saja tidak menjawab pertanyaan Guru?”


Pemuda tampan itu bertanya pada Bian Chi, setelah Ia menepuk telapak tangan gadis itu. Bian Chi tergeragap mendengar pertanyaan dari kakak seperguruannya, Ju Yan.


“Eh … Iya … Eh Guru … Maafkan Chi’er, Guru tadi bertanya apa?” Bian Chi berkata dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


Ia sama sekali tak mendengar apa yang diucapkan oleh Gurunya, karena terkejut saat mengetahui wajah Zhu San yang berparas Mo Heng itu.


“Guru tadi bertanya, apakah Kau mengetahui cara khusus untuk bisa mengenali pemuda yang memiliki tubuh yang sama denganmu?”


Lin Mi bertanya demikian, karena yang Ia tahu cara untuk mengenali tubuh pemuda berjenis Yinyang Sejati itu, adalah saat merasakan tenaga dalamnya.


Ha itu hanya akan diketahui saat pemuda tersebut mengerahkan tenaga dalamnya saja. Dan hal itu akan sulit ditemui kecuali pemuda itu sedang bertarung.


“Iya Guru, Aku dan dia bisa saling merasakan hawa tenaga dalam kami walau kami tidak sedang mengerahkan tenaga dalam kami.”


Bian Chi menjawab seraya tertunduk lesu. Mencoba memasrahkan dirinya, menerima kenyataan pahit akan takdir yang harus Ia jalani.


Ia memandang wajah Kakak seperguruannya lekat-lekat. Pemilik wajah tampan itu, tengah asik menyantap hidangan yang telah tersaji sedari tadi.


“Apakah Kau belum merasakan hal itu selama perjalanan kita? Saat ini kita telah berada di wilayah barat laut kekaisaran Liu.”


Lin Mi kembali bertanya pada murid keduanya itu karena telah seminggu mereka berjalan menuju ke selatan.


“Belum Guru.” Bian Chi menjawab dengan cepat dan segera meraih sebuah wadah untuk Ia gunakan mengambil hidangannya dan memulai sarapannya.


Ia begitu sayang kepada murid keduanya itu, sehingga tak tega membiarkannya berkelana seorang diri, ke tempat yang belum pernah dikunjunginya.


Beberapa waktu kemudian, Bian Chi dan Ju Yan telah selesai dengan sarapan mereka. Hal yang sama juga terjadi pada Zhu San.


Pendengaran Zhu San yang tajam, membuat Ia bisa mendengarkan pembicaraan gadis itu dengan sang Nenek yang ternyata adalah Gurunya.


“Dia pasti terkejut saat melihat sosok pemuda yang ditakdirkan menjadi suaminya, adalah Pemuda berwajah buruk rupa. Jika begitu Aku akan tetap dalam wujud Mo Heng ini sajalah. Hehehe.”


Zhu San terkekeh sendiri, saat di dalam benaknya terbersit ide untuk menguji dan juga mengerjai Gadis yang dipanggil Chi’er itu.


Setelah beberapa waktu berlalu, Ketiga orang itu segera berdiri dan melangkah menuju ke tempat dimana pemilik penginapan dan kedai berada.


Saat Bian Chi melintas di depannya, segera saja Zhu San mengedipkan mata kirinya dan tersenyum semanis mungkin, menggoda Bian Chi yang berjalan paling belakang dari mereka bertiga.

__ADS_1


Zhu San tersedak ludahnya sendiri, karena tak menduga Bian Chi menjulurkan lidahnya untuk membalas kedipan matanya tadi.


Bian Chi sendiri tertawa dalam hatinya saat melihat Zhu San terkejut melihat Ia membalas kedipan itu. Wajahnya yang super jelek saat tersedak, terlihat lucu di mata Bian Chi.


Zhu San hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Namun Ia senang saat melihat Bian Chi tersenyum melihat Ia tersedak tadi.


Zhu San pun segera bergegas membayar makanan yang Ia pesan tadi, saat melihat ketiganya telah keluar dari pintu.


Saat Zhu San baru saja melangkah keluar dari Kedai, Ia tertegun mendapati ketiganya tengah berhadapan dengan seorang pemuda yang cukup tampan.


Pemuda itu mengenakan pakaian mahal yang menunjukan jika dirinya adalah seorang Putera Bangsawan.


Di belakang pemuda itu, terlihat enam orang prajurit dan seorang pria yang membawa pedang di pinggangnya. Pria itu sepertinya pendekar pengawal Pemuda Bangsawan itu.


Semua orang yang akan melewati tempat dimana mereka berada, segera saja berhenti dan berbalik arah. Tampak ketakutan dan juga kebencian warga terhadap pemuda itu.


Zhu San segera berjalan mendekati mereka, Ia melangkah sambil pura-pura kagum melihat isi dari toko yang berderet di sepanjang jalan itu, hingga akhirnya tiba di dekat mereka.


“Maaf Tuan Muda Wu Ming, Kami hanyalah pengelana yang kebetulan singgah di Kota ini. Maaf kami tidak bisa menerima undangan anda karena kami sedang terburu-buru.”


Ju Yan yang biasanya hanya diam saja, kini berbicara dan menjawab perkataan Pemuda yang ternyata adalah Wu Ming, Putera Bangsawan Wu Lei dan Sun Li.


Zhu San yang mendengar nama Wu Ming disebutkan, menjadi terkesiap. Wu Ming adalah murid pertama dari Guru Keduanya Lin Kai, yang juga berarti dia adalah Kakak seperguruannya.


Zhu San melirik Wajah Wu Ming yang terlihat sedikit berubah mendengar jawaban Ju Yan. Walau marah, Wu Ming masih berusaha mengajak mereka singgah ke rumahnya.


“Maaf saudara, kurasa Nenek yang anggun ini yang berhak memutuskan tawaranku tadi, Bukankah begitu Nek?”


Wu Ming bertanya seraya tersenyum ramah pada Lin Mi yang mengerut dahinya melihat kegigihan Wu Ming untuk mengajak mereka singgah di kediaman ayahnya.


“Jawabanku sama dengan muridku ini. Maaf Kami sedang terburu-buru. Permisi!”


Lin Mi menjawab dengan tegas perkataan Wu Ming yang wajahnya seketika berubah kelam, saat melihat Nenek itu segera melangkah ke kiri untuk melewati dirinya.

__ADS_1


******


__ADS_2