Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
074: Membenahi Situasi


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu sejak malam itu, malam dimana mendung kepalsuan yang menyelimuti kota Shinzu, telah tersingkir selamanya dari langit kota dimana Zhu San dilahirkan hampir sembilan belas tahun lalu.


Dua minggu sejak malam itu, benak para penduduk kota, dipenuhi pertanyaan atas apa yang terjadi pada mereka dan terutama pada Bangsawan Zhu Han.


Zhu Han pun mengangkat kembali Qian Lu menjadi gubernur kota Shinzu. Semua Kebijakan Gubernur Shi Tong dicabut dan diganti dengan kebijakan yang lama.


Penduduk Kota Shinzu pun menyambut gembira akan hal tersebut. Mereka yang telah terusir dari rumahnya, kini dapat kembali memiliki rumah yang menjadi hak mereka dan mendiaminya dengan tenang.


Komandan Pasukan Kota tetap di pegang oleh Mao Sheng. Sementara Chao Fan diangkat menjadi Jenderal oleh Zhu Han.


Langkah kedua adalah merekrut pemuda Kota Shinzu untuk dilatih menjadi prajurit kota yang kini hanya tersisa tiga ribu orang saja.


Dua belas ribu prajurit telah meninggalkan Kota Shinzu sejak beberapa bulan lalu untuk membantu kudeta terhadap pemerintahan Kaisar Liu Feng.


Entah bagaimana nasib mereka, yang pasti Zhu Han memutuskan untuk meningkatkan kembali jumlah prajurit Kota Shinzu.


Dalam waktu tiga hari, setidaknya tiga ribu pemuda telah mendaftarkan diri mereka untuk menjadi Prajurit Kota.


Rei Ji adalah sosok yang ditugaskan menjadi pelatih bagi tiga ribu prajurit baru itu. Hal yang tepat, mengingat Ia memiliki keahlian dalam ilmu pedang.


Zhu San tidak terlibat dalam hal itu, Ia lebih memilih menghabiskan waktunya bersama sang Ibu, Mu Rong.


Kondisi Mu Rong semakin hari semakin membaik. Tubuhnya tidak lagi sekurus saat pertama kali Zhu San bertemu dengannya.


Wajah tirusnya kini mulai menghilang, kembali memancarkan aura kecantikan seorang perempuan bangsawan.


“Lalu bagaimana dengan Song Yi? Walau Ayah dan Ibu telah menjodohkanmu dengannya, sejak Yi’er masih bayi berusia satu bulan.”


Mu Rong mengerutkan dahinya, saat mendengar Zhu Han bercerita tentang Qin Yu, sosok gadis yang Zhu San sukai.


Zhu San juga bercerita tentang Song Ruo dan In Xeuxu yang telah menolong dirinya saat pingsan dan terbawa arus sungai Liao.


“Tentang itu, ibu tak perlu khawatir. Aku memiliki keyakinan jika Qin Yu adalah Puteri Paman Ruo, adik Song Yi.”


“Apa!! Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu Lung’er?”


Mu Rong tentu saja terkejut mendengar perkataan Zhu San.

__ADS_1


Zhu San baru saja menceritakan ulang penjelasan Song Ruo, tentang salah satu tujuan Adik Angkat Ayahnya itu, kembali Kekaisaran Liu.


Song Ruo bertujuan untuk mencari Song Yi, puteri mereka yang terpisah saat mereka di hadang perompak tujuh tahun lalu.


“Kenapa Kau tidak menceritakan tentang gadis Qin Yu ini pada mereka? Dan juga mengatakan jika Qin Yu adalah Song Yi?”


Mu Rong tak lagi bisa menahan rasa penasaran Ia merasa Zhu San telah melakukan kesalahan yang cukup besar.


Zhu San tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Ibunya. Ia pun mengatakan apa alasan Ia tidak menyampaikan hal itu saat bertemu dengan Paman Song Ruo.


Yang pertama karena Qin Yu tidak ada menyebutkan nama Ayahnya saat Ia bercerita kepada Zhu San.


Yang kedua adalah, Song Ruo menceritakan tentang bagaimana Ia bisa terpisah dengan Song Yi saat Zhu San bertanya terakhir kalinya sebelum Ia melesat meninggalkan kapal yang menuju ke Kekaisaran Liu itu.


Mu Rong hanya mengangguk-anggukan kepalanya sesaat setelah mendengar penjelasan Zhu San.


Saat Ia hendak bertanya lagi, Zhu Han datang bersama Rei Ji. Kedua orang itu sepertinya akan segera berangkat ke areal pertanian karena membawa caping lebar.


“Rong’er … Kami berangkat dulu ke lahan pertanian kita. Aku ingin melihat langsung para penggarap lahan, menanam benih gandum di lahan kita.”


“Baiklah Han Gege … Tunggu sebentar.”


Hati Zhu Han pun menjadi hangat, Ia lalu tersenyum dan segera hendak berkata. Namun suara seorang prajurit yang mendatangi beranda belakang rumahnya, membuat dahinya berkerut.


Wajah Rei Ji terlihat akan segera marah, namun Zhu Han memberi tanda untuk Ia tidak memarahi prajurit yang tergopoh-gopoh menemui mereka.


“Ampuni Hamba Tuan Zhu Han … Di depan pintu gerbang ada seorang Kakek yang membawa pedang tumpul datang dan mengamuk membantai para prajurit.”


“APA!!!”


Rei Ji tak banyak bicara, Ia langsung melesat untuk segera berada di Gerbang kediaman yang berjarak puluhan meter dari beranda belakang di mana mereka berada.


Prajurit yang melapor tadi, tergopoh-gopoh lari mengikuti pemimpinnya.


“Lung’er jaga Ibumu! Biar Ayah yang mengurusnya.”


Zhu Han berkata demikian kepada Zhu San dan hendak melesat menuju ke depan. Namun tangan Zhu San bergerak lebih cepat darinya.

__ADS_1


“Tidak Ayah! … Ayah yang harus menjaga Ibu, Kakek itu mungkin guru Cong Hai karena membawa pedang tumpul. Biar Aku yang mengurusnya.”


Zhu San segera melesat ke udara dan dengan cepat melayang ke arah depan rumah mereka.


“Han Gege … Putera kita telah menjadi pendekar yang hebat tapi …”


Zhu Han tertegun dan menatap wajah isterinya dengan rasa cinta yang mendalam.


“Tapi apa? … kenapa wajah cantik Isteriku ini menjadi sedih?”


Zhu Han sengaja menyentuh dagu Mu Rong untuk membuat wajah isterinya itu, menatap ke arah wajahnya.


“Aku sedih … karena Putera kita akan berkelana dan meninggalkan kita dalam waktu yang entah kapan Ia akan kembali untuk pulang.”


Mata bening Mu Rong kini berkaca-kaca saat menatap suaminya yang sedang tertegun mendengar perkataannya.


“Rong’er … Mungkin itu telah menjadi takdir bagi putera kita. Mau tak mau, Kita harus bisa merelakan Lung'er dengan takdirnya.”


Zhu Han terdiam sejenak dan tersenyum nakal sebelum meneruskan kata-katanya.


“Oh Iya … Bagaimana kalau kita segera membuatkan Dia seorang adik? Apakah kondisimu sudah pulih dan siap? Aku sudah sangat merindukannya.”


Mu Rong yang semula sedih segera saja kulit putih pipinya merona merah saat Ia menganggukkan kepalanya. Zhu Han pun tertawa senang mendengarnya.


Mu Rong yang malu, segera akan mencubit lengan suami yang begitu Ia cintai itu. Namun lengan Zhu Han bergerak lebih cepat lalu merengkuhnya dalam pelukan yang erat.


Setelah mencium kening isterinya, Ia pun mengajak Mu Rong untuk melihat situasi yang terjadi di depan kediaman mereka.


Sementara Zhu San yang telah berada di atas atap rumah ayahnya itu. Tertegun saat mendapati dua orang Kakek sedang bertarung.


“Siapa Kakek itu? Mengapa Ia bertarung dengan Kakek yang memegang Pedang Tumpul itu?”


Zhu San berkata demikian dalam benaknya.


Ia meyakini jika pedang tumpul di tangan Kakek yang bertarung itu adalah senjata yang sama yang digunakan Cong Hai dua Minggu lalu, saat bertarung dengan dirinya.


******

__ADS_1


Chapter Ke 2 Jam 4 Sore ya mulai hari ini. Trims.. 🙏🙏🙏


__ADS_2