Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
188: Tiba Di kuil Lonceng Dewa


__ADS_3

Menyadari situasi sangat berbahaya di depan mereka, Zhu San dan Bian Chi mengeluarkan Pedang masing-masing dan segera mengaliri dengan tenaga dalam.


Hawa panas dan dingin seketika memenuhi udara, seiring dengan ruangan goa yang menjadi terang karena cahaya yang memancar dari kedua pedang tersebut.


Keduanya berjalan dari dua sisi yang berbeda, memasuki lorong goa yang semakin gelap dan lembab. Hingga akhirnya dihadapkan pada sebuah tempat yang cukup luas dan terang dengan cahaya kuning keemasan.


“Gunungan Koin Emas? Berita itu ternyata benar adanya.” Bian Chi membelalakkan mata saat mengetahui sumber cahaya terang itu.


WHUUSTT


Sebuah serangan tiba-tiba melesat ke arah Bian Chi dengan sangat cepat. Namun serangan itu berhasil di tepis oleh Isteri Zhu San itu dengan mudahnya. Kini mereka mengetahui siluman jenis apa yang menyerangnya.


Seekor Siluman Kalajengking berwarna hitam legam sepanjang tujuh meter dan setinggi dua meter, menghadang mereka dengan tiga capit yang siap mencabik-cabik tubuh keduanya.


Bian Chi yang jijik melihat hewan-hewan melata, segera saja melangkah mundur. Zhu San yang memahami hal tersebut, segera melesat untuk bertarung dengan siluman kalajengking itu.


“Chi’er … Kau ambil tumpukan emas itu dan cari dimana beradanya tongkat sihir itu!” Melalui telepatinya, Zhu San memberi arahan kepada isterinya.


Siluman Kalajengking itu, terlihat marah mendapati serangannya yang bertubi-tubi, bisa dihindari oleh Zhu San. Ia pun semakin brutal menyerang dengan dua capit di depannya, sementara capit dari ekornya, digunakan sesekali saja.


Zhu San sengaja membawa Siluman kalajengking untuk menjauhi gunungan koin emas setinggi dua meter itu. Membuat Bian Chi bisa mendekatinya dan dengan sekali gerakan tangan kanannya, koin emas itu hilang dari pandangan mata.


Siluman Kalajengking itu semakin marah melihatnya, Ia pun berbalik menyerang Bian Chi yang baru saja hendak mencari keberadaan tongkat sihir.


Zhu San yang tak ingin membunuh siluman itu, terpaksa menebas ekor siluman itu dengan energi pedang yang membuatnya meronta kesakitan.


Zhu San pun melesat sekali lagi dan memotong tubuh siluman kalajengking itu menjadi tiga bagian dengan energi pedangnya.


Setelah memastikan siluman itu mati, Zhu San segera mendekati Bian Chi. Membantunya menemukan dimana Tongkat Sihir itu berada.

__ADS_1


“Dimana Tongkat sihir itu berada? Apakah berita itu tidak benar?” Tanya Zhu San setelah beberapa waktu mencari dan tidak menemukan Tongkat Sihir itu.


“Entahlah … Tetapi berita tentang gunungan Koin Emas itu benar, seharusnya berita tentang Tongkat Sihir itu juga benar.” Bian Chi berkata dengan mata yang masih terus mencari di seluruh dinding goa.


Dahi Bian Chi mengerut, saat menemukan sebuah batu yang menonjol aneh. Ia pun lalu mendekatinya. Namun saat berada tiga langkah lagi dari batu itu, sebuah serangan senjata rahasia melesat ke arahnya.


Tiga pisau kecil melesat ke arahnya dan nyaris mengenai leher Bian Chi yang hampir terlambat menghindarinya.


Dengan hati-hati, Bian Chi lalu menekan batu sebesar dua kepalan tangan itu. Dan sesuatu bergerak di dekatnya.


Dinding batu sejauh satu meter dari batu menonjol itu, tiba-tiba berderak lalu bergeser sehingga terlihat sebuah ruangan berada di balik dinding batu tersebut.


“Chi’er hati-hati! Alirkan tenaga dalam ke zirah.” Zhu San segera berada di samping isterinya. Dengan sikap waspada, keduanya melangkah memasuki ruangan tersebut.


Setibanya di dalam, terlihatlah sebuah tongkat yang sepertinya terbuat dari logam berwarna hitam legam, melekat di dinding goa bersama sebuah kitab yang terlihat sudah usang.


“Biar Aku yang mengambilnya.” Zhu San pun melangkah, mendekati Tongkat yang memancarkan hawa sangat seram itu.


Seluruh dinding ruangan goa itu, tiba-tiba melesatkan belasan tombak. Zhu San dan Bian Chi tak sempat menghindarinya lagi. Namun semua senjata rahasia itu, terpental jatuh saat sejengkal lagi akan mengenai mereka.


Setelah serangan senjata rahasia mereda, Zhu San pun segera mengibaskan tangan kanannya. Tongkat dan Kitab itu pun berpindah ke dalam Cincin Jiwanya.


“San Gege … Apa yang harus kita katakan saat tiba di luar nanti?” Tanya Bian Chi saat keduanya melangkah keluar. “Biarkan Aku yang berbicara kepada mereka.” Zhu San menjawab sambil tersenyum tipis.


Seluruh mata para pendekar yang berada di depan goa, melotot saat melihat Zhu San dan Bian Chi keluar dari dalam goa.


Setelah melihat Zhu San maupun Bian Chi tidak membawa tongkat atau buntalan berisi koin emas, seorang pendekar yang terlihat sudah sepuh dan memiliki kemampuan tinggi, segera bertanya kepada Zhu San.


“Maaf Tuan Pendekar, Apakah kalian menemukan Tongkat Sihir dan Gunungan koin emas itu di dalam goa?”

__ADS_1


“Apakah kalian melihat aku membawa tongkat dan koin emas? Berita itu tidak benar, tidak ada apa-apa di dalam goa selain seekor siluman Kalajengking raksasa.”


Zhu San bertanya balik, membuat wajah para pendekar itu terlihat kecewa. Namun lima orang pendekar yang tidak percaya, menerobos memasuki goa.


Setelah beberapa waktu kemudian, kelima orang dari kelompok yang berbeda itu, keluar dari dalam goa dengan wajah yang terlihat sangat kecewa.


“Benar yang dikatakan oleh pemuda ini, tak ada apa-apa selain bangkai Siluman Kalajengking raksasa di dalam sana.” Salah datu dari lima orang itu berkata.


Zhu San dan Bian Chi memandangi ratusan pendekar yang bergerak menjauhi tempat tersebut, sebagian dari mereka terdengar mengomel dengan sangat kesal.


“Chi’er kita lanjutkan perjalanan kita.” Zhu San dan Bian Chi lalu melesat ke udara, melanjutkan perjalanan ke Kuil Lonceng Dewa yang terletak di pegunungan Awan Putih.


Setelah melewati belasan desa dan hari telah senja, keduanya pun akhirnya tiba di sebuah kota yang cukup besar yang terletak di lereng Pegunungan Awan Putih.


Zhu San dan Bian Chi segera melesat ke sebuah komplek bangunan yang terletak di puncak pegunungan yang langitnya selalu dipenuhi oleh awan putih yang tingginya setinggi puncak pegunungan tersebut.


Saat melihat pintu gerbang komplek Kuil Lonceng Dewa, Zhu San dan Bian Chi pun segera melayang turun tepat di depan gerbang yang dijaga oleh lima orang biksu muda.


Kelima Biksu muda itu segera bersiaga, namun mereka segera menundukkan kepala saat melihat Bian Chi sambil memberi salam hormat dengan tangan kanan berada di depan dada.


“Siapakah Anda berdua? Dan ada keperluan apa mendatangi Kuil kami?” Tanya seorang biksu yang sepertinya paling senior diantara kelima orang biksu itu.


Zhu San pun lalu memberi salam hormatnya, Ia lalu mengutarakan tujuan mereka berdua mendatangi kuil tersebut.


Kelimanya menatap Zhu San dengan pandangan yang menyelidik. Setelah berembuk sesaat, biksu yang tadi bertanya, segera meminta Zhu San dan Bian Chi untuk mengikutinya.


Ketiganya menemui seorang Biksu yang berusia sekitar lima puluhan tahun, setelah berbicara biksu penjaga gerbang itu pun kembali ke tempatnya.


“Silakan ikuti saya menemui beliau di pondoknya.” Biksu yang memperkenalkan dirinya sebagai Biksu Peng Hao itu, mengajak Zhu San dan Bian Chi masuk lebih dalam ke komplek Kuil Lonceng Dewa.

__ADS_1


Di tengah sebuah alun-alun sekte, Zhu San dan Bian Chi melihat sebuah Lonceng Besar yang sepertinya terbuat dari emas, terletak di sudut alun-alun itu. Lonceng yang disebut sebagai Lonceng Dewa.


******


__ADS_2