
Zhu San segera membalikkan badannya karena melihat Bian Chi yang berada di depannya, telah berlutut sambil menundukkan kepalanya.
Setelah membalikkan badannya, Zhu San pun menjadi heran karena tidak melihat siapapun di belakangnya. Saat Ia menoleh ke arah Bian Chi suara seorang lelaki kembali terdengar olehnya.
Entah bagaimana datangnya kedua orang itu, yang pasti saat Zhu San kembali meluruskan kepalanya, Ia mendapati seorang lelaki dan perempuan yang sangat cantik, telah berada di depannya.
“Hormat kepada Leluhur.” Zhu San pun segera berlutut, lalu mengucapkan salam setelah Ia mengenali siapa lelaki itu.
Keduanya adalah makhluk Roh yang kini mendiami Cincin Jiwa Zhu San dan Bian Chi. Telapak kaki kedua makhluk roh itu tidak terlihat, karena diselimuti awan putih.
“San’er … Chi’er … Kalian berdua pasti heran dengan apa yang tadi terjadi pada diri kalian sebelum berada disini bukan?” Yao Shan berkata dengan suara lembut namun sangat berwibawa.
“Benar leluhur.” Zhu San dan Bian Chi menjawab secara bersamaan.
“Aku dan isteriku membawa kalian ke sini, ke Alam Jiwa buatan Kami berdua.” Roh Yao Shan terdiam sejenak. Lalu Ia mulai menjelaskan tujuannya membawa mereka ke alam jiwa itu.
Yao Shan mengatakan bahwa saat ini kekuatan Dewi Kematian belum mencapai puncaknya. Hal itu karena Dewi Kematian belum memiliki lagi ketiga pusakanya yang terdahulu.
Dari ketiga pusaka itu, ada satu pusaka yang bila telah Ia miliki kembali, akan sangat sulit bagi Zhu San dan Bian Chi untuk mengalahkan perempuan itu. Pusaka itu bernama Zirah Kristal Dewa.
Zirah itu adalah zirah milik Paman Yao Shan. Namun setelah meninggalnya sang paman, zirah itu menghilang dan akhirnya muncul bersama dengan kemunculan Dewi Kematian.
Salah satu alasan mereka berdua harus terluka setelah menggunakan jurus gabungan adalah karena kekuatan dari Zirah Kristal Dewa yang membuat pertahanan Dewi Kematian menjadi sangat hebat.
Kehebatan pertahanan Dewi Kematian yang sulit ditembus, memaksa mereka berdua harus menggunakan jurus gabungan itu. Jurus itu menggunakan seluruh kekuatan yang mereka miliki.
Hal itu sangat membebani organ tubuh mereka berdua. Sehingga beberapa organ yang tidak kuat, mengalami kerusakan akibat energi yang dikeluarkan secara berlebihan.
Yao Shan meminta Zhu San dan Bian Chi mencari dua pusaka lain milik Dewi Kematian. Karena saat ini Zhu San telah memiliki satu dari tiga pusaka Dewi Kematian itu.
__ADS_1
Zhu San terkejut, Ia mengangkat kepalanya dan memandang heran ke arah Roh Yao Shan. Penjelasan berikutnya Makhluk Roh itu, membuat Zhu San akhirnya memahaminya.
Pusaka tersebut yaitu Topeng Hitam yang dulu bernama Topeng Pencabut Nyawa yang digunakan oleh Dewi Kematian membunuhi ribuan prajurit di masa itu.
Satu pusaka yang lain adalah Pedang Phoenix yang saat ini berada di tangan Guru Bian Chi. Zhu San dan Bian Chi sangat terkejut ketika mendengar hal tersebut.
Di hati keduanya pun segera muncul rasa khawatir bagaimana jika saat ini Dewi Kematian mendatangi Nenek Lin Mi.
“Jangan terburu-buru … Kalian berdua saat ini bukan lawan Dewi Kematian. Sepertinya Dewi kematian sedang bergerak ke arah timur. Ia bisa merasakan keberadaan ketiga pusaka itu. Dan Ia memilih mengambil Zirah Kristal Dewa terlebih dahulu. Masih banyak waktu bagi kalian berdua untuk berlatih meningkatkan kekuatan kalian.”
Roh Gong Chi yang sedari tadi diam, kini berbicara setelah melihat kekhawatiran di wajah mereka berdua.
Tentu saja Zhu San dan Bian Chi terkejut, berdasar penjelasan Roh Bian Chi. Mereka pun mengetahui, lambat laun Dewi Kematian akan mendatangi Nenek Lin Mi.
“Hal yang harus kalian lakukan sekarang adalah menyatukan kedua kitab Pusaka itu menjadi satu. Teknik-teknik yang belum sempat kalian pelajari akan menghilang, karena telah disempurnakan menjadi jurus dengan nama baru dengan penambahan pola gerakan.”
Roh Yao Shan menjelaskan lebih lanjut tentang apa yang harus segera mereka lakukan saat ini.
Alam Jiwa buatannya ini, memiliki dimensi waktu yang berbeda dengan dimensi waktu di alam manusia. Tujuh hari di Alam Jiwa akan sama dengan satu hari di Alam Manusia.
Mereka berdua akan menjadi pemilik Alam Jiwa ini. Karena saat ini adalah terakhir kalinya bagi Roh mereka berdua bisa menemui Zhu San dan Bian Chi. Roh Keduanya akan kembali ke Sang Pemilik kehidupan karena tugas mereka telah selesai.
Banyak hal yang dijelaskan oleh mereka berdua, tentang bagaimana dan apa yang harus Zhu San dan Bian Chi lakukan.
Kedua Roh itu akhirnya berpamitan setelah merasa tidak ada lagi yang perlu dijelaskan kepada Kedua muda-mudi itu.
Perlahan tubuh Roh Yao Shan dan Gong Chi memudar dan berubah bentuk menjadi dua buah cahaya yang segera melesat ke udara dengan sangat cepat sekali.
“San Gege … Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita akan segera menyatukan kedua kitab itu?” Wajah Bian Chi sedikit memerah saat bertanya demikian.
__ADS_1
“Tentu saja … Apakah Kau sudah siap?” Zhu San berkata dengan antusias. Hal itu membuat Bian Chi menjadi salah tingkah. Rasa malu dan jengah membuat kulit wajahnya semakin memerah.
“Tunggu dulu menurutmu berapa jam kita telah berada di sini?”
Zhu San bertanya kepada Bian Chi, sementara di dalam kepalanya Ia sedang menghitung perbandingan waktu antara dunia manusia dan Alam Jiwa yang kini menjadi milik mereka berdua.
“Kurasa lebih dari sepuluh jam kita berada di sini. Tergantung berapa lama kita tadi tak sadarkan diri. Memangnya kenapa?” Bian Chi mengerutkan dahinya, Ia tidak mengerti mengapa Zhu San bertanya demikian.
“Aku sedang menghitung perbandingan waktu antara Alam Jiwa kita dengan Alam manusia. Saat ini di alam manusia masih malam. Kita punya waktu beberapa jam lagi untuk kembali dan membantu mereka mempertahankan Kota Songdu.”
“Menurutku sebaiknya kita segera keluar saja dari Alam Jiwa ini. Karena Aku ingin memberitahu Nenek bahwa Ia berada dalam bahaya besar saat ini.” Bian Chi yang masih khawatir, segera menyuarakan keinginannya.
Zhu San pun menyetujuinya, lalu keduanya saling mendekat. Zhu San mengulurkan tangan kirinya dengan telapak tangan yang terbuka. Telapak itu disambut oleh telapak telapak kanan Bian Chi dan saling menempel.
Kedua tangan mereka yang lain segera terjulur ke atas. Lalu melesatlah cahaya merah dan biru dari kedua telapak tangan yang terkembang itu.
Sesaat kemudian kedua cahaya bersatu dan bergulung-gulung hingga pada jarak lima belas meter di udara, kedua cahaya itu melebar.
Kini telah terbentuk sebuah terowongan antar dimensi yang bisa mereka berdua lewati. Bian Chi segera melesat disusul oleh Zhu San.
Setelah satu menit melewati terowongan dimensi itu, mereka pun telah kembali ke dimensi manusia.
Dan ternyata hari telah siang sehingga keduanya bisa melihat apa yang kini tengah terjadi di pagar kota Songdu.
Puluhan ribu prajurit yang sedang menyerang kota Songdu, mendadak terhenti. Semuanya menatap ke arah dimana keduanya berada.
“Ah beruntung kita datang tepat waktu, Jika satu jam lagi kita baru datang, sepertinya kota Songdu akan jatuh ke tangan lawan.”
Zhu San berkata setelah mengamati situasi yang terjadi pada jarak seratus meter di bawah mereka. Situasi yang buruk bagi pihak yang berada di kota Songdu .
__ADS_1
*****