
Sesungguhnya malam itu akan menjadi malam yang begitu panjang bagi Sultan dan Rere. Bukan hanya untuk mereka berdua saja, namun akan tetapi bagi semua orang yang berada di sekeliling Sultan saat ini.
Di sana semua rekannya tengah sibuk melaksanakan urusannya sendiri, dan di sisi lain ada beberapa orang yang terlihat sibuk berteleponan dengan pacar-pacarnya. Dan di sisi lain di sana ada yang sedang asik berbincang bersama setelah mereka menyelesaikan tugasnya di malam hari ini.
Tentunya masalah ini takan pernah mudah berlalu begitu saja, masih akan ada banyak lagi problem yang harus diselesaikan oleh mereka semua.
Namun, yang jelas mereka semua terlihat begitu senang, entah karena apa, hanya saja senyuman itu terlihat begitu lepas pada saat Sultan memandangi raut wajah rekan-rekannya.
Sementara Sultan memisahkan diri dan lebih memilih untuk duduk di saung gubuk berdua bersama dengan rekannya yang bernama Dimas. Mereka berdua terlihat tengah asik berteleponan bersama dengan pacarnya yang berada di Kota Sukabumi.
"Kok, sekarang Kota Sukabumi terlihat lebih sunyi ya, Re, apa mungkin ini semua disebabkan oleh ketidak adaan pemimpin yang bertanggung jawab seperti gue di sana?".
Pertanyaan dari Sultan serta ucapan yang keluar dari mulut Sultan itu terdengar begitu polos dan terdengar begitu lembut sekali.
"Hmm, gue rasa sih Sukabumi engga membutuhkan sosok pemimpin ceroboh! yang kesehariannya hanya bisa membuang waktunya demi urusan yang engga penting seperti berkelahi."
"Dan orangnya adalah kamu Tan," ujar Rere begitu lepas meremehkan Sultan.
Sultan membantah, dia mulai menjadi bijak dengan seketika pada saat Rere berbicara bahwa Sukabumi tak membutuhkan orang seperti dirinya.
Ya, itu memang benar, Sultan takan pernah bisa menjadi sosok pemimpin yang baik bagi negrinya sendiri, namun sebenarnya apa yang telah Rere ucapkan itu bukan suatu niat seorang Sultan yang sesungguhnya.
Kesuhngguhan Sultan yang sebenarnya adalah cukup menjadi sosok pemimpin yang baik bagi Rere nantinya. Hal tersebut merupakan sebuah ungkapan yang seringkali muncul dari dalam hatinya dan juga niatnya.
"Negara memang tidak membutuhkan orang-orang seperti gue Re, tapi ada satu yang harus kamu ketahui dari dalam diri gue, yakni kejujuran gue."
"Bilamana kamu mengingatnya Re, ada satu warga dan tepatnya dia adalah seorang wanita yang saat ini kesehariannya hanya bisa tersenyum melihat seberapa sanggup gue menjaga dirinya."
__ADS_1
"Saat ini mungkin kamu engga sadar seberapa cinta gue melihat senyuman semua orang meskipun diri gue tak sanggup untuk tersenyum sepenuhnya."
Sampai saat itu Rere mulai sadar bahwa ungkapan Sultan itu mengarah ke arah dirinya. Dan dari sejak itu juga Rere mulai tersenyum lebar bahwa ungkapan Sultan memang benar, selama Rere mengenalnya yang dapat dia rasakan itu adalah senyuman.
"Meski lupa aku takan pernah berhenti untuk tetap terus mengingatnya, walaupun susah aku takan pernah berhenti berharap untuk menyerahkannya, dan meski hilang aku takan pernah berhenti mencarinya."
"Asalkan kamu tahu Re, hidupku bukanlah apa-apa meski sekali pun tanpa dirmu."
"Pada dasarnya aku, kamu, maupun itu rekan-rekanku, sebenarnya mereka semua hanyalah sebatas pelengkap yang bisa dibilang pelengkap yang sementara saja, maka dari itu kenapa sampai detik ini aku, segaligus sebagai orang yang tak berguna masih mencari senyuman mereka?".
"Kenapa Tan?" tanya Rere begitu penasaran.
"Karena hati gue selalu berbicara bahwa gue tak boleh menyerah sebelum harapan itu terlihat dan benar-benar akan memihak kepadaku."
"Jika kalau memang kamu bisa mendapatkan senyuman mereka, lantas kenapa kamu mau bertaruh demi mendapatkan aku? padahal banyak perempuan lain yang bahkan lebih cantik dari diriku."
Rere bertanya dengan tatapan yang kosong, dan dia mengira apakah dia hanya dijadikan pasangan yang sementara saja oleh Sultan, maka dari itu Rere terbelenggu tanpa Sultan sadari.
"Hadeuhh ... harus bagaimana lagi, sebenarnya ini semua bukan masalah baik dan cantik Be, asalkan kamu tahu aja bahwa gue engga pernah tuh menjadikanmu dan menganggap kamu adalah alat taruhan gue Re."
"Namun, yang aku tahu kamu adalah wanitaku, di mana di sana aku menanamkan banyak keluh kesah atas saingan-sainganku."
"Rasa takut akan kehilanganmu karena banyak yang merasa lebih pantas dari diriku, rasa cemburu yang terus-menerus melanda alam pikiranku karena aku telah mencinatai wanita cantik seperti dirimu."
"Maka dari itu di sini aku takan pernah berhenti untuk berkata jujur bahwa aku benar-benar mencintai dirimu tanpa harapan lebih yang dapat menumbangkan semangatmu."
Dari sejak itu Rere berpikir bahwa Sultan memang benar-benar mencintai dirinya, dan dari sejak itu Rere memberikan apa yang Sultan ingin dapatkan dari dirinya, yakni senyumannya.
__ADS_1
Sementara Sultan berpikir bahwa Rere takan pernah berhenti tersenyum bilamana dia melihat penampilan pacarnya di sana seperti apa sekarang.
Bukan hanya itu saja, di sana Sultan juga terlihat tengah berusaha memancing Rere agar wanitanya berniat dan mau mengubah panggilan telepon suaranya ke arah panggilan telepon video.
Sebenarnya Rere sudah memiliki niatan untuk mengubah panggilan itu, namun dia tahu Sultan pasti akan menjadi cowok rese ketika mana dia melihat bahwa sekarang wanitanya tengah tersenyum dengan begitu lepasnya.
"Sebenarnya gue engga mau menuruti harapannya itu dikarenakan bilamana sekarang gue memperlihatkan senyuman gue kepadanya, yang ada dia pasti akan bersikap rese seperti biasanya."
"Pokoknya yang paling gue engga suka, dia pasti akan berkata bahwa dia memang sipaling bisa membuat gue tersenyum, udah itu dia pasti akan bilang bahwa gue harus bisa menjadi seperti dirinya."
"Hadeuh ... sungguh sangat menyebalkan sekali cowok yang satu ini!" ucap Rere dalam hati sambil mengernyitkan bibirnya yang tipis itu di belakang Sultan.
Rere menghela napas walaupun suara napasnya itu tak terdengar begitu jelas ditelinga Sultan, namun akan tetapi seorang Sultan sudah dapat menebak keberatan dihati wanitanya itu seperti apa.
Sebenarnya Sultan tidak menuduh, apalagi Rere memang tidak suka bila Sultan menuduhnya yang tidak-tidak.
Intinya kata berat yang Sultan maksud itu tidak ada hubungannya dengan Rere yang merasa muak ataupun benci bila dia harus melihat wajah Sultan disaat-saat seperti yang sekarag ini.
Dan sebenarnya berat yang Sultan maksud itu adalah di mana akan ada masanya Rere akan kembali merindukan sosok pria menyebalkan seperti Sultan.
Notif panggilan videocall mulai terlihat dimata Sultan. Ia pun lalu menerima ubahan panggilan telepon tersebut sambil tersenyum kaku di hadapan wanitanya.
Sultan takan pernah tahu jelas apakah Rere akan senang melihat penampilannya ataupun malah akan sebaliknya. Namun, yang jelas malam itu Sultan terlihat begitu mengkhawatirkan hal tersebut.
Pada saat videocall tersebut terhubung, tiba-tiba Rere dibuat terkejut, mengapa malam itu wajah Sultan terlihat begitu mirip dengan wajah Rere.
Rere tersenyum dengan begitu lebarnya di hadapan Sultan, dan ternyata balasan dari Rere dapat membuat Sultan terkejut juga. Bagaimana tidak, senyuman itu hanya akan ada dan dapat di lihat oleh Sultan ketika mana Sultan benar-benar ada di samping Rere sekarang.
__ADS_1