
“Siapa pemuda ini sebenarnya? Ia begitu berani berkelana tanpa memiliki kemampuan beladiri sama sekali. Ataukah Ia menyembunyikan kemampuannya? Benarkah dia akan mengantar kami menemui Lin Kai? Jika dia berbohong, akan kuhajar wajah jeleknya itu!”
Dalam benaknya, Sepupu Lin Kai itu berkata. Setelah Ia melihat Zhu San menoleh kepada Bian Chi, sesaat tadi.
Zhu San yang sempat melihat tatapan curiga dari Nenek Lin Mi hanya tersenyum tipis.
Matahari telah terbenam beberapa saat yang lalu, Ketika mereka melihat cahaya terang di kejauhan.
Cahaya itu berasal dari cahaya lampu di Kota Baixan. Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun tiba di gerbang barat Kota Baixan.
“Tunjukan identitas kalian!” Seorang prajurit yang wajahnya seperti pernah Zhu San lihat, segera menghentikan kuda mereka dan meminta untuk menunjukan identitasnya.
Setelah berpikir sejenak, Zhu San menunjukan lencana Identitas dari pamannya Mu Bai. Prajurit tersebut segera melihatnya dan Ia pun memandang Zhu San lekat-lekat.
“Siapa Kau! Darimana Kau mendapatkan lencana ini!”
DI luar dugaan mereka berempat, Prajurit itu membentak mereka seraya mencabut pedang di pinggangnya.
Hal itu membuat belasan rekannya yang lain segera berdatangan dengan pedang yang terhunus.
“Aku Mu Lei … Bukankah namaku tertera di lencana ini?”
Zhu San sedikit keheranan melihat sikap para penjaga kota Baixan itu. Seharusnya mereka akan segera mempersilakan Ia dan ketiga orang lainnya, memasuki kota dengan sikap hormat.
“Tidak Mungkin Kau Tuan Muda Mu Lei. Aku mengenalnya, Ia seorang pemuda tampan yang tak kalah tampannya dari pemuda itu!”
Prajurit itu menunjuk ke arah Ju Yan yang terkesiap mendengar hal itu. Nenek Lin Mi pun semakin curiga kepada Zhu San. Sedang Bian Chi tertegun, larut dalam pikirannya sendiri.
Zhu San tersedak ludahnya sendiri. Akhirnya Ia pun menjelaskan bahwa Ia menemukan lencana itu di jalanan Kota Shangyu.
Zhu San lalu mengeluarkan lencana lain yang bertuliskan nama Mo Heng. Saat melihatnya, lagi-lagi prajurit itu bersikap tak terduga.
Seperti yang dikhawatirkan oleh Zhu San tadi, kini di lehernya telah diletakkan sebilah pedang milik prajurit tersebut.
__ADS_1
“Tangkap dan periksa dia! Mungkin dia mata-mata Aliran Hitam, karena identitasnya berasal dari Kota Shangyu!”
Dua orang prajurit lainnya segera mengepung Zhu San dan memegangi kedua tangannya. Zhu San yang marah mendapat perlakuan seperti itu, hampir saja berontak.
Namun Ia hanya diam saja, saat mengingat akan penyamarannya. Zhu San pun tak melawan saat salah satu prajurit lain memeriksa dan juga menggeledah Jubahnya.
Ju Yan dan Bian Chi akan bergerak untuk menolong Zhu San, namun Guru mereka menahannya.
Hal itu Lin Mi lakukan karena kecurigaannya sendiri tentang identitas Zhu San yang dikenalinya sebagai Mo Heng.
Wajah Zhu San pun menjadi panik, saat prajurit itu mengambil Cincin Jiwa Yinyang dan segera menunjukan kepada pimpinannya.
Sosok yang bertanya kepada Zhu San tadi segera mengambil cincin itu dan akan segera memasang di jari manisnya.
“Jangan Kau lakukan itu Kau ak …”
Teriakan Zhu San terlambat karena prajurit itu telah memasukan Cincin Jiwa Yinyang ke dalam jari manisnya. Hal mengerikan pun segera terjadi di hadapan mereka.
Sesaat setelah Cincin itu terpasang, prajurit itu tiba-tiba berteriak keras. Hawa udara seketika berubah menjadi panas dan dingin yang sangat ekstrim.
Sedangkan Bian Chi melompat dari kudanya yang bereaksi atas terpaan hawa udara itu. Ia menjejakan kakinya di tanah saat kudanya telah cukup jauh darinya.
Sementara para prajurit yang lain segera berlarian menjauhi Zhu San dan pemimpin mereka yang sedang mengalami hal sangat aneh yang belum pernah mereka lihat.
Sebagian jari tangannya, terbakar dan sebagian lainnya membeku. Hal itu terjadi dan terus menjalar ke arah lengannya dengan cepat.
Beruntungnya sebuah pedang berhawa panas dingin, segera menebas putus lengan itu, prajurit itu berteriak sebelum akhirnya jatuh pingsan melihat lengannya telah buntung.
Zhu San segera meraih lengan yang jatuh itu dan melepaskan Cincin Jiwa Yinyang dari jari manis prajurit penjaga kota itu.
Mata Nenek Lin Mi dan Ju Yan, melebar melihat apa yang baru saja Bian Chi lakukan.
Dan mereka lebih terkejut lagi saat melihat Cincin yang serupa dengan milik Bian Chi yang tadi memendarkan cahaya merah dan biru, kini berada di jari manis tangan kanan Zhu San dan kedua cahaya itu pun meredup sesaat kemudian.
__ADS_1
“Tubuh Yinyang Sejati!”
Lin Mi memekik saat mendapati kenyataan itu. Wajahnya terlihat tidak karuan karena berbagai rasa yang muncul di dalam hatinya.
Ia senang karena telah menemukan pemuda bertubuh Yinyang Sejati, lebih cepat waktunya dari yang Ia perkirakan.
Namun saat menyadari raut wajah pemuda yang ditakdirkan menjadi suami dari muridnya yang sangat cantik itu, tubuh Lin Mi segera bergetar hebat.
Bian Chi yang menyadari hal itu, segera melesat dan memeluk Sang Nenek dengan menangis. Sementara Ju Yan yang pendiam itu, hanya menghela nafas panjang melihat kesedihan itu.
Zhu San hanya menelan ludahnya, Ia tak menyangka bahwa semua yang baru saja terjadi di luar kendalinya.
Zhu San segera bergerak cepat, menyerang semua prajurit hingga hanya tinggal satu saja yang masih belum jatuh pingsan.
“Kau urus teman-temanmu. Percayalah bahwa kami di pihak kalian. Kalau Aku mata-mata musuh, kepala kalian semua sudah terpisah dari leher kalian. Biarkan mereka bertiga memasuki Kota ini!”
Prajurit tersebut hanya menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat, tubuhnya telah bergetar hebat sejak melihat apa yang barus saja terjadi dengan rekan-rekannya.
Zhu San segera menghampiri Bian Chi dan dan Nenek Lin Mi yang masih terisak-isak akan rasa sedih yang bertahta di hati mereka.
“Nenek Lin Mi, Chi’er maafkan Aku. Terkadang apa yang kita lihat tidaklah selalu hal yang sebenarnya. Aku akan menunggu anda semua di kediaman Pamanku, Bangsawan Mu Bai.”
Zhu San segera membalikkan badannya dan segera melayang di gelapnya udara malam. Ju Yan pun tertegun melihat hal itu.
Sementara itu Lin Mi yang hendak bertanya maksud perkataan Zhu San, hanya menelan ludahnya melihat Zhu San telah cukup jauh darinya.
“Apa maksudmu berkata seperti itu?” Suara Bian Chi yang masih serak, terdengar di kepala Zhu San.
“Kau Akan tahu setelah tiba di sana … Segeralah ajak Nenek dan Kakak seperguruanmu, ke kediaman Bangsawan Mu Bai, jika kau ingin mengetahui seperti apa wujud asli calon suami yang ditakdirkan langit untukmu.”
Tidak terdengar sama sekali suara tertawa Zhu San di kepala Bian Chi. Hal itu menunjukan jika Zhu San serius dengan ucapannya.
Bian Chi pun tersenyum saat Ia menyadari sesuatu di hatinya. Entah kenapa, Ia tidak merasa marah lagi ketika mendengar Zhu San berkata tentang takdir langit.
__ADS_1
*****
Jangan Lupa Likenya ya.