Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
182: Tiba di Kota Qingzen


__ADS_3

Kecepatan yang dimiliki sosok yang menyerang Zhu San sangat tinggi, tak berbeda jauh dengan kecepatan yang Zhu San miliki. Namun dalam hal tenaga dalam, sosok itu masih cukup jauh di bawah Zhu San.


Pertarungan diantara keduanya berlangsung dengan sangat cepat. Hanya Bian Chi yang bisa melihat pertarungan itu.


Ratusan anggota perampok Kelelawar Merah, hanya bisa melihat sosok pemimpin mereka, ketika tubuhnya terpental akibat kalah beradu kekuatan serangan.


Setelah lebih dari dua puluh kali pertukaran serangan terjadi, terdengar jeritan keras dan sosok pemimpin kelompok perampok yang sangat ditakuti di Kekaisaran Qing itu, terlihat menghantam sebuah bangunan hingga hancur.


“Siapa .. Kau … seb… Hoek!” Sosok ketua Perampok itu memuntahkan darah segar. Tubuhnya serasa terbakar tepat di bagian dadanya yang baru saja terhantam tinju Zhu San yang menggunakan jurus Tinten Siba.


“Apa perlu Ku jawab, setelah kau menyerangku secara brutal?” Zhu San melayang mendekati ketua perampok yang menunjukan wajah jerih setelah mengetahui kemampuan pemuda di depannya itu.


Pria yang memimpin para perampok itu, berusia sekitar lima puluhan tahun. Berjubah merah dengan riasan aneh di wajahnya. Di tengah dahinya terdapat lambang kelelawar berwarna merah darah, dengan alis buatan yang berwarna hitam.


“Huh! .. sombong sekali kau!” Bentaknya setelah kembali berdiri.”Ku akui kemampuan mu cukup tinggi, tapi jangan senang dulu, karena aku belum mengerahkan jurus andalanku.” Lanjutnya.


“Oh ya? … Kalau begitu keluarkanlah!” Zhu San menjawab sambil tersenyum mengejek.


”Tangkap perempuan itu hidup-hidup untuk kita persembahkan kepada Raja dan Ratu Siluman Kelelawar Merah!”


Ketua Perampok itu berteriak memberi komando kepada anak buahnya. Zhu San hanya tersenyum saja saat melihat ratusan orang bergerak mendekati Bian Chi yang telah mengeluarkan pedang Yin.


Zhu San pun mengeluarkan pedang Yang dan melemparkan ke arah ratusan anggota perampok itu. Jeritan kematian mulai terdengar seiring Bian Chi dan Pedang Yang bergerak menyerang mereka.


“Kurang Ajar! Kau benar-benar minta mampus rupanya!” Ketua Perampok itu terlihat sangat marah ketika dalam sekejap, belasan anak buahnya tewas oleh pedang Zhu San dan Bian Chi yang telah mengamuk.


Ketua Perampok itu, segera menangkupkan kedua tangannya di depan dada, matanya terpejam dan mulutnya komat-kamit membaca sebuah mantera. Tak lama kemudian kedua tangannya mengeluarkan cahaya kemerahan.


Zhu San pun menjadi waspada, Ia segera mengalirkan tiga puluh persen tenaga dalam ke seluruh tubuhnya terutama lengan dan kakinya, saat merasakan aura kekuatan pria itu semakin kuat menerpa tubuhnya.


“Jurus Murka Raja Kelelawar!”

__ADS_1


Ketua Perampok itu membuka matanya yang kini telah menjadi merah. Lalu mengangkat tangan kanannya ke udara. Dan muncullah dua bayangan dari telapak tangannya yang terbuka.


Bayangan itu berwujud Kelelawar berwarna merah yang ukurannya dua kali lebih besar dari tubuh manusia dengan mata merah dan menunjukan dua taring besar di mulutnya.


Zhu San tak ingin gegabah, Ia segera bersiap dengan Jurus tapak Naga Yinyang, saat muncul satu bayangan kelelawar lain dari telapak tangan kiri lawan.


Walau terkejut saat melihat bayangan dua ekor naga yang besar dari kedua telapak tangan Zhu San, namun ketua perampok itu tak merasa jerih. Ia lalu berteriak dengan kerasnya.


“Tembakan Api kemarahan!”


“Semburan Naga Es!”


Dua buah energi dingin melesat dari Ular naga berwarna putih, menghadang dua semburan api yang melesat ke tubuh Zhu San.


WUSSHHH


WUSSHHH


Ketua perampok itu terlihat terkejut saat menyaksikan serangan apinya berhasil dibekukan oleh lawan. Ia pun segera mengubah serangannya.


Dua Kelelawar raksasa itu, mengepakkan kedua sayap mereka, terlihat puluhan pedang api yang tercipta dari kepakan itu, melesat sangat cepat ke arah Zhu San.


“Naga Es Membekukan Semesta!”


“Naga Api Membakar Iblis!”


Zhu San berteriak semaunya, setengah mengejek kepada lawan yang selalu berteriak setiap akan melakukan serangan.


Puluhan pedang api itu seketika membeku terkena semburan angin dari Naga Es Zhu San. sesaat kemudian, Naga Api menyemburkan dua bola api yang sangat besar dari mulutnya.


Dua bola api menderu sangat cepat, lalu menghantam dua ekor kelelawar energi itu hingga menimbulkan ledakan yang sangat keras. Tanah pun berguncang karenanya.

__ADS_1


Zhu San tersenyum sinis saat melihat ketua perampok itu, telah tergeletak dengan tubuh yang hangus terbakar, tanpa sempat memperdengarkan jerit kematiannya.


Zhu San pun mengalihkan pandangannya ke arah pertarungan Bian Chi yang menghadang belasan anggota perampok yang tersisa dan mencoba melarikan diri itu.


Hanya butuh waktu dua helaan nafas bagi Bian Chi untuk membunuh mereka semua. Zhu San pun segera memasukan kembali pedang Yan ke dalam Cincin Jiwa dan melayang mendekati Bian Chi.


“Chi’er … sebaiknya kita masuk lebih dalam lagi ke arah tengah hutan. Aku merasakan aura jahat di dalam sana.” Kata Zhu San setibanya di dekat Isterinya.


“Tidak San Gege, Aku yakin siluman kelelawar itu tidak bisa keluar dari hutan ini, karena adanya tirai gaib yang mengurung mereka. Sebaiknya kita segera ke Kota Qingzhen saja.”


Bian Chi yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, segera menolak tegas rencana sang suami.


Zhu San terdiam sejenak, Ia pun menuruti perkataan sang isteri dan akan kembali memasuki hutan ini, sekembalinya mereka dari Kuil Lonceng Dewa.


Keduanya segera melesat lebih tinggi lagi ke udara. Setelah dirasa telah berada pada ketinggian yang tidak terlihat dari tanah, keduanya pun lalu melesat ke arah Selatan, ke Ibukota Kekaisaran Qing.


Saat dua jam lagi malam akan mencapai puncaknya, keduanya telah tiba di atas udara kota Qingzhen. Zhu San pun terlihat kagum dengan kemegahan kota itu. demikian juga dengan Bian Chi.


Kota Qingzhen dua kali lebih besar dan lebih ramai dari kota Shangyu, ibukota kekaisaran Liu. Keduanya masih berada dua ratus meter di udara dan melayang secara perlahan-lahan.


Tak butuh waktu lama bagi keduanya, untuk bisa menemukan lokasi keberadaan Istana yang ternyata berada di pusat kota. Sebuah komplek yang seluas desa besar dengan tembok pagar yang tinggi.


“San Gege … Apakah kita akan langsung ke Istana? Mungkin saat ini Ayah dan Ibuku sudah tidur.” Tanya Bian Chi yang sebenarnya merasa lapar.


“Kita cari penginapan dan kedai dulu saja. Besok baru kita menemui kedua orang tuamu.” Zhu San berkata setelah berpikir sejenak.


Bian Chi pun menyetujuinya, keduanya segera melayang lebih rendah lagi sambil mengamati suasana istana. Saat itulah mata Zhu San menangkap lima pergerakan yang sangat cepat di atas sebuah bangunan.


“Chi’er … Apa kau melihat lima pergerakan di bawah? Tanya Zhu San melalui telepatinya. Saat ini jarak mereka dari atap istana kurang dari seratus meter lagi.


“Iya Aku melihatnya, gerakan mereka sepertinya mencurigakan. San Gege kita ikuti mereka dulu!”

__ADS_1


Bian Chi tiba-tiba merasakan firasat buruk, membuatnya segera meminta untuk mengikuti kelima orang yang berpakaian hitam itu.


******


__ADS_2