Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 142 : Sikap lucu Sultan


__ADS_3

Waktu itu disaat Sultan akan mengambil alih pimpinan apel pagi, penanggung jawab Perusahaan sempat menanyakan nama Sultan terlebih dahulu sebelum ia mengomandoi barisan para siswa yang berada di depan pandangannya sekarang ini.


Dan sebelumnya beliau pun sempat memperkenalkan dirinya kepada Sultan dan kepada seluruh rekan temannya juga.


Berhubung mereka semua adalah anak baru di sana, maka dari itu beliau pun merasa bahwa dia memang harus memperkenalkan dirinya kepada mereka semua, terkecuali tidak kepada siswa yang sudah lama melaksanakan prakerinnya di Perusahaan tersebut.


"Tunggu! siapa nama kamu?" tanya beliau singkat, dengan pandangan yang membuatnya merasa tak asing pada saat Sultan menatapnya.


"Izin menjawab Pak, nama saya Sultan Baehakki, bila nama saya terlalu sulit untuk diucapkan panjang-panjang, bapak bisa memanggil saya dengan panggilan Tan, ataupun Sultan," ucapnya tersenyum sembari menganggukan kepalanya sedikit agak rendah, dikarenakan kurang lebih ia hanya ingin membalas senyuman yang beliau berikan kepadanya juga.


"Nama saya Rizki, panggil saja Bang Iki," ucap beliau dengan nada rendahnya.


Setelah itu, Sultan pun lalu mengomandoi barisan dengan nada suara yang agak sedikit lantang, namun itu juga tidak terlalu bising dan nyaring.


Pada saat ia akan mengucapkan kata siap, Bang Rizki sempat memberhentikannya dan menyuruh Sultan untuk berdiri tepat di samping wanita itu, sekiranya ada satu lentangan tangan.


"Jangan jauh-jauh Tan," ucapnya yang memang dia sengaja ingin mengolok-ngolok Sultan di awal kedekatannya itu.


Sultan mengangguk, dan ia pun tak sengaja menatap raut wajah wanita itu yang sama tersenyum juga dengannya, dikarenakan mereka mendengar suara sorakan dari semua siswa yang tengah berbaris dengan tertibnya di sekiratan area lapangan Perusahaan.


Ia mendekatinya sekitar satu langkah ke sebelah kiri, namun beliau masih saja menyuruh Sultan untuk berdiri lebih dekat lagi dengan wanita itu.


"Masa cuma satu langkah aja Tan! deketan lagi lah, masih jauh itu," ucapnya yang terlihat dia masih belum puas mengolok-ngolok Sultan di sana.

__ADS_1


"Segini udah cukup belum Pak?" tanya Sultan yang sengaja menabrakan lengannya sampai mana Sultan membuat tubuh wanita itu terhempas.


Bang Rizki tertawa, dan bahkan semua siswa yang melihatnya pun tertawa juga, tapi tidak dengan wanita yang sengaja dia tabrak barusan.


Wanita itu hanya tersenyum sambil sesekali menatap raut wajah Sultan, dan bahkan dia sempat berpikir mungkin Sultan adalah sosok pria yang pastinya memiliki cukup banyak teman, dan terlebih dengan tingkah prilakunya yang bisa dibilang asik itu, cukup memungkinkan bahwa dia dapat dengan mudahnya mengambil hati para atasan di sana.


"Bukan itu yang saya maksud Tan, lagian itu tuh terlalu dekat, dan bahkan nih ya, kamu itu terlalu nempel dengannya," ucap Bang Rizki menatap Sultan sembari tersenyum-senyum sendiri.


Ada seseorang wanita yang berbicara kepada beliau, dan dia adalah teman dari wanita yang tengah berdiri di samping Sultan sekarang.


"Hmm, hmm, seharusnya abang perhatiin mereka berdua deh, entah kenapa saya beranggapan bahwa wajah mereka terlihat sama persis," sahut wanita yang baris dibarisan paling depan dan berhadapan langsung dengan Sultan.


"Masaa ... perasaan saya engga punya adik seimut ini dah, lagian saya ini anak bungsu loh, tapi kalau dipikir-pikir iya juga sih, wajah kita berdua terlihat mirip, siapa namanya? jangan-jangan sama lagi," ucapnya sambil membercandai wanita di sampingnya itu.


"Ya, engga lah ... nama saya Aisyah, bukan Sultan," ucapnya dengan senang hati mau menjabat juluran tangan Sultan di hadapan semua orang.


"Mau sekalian kenalan di Whatsapp juga engga?" Sultan berbicara dengan rendahnya sembari membercandai wanita itu.


"Kayaknya asik juga tuh, boleh deh," dia berucap sambil tersenyum tipis kepada Sultan.


Sorak tawa semakin terdengar bergemuruh saja, apalagi bilamana Sultan benar-benar lepas ingin menghibur mereka semua di sana, mungkin saja suara bising itu akan terdengar lebih keras lagi, namun di sana ia mencoba untuk tidak bersikap melebihi batas wajarnya, dikarenakan dia juga harus menjaga hati seorang Rere dengan sebaik mungkin.


Bang Rizki menggeleng-gelengkan kepalanya karena Sultan sudah berani bermain-main dengan anak asuhannya itu, tapi sepertinya beliau pun nampak sangat senang sekali bila dirinya melihat anak asuhannya tersenyum lepas seperti itu.

__ADS_1


"Kamu harus tanggung jawab Tan! kamu engga lihat dia tersenyum seperti itu sama kamu dengan lepasnya, perasaan abang belum pernah melihat dia sebahagia itu sebelumnya," ucap Bang Rizki meminta pertanggung jawaban kepada Sultan, namun itu hanya sebatas candaan saja.


"Alhamdulillah, dapet satu pahala lagi kan, lumayan buat ngurangin dosa saya yang sudah numpuk ini bang," ia berucap kata sembari tertawa tipis kepadanya, dan yang jelas dia baru saja mendapatkan teman baru di sana, walaupun pada dasarnya pertemuan ini hanya bersifat sementara saja.


Sultan mulai mengomandoi barisan para siswa tersebut, dikarenakan bila dia menunda lagi waktunya, maka sampai kapan pun itu tidak akan terselesaikan.


Sementara itu, Aisyah lah yang akan mengabsen semua data kehadiran siswa dari berbagai sekolah Kejuruan tersebut.


Tapi, entah kenapa Aisyah nampak seperti orang yang sedang kebingungan, lantas Sultan pun lalu menanyakan hal apa yang sudah membuat dirinya kebingungan seperti itu.


"Ada apa? Bang Iki manggil nama kamu, katanya suruh absen dulu aja, nanti dia bakalan balik lagi ke sini," Sultan menatap raut wajah Aisyah sembari melihat ke arah lembaran absensi yang tengah dia pegang.


Dia sama sekali belum mencatat dan memanggil nama semua siswa yang ada di sana, apa mungkin dia memang sengaja ingin menunggu Bang Rizki hadir di sana, dikarenakan mungkin ada suatu masalah dalam absensi tersebut itu.


"Ahh, emm, gini Tan, ehh maksudnya Bang. Saya lupa membawa alat tulis buat mengisi data absensi ini," ucapnya agak sedikit gugup dan terkejut.


"Kenapa engga bilang dari awal dah, nih ... simpan pulpen saya, saya punya dua ini, siapa tahu pulpen kakak hilang diambil orang," Sultan tersenyum dan sedikit tertawa tipis melihat kegugupannya serta sikapnya, yang di mana dia sempat menundukan kepalanya dari pandangan Sultan.


Aisyah mengeluarkan beberapa lembaran uang untuk diberikan kepada Sultan sebagai tanda ganti karena dia sudah memberikan pulpennya kepadanya.


Ia nampak kebingungan, kenapa dia memberikan uang bekalnya itu kepada Sultan, apa mungkin dia menganggap Sultan adalah penjual pulpen.


"Apa ini Kak?" Sultan mengambil uang itu, yang di mana ia mengiranya bahwa Aisyah hanya menyuruh Sultan untuk memegangkan uangnya itu saja.

__ADS_1


"Buat bayar pulpennya Bang," Aisyah tertawa tipis kepada Sultan karena pada akhirnya Sultan bisa menerima uang ganti ruginya itu.


"Emangnya saya abang-abang penjual pulpen! engga usah dibayar, saya ikhlas memberikannya," Sultan pun tertawa tipis sembari memberikan kembali uang tersebut kepada Aisyah.


__ADS_2