
“Ketua Tang, Kenapa anda memberikan kamar yang telah anda sewa kepada Kakek dan nenek itu? Apakah anda mengenalnya?” Tanya salah seorang rekannya.
Tang Yun hanya tersenyum tipis sebelum menjawabnya. “Aku merasa Kakek dan Nenek itu bukanlah orang tua biasa. Aku sempat menatap mata mereka dan Aku menemukan sesuatu yang aneh. Tapi … lupakanlah Aku hanya kasihan mereka tidak mendapatkan ruang untuk menginap.”
Tang Yun berkata seperti itu untuk menyembunyikan sebuah pemikiran yang ada di kepalanya.
“Wajah mereka memang terlihat tua, tapai mata mereka seperti mata seorang yang jauh lebih muda dariku. Siapa mereka berdua sebenarnya?”
Saat Tang Yun sedang berpikir keras tentang kedua kakek dan nenek di belakangnya, seorang pelayan datang ke meja mereka sambil membawa sebuah Guci berisi arak yang tidak mereka pesan.
Mata pelayan itu memberikan isyarat kepada Tang Yun yang menyadari bahwa ada sebuah informasi yang akan diberikan pelayan tersebut yang merupakan mata-mata mereka.
Setelah pelayan kedai tersebut pergi, perlahan Tang Yun mengangkat guci dan memasukan tangannya yang lain untuk meraih sebuah kertas yang berada di bawah guci tersebut.
“Ketua Tang, informasi apakah yang baru anda dapatkan?” Tanya rekannya yang lain. Ia bertanya saat melihat wajah ketua Tang menjadi tegang setelah membaca selembar kertas yang Ia buka dengan hati-hati itu.
“Tetua Pang dan Tetua Kun .. Sebaiknya kita berbicara di ruangan anda.” Wajah tegang Tang Yun membuat kedua rekannya He Pang dan Seng Kun segera beranjak mengikuti Tang Yun ke arah tangga yang menuju ke lantai tiga.
Di lantai tiga itulah mereka telah menyewa sebuah kamar untuk menginap sejak dua hari yang lalu. Saat keduanya masuk, Zhu San dan Bian Chi diantarkan pelayan ke Ruang dimana Tang Yun sebelumnya menginap.
Ruangan itu berada tepat di samping Ruangan dimana kini ketiganya berada. Saat memasuki ruangan, Zhu San segera menajamkan pendengarannya.
Dari pelayan yang mengantar, Zhu San mengetahui jika Tang Yun akan berada satu ruangan dengan kedua rekannya yang telah menyewa ruang di sebelah kamarnya saat ini.
__ADS_1
Zhu San melihat gelagat mencurigakan dari Tang Yun dan kedua rekannya. Ia memutuskan untuk mengikutinya demi mengetahui siapa sebenarnya Tang Yun itu.
Ia dan Bian Chi terdiam memusatkan konsentrasi untuk mempertajam telinga mereka, akan pembicaraan dengan suara pelan yang terjadi di ruangan sebelah mereka.
“Jadi kita harus segera meninggalkan kota ini dan memberitahu anggota yang lain agar membatalkan serangan. Bukankah begitu Ketua Yun?” Tanya He Pang setelah diberi informasi oleh tang Yun.
“Benar, rencana kita untuk menggulingkan Kaisar lalim dan Aliansi Aliran Hitamnya, telah diketahui oleh mereka. Anggota Aliansi Aliran Putih harus segera bergerak mundur secepatnya. Jika tidak sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.” Jawab Tang Yun dengan wajah yang terlihat cemas.
“Ketua Yun, sebagai Ketua Aliansi Aliran Putih semua keputusan berada di tangan anda. Kami Akan mengikuti perintah anda.” Seng Kun berkata dengan suara bergetar.
Tang Yun mengangguk pelan, Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memberi perintah kepada Seng Kun, agar menarik mundur semua Anggota Aliansi yang telah berada di Ibukota Hungdao.
Namun sesuatu yang terduga terjadi. “Tang Yun Keluarlah! … Aku tahu kau berada di dalam.”
Teriakan keras yang menyebut namanya, membuat wajah Tang Yun berubah seketika. Ia mengenali suara tersebut sebagai suara sesepuh Wang Bu Jagoan Nomor Lima Aliran Hitam Kekaisaran Hun.
“Saudara Pang, Saudara Kun keberadaan kita telah diketahui. Sebaiknya kalian berdua pergi secara diam-diam dari tempat ini. Ajak yang lain secepatnya meninggalkan Ibukota. Aku akan menghadapi Wang Bu ini.” Tang Yun segera memberi perintahnya.
Tang Yun akan segera keluar dari jendela kamarnya, namun Ia mendengar jendela di kamar yang Ia tempati sebelumnya telah di tendang oleh seseorang. Ia pun mengintip dari balik sebuah celah dan terkejut saat melihat apa yang terjadi.
Nenek yang kini mendiami kamar miliknya terlihat marah melihat jendela ruangannya hancur karena serangan Wang Bu. Nenek itu menyerang Wang Bu yang melayang di udara sambil mengomel.
“Dasar Tua Bangka tak tahu adat, seenaknya saja mau masuk kamar orang!” Bian Chi yang berwujud Nenek Keriput itu menyerang Wang Bu dengan gencar.
__ADS_1
Wang Bu tentu saja terkejut melihat hal itu. Ia tak menduga jika kamar yang menurut informasi mata-mata mereka adalah kamar Tang Yun, ternyata kamar seorang nenek dan Kakek Sakti.
Wang Bu terlihat kewalahan menghadapi serangan Bian Chi yang berhawa dingin dengan jurus Tapak Naga Es. Wang Bu berusaha menenangkan Nenek tersebut dengan kata-kata.
Namun Bian Chi yang sudah mengetahui apa tujuan Wang Bu yang berniat membunuh Tang Yun, tak perduli sama sekali. Ia dan Zhu San sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Wang Bu terlihat kesal saat Ia mulai terdesak oleh serangan Bian Chi. “Nenek Keriput! Tahan seranganmu! Atau Aku akan terpaksa berbuat kasar padamu!”
Bian Chi berhenti menyerang. Ia menatap kesal kepada Wang Bu yang masih bisa menghindar dari setiap serangannya. Saat itulah Zhu San melayang dengan santainya menghampiri Bian Chi.
“Benar dugaanku, Kakek dan Nenek itu bukan orang biasa. Siapa mereka berdua? Aku belum pernah melihatnya. Apakah mereka berdua yang berjuluk Sepasang Pendekar Hantu?” Tang Yun bergumam.
“Kurasa bukan Ketua Yun, Sepasang Pendekar Hantu adalah Guru dari Dua Bunga Kematian, tidak mungkin Ia akan melawan Wang Bu yang merupakan rekan muridnya bukan?” Seng Kun berkata menyadarkan Tang Yun.
Ketiganya masih menatap ke arah tiga orang yang melayang di udara. “Wang Bu … Apakah Kau memerlukan bantuan?” Sebuah suara lain yang juga terdengar sepuh terdengar.
Sesaat kemudian melesatlah seorang kakek yang Tang Yun kenali sebagai Guru dari Tiga Setan Bukit Pelangi. Kakek itu berjuluk Iblis Bukit Pelangi yang merupakan salah satu dari Tiga jagoan terkuat Aliran Hitam Kekaisaran Hun.
“Gawat … Senior Xin Qung juga berada di tempat ini. Rupanya Ia telah bergabung dengan Aliansi Aliran Hitam.” Suara Tang Yun yang bergetar menunjukan jika Ia merasa jerih terhadap jagoan tua tersebut.
“Tua Bangka Qung Aku tidak memerlukan bantuanmu! Aku bisa menghadapi mereka sendirian.” Wang Bu berkata dengan wajah yang meremehkan Bian Chi dan Zhu San.
“San Gege … Kau jangan ikut campur, Biar Aku yang menghajar Kakek tak tahu adat itu!” Bian Chi sengaja menjawab pertanyaan Zhu San melalui telepati dengan suara yang keras.
__ADS_1
Wajah Wang Bu seketika mengelam mendengar ejekan Bian Chi yang berwujud Nenek seusia dirinya itu.
----------------------O-----------------------------