Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
150: Bahaya Mendatangi Hutan Rawa Buaya


__ADS_3

Raja dan Ratu Siluman Buaya itu melangkah mendekati Zhu San dan Bian Chi lalu berhenti setelah terpaut satu meter dengan mereka.


“Tuan Ini Zirah Mustika Yang untuk Anda gunakan. Zirah yang dibawa Isteriku adalah Zirah Mustika Yin dan itu untuk isteri Anda” Berkata Raja Siluman Buaya itu sambil mengulurkan Zirah Emas di tangannya.


Zirah Mustika Yang itu pun segera berpindah tangan. Zhu San merasakan aliran energi yang hangat mengalir masuk ke dalam tubuhnya, saat zirah mustika berada di tangannya yang kini memendarkan cahaya Kuning keemasan.


Perlahan cahaya itu meredup dan zirah mustika itu pun sirna bersama dengan sirnanya cahaya kuning keemasan.


Zhu San merasakan hawa hangat menyelimuti seluruh tubuhnya yang kini memancarkan Aura Keemasan. Hal yang sama pun terjadi dengan Bian Chi.


“Mengapa wujud zirah itu tidak terlihat seperti saat kau kenakan?” Tanya Zhu San keheranan. Setelah Ia melihat bagian dadanya dan tidak melihat baju zirah itu berada di sana.


“Itu karena Zirah Mustika Yang berjodoh dengan tubuh anda. Sehingga Ia menyatu dengan kulit tubuh anda” Jawab Raja Siluman Buaya sembari tersenyum.


Zhu San dan Bian Chi mengucapkan terimakasih atas apa yang telah Raja dan Ratu Siluman Buaya itu berikan kepada mereka berdua. Zhu San pun mengucapkan terimakasih sebelum berpamitan pergi dari hutan rawa itu.


Keduanya telah berada di tepi Hutan di tempat sebelumnya mereka berada. Lalu Zhu San dan Bian Chi memutuskan untuk memasuki Alam Jiwa dari tempat tersebut.


Sesaat kemudian Awan hitam bergulung di atas tempat dimana mereka berada. Petir kecil pun segera terlihat memercik, dari gumpalan awan hitam yang sedang bergulung-gulung.


Sebuah terowongan dimensi segera tercipta dan keduanya segera melesat memasuki terowongan itu.


Perlahan-lahan terowongan itu sirna dan Zhu San serta Bian Chi kini berada di tanah lapang tempat dimana terakhir kali mereka berada di Alam Jiwa beberapa waktu yang lalu.


Tanpa Zhu San dan Bian Chi sadari, dari jarak sembilan kilometer, tiga pasang mata memandang cemas dan segera melesat ke arah hutan dengan peringan tubuh tingkat tinggi.


Yang Zhu San tahu, saat ini mereka harus segera memulai proses penyerapan Energi Inti Elemen Angin yang kan di lakukan di atas awan yang berjarak seratus meter dari mereka berada.


Keduanya segera melesat ke udara dan melayang ka arah tepi awan. Setelah berada di atas awan yang ternyata bisa mereka pijak, keduanya saling menatap dengan canggung.

__ADS_1


“San Gege … Aku …” Bian Chi tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Wajahnya merona merah menahan malu. Karena saat ini mereka harus melepaskan pakaian yang dikenakan.


“Chi’er … Kenapa harus malu lagi, kita sudah menjadi suami Isteri bukan?” Tanya Zhu San dengan suara yang sedikit serak.


Ia segera melepaskan jubahnya, lalu memasukan satu persatu kain yang Ia kenakan ke dalam Cincin Jiwa. Bian Chi lalu membalikan badan, saat melihat hanya satu kain lagi yang belum terlepas dari tubuh suaminya.


Setelah memasukan kain terakhir yang melekat di tubuhnya, Zhu San segera duduk dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.


“Chi’er .. Aku sudah siap. Ayo segera lepaskan seluruh kainmu.” Suara Zhu terdengar semakin serak saja.


San Gege … tutup matamu dulu. Aku .. Aku malu.” Zhu San terkekeh setelah mengiyakan permintaan Isterinya itu.


Bian Chi melepaskan satu persatu kain yang melekat di tubuhnya. Zhu San yang berjarak dua langkah dari sang Isteri, menelan ludahnya.


Ia tidak memejamkan matanya seperti yang di minta Bian Chi yang masih membelakangi dirinya itu.


Zhu San merasakan tubuhnya gemetar, badannya menghangat saat sesuatu mulai bangkit di bagian bawah tubuhnya, tanpa bisa Ia cegah lagi.


Ia segera duduk dan menyilangkan kedua lengannya di bagian dada. Otot leher Zhu San terlihat bergerak berkali-kali saat terpaksa menelan ludahnya sendiri.


Lutut keduanya saling bersentuhan dalam posisi duduk bermeditasi. Setelah berhasil menguasai degup jantung mereka masing-masing, Zhu San dan Bian Chi lalu memejamkan mata mereka setelah mempertemukan kedua telapak tangan masing-masing.


Zhu San dan Bian Chi lalu memulai proses penyerapan Energi Inti Elemen Angin yang berhawa sejuk itu.


Namun hingga tiga puluh menit kemudian, mereka belum berhasil merasakan sesuatu, seperti yang tertulis dalam Kitab Lima Elemen.


“San Gege … mengapa Aku tidak bisa merasakan energi sejuk ini mengalir masuk seperti yang disebutkan dalam Kitab?” Tanya Bian Chi kepada Zhu San setelah Ia membuka matanya.


Zhu San lalu membuka matanya dan Ia harus kembali menelan ludah, melihat pemandangan indah tepat di depan matanya.

__ADS_1


“San Gege! …” Suara Bian Chi terdengar kesal saat Zhu San hanya diam saja dan tengah melotot memandangi bagian dadanya.


“Eh Iya … Walau tidak sebesar milik sang Ratu Buaya tapi lebih indah.” Zhu San berkata yang membuat Bian Chi melotot lebar karena kesal.


“San Gege! … Kau!” Bian Chi segera menarik kedua telapak tangannya yang masih beradu dengan telapak tangan sang suami. Lalu segera menyilangkan lengan menutupi kedua dadanya.


“San Gege … Mungkin karena Kau tidak fokus makanya kita tidak bisa menyerap Energi Inti Angin ini.” Bian Chi kembali berkata dengan suara kesal.


Saat itulah, Ia melihat sesuatu di bagian perut sang suami yang membuat tubuhnya bergetar hebat dan wajahnya pun semakin memerah.


“Oh maaf Chi’er … Aku sepertinya tidak bisa berkonsentrasi. Kita ulangi lagi.” Kata Zhu San yang lalu segera memejamkan matanya.


Bian Chi pun segar mengikuti yang dilakukan suaminya. Namun bayang-bayang sesuatu yang dilihatnya tadi membuat Ia kesulitan berkonsentrasi


Seharian mereka gagal melakukan penyerapan Energi Inti Angin dan keduanya baru bisa mulai menyerap setelah malam tiba.


Perlahan-lahan mereka mereka merasakan energi yang sejuk meresap memasuki pori-pori tubuh mereka. Seiring dengan hal itu, gumpalan awan yang mengandung Energi Inti Angin mulai menghilang.


Tanpa mereka ketahui sesuatu terjadi di hutan tempat mereka tadi bertemu dengan Raja dan Ratu Siluman Buaya.


Tiga orang yang melesat dari atas kuda masing-masing itu, adalah Qiu Lan dan dua perempuan yang menjadi pengawalnya.


Qiu Lan merasakan kecemasan saat melihat Awan Hitam bergulung dari arah dimana Ia merasakan Aura Zirah Kristal Dewa miliknya di masa seribu tahun lalu.


Saat berjarak tiga kilometer lagi, Gumpalan Awan Hitam itu telah sirna dan saat tiba di hutan itu, kecemasan Qiu Lan menghilang.


Ia masih merasakan Aura Zirah Kristal Dewa yang merupakan pusaka Dewa Kematian yang didapat oleh gurunya di masa lalu. Ia memiliki zirah itu, setelah sang guru mewariskan kepadanya.


Namun saat semakin dekat dengan tempat beradanya zirah pusaka itu, Ia menemukan mereka bertiga telah dikepung oleh puluhan Siluman Buaya yang berwujud setengah buaya dan setengah manusia.

__ADS_1


******


__ADS_2