
Perbincangan Sultan bersama dengan Teh Mawar itu, yang di mana tentunya itu belum usai, dan terlebih di sana Sultan ingin menagih janjinya yang kemarin dia bicarakan dengan Sultan.
Dan janji itu adalah ucapan yang Sultan ingin dengar sebelumnya, dikarenakan kakaknya itu selalu jujur dan tak pernah membohongi Sultan bila soal urusan hati yang telah dikecewakan.
Bagaimana bisa kakaknya itu membohongi ataupun membodohi Sultan, dan ya, karena kakaknya itu bisa dibilang tak pandai bila soal urusan membohongi, dikarenakan pipinya itu akan selalu nampak memerah bilamana dia tengah berbohong dengan kata-katanya itu di sana.
"Kok, malah diem Teh! adikmu di sini mau nagih janji yang kemarin nih, jangan bilang kalau teteh lupa lagi dengan janji itu kemarin," ucap Sultan.
"Hmm, kenapa susah banget ya, mau nyari notif yang lain agar supaya kamu bisa melupakan hal itu, dan terlebih hal itu udah engga penting lagi bagi teteh," ucap kakaknya itu, yang di mana pipinya mulai memerah perlahan demi perlahan.
"Pipimu merah tuh, jangan bilang kalau elu lagi ngebohongin adikmu ini Teh!" ucap Sultan sembari menyentuh pipi kakaknya itu dengan menggunakan jari telunjuknya itu di sana.
Dengan seketika cepatnya kakaknya itu menutupi pipinya dengan menggunakan kedua tangannya, dan hal tersebut dia lakukan bukan karena dia merasa malu, melainkan dia sungguh tak bisa mempercayai bahwa kekurangannya itu masih tertanam dalam dirinya.
Lantas kakaknya itu mulai merasa terpanah, bahwa Sultan masih bisa mengingat, dan masih bisa melihat kekurangan kakaknya itu dengan sangat jeli.
Umur mereka hanya berbeda 2 Tahun saja, dan tentunya bilamana Sultan belum memiliki Rere, kakak angkatnya itu pun bisa dibuat jatuh cinta olehya, namun sebuah ikatan batin yang memang sekarang Sultan harus terimai itu adalah mencintai Rere sepenuhnya.
Sultan pun di sana lalu menggandeng tangan kakaknya itu, dikarenakan bundanya telah memanggil nama mereka berdua, dan tentunya mereka semua akan pergi ke suatu tempat yang memang tempat itu akan memanjakan mata mereka dengan seketika.
Curug Ciberem lah tempat yang akan mereka singgahi sekarang karena itu adalah permintaan bundanya di sana, dan perjalanan yang akan mereka tempuh bukanlah waktu yang sebentar, dan kemungkinan mereka akan tiba di sana dengan waktu tempuh kurang lebih 90 menit.
__ADS_1
Dan itu bukanlah waktu yang pasti, dikarenakan hal itu tergantung seberapa cepatnya kaki kita bisa melangkah, dan bilamana kita ingin tiba di sana lebih awal, maka kaki kita harus siap untuk terus dilangkahkan tanpa henti.
Namun, tentunya Sultan takan pernah berasumsi dan membesarkan egonya sendiri, dan sikap itu dia berikan untuk bundanya, yang bisa dibilang umur bundanya itu sudah tidak muda lagi, namun fisik serta kekuatannya masih sama dengan anak muda lainnya.
Langkah kaki mulai di langkahkan perlahan, dan mereka semua memilih jalan yang bisa dibilang cukup agak jauh, dan tentu saja mereka semua bisa memilih jalan pintas, namun demi untuk kebaikannya masing-masing, mereka memang harus memilih jalan yang sudah ditentukan oleh pihak pariwisata di sana.
Sebelum mereka masuk ke pendakian Curug Ciberem, dan tentunya mereka pun akan melihat sebuah bangunan, yang di mana itu adalah pos untuk membeli tiket masuk ke Curug Ciberem.
Semua petugas yang berada di pos itu, tentunya mereka mengenali semua rombongan yang Sultan bawa, dan lantas petugas itu pun membiarkan mereka masuk tanpa harus membayar tiket masuk terlebih dahulu, namun itu bukanlah sikap yang profesional, yang di mana mereka tetap akan membayar tiket masuk seharga 18 ribu rupiah, walaupun mereka melarangnya, dan itu semua juga demi untuk kebaikan mereka bersama.
....
Mendaki gunung bukan hanya sekedar hobby, melainkan semua itu tertuju kepada keyakinan kita sendiri, dan kita sebagai makhluk bumi jangan pernah menganggap semua hal yang ada di dalam sana itu aman, dikarenakan mendaki bukan hanya sekedar untuk melampiaskan rasa kekesalan saja, namun kita juga harus banyak mengetahui seberapa sulit medan yang akan kita hadapi nanti.
Di sana Sultan hanya meratapi kakaknya yang sedang bercerita panjang lebar kepadanya saja, dan ya, suasana di sana sungguh tak asing baginya, dikarenakan semua alam itu masih tetap sama dan tidak ada yang berubah sama sekali.
"Sebenarnya teteh masih sayang sama dia Tan, tapi bilamana teteh menerimanya! yang teteh takutkan dia akan kembali menduakan teteh," ucap kakanya itu yang langsung membuat Sultan terkejut.
"Tinggalin dia dan cari yang lain! jangan banyak tanya kenapa! dan yang pastinya adikmu ini bilang seperti ini untuk kebaikan kakaknya sendiri."
Ucapan Sultan itu, dengan seketika membuat kakaknya kehilangan arah pandangannya, yang di mana kala itu ucapannya itu menghantui pikirannya.
__ADS_1
"Kurang dari satu jam, teteh pasti bakalan bisa melupakan raut wajah si pria bodoh itu! dan teteh harus janji kepada Sultan kalau teteh jangan pernah melontarkan kata kok, bisa! dikarenakan kata itu sungguh sangat membosankan bilamana gue mendengarkannya Teh," ucap Sultan yang langsung merangkul bahu kakaknya itu di sana.
"Hmm," gumam Teh Mawar, yang di mana dia pun langsung memegang tangan Sultan yang tengah merangkul bahunya itu.
Beberapa menit waktu telah berjalan, dan kemudian dengan seketika kakaknya itu terjatuh karena kelelahan, dan Sultan di sana menunjukan sikap laki-lakinya itu kepada kakaknya.
"Masa kalah sama bunda sih! kita udah tertinggal jauh di belakang nih, dan lagian sebentar lagi kita akan sampai di tempat tujuan," ucap Sultan sembari memberikan minum kepada kakaknya itu dengan perlahan.
"Kamu duluan aja, biar teteh nunggu di sini," ucap kakaknya, yang di mana tentunya Sultan takan pernah membiarkan hal itu terjadi.
Lantas Sultan pun lalu membungkukkan punggungnya itu di sana, dan setelah itu Sultan pun menggendong kakaknya hingga ke tempat tujuan.
"Mana mungkin gue bisa ninggalin cewe cantik penakut ini sendirian di sini! dan terlebih di daerah sini rawan bahaya, semua hal bisa terjadi kalau kita lengah, yaudah Teh, sekarang teteh naik ke punggung Sultan," ucap Sultan sembari membungkukkan seluruh badannya itu agar supaya kakaknya itu bisa naik kepunggungnya.
"Yang bener Tan? emang kamu kuat?" ucap kakaknya itu yang langsung menaiki punggung Sultan.
"Tas carrier yang beratnya minta ampun juga gue bawa Teh, dan teteh tenang aja di belakang ya, jangan banyak gerak kalau engga mau jatuh," ucap Sultan yang lansung melangkahkan kakinya itu perlahan sembari mengendong kakaknya di belakang.
Dengan damainya dia menidurkan kepalanya itu di atas bahu Sultan, dan di sana dia pun menuruti apa kata yang Sultan berikan kepadanya sebelumnya, dan tentunya hal itu membuat Teh Mawar merasa sangat nyaman, hingga mana perkataan Sultan itu sungguh benar terjadi, yang di mana kurang dari satu jam, kakanya itu bisa melupakan semua kenangan manisnya itu saat bersama dengan mantan kekasihnya dulu.
Kemanisan sikap seorang Sultan itu, bisa membuat semua orang takluk kepadanya, dan terlebih sosok itu adalah wanita, yang di mana kenapa Sultan bisa memiliki wanita secantik Rere itu dengan mudah, dikarenakan dia merupakan wanita yang bisa menerimai segala kekurangan yang prianya itu miliki, dan alhasil dengan hanya memberikan kenyamanan semata, Sultan sudah bisa membuat Rere jatuh cinta.
__ADS_1