
Merasa khawatir dan sudah lama tidak bertemu dengan Pamannya Tan Kuan, Zhu San akhirnya memutuskan untuk menuju ke kota Hangyao yang dipimpin oleh Kakak seperguruan Ayahnya itu.
Ia membatalkan rencananya ke kota Baixan dan hanya mengirim dua surat. Satu untuk Paman Mu Bai dan satu lagi untuk Sang Guru Fu Kuan. Isi kedua surat berisi hal yang sama, yaitu situasi dan informasi tentang Pembunuhan Bangsawan Mu Dao.
Zhu San dan Bian Chi melayang ke arah selatan dengan kecepatan tinggi. Walau belum pernah mengunjungi kota Hangyao, namun Zhu San telah menghafal keberadaan kota itu setelah melihat peta dari Jenderal Qu Lung.
“San Gege … Apakah yang di depan itu adalah Kota Hangyao?” Tanya Bian Chi saat matahari baru saja muncul di ufuk timur.
“Sepertinya itu memang Kota Hangyao. Kita langsung ke dalam kota saja.” Ajak Zhu San. Keduanya pun melayang mendekati kota dan melintasi gerbang utara.
Para penjaga gerbang yang melihat keduanya melintasi mereka, sempat tertegun beberapa detik. Sebelum akhirnya seseorang tersadar dan berteriak keras sambil menuju ke tempat lonceng tanda bahaya berada.
“Penyusup! Ada penyusup lewat udara!”
Prajurit itu segera membunyikan Lonceng setelah selesai berteriak demikian. Suara Lonceng pun segera menggema ke seantero kota, disusul suara lonceng dari ketiga gerbang lainnya.
Zhu San dan Bian Chi berhenti dari melayang mereka saat mendengar teriakan para penjaga tersebut yang saling bersahutan. Hingga akhirnya, sesosok pria datang melayang menghampiri mereka.
“Ah rupanya Kau San’er! Aku pikir ada penyusup lagi.” Tan Kuan pun menepuk bahu Zhu San yang lalu memberi hormat bersama Bian Chi, kepada sang Paman .
“Maafkan aku Paman, karena terburu-buru aku membuat seisi kota menjadi heboh.” Zhu San berkata sambil tersenyum kecut. Teriakan di bawah sana telah mereda, karena melihat Tan Kuan sedang berbincang akrab dengan keduanya.
“Tenanglah mereka bukan Penyusup, Ia adalah Zhu San dan isterinya Bian Chi!” Tan Kuan berteriak menggunakan tenaga dalamnya, membuat suaranya terdengar hingga ke seluruh bagian kota Hangyao.
Suara riuh kembali terdengar namun berbeda dari sebelumnya. Suara itu kini mengelu-elukan nama Zhu San dan Bian Chi yang berperan besar dalam perang di Kota Baixan.
Ketiganya segera melayang turun ke arah Kediaman Tan Kuan dimana Yu Mei yang baru saja keluar dari bangunan besar itu, tersenyum gembira menyambut Zhu San Bian Chi.
__ADS_1
“Chi’er bagaimana kabarmu nak!?” Yu Mei memeluk Bian Chi dengan erat, demikian pula dengan Bian Chi.
“Ada berita apakah sehingga kau terburu-buru menemuiku San’er?” Tanya Tan Kuan setelah keduanya duduk di ruang pribadinya. Bian Chi sedang membantu Yu Mei yang menyiapkan sarapan untuk mereka.
Zhu San lalu menjelaskan informasi yang Ia dapatkan setelah menginterogasi pembunuh bayaran yang Ia tangkap semalam. Tan Kuan tidak terkejut mendengar hal itu.
“Jadi mereka berdua dibalik penyerangan terhadap ku beberapa hari kemarin.”
Tan Kuan lalu menjelaskan jika dirinya diserang oleh beberapa pembunuh bayaran, namun mereka menutup mulut dan bunuh diri dengan menelan racun daripada harus mengatakan siapa yang menyuruh mereka.
“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” Tanya Tan Kuan.
“Aku ingin mencari mereka berdua ke Kota Hungdao dan menghabisinya, agar tidak menjadi duri dalam daging kedepannya nanti.” Jawab Zhu San sambil menyeruput teh di depannya.
Tan Kuan pun menyetujui hal tersebut dan meminta Zhu San untuk berhati-hati saat berada di Kekaisaran Hun nanti, mengingat ara pendekar di sana memiliki kemampuan yang tak kalah hebat dari kekaisaran Jian maupun Qing.
Zhu San berjanji akan kembali mengunjungi mereka setelah urusannya selesai di Kekaisaran Hun dan Kekaisaran Jian.
Keduanya melayang ke arah barat. Walau ini adalah kali pertama bagi keduanya memasuki Kekaisaran Hun, namun keduanya terlihat tenang walau mereka kebingungan ke arah mana dan sejauh apa Kota Hungdao itu.
Setelah melayang beberapa jam dengan kecepatan tinggi, mereka pun menemukan sebuah kota kecil. Keduanya memutuskan untuk mencari kedai serta bertanya tentang kota Hungdao.
Setelah turun dari tempat yang cukup jauh dari kota itu, Zhu San dan Bian Chi tiba di gerbang kota setelah berjalan kaki lebih dari sepuluh menit.
Melihat dari seragam para prajurit yang tak ia kenali, Zhu San menyimpulkan bahwa mereka telah berada di wilayah kekaisaran Hun.
Setelah menunjukan identitasnya sebagai seorang bangsawan, Zhu San mendapat izin memasuki kota kecil itu.
__ADS_1
“San Gege … kedai itu terlihat ramai, pasti masakannya lezat, sebaiknya kita kesana saja.” Bian Chi mengajak Zhu San menuju ke kedai yang dipenuhi oleh para pelanggan itu.
Terlihat beberapa pasang mata memandang Bian Chi dengan pandangan yang menggoda. Namun Zhu San dan Bian Chi mengabaikan hal tersebut.
Setelah memesan minuman, Zhu San dan Bian Chi duduk di salah datu meja yang masih kosong. Di dekat mereka tiga orang pendekar memperhatikan keduanya, terutama Bian Chi.
“Sudahlah jangan mencari keributan, tugas utama kita belum selesai. Sebaiknya kita bergegas ke kota Hangyao dan menyelesaikan tugas kita.” Salah seorang menahan bahu rekannya yang hendak berdiri mendatangi Bian Chi.
Walau mendengus kesal, pria itu menuruti ucapan pria yang merupakan Kakak tertua dalam kelompok mereka yang bernama Tiga Harimau Merah.
Zhu San yang mendengar disebutkan nama kota Hangyao, menjadi curiga kepada ketiga pria tersebut. Ia berbicara dengan Bian Chi melalui telepati agar diam mendengar pembicaraan ketiganya.
Merasa curiga terhadap ketiga orang itu, Zhu San dan Bian memutuskan mengikuti keduanya yang akan berangkat ke Kota Hangyao walau hari telah sore.
Ketiganya menunggangi kuda dan memacu kudanya dengan cepat ke arah dari mana Zhu San tadi datang. Tanpa mereka bertiga ketahui Zhu San mengikuti ketiganya dari udara bersama Bian Chi.
“San Gege … Mereka sudah cukup jauh dari kota. Kita hadang saja mereka di simpang jalan di depan sana.” Bian Chi berkata setelah melihat ke belakang. Ke arah kota yang kini sudah satu kilometer di belakang mereka.
“Baiklah … “ Zhu San melesat cepat mendahului mereka, disusul oleh Bian Chi. Keduanya segera turun di persimpangan jalan dan berdiri tegak menghadang ketiga orang berkuda yang tiba beberapa saat kemudian.
“Berhenti!” Suara Zhu San yang mengandung tenaga dalam, membuat kuda ketiga pria berhenti setelah tali kekang mereka di tarik tiba-tiba.
Ketiga orang itu terkejut dan marah kepada Zhu San yang berdiri menghalangi jalan mereka.
“Apa maksudmu menghadang kami bocah!?” Sosok yang kedai tadi hendak mendatangi Bian Chi, berteriak keras dan melesat turun dari kudanya dengan wajah yang marah.
-----------------O-------------------
__ADS_1