
Malam perlahan mencapai puncaknya, suasana Kota Songdu masih terlihat ramai. Bahkan keramaian itu sepertinya tidak berkurang sama sekali. Hal itu karena nasib kota Songdu akan ditentukan dari hasil pertarungan di esok hari.
Bukan hanya para prajurit yang sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Penduduk pun ikut ambil bagian dalam mempersiapkan hal- hal yang diperlukan untuk besok.
“Apakah Kau siap saudara Yan?” Zhu san berkata kepada Ju Yan saat mereka melangkah keluar dari kediaman Bangsawan Song Yu.
“Tentu saja, mari kita nikmati udara malam ini dari ketinggian.” Ju Yan segera melesat ke udara setinggi seratus meter. Keduanya telah mengganti jubah mereka dengan pakaian yang berwarna hitam.
Tubuh Ju Yan pun segera menghilang di telan kegelapan malam. Zhu San pun segera melompat ke udara untuk menyusulnya. Mata semua orang yang mengantar mereka berdua, tentu saja melotot lebar.
Terlihat kekaguman dalam pandangan dan raut mereka, secercah harapan mulai terbit di dalam hati tentang mampu atau tidaknya untuk mempertahankan Kota Songdu dari gempuran lawan yang telah bersiap menyerang mereka di esok hari.
Zhu San dan Ju Yan melayang dengan santai di udara malam yang dingin. Untuk menikmati pemandangan dan agar tidak terpantau oleh mereka, Zhu San mengajak Ju Yan untuk berada lebih tinggi lagi dari tanah.
Namun saat mencapai ketinggian sekitar seratus lima puluh meter dari tanah, Ju Yan mengatakan bahwa itu terlalu berat untuk Ia lakukan. Tenaga dalamnya akan cepat habis bila Ia menaikkan lebih tinggi lagi posisinya.
Perbedaan tenaga dalam itulah yang akhirnya membuat keduanya melayang pada ketinggian tersebut.
Saat akan melewati tembok pagar Kota Songdu bagian timur, keduanya tersentak ketika melihat dua orang melayang dan berada lima puluh meter di bawah mereka dari arah perkemahan lawan.
“Siapa mereka?” Zhu San berhenti dan menatap keduanya yang juga berhenti karena merasakan kehadiran mereka berdua.
Zhu San dan Ju Yan segera melesat ke arah kedua orang yang ternyata adalah dua orang kakek yang membawa Kapak besar di punggungnya dan sebuah Tongkat.
“Siapa Kalian dan apa maksud kalian memasuki Kota Songdu dari udara?!” Ju Yan segera bertanya saat jarak mereka terpaut lima meter satu sama lainnya.
__ADS_1
Kedua orang kakek itu masih terdiam, mereka terlihat sedikit terkejut mendapati dua orang pemuda telah memiliki kemampuan yang setinggi mereka berdua.
“Apakah kami wajib menjawabnya? Kalian sendiri siapa? Pemilik kota Songdukah?” Kakek yang membawa tongkat bertanya sambil mulai memegang tongkatnya. Ia terlihat tenang meski di depannya ada dua lawan yang memiliki kemampuan tinggi.
“Tentu saja wajib kalau masih ingin tetap hidup?” Ju Yan berkata dengan senyum sinis.
“Hohoho … Bocah kemarin sore yang kencing belum lurus sudah berani bicara hidup mati di hadapan kami? Menarik sekali Hahahaha!”
Saat suara tertawa itu berhenti, tubuh sang Kakek telah berada satu meter di depan Ju Yan dan segera mengayunkan tangannya untuk menampar mulut Ju Yan.
Walau terkejut dengan kecepatan gerak sang kakek, Ju Yan masih bisa melihat pergerakan tangan itu. Ia pun menangkisnya dengan mudah dan mementalkan tangan sang kakek.
Tentu saja hal itu mengejutkan kakek yang membawa tongkat dan juga rekannya yang membawa kapak.
“Walau kencing Kami belum lurus, tapi tidak seperti milik kalian berdua yang mirip terong yang kelamaan direbus. hehehehe!” Ju Yan berkata seraya melakukan gerakan untuk menampar ke arah wajah kakek itu, setelah tawanya berhenti secara mendadak.
“Kedua pemuda ini bukan pemuda biasa, jangan meremehkan mereka!” Kakek yang membawa Kapak mengingatkan rekannya.
“Siapa diantara kalian berdua yang bernama Zhu San?” Kakek yang memegang Kapak segera bertanya saat Ia mengingat keterangan Luo San tentang pemuda berkemampuan tinggi dengan nama yang baru saja Ia tanyakan.
“Saya bernama Zhu San Kakek, dan ini sahabatku Ju Yan. Kalau boleh tahu dengan siapa kami berbicara?” Zhu San berkata dengan suara yang bernada lembut dan bersahabat.
“jadi Kau yang bernama Zhu San?” Kakek itu menganggukkan kepalanya beberapa kali saat menatap Zhu San.
“Namaku Hong Qi, di Kekaisaran Qing aku dijuluki Pendekar Tapak Hitam. Ini sahabatku Ren Jianan yang berjuluk Pendekar Pedang Kembar.” Kakek yang membawa kapak besar di punggungnya segera memperkenalkan dirinya kepada Zhu San dan Ju Yan.
__ADS_1
Zhu San sedikit terkejut mendengar dari mana mereka berasal, dari gerakannya saat menyerang Ju Yan tadi, Zhu San menyadari bahwa kedua Kakek itu memiliki kemampuan yang tidak lebih rendah dari Chou Ong.
“Apa maksud Kakek tengah malam begini, mendatangi Kota Songdu?” Walau sudah bisa menduga maksud dan tujuan mereka, Zhu San masih bertanya untuk memastikannya dan mendapatkan alasan untuk menyerang mereka berdua.
“Aku pikir kalian pintar sehingga aku tak perlu menjelaskannya hehehe. Kami kemari karena ingin membunuh bangsawan Song Yu dan yang lainnya. Apakah itu cukup menjadi alasan untuk kita memulai pertarungan?”
Hong Qi berkata sambil mengalirkan tiga puluh persen tenaga dalamnya. Pancaran Tenaga dalam yang besar segera merembes keluar dari tubuhnya.
“Saudara San … Kau memilih Kakek yang mana? Atau kita tentukan dengan mengundinya? Bagaimana?” Tanya Ju Yan kepada Zhu San.
“Siapa takut yang menang yang duluan memilih kan?” Zhu San yang mengetahui maksud Ju Yan segera bersiap. Keduanya menyembunyikan tangan kanan mereka di belakang kepala.
“Gunting!” “Batu” Terdengar dua teriakan bersamaan dan sesaat kemudian Zhu San tersenyum lebar saat mendapati jari tangannya yang membentuk Gunting berhadapan dengan jari Ju Yan yang terkembang semua.
Ju Yan terkekeh karena Ia berteriak batu untuk mengecoh Zhu San, nyatanya Ia sendiri yang kalah karena tangannya melambangkan kertas.
Apa yang dilakukan kedua pemuda itu, membuat wajah kedua kakek itu mengelam, namun baik Zhu San maupun Ju Yan, tidak bisa melihatnya.
Hal itu karena mereka berdua menghadap ke barat membelakangi cahaya bulan yang baru saja muncul di bagian timur.
“Kalian berdua adalah pemuda terkurang ajar yang pernah kami temui! Akan ku buat kalian menderita sebelum ku kirim ke neraka!” Sosok kakek yang bernama Ren Jianan segera melesat setelah berkata demikian.
Ia berniat menyerang Ju Yan yang sudah sedari tadi membuatnya kesal dengan perkataannya, namun Zhu San lebih dulu menghadangnya. Alasan Zhu San memilih bertarung dengan Ren Jian karena Kakek itu memiliki Tongkat pusaka di punggungnya.
Kekuatan Tongkat pusaka itu sangat hebat, sehingga Ju Yan yang tak membawa senjata, tentu saja akan kesulitan melawannya.
__ADS_1
Dengan sengaja Zhu San memaksa Ju Yan untuk bertarung dengan Hong Qi yang berjuluk Pendekar Tapak Hitam.
*****