Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 377 : Memandangmu meski lelah


__ADS_3

Sultan memandang lama Rere di sana, ia merasa bahwa kali ini dia akan membuat Rere semakin jauh mencintainya. Bayangan itu sungguh sangat mengganggu! dan hingga pada akhirnya mata itu sulit untuk berkedip karena adanya dia disisinya sekarang.


"Tetaplah seperti ini kekasih, teruslah tersenyum dan tertawa di hadapanku, ini melebihi dari cukup aku memandangmu. Jatuhkan lah aku! maka aku akan tertidur lelap di dalam mimpimu malam nanti," ucap Sultan yang kali ini ia berbicara terus terang kepadanya.


Namun, karena sikap Rere yang begitu rese! dan sehingga kali ini ia mencubit Sultan kembali, dengan di iringinya raut wajah Rere yang nampak memerah di waktu itu.


Sultan tak memasalahkan cubitan Rere itu, namun sekarang ia sudah mengetahuinya, bahwa masalah yang sebenarnya itu ada pada Rere, mengapa? ya, karena Rere lah yang sudah menjebak Sultan masuk ke dalam perasaan rindu, sayang, dan cinta, serta rasa takut akan kehilangannya suatu saat nanti.


"Kalau mau bersikap manis kayak gini? tolong jangan sekarang Tan, karena aku malu dilihat orang senyum-senyum sendiri," ucap Rere sembari mencubit paha Sultan tanpa melepaskannya sebelum dia berhenti bersikap manis kepadanya.


"Kelepasan Re! maaf, gue engga sengaja sumpah."


Lantas di sana, Sultan pun meminjam kaca yang sering Rere bawa di saku bajunya itu. Ia pun lalu menyorotkan kacanya tersebut ke arah wajah Rere. Dan Rere pun sontak melihat pipinya memerah dengan seketika tanpa ia ketahui sebelumnya.


"Lihat tuh pipimu Re, memerah kayak gitu hehe," ucap Sultan yang tak bisa berhenti tertawa dan tersenyum di hadapannya.


"Kok, pipi gue jadi merah kayak gini sih Tan? apa yang udah elu lakuin ke gue tadi hah?" ucap Rere yang tengah malu-malu sendiri ketika melihat pipinya memerah seperti itu.


Rere pun di sana menutupi pipinya dengan menggunakan kedua tangannya itu. Dan di sana Sultan pun sontak menatapnya lagi karena ia merasa bahwa Rere sungguh sangat manis ketika mana ia pandang kembali.


Dan kemudian Rere pun menutupi wajah Sultan dengan tangannya itu disaat Sultan tengah asik menatap wajah Rere yang begitu manis tersebut.


Sultan pun sempat terkejut di sana! kenapa Rere selalu saja mengganggu urusan Sultan! padahal dia hanya ingin menatapnya saja, namun Rere selalu saja menutupi wajahnya dengan menggunakan tangannya yang lembut itu.


"Dih, hampir aja mata gue kecolok bolot!" ucap Sultan sembari menggigit pelan jari manis Rere.


"Ihh, sakit lah bolot! nanti kalau jari gue putus gimana coba! emang elu bakalan ganti balik jari gue hah!".

__ADS_1


"Engga akan putus lah Re, soalnya gue sayang sama elu."


"Kenapa sih gue bisa punya pacar serese elu? dan kenapa gue juga bisa suka sama cowok kayak elu?".


"Mau tahu engga kenapa elu bisa suka sama gue?".


"Apa coba?".


"Ya, karena elu sayang sama gue kan? kalau misalnya elu engga sayang sama gue! elu juga engga bakalan suka sama gue."


"Apa yang kamu bilang tadi emang bener juga sih Tan."


"Tuh kan? sama-sama bolot!" ucap Sultan sembari mencolek hidung Rere pada waktu itu.


Rere pun tertawa kembali di hadapannya, dan kali ini Rere dibuat nyaman olehnya. Gor sekolah itu serasa milik mereka berdua, dan sehingga mereka melupakan semua orang yang ada di dalamnya.


....


Siapa sangka di sana ibu Yeli juga memperhatikan kedua pasangan tersebut. Dan lantas ibu Yeli pun memberikan banyak pertanyaan untuk mereka jawab, namun di sana Sultan dengan Rere sudah mengetahui pertanyaan yang akan mereka jawab di dalam sana.


Semua orang terheran-heran! mengapa mereka berdua bisa begitu lantang menjawab pertanyaan dari ibu Yeli, dan sedangkan siswa lain bersama panitianya pun tak mengetahui semua jawabannya.


Ibu Yeli pun lalu tersenyum kepada mereka, dan dia mengira bahwa mereka berdua tak begitu memperhatikan beliau. Namun, ternyata ia salah! dan lalu ibu Yeli pun memberikan mereka gelar sebagai pembimbing terbaik dikala itu kepada mereka.


Ibu Yeli pun menyuruh mereka berdua maju ke depan panggung Gor sekolah untuk memberinya sebuah pin gelar pembimbing terbaik sebagai hadiah kedekatan mereka.


Suara sorak dan tepuk tangan pun terdengar sangat meriah diberikan kepada mereka berdua. Namun, siapa sangka! di sana kelompok Sultan lah yang paling bersemangat karena mereka merasa bahwa pembimbingnya tersebut benar-benar membuktikan ucapannya itu.

__ADS_1


"Apa ini? ini untuk kalian, maka dari itu kalian harus bisa membuktikan kepada mereka semua yang ada di sini? bahwa kalian bukanlah siswa nakal lagi sekarang," ucap Sultan kala itu kepada kelompoknya.


"Huhh, hidup Kang Sultan, hidup Teh Rere," ucap seluruh kelompok Sultan dengan sangat keras.


Tak lama setelah itu, mereka pun lalu duduk kembali di kursinya. Kedua pasangan itu kini menjadi sorotan setelah mana mereka maju ke depan untuk mengambil pin gelar yang diberikan oleh ibu Yeli tadi.


"Mungkin kita terlalu fokus terhadap ibu Yeli, dan sehingga kita melupakan kalian berdua di sini," ucap Ninda, salah satu teman Sultan dan Rere juga. Dia adalah wanita yang sama pandainya dengan Rere, dia adalah siswa perempuan yang mengikuti organisasi di dalam Paskibra.


"Jangan ganggu Din, dan lagian kita berdua engga ngapa-ngapain kan Re?" ucap Sultan kepada Ninda.


"Iya Tan, benar. Kita di sini sama kayak kalian kok, sama-sama memperhatikan ibu Yeli di depan," ucap Rere yang tak mau banyak berbicara di hadapan Ninda.


"Bohong elu mah bolot! kita dari tadi di sini duduk sambil pacaran juga dih! dan malahan kita engga memperhatikan ibu Yeli tadi di depan sana," ucap Sultan memotong pembicaraan Rere dengan Ninda.


Ninda pun lalu tertawa ketika melihat Rere menarik telinga Sultan hingga membuatnya begitu sangat kesakitan. Di sana Ninda hanya terdiam sambil tertawa tanpa memberikan satu patah kata kepada mereka lagi karena dia tidak mau mengganggu urusan mereka berdua.


Waktu sudah berjalan cukup lama, dan sehingga azan salat zuhur pun berkumandang. Semua siswa dan panitia lalu pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadahnya terlebih dahulu.


Setelah usai melaksanakan ibadahnya itu, mereka pun lalu pergi untuk beristirahat terlebih dahulu. Dan di sana Sultan hanya menemani Rere berjalan-jalan karena ia merasa sangat bosan kalau hanya berdiam diri saja di dalam kelas.


Teman Sultan sempat mengajaknya untuk pergi beristirahat di dalam kosan. Namun, di sana Sultan menolaknya karena pasti Rere akan terus mengikutinya seperti arwah penasaran.


Dan siapa sangka Sultan akan merasa terusik oleh Rere! dan ternyata dia begitu sangat senang bilamana Rere menemaninya di dalam sekolah tercintanya tersebut.


"Tan, kenapa kamu engga main ke kosan?" ucap Rere sembari melirik Sultan.


"Aku lebih suka kayak gini Re, jalan-jalan berdua di sekolah entah mau kemana? asalkan itu bisa membuatmu bahagia," ucap Sultan sembari melirik Rere kembali.

__ADS_1


__ADS_2