
Mereka semua berpikir bahwa perkelahian yang cukup sengit itu telah berakhir sampai di sini, namun nyatanya hal tersebut masih ada dan belum juga tersudahkan, dikarenakan pihak lawan terlalu terobsesi terhadap egonya sendiri, jadi dengan sangat terpaksa teman-teman Sultan harus berkelahi kembali.
Mungkin sekian persen jumlah lawan kali ini akan bertambah lagi, makanya mereka berani menghampiri semua teman Sultan dan mencegatnya di tempat yang sama sebelum teman-teman Sultan pulang dari sekitaran tempat persinggahan Aisyah.
Teman-teman Sultan tak pernah menyadari hal itu akan terjadi lagi, di mana mereka semua terlihat begitu gembira, hingga pada akhirnya rasa lelah mereka telah terobati dengan adanya kemenangan ini.
Mereka semua bercanda seolah-olah tak menyadari bencana itu akan terulang kembali, bahkan Wildan salah satu orang yang sempat menganggap remeh sang lawan pun dibuat tercengang dengan semangat yang dimiliki oleh lawannya.
"Hadeuhh ... kejadian ini benar-benar di luar dugaan! untung saja Sultan sempat menemukan jejak berupa puntung rokok milik si Wildan, bilamana dia telat sedikit saja dalam mengambil keputusannya, mungkin ranjang rumah sakit akan menjadi salah satu tempat tidur ternyaman bagi kalian semua," ucap Dimas membuat rasa penasaran semua temannya terbayarkan.
Ternyata itu alasannya, kenapa Sultan dan Dimas dapat dengan mudahnya menemukan keberadaan seluruh teman-temannya tanpa ada satu orang pun yang memberitahu lokasi mereka sedang berkelahi.
"Gue akui kalau Sultan memang pria yang cukup cerdas, tapi tingkat kecerdasan yang dia miliki itu masih berada jauh di bawah gue, sepatutnya elu engga usah datang tadi, dikarenakan gue masih mampu melawan para cecunguk itu dengan tenaga gue sendiri," ucapan Wildan membuat semua temannya merasa jengkel.
Namun, tidak dengan seorang Sultan, di mana dia adalah sosok pria yang sangat sabar, bahkan ucapan Wildan tadi terdengar seperti sebuah candaan saja ditelinganya, walaupun senyuman diwajah Wildan bisa dibilang terlihat agak sedikit menyebalkan, tapi Sultan masih saja tersenyum tipis tanpa mau mempermasalahkan ucapan dia sedikit pun.
Tak lama kemudian Sultan menjatuhkan rokoknya yang telah habis itu tepat berada di bawah kedua kakinya sekarang, dan lalu setelah itu Sultan menginjak rokok tersebut menggunakan kaki kanannya hingga bara apinya padam.
Lantas Sultan pun mengambil putung rokoknya itu lagi sambil mengeluarkan bungkus rokok kosong dari dalam tas slempang miliknya.
__ADS_1
Semua teman Sultan tahu bahwa bungkus rokok itu akan dia gunakan sebagai salah satu benda untuk membuang sisa putung rokoknya sendiri agar dia tak merusak keindahan alamnya di bumi ini.
"Elu bilang apa barusan? elu engga butuh bantuan kita berdua! coba sekarang elu lihat ke depan sana, kalau emang elu mampu melawan para musuh elu itu, silahkan hadapi para brandalan itu lagi."
Ucapan Sultan membuat teman-temannya tercengang dan terkejut, apakah masalah ini sudah Sultan ketahui makanya dia tak terlalu banyak bertingkah semenjak dia pulang dari tempat perkelahian.
Begitu santainya Sultan berjalan ke arah para musuhnya itu, bahkan dia sempat membakar rokoknya terlebih dahulu sebelum Sultan berjalan hingga berhadapan dengan para brandalan itu langsung.
Sekarang Sultan berdiri tegak di hadapan musuhnya, entah apa yang tengah dia rencanakan itu, tapi sepertinya dari cara dia bersikap di hadapan mereka semua nampaknya dia tak memiliki niatan untuk berkelahi kembali.
"Kalian masih belum menyerah? yaudah, gue mau nyerah aja, lagipula pacar gue di sana pasti lagi nungguin kabar dari gue, semoga beruntung," ucap Sultan dengan santainya melewati para musuhnya itu semua.
"Woii, jumlah kita sekarang bertambah semakin banyak nih, dan juga salah satu orang terkuat yang kalian miliki itu telah pergi begitu saja tanpa dia melihat kekalahan kalian semua di sini, sangat disayangkan sekali ya, padahal dia cukup handal dalam segi bertarungnya."
Ejekan itu dengan seketika membuat teman-teman Sultan terjatuh, kini semangat mereka semua hilang, dikarenakan sosok Sultan pun menghilang.
Rasanya mereka ingin pergi meninggalkan Wildan seorang diri di sana, tapi bilamana mereka menyerah begitu saja, pasti ke depannya para brandalan itu akan semakin bertingkah serta berulah sesuka hatinya.
"Gue engga takut sama kalian semua bego! dan gue tahu sifat teman gue itu seperti apa, dia pasti bakalan balik lagi pada saat rokoknya habis," ucap Dimas membuat musuhnya tertawa lepas.
__ADS_1
"Mental lembek seperti dia mana bisa membantu kalian semua, jangan kebanyakan drama! teman elu itu engga bakalan balik lagi, mungkin sekarang dia lagi teleponan sama ibunya," ledek salah satu musuh yang baru datang.
Musuh itu belum tahu siapa Sultan, dan sebenarnya ucapan dari Dimas memang benar, ia hanya ingin menikmati rokoknya dengan tenang saja, makanya ia pergi begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada mereka semua.
"Elu sih Wil! kalau bukan gara-gara lu, mungkin dia engga akan pergi meninggalkan kita semua di sini, rasanya gue pengen menghajar mulut elu itu, dan rasanya gue juga ingin pergi meninggalkan lu di sini sendirian," ucap Rizki begitu jengkel melihat sifat keras Wildan itu.
"Ucapan Dimas ada benarnya juga, dia pasti bakalan balik lagi ke sini, lagipula dia pernah bilang sama gue kalau dia engga akan pernah meninggalkan temannya dalam situasi sulit seperti ini, jangan sampai kalah! gue takut nanti dialah yang akan berjuang sendirian demi kita semua, bukan berjuang demi memenangkan perkelahian, tapi berjuang dalam membawa kita pergi ke rangjang rumah sakit."
Ucapan Alamsyah itu membuat semua temannya tertawa lepas, dan di sanalah perkelahian dimulai. Dimas berdiri dibarisan paling depan, sementara Alamsyah berdiri di sampingnya.
"Gue tahu siapa Sultan, dia takan pernah pergi begitu saja tanpa berpamitan, apalagi sampai dia memusuhi temannya sendiri hanya gara-gara gue membercandainya sekejam itu, cepat habiskan sisa rokok elu itu Tan, gue tunggu sampai elu datang," ucap Wildan sambil melemparkan rokoknya yang sudah habis itu.
Wildan menyuruh Dimas untuk mundur dan tetap berdiri di belakang tubuhnya saja, dikarenakan masalah ini terjadi gara-gara ulahnya sendiri.
Wildan mulai menekan kepalan tangannya hingga tulang jari-jemarinya berbunyi, tak lupa dia pun memastikan bagian anggota dalam lehernya pun ikut berbunyi juga agar seluruh tubuhnya terasa lebih ringan saja pada saat dia berkelahi dengan musuhnya di depan sana.
"Jangan tumbang duluan Wil, soalnya gue malas membawa tubuhmu hingga sampai kontrakan, tunggu sampai elu tiba di dalam kontrakan saja, dan elu baru boleh tumbang di sana," ujar Dimas sambil tertawa tipis kepada Wildan.
Setelah itu Dimas pun mundur ke belakang, dia membiarkan temannya berdiri di barisan paling depan karena sebab ini adalah kemauan Wildan sendiri.
__ADS_1