Legenda Zhu San

Legenda Zhu San
134: Setelah Pertempuran Usai


__ADS_3

Dua Jam kemudian, pertempuran itu pun akhirnya berhenti. Suasana Kota Songdu kini telah berubah.


Langit yang mendung, menyembunyikan matahari, membuat suasana kota Songdu semakin suram


Dari riuhnya suara pertarungan, kini dipenuhi oleh jerit tangis dan bau anyir darah. Ribuan Mayat terlihat bergelimpangan, memenuhi jalanan kota Songdu.


Mayat-mayat itu adalah mayat para prajurit, penduduk kota Songdu dan yang terbanyak adalah mayat pendekar aliansi yang terbunuh.


Zhu San dan Bian Chi tampak termenung, keduanya tengah duduk berdampingan di atap sebuah bangunan yang letaknya cukup jauh dari kediaman Bangsawan Song Yu.


Mereka berdua tengah menatap para penduduk yang menangisi sanak keluarga yang terbunuh dalam penyerangan itu.


Dari tiga ribu pendekar yang menyerang kota Songdu, kurang dari lima ratus orang yang berhasil pergi menyelamatkan diri mereka dari kematian.


Zhu San dan Bian Chi, keduanya adalah orang yang terbanyak membunuhi lawan. Entah berapa ribu orang yang telah tewas oleh kedua pedang pusaka mereka, yang saat ini masih berlumuran darah.


Sementara Jubah dan wajah Zhu San, telah terlihat merah oleh darah yang mengering akibat hawa panas yang masih merembes keluar dari tubuhnya.


“Walau menang dan berhasil mempertahankan kota, namun kematian yang begitu banyak ini, sungguh sangat memedihkan hati.” Zhu San berkata dengan pelan.


Terlihat penyesalan di wajahnya yang dipenuhi oleh bercak darah. Darah yang bukan darahnya sendiri, darah mereka yang tewas terbunuh olehnya.


“Benar, seandainya saja Aku lebih kuat dan tenaga dalamku lebih besar lagi, mungkin aku bisa lebih banyak menyelamatkan mereka.” Suara Bian Chi terdengar serak, rasa sedih terlihat jelas dari suaranya itu.


Ia merasa tenaga dalam yang Ia miliki saat ini, masih sangat kecil. Sehingga tidak bisa berbuat banyak, terutama saat menghadapi musuh sebanyak tadi.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Zhu San. Namun pemuda itu tidak mengatakannya. Keduanya saat ini sedang kelelahan, tenaga dalam yang mereka berdua miliki, kurang dari sepuluh persen lagi.

__ADS_1


“Chi’er … Sudahlah jangan terlalu kau pikirkan, sebaiknya kita segera kembali ke Ked…”


Belum sempat Zhu San menyelesaikan kata-katanya, Tubuh Bian Chi telah terkulai dan hampir saja jatuh membentur genteng, jika saja Zhu San tidak segera meraihnya.


Pertarungan lebih dari dua jam tadi, benar-benar menguras tenaga dan emosi gadis itu. Ini kali pertama bagi Bian Chi, bertarung habis- habisan dalam waktu yang cukup lama.


Zhu San merebahkan kepala Bian Chi di pangkuannya. Ia berencana pulang ke kediaman Paman Song Ruo setelah Bien Chi terbangun dari pingsannya.


Hati Zhu San pun berdebar keras, saat Ia memandang wajah cantik Bian Chi yang berada di pangkuannya. Belum pernah keduanya berada pada jarak sedekat ini.


Dengan lembut, Zhu San menyeka darah yang terdapat di banyak bagian, di wajah yang berkulit seputih giok dan sehalus sutera itu.


Rasa sayang yang telah tumbuh dalam hatinya pada Bian Chi, kini bertambah dalam. Debaran di hati Zhu San semakin menjadi-jadi, saat dirinya teringat bahwa gadis itu akan menjadi isterinya.


Rasa sedih dan haru membuat dada Zhu San menjadi sesak. Hal itu karena Ia teringat akan perkataan Roh Yao Shan.


Setahun setelah membunuh Dewi Kematian, mereka berdua telah ditakdirkan untuk terpisah oleh kematian.


Sambil menunggu Bian Chi tersadar, Zhu San segera mengeluarkan Pedang Yinyang. Ia pun meletakan tangannya di Kristal Yinyang untuk menyerap energi yang tak terbatas jumlahnya yang terkandung dalam kristal itu.


Tanpa Zhu San sadari, dua pasang mata sedang melihat ke arahnya dengan masing-masing hati yang merasakan pilu. Mereka adalah Ju Yan dan Qin Yu.


Keduanya ditugaskan oleh Song Ruo untuk mencari keberadaan Bian Chi dan Zhu San. Dengan rasa khawatir, Qin Yu dan Ju Yan bergegas menelusuri jalanan kota Songdu.


Saat keduanya menemukan Zhu San sedang berada di atas atap, dengan Bin Chi yang terlihat sedang tidur di pangkuan Zhu San, rasa Khawatir Qin Yu, berubah menjadi kemarahan dan kekecewaan.


Air matanya mengalir, seiring rasa pilu dalam hatinya. Sementara Ju Yan yang mendengar isakan Qin Yu, hatinya pun menjadi pilu.

__ADS_1


Rasa suka yang timbul sejak pertama kali melihat Qin Yu di Kota Baixan dan kebersamaan mereka selama tiga hari dalam perjalanan, telah menumbuhkan rasa suka Ju Yan kepada Qin Yu semakin mendalam.


Apalagi saat Ia terluka semalam, Qin Yu telah merawatnya dengan tulus dan sabar. Rasa sukanya bertambah dalam, seiring rasa sayang yang telah hadir di hatinya pada gadis yang saat ini sedang menangis di depannya itu.


Tak tahan melihat mereka berdua, Qin Yu pun lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan bermaksud untuk kembali ke kediaman Ayahnya.


Ju Yan segera mengikuti Qin Yu yang sedang berjalan cepat. Karena suasana hatinya sedang kacau, Qin Yu salah mengambil arah pulang. Hal itu baru Ia sadari saat Ia tiba di depan gerbang selatan.


Sebuah ide terbersit dalam benaknya, ketika melihat gerbang keluar dari kota Songdu. Gadis yang akan berusia enam belas tahun itu, segera memutuskan untuk meninggalkan kota Songdu dan mengembara untuk menjauhi mereka berdua.


Ju Yan pun terkejut saat melihat Qin Yu tengah meminta para prajurit penjaga, untuk membuka gerbang selatan Kota Songdu itu. Firasat buruk membuat Ju Yan segera mencengkram tangan Qin Yu.


“Yu’er … Mengapa kau akan meninggalkan kota ini?” Ju Yan segera bertanya walau Ia sudah menduga mengapa Qin Yu bersikap demikian.


“Yan Gege … Tolong kembalilah ke rumah dan sampaikan pada Ayahku, bahwa Aku akan pergi berpetualang dan tak tahu kapan aku akan kembali pulang.” Qin Yu berkata tanpa melihat ke arah Ju Yan.


“Tidak! … Aku akan mengikuti kemana pun kau pergi. Urungkanlah niatmu itu, situasi dunia persilatan kekaisaran Liu saat ini sedang kacau. Terlalu berbahaya bagimu untuk berpetualang di saat-saat seperti ini.”


Ju Yan menolak permintaan Qin Yu. Gadis itu awalnya akan marah, saat mendengar Ju Yan berkata tidak dengan tegasnya.


Amarahnya pun sirna, setelah Ia mendengar perkataan Ju Yan berikutnya yang akan mengikuti dirinya karena khawatir akan keselamatannya.


Qin Yu pun berbalik dan menatap wajah tampan Ju Yan yang terlihat sangat khawatir dengan apa yang Ia katakan tadi.


“Yan Gege … Terimakasih telah bersedia akan ikut diriku kemana pun Aku pergi. Tapi saat ini Aku sedang ingin sendiri. Ku mohon kembalilah ke rumah Ayahku dan sampaikan pesan ku tadi. Aku akan sangat senang dan berterimakasih jika Yan Gege melakukannya.”


Qin Yu segera membalikkan badannya, lalu melesat menuju gerbang selatan Kota Songdu yang telah terbuka.

__ADS_1


Ju Yan terpaku di tempatnya berdiri, Ia tak tahu harus kembali atau mengejar mengikuti Qin Yu yang telah berada di luar pagar Kota Songdu.


*****


__ADS_2