
Telah melanglangbuana ke berbagai tempat selama puluhan tahun, membuat Lin Kai dan Fu Kuan dengan mudah mengetahui keberadaan sekelompok orang yang tengah mengintai mereka.
Namun, serangan asap beracun yang bisa meledak sendiri tanpa dilempar, membuat mereka tidak siap untuk menghindari serangan tersebut.
Chen Hu dan kedua murid Sekte Pedang Bintang, Gao Yan dan Gao Shan segera terkulai lemas dan jatuh dari atas kudanya.
Sementara Zhu San dan kedua gurunya, segera menghalau efek racun itu dengan energi dari tubuh istimewa yang mereka miliki.
Racun itu sangatlah kuat, membuat ketiga orang guru dan murid itu, jatuh dari kudanya dengan tubuh yang terkulai lemas.
Angin senja yang bertiup lambat, membuat asap beracun itu perlahan menghilang dari pandangan mata.
“Hahahaha … Akhirnya kita bisa menangkap ketua Sekte Pedang Bintang.”
Suara tawa menggema bersama munculnya empat orang yang mengenakan topeng. Mereka adalah Kelompok Lima Topeng Kematian.
Satu dari Lima orang Topeng Kematian, telah dibunuh oleh Zhu San saat hendak menyerang Qin Yu beberapa waktu lalu, ketika mereka dalam perjalanan ke Kota Shangyu.
“Kakak, lihatlah! Bukankah pemuda ini yang telah membunuh saudara Kita?” Salah satu dari empat pria bertopeng itu berteriak setelah mengenali Zhu San.
“Benarkah? Cepat bawa kesini Aku sendiri yang akan memenggal kepalanya! Hei kalian! Cepat ikat yang lainnya dan bawa bersama kuda mereka.”
Sosok yang dipanggil Kakak itu, segera memberi perintah kepada sekitar dua puluh orang yang muncul di belakang mereka sesaat kemudian.
“Berani sekali kalian hendak memenggal kepala muridku!”
Sebuah bentakan keras membuat Keempat Topeng Kematian terlihat sangat terkejut.
Pria bertopeng yang baru saja berbicara, terkesiap dengan wajah panik saat melihat Zhu San dan kedua gurunya bangkit berdiri.
“Kau pikir racun lemah begini mempan kepada kami Hah! … Kalian murid Topeng Iblis Hitam, berani sekali berbuat lancang kepadaku!”
Kata-kata Lin Kai membuat keempat Topeng Kematian terkejut.
Nama guru mereka adalah hal yang rahasia, sosok yang bisa mengetahui hal itu, pastilah bukan pendekar biasa.
“Siapa Kau Kakek bertampang Aneh?!”
“Huh bertanya padaku pun kau tidak pantas sama sekali.!”
Tubuh Lin Kai seolah menghilang dari pandangan karena begitu cepat ia melesat menendang kepala sosok bertopeng yang baru saja membentaknya.
PRAAAK!
__ADS_1
Tidak ada jeritan yang terdengar saat Pria bertopeng itu jatuh ke tanah dengan kepala yang hancur.
Tiga orang rekannya segera melompat mundur. Seraya berseru kaget.
“Tendangan Kaki Baja!!”
“Baguslah jika kalian mengenali jurusku, sekarang kalian tahu siapa yang akan mengirim kalian ke neraka bukan?”
Lin Kai menyeringai menatap Ketiga Topeng Kematian yang kini tubuhnya bergetar hebat, karena mengetahui siapa sosok yang telah mereka singgung.
“Sesepuh Lin … Ampuni Kami yang telah lancang dan berani menyinggung Anda.”
Salah satu diantara Tiga Topeng Kematian yang masih hidup, berkata setelah mereka bertiga berlutut di depan Lin Kai.
“Kalian bunuh mereka semua maka nyawa kalian ak …”
“Baik Sesepuh!”
Belum sempat Lin Kai menyelesaikan kata-katanya, tiga orang bertopeng itu telah melesat membantai puluhan anak buahnya tanpa tersisa hidup satupun.
Lima menit saja mereka melakukan hal tersebut, dan kembali berlutut di depan Lin Kai dengan mata yang terlihat cemas.
Zhu San memandangi hal itu dengan dahi berkerut. Tidak Ia duga, Guru Keduanya itu begitu ditakuti oleh pendekar Aliran Hitam.
“Sesepuh Lin … Izinkan Kami pergi dari sini. Kami berjanji tidak akan menyinggung Anda lagi.”
Lin Kai terdiam sesaat, Ia menatap Fu Kuan yang juga menyadari sesuatu saat mereka teringat perkataan salah satu anggota dari Topeng Kematian tadi.
“Dimana Kalian akan menawan Ketua Sekte yang kalian tangkap?!”
Lin Kai menatap tajam ke arah ketiga orang tersebut seraya memancarkan nafsu membunuhnya yang pekat.
Ketiganya menelan ludah, mereka tak bisa mengatakan lokasi dimana mereka akan menawan para Ketua Sekte yang mereka tangkap.
Namun jika diam saja, mereka pasti akan menemui ajal di tangan Jagoan Nomor Satu Aliran Hitam itu.
Lin Kai yang sudah kesal segera menendang kepala dua Anggota Topeng Kematian hingga pecah dan tersungkur tewas tanpa sempat menjerit lagi.
Tubuh satu Anggota Topeng kematian yang tersisa, menjadi bergetar hebat melihat kematian yang mengenaskan dari dua saudaranya itu.
Merasa nyawanya tidak bisa Ia selamatkan, Ia pun hanya pasrah saat Lin Kai menarik kepalanya dan menginjaknya dengan kaki kanan.
Fu Kuan hanya menghela nafas panjang, walau Guru Kedua Zhu San itu telah bertobat dan berubah, namun sifat kejam masih mendarah daging dalam tubuhnya.
__ADS_1
Sementara Zhu San melotot lebar melihat apa yang dilakukan oleh gurunya itu. Walau suka sekali bercanda, namun saat marah Guru Keduanya seolah menjadi pribadi yang berbeda.
“Cepat katakan atau kau ingin kepalamu juga pecah seperti ketiga temanmu.”
Tak ingin mengkhianati ketiga saudara seperguruannya yang telah tewas, Ia pun berteriak mengata-ngatai Lin Kai sebagai pengkhianat Aliran Hitam.
Tentu saja Lin Kai menjadi murka, dengan sekuat tenaga Ia menekan kakinya hingga sosok bertopeng itu harus tewas dengan kepala yang meledak.
Zhu San menelan ludahnya menyaksikan hal tersebut. Namun Ia mengakui, jika tidak begitu, maka kejahatan di muka bumi sulit untuk dihilangkan.
“Tua Bangka Lin ... menurutmu apa ketua sekte yang lain juga dihadang seperti rombongan kita?”
Fu Kuan yang telah selesai mengobati Murid-muridnya segera menghampiri Lin Kai.
“Aku yakin mereka pun dihadang seperti kita … Apa Kau mengkhawatirkan dirinya?”
Lin Kai menjawab seraya memasang senyum yang menggoda sahabatnya itu, seolah kekejaman yang baru saja dia lakukan tidak terjadi.
Chen Hu dan kedua muridnya memandang segan ke arah Lin Kai. Walau tubuh mereka lemas, namun kesadaran masih bersama mereka saat menyaksikan kekejaman Guru Kedua Zhu San itu.
“Jika Aku bilang tidak, maka kau akan mengatakan aku berbohong bukan?” Fu Kuan menjawab dengan sedikit kesal.
Ia lalu menghampiri Chen Hu dan menyuruhnya untuk segera kembali ke Sekte dan menunggunya di sana.
“Guru bagaimana jika kita berpencar, Aku yakin hal yang sama terjadi pada ketua sekte yang lain. Aku akan ke timur menyusul Yu’er dan Nenek Qin Rui.”
Zhu San berkata demikian karena Ia mencemaskan gadis yang selalu mengisi benaknya selama dalam perjalanan tadi.
Fu Kuan dan Lin Kai menyetujui hal tersebut, mereka akan bertemu kembali di kota Shangyu satu jam kemudian.
Zhu San segera melesat ke udara dan melayang di udara setinggi lebih dari seratus meter, dan melesat dengan cepat ke arah timur.
Fu Kuan dan Lin Kai pun segera melesat ke dua arah yang berbeda. Fu Kuan ke arah barat dan Lin Kai ke arah utara.
Keduanya tidak lagi menggunakan kuda melainkan teknik peringan tubuh mereka yang tinggi.
Sementara Zhu San yang melayang di langit yang mulai gelap itu, semakin was-was saat dirinya mendengar suara pertempuran yang tak jauh lagi darinya.
Amarah Zhu San seketika naik ke ubun-ubun saat melihat apa yang terjadi dihadapannya.
*****
__ADS_1
Terimakasih mendalam untuk pembaca setia Legenda Zhu San. Kebahagian tersendiri bagi Author karena Apresiasi yang Anda semua berikan. Semoga apa yang Author tulis, selalu bisa menghibur Anda semua.
🙏🙏😍🙏🙏