
Singkat cerita, di mana sekarang Sultan telah berada di dalam rumahnya sendiri. Dan di sana terlihat Sultan tengah sibuk mengkemas rapi barang-barang yang akan ia bawa ke Tangerang nanti.
Kali ini Sultan tak membawa tas cariernya karena tas tersebut itu sengaja ia tinggalkan di dalam kosan. Waktu kemarin Sultan pulang ke Sukabumi ia hanya menggunakan tas slempangnya saja.
Kringg, kringg, kringg ....
Suara ponsel Sultan menyala. Ia sempat menatap layar ponselnya itu untuk memastikan siapakah yang menelepon dirinya di sana.
Ternyata yang menelepon itu adalah Azmi. Sultan mengangkat panggilan suara dari Azmi sembari menata rapi barang-barang yang akan dia bawa nanti.
"Tan, lu di mana? gue duluan ke rumah Alamsyah ya, nanti elu nyusul aja ke sana," ucap Azmi.
"Siap Mi, nanti gue nyusul, soalnya nanggung sebentar lagi udah mau zuhur, gue mau salat zuhur dulu di sini oke," ucap Sultan dengan tenangnya merespon ucapan dari Azmi di sana.
"Oke, siap Tan, gue tunggu di sana ya, ini juga gue udah mau berangkat ke rumah Alam sama Dimas, sama si Wildan juga."
Panggilan suara telepon dari Azmi pun ditutup oleh Sultan. Dan tak lama setelah Sultan mematikan panggilan suara dari Azmi itu, Rere pun malah meneleponnya.
Untung saja ia belum memasukan ponselnya itu ke dalam tas panel berwarna hijau miliknya di sana, jadi ia pun dapat mengetahui bahwa Rere meneleponnya.
"Kamu udah berangkat belum Tan? itu kamu masih ada di rumah kan?" tanya Rere begitu penasaran.
"Gue lagi nunggu azan salat zuhur dulu Re, dan setelah itu baru gue berangkat," ucap Sultan.
"Hati-hati Tan, kalau gitu gue matiin dulu telepon suaranya ya, maaf kalau gue udah ganggu elu di sana."
"Mau ke mana sih Re! perasaan buru-buru amat dah, lagian zuhurnya juga masih lama ini."
__ADS_1
Sultan sadar bahwa Rere masih belum bisa melihat kepergiannya yang sekarang ini, dan terlebih pertemuan sebelumnya berlalu begitu cepatnya.
Kurang lebih waktu salat zuhur tersisa 20 menitan lagi, jadi Sultan masih bisa memanfaatkan waktu singkatnya itu untuk berbincang bersama dengan Rere terlebih dahulu.
Sultan mengalihkan panggilan suaranya kepanggilan video. Rere menerima panggilan video dari Sultan karena memang Rere menginginkan hal itu.
"Bukannya siap-siap buat pergi berangkat ke Tangerang, ehh elu mah malah videocall gue Tan," ucap Rere beralasan.
"Alahh ... alesan kamu mah Re, bilang aja elu mau gue videocall kayak gini," canda Sultan yang membuat Rere tersenyum lebar.
"Jangan mulai deh lu Tan! gue benci lihat sikap elu yang seperti ini," ucap Rere dalam posisi serba salahnya.
Sultan tertawa dengan lepasnya melihat Rere menjauhkan pandangannya dari Sultan. Ternyata memang benar apa kata Sultan, rindunya Rere, marahnya Rere, kesalnya Rere terhadap sikap Sultan itu takan pernah membuang sedikit pun kecantikan dari raut wajah Rere.
"Kamu ini ya, Re, dilihat dari sisi mana pun kecantikan diraut wajahmu itu engga pernah berubah sama sekali, semua sama, dan indah untuk dipandangi," ucap Sultan dengan manisnya merayu Rere agar rindu dari wanitanya itu semakin bertambah kuat saja.
Kepergian sosok penyemangat dihidupnya itu selalu menjadi tanda tanya besar bagi Rere, dan di sana dia pasti akan selalu menguji tingkat kesabaran milik Sultan sudah sejauh mana.
Entah apa alasannya, tapi yang jelas Sultan berpikir mungkin lebih baik Rere menguji tingkat kesabaran miliknya itu saja sendiri, dikarenakan usahanya itu pasti takan pernah berhasil, dan malahan Sultan akan membuat Rere semakin terjerumus dalam mencerna apa sifat yang sering dia berikan itu kepada Sultan.
....
Suara azan telah berkumdang, sehingga panggilan video pun dimatikan oleh Rere. Sultan mulai meninggalkan rumahnya setelah ia selesai melaksanakan ibadah salat wajibnya di dalam mesjid.
Sultan pun mencium kedua tangan dari orang tuanya di sana sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua.
Suara motor tua telah meraung-raung, Sultan pun lalu melambaikan tangannya sebagai tanda ucapan perpisahan tanpa suaranya.
__ADS_1
Itu adalah kali terakhir kalinya ia bisa menatap raut wajah sosok malaikat tanpa sayap yang sampai saat ini mereka berdua masih setia menunggu Sultan sampai Sultan benar-benar menjadi anak sukses nantinya.
"Sultan pamit dulu ya, Mah, Pak, mamah sama bapak jaga kesehatannya di sini ya, 2 Bulan lagi nanti Sultan pulang ke rumah," ucap Sultan sembari mengecup manis tangan dari kedua orang tuanya.
"Hati-hati, jangan kebut-kebutan, nanti kalau udah sampai di Tangerang jangan lupa telepon mamah," ucap ibu Sultan sembari mengelus-elus pelan rambut Sultan.
"Jaga kesehatan kamu ya, Tan," ucap ayahnya sama seperti ibunya, di mana beliau pun sama-sama mengelus pelan rambut dari Sultan itu di sana.
Sultan memberikan senyuman terakhirnya untuk mereka berdua, dan setelah itu ia pun lalu pergi meninggalkan rumah sederhananya itu di sana.
Motor tua sengaja Sultan lajukan dengan kecepatan standar saja, ia tak mau terburu-buru sampai di rumah Alamsyah, dikarenakan ia pun masih merindukan permandangan alam di tanah kelahirannya ini.
Tanpa sengaja Sultan melihat gerbang pintu masuk untuk pergi ke rumah Rere. Ia sempat berhenti di dalam sana, namun ia tak mengabari Rere bahwa dirinya ada di depan gang rumahnya.
Dengan berat hati ia harus meninggalkan rumah Rere tanpa dirinya menatap indahnya senyuman dari Rere untuk dia lihat.
"Maaf Re, kalau gue engga masuk terlebih dahulu ke dalam rumahmu, soalnya gue engga sanggup menatap senyuman beratmu itu di sini," ucap Sultan dalam hati sembari manatapi gang rumah Rere dengan lamunan lara hatinya.
"Gue engga akan selamanya bersinggah di sana Re, nanti juga gue pasti pulang kalau memang sudah waktunya," ucap Sultan dalam hati untuk terakhir kalinya ia baru bisa meninggalkan rumah Rere.
1 menit ia habiskan hanya untuk memandangi rumah Rere. Hatinya selalu berkata agar dia meninggalkan rumah kekasihnya, entah kenapa bisikan itu terdengar begitu jelas sekali ditelinganya, apa mungkin suara hati tersebut hanya ingin mengingatkannya bahwa pertemuan akan melupakan waktu singkatnya.
Di dalam rumah, Rere sempat mendengar suara raungan motor tua Sultan, dan dengan cepatnya Rere pun ke luar dari dalam rumah, namun ternyata itu cuma perasaan dia saja.
Perasaan Rere memang nyata adanya, dan Sultan memang sempat datang, tapi sayangnya dia tidak memasuki rumahnya terlebih dahulu.
"Berapa kali gue nelepon lu Tan, tapi elu engga menjawab panggilan suara dari gue di sini, kira-kira elu udah berangkat belum ya, Tan, hati-hati di jalan," ucap Rere berbicara seorang diri tanpa Sultan mendengarkan kata-kata manis yang ke luar dari mulutnya itu.
__ADS_1