Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
117: Perbincangan


__ADS_3

Zhu San mengerutkan dahinya, Ia menatap Ju Yan dengan benak yang berisi sebuah pertanyaan.


“Apa maksudmu bertanya demikian?” Zhu San balik bertanya.


“Ah tidak, lupakan saja … Anggap saja aku kelepasan bicara, mari kita bersulang.”


Ju Yan Segera menuangkan arak ke dalam cawan Zhu San dan mengisi hingga penuh. Hal yang sama Ia lakukan pada cawannya sendiri.


Setelah saling membenturkan cawan, keduanya menegak habis arak dalam cawan tersebut.


“Saudara Yan … Aku sendiri tak tahu apakah pertunangan kami bisa dibatalkan atau tidak. Semua tergantung pada orang tua kami. Tentu saja setelah orang tuaku mendengarkan alasannya.”


Zhu San akhirnya menjawab pertanyaan Ju Yan. Ia ingin mengetahui, apa sebenarnya maksud pertanyaan kakak seperguruan Bian Chi itu.


“Ouh Begitu … Apakah Kau sangat mencintai Qin Yu? Dan tak bisa mengalihkan cintamu pada Chi’er?”


Lagi-lagi Zhu San tersedak nafasnya sendiri, Ia merasa ada nada cemburu dalam kata-kata murid pertama Nenek Lin Mi itu.


“Saudara Yan … Apakah Kau dan Chi’er adalah sepasang kekasih? Maaf jika pertanyaanku bersifat pribadi.”


Kali ini Zhu San yang menuangkan arak ke dalam Guci Ju Yan dan mengisinya hingga penuh sebelum mengisi cawan miliknya.


“Chi’er ya … “ Ju Yan menghela nafasnya. “Aku ingin mencintai dia tetapi Aku tak pernah bisa melakukannya. Walau Aku tahu, dia memiliki rasa sayang padaku.”


Ju Yan berkata dengan kalimat yang terdengar jujur di telinga Zhu San. Entah karena efek dari arak yang mereka minum atau karena hal lain.


“Pria yang menarik.” Zhu San berkata dalam benaknya setelah mendengar jawaban Ju Yan.


Zhu San pun mulai merasakan jika rasa cemburu yang tersirat dalam suara Ju Yan adalah karena Qin Yu. Entah kenapa Zhu San sampai berpikir seperti itu.


Ia hanya tersenyum tipis setelah menepis pikiran tentang hal itu, namun perkataan Ju Yan berikutnya membuat Ia tertegun.


“Qin Yu gadis yang unik selain kecantikannya yang luar biasa itu. Setiap pemuda yang waras pasti akan berusaha memilikinya. Selamat untukmu saudara San … Kau mendapat berkah langit yang luar biasa.”

__ADS_1


Zhu San segera mengangkat cawannya yang masih berisi setengahnya dan bersulang arak dengan Ju Yan.


Hanya saja, kesedihan dalam suara Ju Yan di kalimatnya yang terakhir tadi, tak bisa lepas dari benak Zhu San.


“Saudara Yan … Apakah kau menyukai Yu’er?” Zhu San hampir saja bertanya demikian.


Namun konsentrasinya lebih dulu teralihkan pada dua Kakek yang baru saja masuk ke ruangan di lantai dua itu.


“Siapa kedua orang Kakek ini? Walau mereka menyembunyikan kekuatannya, namun aku bisa merasakan jika tenaga dalam mereka sangat tinggi.”


Zhu San berkata demikian dalam benaknya. Apa yang ada dibenak Zhu San rupanya juga ada di dalam benak Ju Yan.


Pemuda tampan itu menyipitkan matanya saat menatap ke arah dua orang Kakek yang baru saja duduk, di meja yang tak jauh dari meja mereka berdua.


Kedua pemuda itu saling bertatapan sejenak, keduanya memutuskan untuk diam agar bisa mendengar percakapan keduanya.


Setelah arak yang mereka pesan datang, kedua Kakek itu baru memulai percakapannya. Itu pun setelah mereka melihat sejenak ke arah Zhu San dan Ju Yan, setelah mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu.


“Kota Baixan jauh lebih ramai dari terakhir kali kudatangi.” Kakek yang berjubah Hitam berkata pada rekannya.


Sekitar tiga atau empat puluh tahun lalu … Saat Aku masih berpetualang ke Kekaisaran Jian. Apakah Kau belum pernah Kesini Saudara Yun?”


Sosok kakek yang bernama Hua Yun hanya tersenyum setelah mendengar perkataan temannya yang bernama Du Fang yang berjuluk Topeng Iblis Hitam.


“Aku belum sempat kemari, Aku lebih senang berkeliaran di Kekaisaran Wei daripada di kekaisaran Liu Ini. Saudara Du Fang, apakah kau mempercayai perkataan Luo San tentang guru pemuda yang membunuh muridmu, Lima Topeng Kematian itu? Bagaimana jika ini hanya siasat Luo San saja agar kau membantunya?”


Zhu San terkejut mendengar tentang Lima Topeng Kematian yang ternyata adalah murid dari Kakek yang bernama Du Fan itu.


Ju Yan yang melihat sikap Zhu San, menjadi tertegun, membatalkannya ucapannya untuk bertanya, karena mendengar suara keras sang Kakek yang sepertinya mulai marah itu.


“Sekalipun Lin Kai dan Fu Kuan bukan guru pemuda itu, Aku akan tetap menghabisi mereka berdua. Aku masih ingat betapa sombongnya Lin Kai saat berhasil mengalahkanku dulu.”


Du Fang terlihat geram saat Ia menjawab pertanyaan Hua Yun. Hal itu membuat rekannya segera memberi isyarat untuk tidak berbicara dengan suara keras.

__ADS_1


“Saudara Hua Yun … Kenapa Kau takut, di kota ini tidak ada yang bisa mengalahkan kita, apalagi Lin Kai dan Fu Kuan sudah kehilangan kemampuannya. Biar saja mereka mendengar kata-kataku hahahaha.”


Du Fang berbicara dengan sombongnya sambil mengedarkan pandangan matanya dengan melepaskan aura membunuh yang kuat.


Beberapa orang yang melihat ke arahnya langsung tertunduk, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu, karena tak ingin berurusan dengan kakek yang terlihat jahat itu.


Beberapa saat kemudian, hanya tinggal Zhu San dan Ju Yan yang berada di ruangan tersebut. Hal itu membuat Du Fang dan Hua Yun menjadi heran melihatnya.


“Hai anak muda! … Hanya kalian berdua yang masih berani berada di sini, mengapa kalian tidak bergabung saja dengan kami?”


Du Fang berkata dengan suara yang sedikit lunak, namun Zhu San bisa merasakan adanya kemarahan yang ditahan oleh Kakek yang berjuluk Pendekar Topeng Iblis Hitam itu.


“Terimakasih kakek … Tapi kami lebih suka di meja kami sendiri.”


Zhu San berkata sambil memberi hormatnya kepada mereka berdua. Tidak terdengar ketakutan dalam suara Zhu San, membuat Du Fang menjadi geram.


“Kau! … Aku puji keberanian kalian berdua. Sepertinya kalian memiliki sedikit kemampuan beladiri sehingga tidak seperti mereka yang segera keluar ruangan setelah mendengar kata-kataku tadi.”


Du Fang berdiri diikuti oleh Hua Yun yang berusaha menenangkan sahabatnya itu.


Du Fang adalah orang yang emosional. Sedikit saja meminum arak, Ia akan mudah marah untuk sesuatu yang seharusnya Ia tidak perlu bersikap seperti itu.


“Maafkan kami Kakek … Kami memang memiliki sedikit kemampuan beladiri, dibanding dengan kemampuan beladiri Kakek berdua, sepertinya kami memiliki kemampuan yang lebih banyak.”


Ju Yan yang suasana hatinya sedang tak enak, tentu saja tersinggung mendengar perkataan Du Fang. Ia pun berdiri dan menantang kakek berjubah hitam itu dengan halus.


“Hohoho … Baru kali ini Aku bertemu seorang pemuda yang berani menantangku. Percayalah kalian berdua tidak akan berakhir baik-baik!”


Selepas berkata demikian, Du Fang segera melesat sangat cepat untuk menampar mulut Ju Yan.


PLAAK !!!


******

__ADS_1


Bonus malming


__ADS_2