
Zhu San lalu menotok beberapa bagian tubuh kedua gurunya, hal itu Ia lakukan untuk menjaga organ tubuh lain yang tidak mengalami luka di tubuh Fu Kuan dan Lin Kai.
Fu Kuan segera menelan Kristal Yang dan Lin Kai pun menelan Kristal Yin. Sesaat kemudian tubuh keduanya tampak bergetar hebat.
Hawa panas segera memasuki seluruh otot dan tulang Fu Kuan. Hal sebaliknya terjadi pada Lin Kai yang merasakan hawa dingin segera mengalir di dalam tubuhnya.
Zhu San segera memfokuskan dirinya, untuk mengendalikan kedua hawa itu, saat kedua gurunya menyerap energi yang sangat besar dari kedua kristal tersebut.
Dengan bersusah payah dan juga menahan sakit selama satu hari satu malam, Fu Kuan dan Lin Kai akhirnya selesai juga dengan proses itu.
Keduanya terkejut bukan kepalang, saat mendapati tubuh mereka berdua menjadi segar dan juga sangat bertenaga. Jauh lebih kuat dari kekuatan mereka sebelum dikalahkan oleh Tsao Beng dan Qiao Bun.
Zhu San sendiri menjadi takjub dengan apa yang terjadi. Dirinya tidak menyangka jika kekuatan kedua Gurunya akan sebesar itu.
“Tenaga dalam Guru pertama dan kedua meningkat sangat jauh, bahkan lebih besar dari kekuatan Tsao Beng maupun Qiao Bun. Ini hal yang sangat bagus. Apakah saudara Xie Han juga akan memiliki kekuatan sebesar ini nantinya?”
“San’er … Terimakasih. Kau bukan hanya menyembuhkan luka guru, tetapi juga memberi kekuatan yang jauh lebih besar dari kekuatan sebelumnya. San’er …”
Zhu San terkejut saat tiba-tiba kedua gurunya akan berlutut di depannya. Terlihat wajah keduanya begitu sangat bahagia dengan kekuatan yang kini mereka miliki.
“Guru … Mohon tidak melakukan ini, Guru akan membuat Aku menjadi murid durhaka jika guru melakukannya.”
Zhu San berusaha sekuat tenaga menahan kedua gurunya yang akan berlutut padanya untuk mengucapkan terimakasih mereka.
Keduanya tersentak mendengar kata-kata Zhu San, mereka segera membatalkan niatnya, dan kini Zhu San yang berlutut di hadapan mereka berdua.
“Guru … Sudah seharusnya murid berbakti kepada guru, sehebat apapun seorang murid, tidak boleh Ia melupakan jasa gurunya. Mohon tidak mengulangi lagi kekonyolan seperti tadi.”
Mata Fu Kuan dan Lin Kai berkaca-kaca mendengar perkataan Zhu San. Keduanya memeluk Zhu San dengan air yang menetes di pipi mereka.
__ADS_1
Kebahagiaan terbesar seorang Guru adalah saat Ia berhasil membuat muridnya menjadi lebih hebat dan berbakti kepada mereka yang lebih tua. Dan Zhu San menunjukan hal itu dengan tindakan yang nyata.
“Guru … dengan tenaga dalam guru saat ini, Guru berdua bisa melayang di udara tanpa harus khawatir kehabisan tenaga dalam lagi.”
“Apa! … benarkah itu San’er …?”
Fu Kuan bertanya dengan mata melotot lebar. Senyum lebar pun segera terlihat di bibirnya. Lin Kai yang heran, segera bertanya kepada Fu Kuan mengapa Ia terlihat seperti itu.
“Dulu sekali … Rui’er pernah berkata alangkah senangnya jika kami berdua bisa melayang di udara bagai sepasang burung merpati. Dan akhirnya Aku bisa mewujudkan impiannya itu.”
Lin Kai dan Zhu San hampir saja jatuh terduduk, saat mendengar betapa romantisnya Guru Pertama Zhu San itu terhadap Isterinya.
“Huh … Manusia jika sedang sedang dimabuk cinta, tidak perduli muda atau tua bangka selalu saja merasa dunia milik berdua, yang lain dianggap ngontrak.”
Lin Kai mendengus kesal setelah Ia berkata mengejek Fu Kuan.
“Huh … Kau pikir aku takut apa! Atau Kau ingin pantatmu kutendang dengan Kaki Baja ku ini?” Lin Kai balas membentak Fu Kuan.
Beberapa saat kemudian, keduanya sama-sama melesat maju menyerang satu sama lainnya. Zhu San hanya menggaruk kepalanya melihat hal itu.
Ia tidak melerai pertarungan keduanya, karena Ia tahu keduanya sedang menguji kekuatan baru mereka. Walau atap bangunan itu, harus jebol akibat keduanya melompat tinggi keluar dari ruangan itu.
Keduanya bertarung dengan sangat cepat dan mengeluarkan kekuatan penuh mereka. Hal itu tentu saja mengejutkan mereka yang segera berdatangan sesaat setelah mendengar suara pertarungan keduanya.
“Apa yang kalian lakukan berdua! An Gege hentikan!” Qin Rui yang baru saja datang, tentu saja terkejut saat melihat Suaminya sedang bertarung dengan hebat melawan Lin Kai.
“Eh sudah .. sudah dulu, Rui’er akan marah besar jika aku tidak berhenti.” Fu Kuan berkata sambil menahan tendangan Lin Kai.
“Sebodo amat, pura-pura saja Kau tidak mendengarnya. Gitu aja kok repot.”
__ADS_1
Lin Kai tidak perduli mendengar Fu Kuan berkata begitu, mereka sudah lama tidak berlatih ilmu beladiri dengan cara seperti ini, sejak mereka dikalahkan oleh Tsao Beng dan Qiao Bun beberapa bulan yang lalu.
Mereka sudah lama tidak berlatih ilmu beladiri dengan cara seperti ini, sejak mereka berdua dikalahkan oleh Tsao Beng dan Qiao Bun beberapa bulan yang lalu.
Fu Kuan menjadi bingung dengan situasinya. Akhirnya Fu Kuan merelakan pantatnya untuk terkena tendangan Lin Kai, sebelum akhirnya Ia pura-pura jatuh ke tanah.
Lin Kai berdecak kesal, melihat hal itu. Namun Ia tidak bisa menyerang Fu Kuan lagi karena Qin Rui telah berada di dekatnya dan menolong sahabatnya untuk berdiri.
Lin Kai menatap kesal ke arah Fu Kuan yang meliriknya sambil mengedipkan mata ketika Ia melingkarkan lengannya ke arah leher Qin Rui yang membantunya bangun.
“Cih … Manja manja benar Kau ini!” Lin Kai ingin berkata seperti itu. Namun Ia menahannya saat melihat Encinya telah datang juga.
Zhu San yang baru saja keluar dari ruangan, tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya. Saat itulah terbersit dalam benaknya, untuk mengenalkan Guru keduanya itu kepada Nenek Qin Ji, saudara kembar Nenek Qin Rui.
“Adik Lin … Kekuatanmu telah pulih dan sepertinya kau lebih kuat dari terakhir kali yang ku ketahui.”
Lin Kai hanya tersenyum tipis, saat itu Ia menyadari adanya perubahan sikap Encinya. Dua hari yang lalu kekuatan yang Ia miliki, masih di bawah kekuatan Lin Mi.
Namun saat ini, Lin Kai yakin jika kekuatannya tidaklah berada di bawah Encinya. Hanya saja dalam hal teknik, Lin Kai tak percaya diri untuk bisa mengungguli saudara sepupunya itu.
Pagi yang cerah itu, tiba-tiba saja dikejutkan dengan seorang prajurit yang tergopoh-gopoh menuju ke halaman tengah kediaman bangsawan Mu Bai.
“Ada apa prajurit! Mengapa kamu bersikap terburu-buru seperti itu?”
Xie Han yang juga telah berada di halaman yang luas itu, segera bertanya dengan suara yang sedikit keras. Firasat buruk segera saja mengisi benaknya.
Wajah prajurit tersebut mendadak pucat saat mengetahui siapa yang bertanya kepadanya. Walau masih muda, Xie Han adalah Jenderal yang disegani oleh para Prajuritnya.
*****
__ADS_1