Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
181: Mendatangi Markas Perampok


__ADS_3

“Berhenti dan turun dari kuda kalian!” Sebuah bentakan, terdengar keras tepat saat matahari berada di atas kepala Zhu San dan Bian Chi. Sesaat kemudian muncullah seratus orang lebih dari dalam hutan Kelelawar itu.


“Hohoho … ada gadis cantik rupanya. Ketua pasti akan senang dengan tangkapan kita hari ini. Hahahaha.”


Seorang pria bertubuh tegap yang baru datang, menatap Bian Chi dengan tatapan liar yang membuat Zhu San meradang melihatnya. Ia pun melesat sangat cepat ke arah pria itu.


PLAK!


DUAGH!


Tubuh Zhu San yang terlihat seperti menghilang karena cepatnya Ia melesat, membuat sosok yang baru saja selesai berkata itu, terpelanting jauh dari tempatnya.


Tubuh besar pria itu, segera menghantam sebatang pohon dan jatuh tak sadarkan diri. Tamparan Zhu San tadi, membuat mulutnya berdarah dan tendangan Zhu San membuat perutnya serasa hancur.


“Wakil Ketua! Cepat bantu Wakil ketua berdiri!”


“Berani sekali Kau melawan Kelompok Kelelawar Merah!” Salah satu pria yang tak kalah besar dengan sosok yang mereka panggil wakil ketua, membentak dan menghunuskan goloknya ke arah wajah Zhu San.


Zhu San menyeringai menahan marah, Ia pun kembali melesat dan sesaat kemudian sesuatu yang mengerikan terjadi, membuat lutut ratusan perampok itu menjadi bergetar lemas.


“Jangan pernah menghunuskan senjata ke wajahku jika tidak ingin mati dengan kepala yang terpisah!”


Zhu San berkata kepada sosok yang masih berdiri mematung. Terlihat jika golok pria itu telah berada di tangan Zhu San.


Dengan hanya menepuk pelan bahunya, kepala pria itu tiba-tiba saja jatuh dan menggelinding di tanah menjauhi tubuhnya yang roboh sesaat kemudian.


Wakil Ketua yang baru tersadar, jatuh pingsan lagi ketika melihat sosok yang tak lain adalah adik kandungnya, tewas mengenaskan dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.


Zhu San lalu melemparkan golok itu dengan sangat kuat. Golok pun melesat sangat cepat dan menghunjam dada kiri wakil ketua itu hingga membuatnya meregang melepas nyawa.


Seratus lebih anggota Perampok Kelelawar Merah kini menjadi pucat. Sebagian dari mereka yang berada di barisan belakang, segera melesat memasuki hutan untuk melarikan diri.

__ADS_1


Namun langkah sebagian dari mereka terhenti, saat di depan mereka, melayang sebuah pedang yang berhawa sangat dingin.


“Jangan coba-coba pergi dari sini!” Zhu San membentak puluhan orang yang masih berada di luar hutan. Mereka semua bergerak mundur menjauhi hutan secara perlahan-lahan.


Salah satu perampok mencoba melesat kabur untuk memasuki hutan, namun langkahnya terhenti dan tubuhnya terjungkal saat pedang itu melesat cepat lalu menusuk tubuhnya hingga tembus dan keluar dari punggungnya.


Para perampok lain menjadi ngeri saat melihat jasad rekannya tiba-tiba membeku lalu jatuh ke tanah dengan kepala dan beberapa bagian tubuh yang terpisah.


Kini lebih dari tujuh puluh orang, berkerumun dengan terduduk lemas. Dua buah pedang sedang mengintai mereka dan siap untuk mencabut nyawa mereka kapan saja.


“Siapa Ketua kelompok Kalian dan dimana markas kalian berada?!” Zhu San yang menyadari jika Ketua kelompok perampok itu tidak ada bersama mereka, bertanya dengan suara keras.


Para perampok itu diam, tak satupun yang mau menjawab pertanyaan Zhu San. Hal itu membuat Zhu San tersenyum sebelum berkata kepada mereka.


“Karena Kalian tidak ada yang mau menjawab, maka jangan salahkan aku jika kalian semua akan mati.” Zhu San segera menggerakan Pedang Yang dengan mengibaskan tangannya.


Lima orang mati seketika dengan tubuh yang tertembus pedang. Anggota Perampok Kelelawar Merah yang lain segera berebut untuk menjawab pertanyaan Zhu San.


“San Gege … Apakah kita akan memasuki hutan ini?” Tanya Bian Chi sambil memukul pantat kuda agar kembali ke kota Ningguo.


“Aku yakin markas mereka berada dalam Hutan Kelelawar ini. Tapi ada tirai energi tak kasat mata yang menyelimuti hutan ini. Ada apa sebenarnya di hutan ini?” Tanya Zhu San entah kepada siapa.


“San Gege … Sebaiknya kita masuk hutan ini lain kali saja, aku takut masuk ke Hutan Kelelawar ini?” Bian Chi yang takut pada ular berkata dengan suara sedikit bergetar.


“Tidak Chi’er … Kita harus membasmi para perampok itu hingga tuntas. Biar mereka tidak meresahkan penduduk lagi.” Kata Zhu San. Bian Chi akhirnya menyetujui rencana suaminya itu.


Setelah membuat puluhan mayat itu terlempar ke dalam hutan, Zhu San dan Bian Chi lalu memasuki hutan tersebut. Tubuh keduanya seperti tersengat listrik saat melewati dinding energi gaib yang tak kasat mata.


Keduanya segera melayang di antara pepohonan yang sangat besar dan tinggi itu. setelah dua ratus meter, keduanya menemukan sesuatu yang membuat mata mereka melotot.


Di depan mereka terlihat puluhan kelelawar besar yang memiliki mata merah dengan tinggi tubuh setinggi manusia. Bulu mereka berwarna kemerahan dan bentangan sayapnya mencapai dua meter lebih.

__ADS_1


“Siluman Kelelawar?! Pantas saja hutan ini dinamai Hutan Kelelawar.” Zhu San berkata sambil mengerahkan energi murni inti api ke seluruh bagian tubuhnya.


Crriiciiikkkk crriiicikkkk


Tiba-tiba seekor kelelawar mengeluarkan suara seperti berderik. Suara itu membuat puluhan Siluman Kelelawar yang lain segera bergerak dan terbang hendak menyerang Zhu San dan Bian Chi.


Bian Chi yang merasa geli melihat kelelawar sebesar manusia itu, segera mengeluarkan Pedang Yin dari Cincin Jiwanya. Hal tak terduga pun terjadi sesaat kemudian.


Puluhan Siluman itu, segera mengerem laju terbang mereka ketika melihat Pedang di tangan Bian Chi yang mengeluarkan hawa sangat dingin.


“San Gege sepertinya siluman-siluman itu takut dengan Pedang Yin ini.” Kata Bian Chi setelah puluhan Siluman kelelawar itu menghilang memasuki hutan lebih dalam.


“Sepertinya begitu, Ayo kita kejar mereka!” Tanpa menunggu persetujuan Bian Chi, Zhu San segera melayang mengejar para siluman itu. Bian Chi segera mengikutinya dengan sedikit rasa jengkel.


Tiga ratus meter kemudian, keduanya menemukan markas para perampok Kelelawar Merah, sementara para siluman kelelawar itu terus terbang lebih jauh lagi ke dalam hutan.


“Jadi disini markas kalian rupanya.” Zhu San berkata sambil menatap tajam ke arah ratusan orang anggota Perampok Kelelawar Merah yang memandang mereka dengan geram.


Baru kali ini mereka menemukan dua orang yang berani masuk ke dalam markas mereka dan membuat siluman kelelawar merah lari ketakutan hingga ke bagian terdalam hutan itu.


Zhu San dan Bian Chi menjejakkan kaki di tanah dan berjalan santai mendatangi markas para perampok. Terbersit sebuah pertanyaan di dalam benak Zhu San.


“Bagaimana mereka bisa hidup berdampingan dengan Siluman Kelelawar? Apakah mereka memiliki sebuah pusaka atau teknik khusus?”


Saat Zhu San sedang berpikir demikian, tiba-tiba dari dalam markas Kelompok Perampok itu, melesat sebuah bayangan dengan kecepatan yang sangat tinggi ke arah Zhu San.


DUAGH


Tinju dan tapak bertemu di udara, bayangan itu terpental cukup jauh, namun kembali bergerak dengan sangat cepat untuk kembali menyerang Zhu San yang masih di tempatnya semula.


******

__ADS_1


__ADS_2