
“Tenanglah, jangan gegabah. Nanti kita buntuti mereka bertiga?” Zhu San berkata melalui telepatinya, saat melihat Bian Chi mengepalkan tangan dan hendak berdiri menghampiri ketiganya.
“Aku yakin Bangsawan itu adalah Paman Qiang Cao. Kita harus bertanya kepada mereka dimana Ia berada sekarang.” Jawab Bian Chi yang terlihat gusar.
Keduanya menghentikan pembicaraan telepati mereka dan segera menyantap hidangan yang telah datang. Keduanya masih terus mendengar pembicaraan ketiga orang tadi.
“Berarti bangsawan itu sangat kaya sekali, karena ku dengar Ia berhasil bekerja sama dengan Kang Jin Si Tongkat Emas.”
“Apa Pendekar Tombak Emas?! Bukankah dia jagoan Nomor Dua Aliran Netral Kekaisaran Wei?” Suara anggota termuda Sekte Gagak Hitam itu, terdengar lebih keras dari sebelumnya karena rasa terkejutnya.
Ia pun mendapat tatapan marah dari kedua rekannya. “Sudahlah cepat selesaikan makanan mu. Kita Harus tiba di sekte sebelum malam tiba. Aku tak ingin melewati Hutan Arwah pada malam hari.”
Mendengar nama Hutan Arwah, anggota termuda tadi segera berhenti makan. Terlihat jelas ketakutan di wajahnya. “Aku sudahi saja makan siang ini. Ayo kita segera berangkat.” Ajaknya sambil berdiri dari duduknya.
Ketiganya pun keluar meninggalkan rumah makan, setelah membayar hidangan mereka dan pergi dengan langkah kaki yang terburu-buru.
Zhu San membayar pesanan yang baru setengah bagian mereka santap. Sementara Bian Chi segera bergegas keluar rumah makan dan membuntuti ketiganya.
Saat Zhu San selesai dan melangkah keluar dari rumah makan tersebut, Bian Chi telah berada pada jarak lima puluh meter di depannya menuju ke arah barat.
“Chi’er Jangan terlalu dekat dengan mereka, kita buntuti dari udara saja setibanya kita di luar pagar kota ini.” Zhu San yang melangkah sedikit terburu-buru, memperingati Bian Chi melalui telepatinya.
“Hahahaha … Sungguh luar biasa. Usia kalian berdua masih belia namun telah memiliki kemampuan telepati dan beladiri yang sangat tinggi. Sayang sekali suka mencuri dengar pembicaraan orang lain Hahahaha.”
Zhu San dan Bian Chi tertegun di tempatnya masing-masing. Mereka pun menjadi waspada, saat mendengar suara Sepuh di dalam kepala mereka.
“San Gege Suara Siapa ini? Bagaimana bisa Ia berkata melalui telepati dengan kita?” Tanya Bian Chi keheranan.
“Kau ikuti mereka berdua aku akan menyusulmu nanti. Hati-hatilah.” Zhu San berkata seraya mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling dirinya berdiri.
“Hahahaha … Kau ingin melihat diriku? Dan penasaran siapa Aku bukan?” Suara itu kembali terdengar, setelah Bian Chi bergerak menjauh dari Zhu San.
__ADS_1
Bian Chi telah mendekati gerbang kota barat dimana ketiga orang anggota Sekte Gagak Hitam itu telah keluar dari gerbang kota.
“Benar sekali sesepuh? Siapakah Anda dan bagaimana bisa anda mendengar pembicaraan telepati kami? Mohon tunjukan diri anda.”
Zhu San berkata melalui telepatinya seraya menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya. Hal itu membuat beberapa orang yang melihatnya keheranan.
“Selesaikan urusan mu dengan Sekte Gagak Hitam itu. Jika kau dari aliran putih, maka kau harus membasmi Sekte Aliran Hitam itu. Berhati-hatilah menghadapi ketua Sektenya dan terutama orang bernama Kang Ji si Tombak Emas itu. Kemampuannya sangat tinggi sekali.”
Suara Sepuh itu kembali terdengar di kepala Zhu San, membuat Suami Bian Chi itu terlihat kebingungan dengan perkataan orang yang tak Ia kenali itu.
“Setelah urusanmu selesai, datanglah ke Hutan Arwah. Aku menunggu kalian di sana. Semoga saja Kalian adalah Sepasang Pendekar Yinyang Sejati yang selama ini aku tunggu. Selamat tinggal. Jangan lupa mengunjungi Hutan Arwah secepatnya.”
“Tunggu Sesepuh, tidak bisakah anda menyebutkan nama atau julukan anda?” Zhu San bertanya melalui telepatinya. Namun Sosok itu seolah tidak mendengarnya.
Setelah satu menit menunggu, akhirnya Zhu San memutuskan untuk segera menyusul Bian Chi. Saat itulah suara Si Kakek terdengar kembali dalam kepalanya.
“Kau Akan tahu siapa diriku saat kita bertemu lagi di Hutan Arwah. Jangan sampai lupa, karena tugas besar menantimu. Pergilah susul isterimu.”
Beberapa saat Zhu San menjadi bahan pembicaraan di kota Wenzong, akibat tindakannya yang melesat ke udara di hadapan para penduduk.
Walau mereka sudah mendengar para pendekar tinggi bisa melakukan hal itu, namun melihat Zhu San yang masih belia adalah hal yang tidak bisa ditemui setiap harinya.
Setelah kepergian Zhu San, seorang Kakek berpakaian lusuh dan sangat kumal seperti seorang pengemis, tersenyum menatap ke mana Zhu San melesat.
Ia pun segera melangkah ke arah gerbang barat kota Wenzong dan memutuskan untuk kembali ke Hutan Arwah, tempat dimana hampir seratus tahun Ia tinggal di sana.
“Mudah-mudahan mereka berdua adalah orang yang aku tunggu selama ini. Dengan begitu aku bisa kembali ke tempat asalku karena darah istimewa mereka berdua.”
Tak ada yang memperhatikan kakek tua sepuh itu, sehingga saat tubuhnya menghilang dari pandangan mata, tak ada yang menyadarinya.
***
__ADS_1
“San Gege, apakah kau melihat siapa yang berbicara menggunakan telepati dengan kita?” Tanya Bian Chi saat menyadari Zhu San telah berada seratus meter di belakangnya.
“Aku tak berhasil menemukan Sesepuh itu.” Jawab Zhu San. Lau Ia pun menceritakan tentang apa yang dikatakan oleh orang tersebut.
“Mengapa Ia meminta kita menemuinya di Hutan Arwah? Sehebat apakah sosok Kang Ji itu? Sehingga Kakek itu meminta kita berhati-hati melawannya?” Tanya Bian Chi setelah mendengar penjelasan Zhu San.
“Aku pun belum tahu, simpan dulu pertanyaan mu itu. Nanti kita tanyakan saat telah bertemu dengannya.”
Keduanya lalu mengawasi ke tiga orang yang berada seratus meter di bawah mereka. Ketiganya sedang berlari menggunakan teknik peringan tubuh yang tinggi.
Sehingga dalam tiga jam kemudian, mereka telah tiba di tepi sebuah hutan besar yang memancarkan aura aneh yang sangat mencekam.
Terlihat ketiga orang itu, memperlambat lari mereka dan bersikap waspada saat melewati sisi tepi hutan sepanjang lima kilometer itu.
Ketiganya terlihat menarik nafas lega, saat berhasil melewati tepian hutan tanpa mengalami peristiwa aneh yang sering mereka dengar.
Namun hal berbeda terjadi dengan Zhu San dan Bian Chi. Saat keduanya berada di bagian tengah tepian hutan yang memanjang itu, sesuatu tak terduga terlihat oleh keduanya.
Sebentuk bayangan wajah berukuran besar yang terlihat sangat sepuh, sedang menatap mereka dengan senyum di bibirnya. Tak berapa lama kemudian, keduanya kembali mendengar suara Kakek itu dalam kepala masing-masing.
“Aku tunggu kalian berdua disini. Jangan sampai lupa, atau kalian akan menyesalinya nanti.” Suara itu terdengar lembut namun dengan kata-kata yang keras.
Sesaat kemudian, bayangan wajah kakek sebesar rumah itu, menghilang dari pandangan keduanya.
“Siapa sebenarnya Kakek itu? Mengapa Aku tidak bisa mengetahui keberadaannya?” Zhu San menggumam dalam benaknya.
Keduanya kembali melesat mengejar tiga orang anggota Sekte Gagak Hitam yang kini berlari dengan santai dan wajah yang tidak lagi terlihat tegang seperti sebelumnya.
Tanpa mereka bertiga sadari, jika telah menuntun dua harimau yang akan menghancurkan sekte mereka.
*****
__ADS_1