
Setelah tangisan Bian Chi mereda, Zhu San pun segera mengajak Isterinya untuk segera mendatangi Kediaman Bangsawan Mu Bai, dimana kedua gurunya berada.
Saat Zhu San dan Bian Chi datang ke kediaman Bangsawan Mu Bai, keduanya tidak bisa bertemu dengan Bangsawan Penguasa Kota Baixan itu.
Bangsawan Mu Bai sedang berada di ruang pertemuan bersama Kaisar Liu Feng, Zheng An, Jenderal Xie Han dan beberapa jenderal dan Komandan Pasukan yang lain.
Zhu San dan Bian Chi pun segera mendatangi kedua gurunya, Fu Kuan dan Lin Kai yang sedang berbincang dengan Qin Rui. Ketiganya terlihat sangat senang dengan kedatangan Zhu San dan Bian Chi.
“San’er … Syukurlah Kau datang di waktu yang tepat. Hmmm …. Apa hanya perasaanku saja, Kau terlihat lebih tinggi dan kekar dari terakhir kali ku Lihat.” Lin Kai memandangi Zhu San yang baru saja Ia peluk.
“Benar guru … Aku pun merasa demikian. Semua terjadi setelah kami berlatih lebih dari tujuh bulan di Alam Jiwa.” Zhu San menjawab dengan senyum tipis.
Fu Kuan dan Lin Kai duduk kembali dan meminta Zhu San menceritakan tentang apa yang Ia lakukan selama satu bulan terakhir. Sementara Bian Chi diantar ke ruangan lain oleh Qin Rui untuk mengganti pakaiannya.
Zhu San pun lalu menceritakan semua yang Ia lakukan di Alam Jiwa sekaligus meminta maaf karena tidak mengundang mereka berdua Saat pernikahannya.
Saat Zhu San selesai menceritakan semua yang terjadi hingga terbunuhnya Nenek Lin Mi, Lin Kai seketika berdiri dengan wajah yang terlihat marah dan sedih.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening, saat Lin Kai melangkah keluar dengan tangan terkepal. Zhu San dan Fu Kuan mengikuti Lin Kai dari belakang.
Sesuai dugaan dalam benak keduanya, Lin Kai tiba-tiba melesat ke udara dan bergerak ke arah selatan. Namun Zhu San segera menyusulnya dengan kecepatan yang membuat mata Fu Kuan terbelalak lebar.
Guru Pertama Zhu San itu, terkejut dengan kecepatan Zhu San yang dua kali lebih cepat dari Lin Kai.
Hal yang sama pun dialami oleh Lin Kai, Ia tertegun ketika Zhu San tiba-tiba telah berada di depannya dengan gerakan yang begitu cepatnya.
“Guru … Ku mohon Guru tidak gegabah. Tenangkan amarah Guru.” Zhu San berkata sambil menunduk dengan kedua tangan berada di dadanya.
__ADS_1
Melihat sikap hormat dari sang murid yang sangat Ia sayangi itu, hati Lin Kai pun menjadi luluh. Ia melesat turun dan kini berada di depan Fu Kuan yang segera datang memeluknya.
“Saudara Lin… Kami turut berduka atas apa yang terjadi dengan saudari Lin Mi. Ada saatnya nanti kau membalas dendam pada mereka semua.” Fu Kuan berkata sambil menepuk bahu Lin Kai
Bian Chi dan Qin Rui datang tepat ketika Zhu San kembali menjejakan kakinya di tanah. “Benar Kakek Lin Kai, Kita akan bersama-sama membalas dendam atas kematian Guruku.” Bian Chi berkata yang mendapat tatapan melotot dari Fu Kuan dan Lin Kai.
Bian Chi kebingungan dengan sikap kedua guru suaminya. Namun Ia segera tersadar telah salah ucap.”Maafkan murid telah salah berkata Guru pertama, Guru Kedua.” Bian Chi segera berlutut di hadapan kedua Guru Zhu San itu.
Gelak tawa Fu Kun dan Lin Kai terdengar bersamaan.
”Nah begitu baru benar, kau isteri dari murid kami, maka sudah semestinya kau memanggil kami berdua dengan sebutan Guru. Berdirilah Chi’er ” Fu Kuan berkata dengan bijak.
“Maklumi saja mereka masih pengantin baru, suka lupa dengan hal-hal begini. Hehehe.” Lin Kai terkekeh, perkataannya membuat wajah Zhu San dan Bian Chi memerah.
Ketiga orang tua itu tertawa melihat raut wajah keduanya yang memerah. Namun, sosok tetua Zheng An yang terburu-buru mendatangi tempat mereka, membuat ketiganya segera terdiam.
“Ah San’er … Kau berada disini juga. Aku harus berterimakasih kepada langit. Dengan begini kecemasan Yang Mulia Kaisar, akan sirna.” Zheng An berkata kepada Zhu San, setelah memberi salam kepada ketiga rekannya.
Quan Yu adalah Jagoan nomor satu Aliran Hitam Kekaisaran Qing, yang telah pensiun dan menghilang sejak dua puluh tahun lalu.
Mengetahui jika Ia berada bersama puluhan ribu pasukan yang mengepung kota Baixan adalah sebuah berita buruk. Namun perkataan Zheng An, membuat keduanya tersadar akan kekuatan yang Zhu San tunjukan tadi.
Mereka berlima segera melangkah mengikuti Zheng An yang datang untuk menemui Fu Kuan dan Lin Kai. Keduanya diharapkan hadir oleh Kaisar Liu Feng dalam pertemuan yang membahas rencana untuk perang di esok hari.
***
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, di sebuah tenda terbesar di jarak dua kilometer dari tembok pagar di selatan Kota Baixan, Luo San terlihat sedang memimpin sebuah rapat.
__ADS_1
Di sampingnya, terlihat sosok yang lebih sepuh dari Fu Kuan maupun Lin Kai. Sosok itu adalah Quan Yu yang berjuluk Iblis Penakluk Langit. Ia juga guru dari Dua Jagal Iblis yang membunuh Pendekar Seribu Wajah.
Selain Dua Jagal Iblis, terlihat Huang Jin dan Huang Jun, dua orang bersaudara yang juga ikut andil dengan apa yang terjadi di kediaman Bangsawan Zhu Han, sekitar sebulan yang lalu.
Selain itu terlihat Lima orang pendekar tingkat tinggi lainnya. Lima orang diantaranya berjuluk Lima Elang Setan. Di dekat keduanya, terlihat Bangsawan Yin Lu dan puteranya Yin Hu serta Bangsawan An He.
Quan Yu yang sedari tadi terdiam, segera angkat bicara ketika suasana menjadi hening. Ia yang tidak setuju dengan rencana Luo San, segera mengutarakan pendapatnya.
“Ketua Luo, mengapa kita harus menunggu kedatangan mereka berlima dari Kota Songdu. Apa Kau meremehkan kekuatanku! ”
Wajah Luo San seketika berubah mendengar perkataan Quan Yu. Ia pun segera menekan amarahnya dengan tersenyum tipis ke arah Sesepuh Aliran Hitam Kekaisaran Qing itu.
“Sesepuh Quan Yu, Aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya ingin kita menyerang kota Baixan dengan kekuatan penuh kita.” Luo San berkata setelah menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya.
Quan Yu mendengus kesal, Ia ingin membantah apa yang diucapkan oleh Luo San. Namun saat matanya melihat gelang berwarna merah di pergelangan tangan Luo San, Ia pun terdiam.
Hanya Quan Yu yang mengetahui kehebatan gelang yang baru dipakai oleh Luo San hari ini. Gelang itu bernama Gelang Iblis Api. Hal yang tak diduga Quan Yu sebelumnya, jika gelang itu dimiliki oleh Luo San.
“Jika sampai nanti malam kelimanya tidak kembali juga, besok pagi kita akan mulai menyerang kota Baixan tanpa mereka.”
Luo San berkata demikian, setelah menyadari bahwa semua orang tidak setuju jika Ia lebih lama lagi menunda serangan mereka.
Sesaat kemudian, Sun Li terlihat memasuki tenda tempat pertemuan itu diadakan. Ia baru saja datang dengan membawa lima ribu pasukan kota Wuchang.
Namun Ia tidak bersama suaminya Bangsawan Wu Lei. Suami dan putera tunggalnya itu, masih berada di kota Baixan.
Kedatangan Sun Li disambut dengan senyuman lebar. Dengan kedatangan Dewi Selaksa Racun itu, membuat formasi penyerangan mereka berubah.
__ADS_1
Dimana pasukan pemanah beracun, akan menjadi pasukan pertama yang menyerang Kota Baixan.
******