Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
165: Pertempuran Di Kota Baixan II


__ADS_3

Dengan melayang sangat cepat, Bian Chi telah berada di salah satu pelontar batu api dan menghancurkannya dengan tebasan energi dari Pedang Yin yang mengeluarkan hawa dingin.


Serangan anak panah yang melesat dan mengenai tubuhnya, Bian Chi abaikan karena Ia percaya dengan kemampuan Zirah Mustika Yin yang telah menyatu dengan tubuhnya.


Ratusan panah itu, seketika terpental saat sejengkal lagi mengenai tubuh Bian Chi yang sedang menghancurkan satu lagi Alat Pelontar Batu Api dan membunuh beberapa prajurit di sekitarnya.


“Saudara Jagal Iblis … Apakah Kau akan membiarkan gadis itu bertindak semaunya?”


Luo San yang geram melihat aksi Bian Chi, bertanya dengan sedikit rasa kesal kepada Dua Jagal Iblis, yang masih diam saja karena takjub saat melihat aksi gadis cantik dan seksi itu.


“Tentu saja tidak Ketua Luo, Kami hanya sedang memikirkan bagaimana cara meringkusnya tanpa harus melukai kulitnya. Hahahaha.” Gao Yu, salah satu dari Dua Jagal Iblis tertawa sambil melesat ke udara.


Feng Hu segera melesat mengikuti saudara seperguruannya. Keduanya bersemangat untuk meringkus Bian Chi dan berencana bersenang-senang dengannya setelah melumpuhkannya.


Namun laju terbang keduanya terhenti saat menyadari dari arah timur, melesat dua orang dengan kecepatan cukup tinggi. Kedua orang itu segera menghadang Gao Yu dan Feng Hu.


“Chi’er! Biar kami yang melawan ke dua orang ini, Kau hancurkan saja pelontar batu itu.”


“Baik Paman Tan, Bibi Mei. Terimakasih telah datang membantu kami.” Bian Chi segera melayang, setelah menanggapi perkataan Tan Kuan yang datang bersama Yu Mei.


Dengan cepat Bian Chi menghancurkan satu pelontar batu api dan bergegas menghancurkan satu buah lagi. Saat Akan menghancurkan satu pelontar batu Api yang tersisa, Huang Jun dan Huang Jin datang menghadangnya.


Sementara Fu Kuan dan Lin Kai yang melayang menyusul Bian Chi, telah datang bersamaan dengan datangnya Huang Jun dan Huang Jin.


“Guru … Biarkan Aku yang melawan mereka berdua. Demi membalas dendam atas kematian Ayah dan Ibu mertuaku!” Bian Chi kini tidak lagi berniat menghancurkan pelontar api ketika melihat siapa yang datang.


“Chi’er jangan gegabah, biar Guru membantu mu membalaskan dendam atas kematian Ayah dan Ibu San’er.” Fu Kuan tentu saja tidak bisa membiarkannya Bian Chi bertarung sendiri.


Namun saat menyadari jika Lima Elang Setan melayang mendekati mereka, Fu Kuan dan Lin Kai pun memahami, mengapa Bian Chi berkata demikian.

__ADS_1


“Baiklah … Jika Kau yakin bisa menghadapi mereka, hadapilah. Panggil Guru jika Kau membutuhkan bantuan.” Lin Kai berkata sambil melesat ke arah satu alat Pelontar batu api.


Dengan kekuatannya kini, Alat pelontar batu api setinggi delapan meter itu, hancur saat Lin Kai menggunakan Tendangan Kaki Bajanya.


Dari kaki kanannya itu meluncur bayangan kaki yang lima kali lebih besar dari ukuran kaki yang sesungguhnya. Menghantam Pelontar Batu Api dengan sangat keras.


Setelah itu, Ia melesat mendekati Fu Kuan yang tengah bersiap melawan Lima Elang Setan. Sementara Bian Chi terlihat telah mengeluarkan pedang Phoenix di tangan kanannya, sedangkan Pedang Yin di tangan kiri.


Lima puluh meter dari Bian Chi, Tan Kuan dan Yu Mei sedang bertarung imbang dengan Dua jagal Iblis. Keempatnya bertarung secara bersama-sama dan saling bertukar lawan dan juga serangan dengan cepat.


Hal itu karena kedua belah pihak, memiliki jurus andalan yang hanya bisa dikeluarkan secara bersama-sama. Jurus Dua Iblis Menaklukan Langit adalah jurus yang diandalkan oleh Gao Yu maupun Feng Hu.


Sementara jurus Sepasang Pedang Perak, adalah jurus andalan yang dimiliki oleh Tan Kuan Dan Yu Mei. Sehingga kedua pihak bertarung tidak terpisah, walau belum menggunakan jurus andalan masing-masing.


Sementara itu, Bian Chi tengah berjibaku dengan Huang Jun dan Huang Jin. Keduanya terlihat terkejut dengan kemampuan yang ditunjukan oleh Isteri Zhu San itu.


Jika dulu Huang Jin mampu mendesak Bian Chi sendirian, kini dirinya kewalahan menghadapi gadis itu walau mengeroyoknya bersama sang Kakak, Huang Jun.


Setelah bertukar puluhan serangan, keduanya baru menyadari jika Bian Chi sat ini, jauh lebih kuat dari mereka.


Terlambat menyadari hal itu, membuat mereka merasa tidak mungkin lari dari pertarungan. Jika itu mereka lakukan, maka dunia persilatan akan mengolok mereka berdua.


Kesal membayangkan hal itu, membuat Huang Jin frustrasi, apalagi tak satupun serangannya, berhasil mengenai lawan yang bergerak sangat lincah dan kuat itu.


Pengalaman bertarung dengan salah satu diantara mereka berdua, membuat Bian Chi bisa mengetahui titik lemah dari jurus yang digunakan oleh kedua lawannya.


Bian Chi berhasil mendesak kedua lawannya, bahkan Ia berhasil memberikan luka di lengan kiri Huang Jun yang terkejut dengan serangan Bian Chi yang sangat cepat itu.


“Bagaimana gadis ini bisa meningkatkan kekuatannya hanya dalam waktu sebulan saja? Tenaga dalamnya seolah tidak berkurang, bahkan semakin lama semakin kuat.”

__ADS_1


Huang Jun yang bergerak mundur untuk menghindari serangan susulan dari Bian Chi, berkata dengan wajah yang keheranan. Karena hawa dingin dan panas, semakin kuat terpancar dari tubuh gadis itu.


Hal itu membuat konsentrasi keduanya menjadi terganggu. Tenaga dalam mereka semakin lama semakin berkurang dengan cepat karena harus melindungi tubuh dari hawa panas dan dingin yang makin kuat.


Melihat kedua lawannya telah menurun konsentrasinya, Bian Chi segera mengubah serangan menggunakan jurus yang jauh lebih kuat. Jurus Pedang Elemen Api di tangan Kanan dan jurus Pedang Elemen Es di tangan kiri.


Huang Jun dan Huang Jin terkejut saat mereka menangkis tebasan pedang Bian Chi. Tangan mereka terasa kebas, membuat pedang hampir saja terlepas dari genggaman tangan mereka.


Melihat wajah lawan memucat, Bian Chi segera mundur, lalu melesatkan serangan energi panas dan dingin dari ujung kedua pedangnya.


Huang Jun dan Huang Jin segera mengerahkan tenaga dalam mereka yang tersisa untuk menghadang serangan dua energi yang melesat sangat cepat ke arah mereka.


DUAR


DUAR


Dua ledakan keras terdengar saat benturan energi itu terjadi. Beberapa saat kemudian terdengar dua jeritan dengan suara yang berbeda.


Tidak Huang Jun duga, jika dari balik asap ledakan energi itu, melesat satu energi lain yang panas dan terlambat Ia hindari.


Hal itu membuat kaki kanannya harus putus karena terkena tebasan energi pedang yang melesat sangat cepat. Hal yang lebih buruk terjadi pada Huang Jin.


Tubuh Huang Jin tertebas tepat pada bagian perutnya. Tebasan energi pedang berhawa dingin itu, membuat tubuhnya terpotong menjadi dua bagian dan segera membeku sesaat sebelum jasadnya menyentuh tanah.


“Jin’er!!!” Huang Jun berteriak histeris dan segera melesat mengejar tubuh sang adik yang rupanya masih bernyawa.


Ia segera mengangkat kepala sang adik, tidak memperdulikan kaki kanannya telah putus sebatas lutut dan hangus seperti terbakar.


“Jin’eeeerrr!!!” Huang Jun meraung saat mendapati sang adik tersenyum, sebelum nyawanya melayang meninggalkan jasadnya yang kini telah seluruhnya membeku.

__ADS_1


*****


__ADS_2