Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 421 : Aku hanya menyukai senyumanmu


__ADS_3

"Apaan sih Tan! perasaan dari tadi bawel mulu dah! lagian kenapa elu sering maksa-maksa gue melulu sih? udah itu elu sering marah-marah lagi sama gue," tanya Rere yang membuat Sultan menyangkal ucapannya, bahwa perkataan marah itu tidak pernah dia lalukan kepadanya untuk saat ini.


"Siapa yang marah bolot! lagian buat apa gue marah-marah engga jelas sama lu, emangnya gue pernah apa melakukan hal yang semacam itu sama elu di sana?" tanya Sultan dengan gaya tersenyum tipisnya.


"Engga salah lu bilang kayak gitu Tan? ada-ada aja lu mah ah Tan. Asalkan elu sadar ya, bolot! setiap hari, setiap saat, bahkan disetiap elu lagi rindu sama gue di sini, elu sering marah-marah engga jelas sama gue, entah apa alasannya, tapi hal itu emang sering elu lakukan terhadap gue di sini."


Ucapan Rere itu sebenarnya memang benar, namun dia terlalu menganggapnya berlebihan, sehingga dia merasa takut akan hal itu.


Tapi, sejujurnya Sultan tidak pernah berniat untuk melakukan hal yang seperti itu kepadanya, dan bahkan Sultan sama sekali tak pernah merasa ucapan Rere itu benar.


Bagaimana tidak! disetiap mereka berbincang, rasanya hanya ada tawa dan senyuman saja yang bisa mereka rasakan, bukan melainkan kemarahan yang ditimbulkan oleh rasa kecurigaan itu.


Rere mengira sikap bawel Sultan itu adalah unsur dari kemarahan yang dia berikan dengan perlahan kepada dirinya.


Dia pun mengira suara lantang Sultan disebabkan oleh hal itu juga, namun sebenarnya suara lantang itu adalah suara lelahnya yang tak sengaja ia lepaskan kepada Rere.


Tak lama kemudian bell alarm peringatan kembali menyala. Rere mulai membisukan panggilan telepon suaranya itu atas dasar perintah dari Sultan.


Bang Falah terbangun dari tidurnya, dia pun meninggalkan Sultan sebab dia memiliki beberapa tugas di dalam bidang pekerjaan yang dia ambil di sana.


"Tan, gue tinggal dulu sebentar ya, soalnya gue masih ada tugas dibidang gue tersendiri di sini, udah itu gue pasti bakalan balik lagi buat bantuin elu sama bantuin si Boa juga," ucap Bang Falah meninggalkan Sultan sembari memegang bahu Sultan dengan sekejap mata.


"Oke, Bang, ditunggu kehadirannya lagi," ucap Sultan singkat.


Disaat Sultan akan masuk ke dalam ruangan gudang, Alamsyah datang dan langsung menyenggol tubuh Sultan hingga tubuhnya menepi, dikarenakan dia takut bahwa yang menyenggolnya itu adalah karyawan atasannya.

__ADS_1


"Gila lu Lam! kaget gue! kirain gue siapa tadi, tahu-tahunya elu Lam, temen gila gue," ucap Sultan yang langsung menaiki punggung Alamsyah.


"Maaf Tan, gue cuma mau ngambil beberapa kotak tisu alkohol di dalam gudang," ucap Alamsyah yang membiarkan Sultan menaiki punggungnya.


Alamsyah menggendong Sultan hingga masuk ke dalam area gudang. Dia meminta tolong kepada Sultan untuk menunjukan dan mengambil beberapa kotak tisu alkohol, yang biasanya sering digunakan untuk membersihkan beberapa barang produksi.


Alamsyah meminta Sultan untuk mengambilkan beberapa kotak tisu tersebut, dikarenakan tangannya tidak dapat menggapainya.


"Tolong ambilin kotak tisu itu Tan, gue kagak sampai soalnya," ucap Alamsyah sembari melihat rak barang tersebut begitu tinggi, bahkan tangannya pun tak dapat menggapai kotak tisu di atas rak tersebut.


"Lagian elu suka amat dah Lam, menjadi orang pendek!" ledek Sultan kepada Alamsyah sembari tertawa histeris dengan lepasnya.


"Udah takdir Tan, gue engga bisa berbuat apa-apalagi, selain menerimakannya."


....


Alam lalu pergi setelah dia mendapatkan barang yang dia inginkan sebelumnya. Sultan kembali bekerja seperti biasa lagi bersama dengan Bang Boa.


Tak lama kemudian, Bang Falah datang. Dia pun lalu membantu Sultan dengan Bang Boa di dalam sana hingga pekerjaan mereka terselesaikan.


Pekerjaannya yang sekarang tak terlalu merepotkan, bahkan siang ini Sultan tidak dibuat lelah sama sekali, walaupun pekerjaannya di pagi hari sempat membuat dirinya kelelahan, namun setelah dia mendengarkan suara Rere, dengan seketika rasa lelah dan letihnya itu hilang dalam kedipan mata.


Singkat cerita, di mana sekarang Sultan telah pulang dari Perusahaan tempat dia melaksanakan PKL nya. Sultan dan semua teman-temannya pun segera mempersiapkan diri untuk pulang ke Sukabumi.


Telepon suara masih belum dimatikan dari pagi hingga sekarang. Sultan masih berbincang bersama dengan Rere di sebuah stasiun kereta KRL Serpong.

__ADS_1


Sementara Azmi dan Alamsyah memesan beberapa tiket kartu keberangkatan dari stasiun Serpong, hingga ke stasiun terakhir, yaitu stasiun Bogor.


Setelah pulang dari Perusahaan, mereka sempat melaksanakan ibadah salat magribnya itu terlebih dahulu bersama-sama di dalam ruangan kosan. Dan setelah itu dilanjut lagi dengan makan malam bersama sebelum mereka berangkat pergi ke stasiun KRL Serpong.


Dengan perasaan gembira, sehingga rasa lelah pun telah terbayarkan. Dan malam itu juga mereka berangkat agar esoknya mereka bisa beristirahat terlebih dahulu sebelum Minggunya mereka kembali berangkat lagi ke Tangerang.


Untung saja stok tiket kartu masih tersedia, sehingga Azmi dan Alamsyah datang memberi kabar baik, bahwa sekarang mereka masih bisa pulang ke Sukabumi.


"Akhirnya, kita semua bisa pulang sekarang, dan ini kartu kalian, nanti kita bisa langsung nunggu kereta di bawah aja oke," ucap Alamsyah sembari membagikan tiket kartu tersebut kepada mereka semua.


"Sebelum berangkat alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu, biarkan Alamsyah yang memimpin doanya," ucap Sultan dengan posisi sikap berdoanya.


Mereka semua berdoa dengan khusyuknya di sana bersama-sama, sementara Rere ikut serta mendoakan keselamatan Sultan dengan semua teman-temannya itu juga di dalam kamarnya.


Mereka mulai menuruni tangga stasiun, untung saja kereta itu tiba tepat pada waktunya disaat mereka semua telah selesai memanjatkan doanya itu di atas ruangan sebelumnya.


"Hati-hati Tan, kalau perlu elu jangan dulu pulang ke rumah dah, soalnya elu pasti bakalan pulang malam hari ini," sahut Rere membisiki telinga Sultan dari jauh, soalnya waktu itu Sultan baru bisa menggunakan earphonenya ketika dia benar-benar sudah pulang dari Perusahaan.


"Kirain elu udah tiada Re, abisnya dari gue berdoa, hingga gue masuk ke dalam gerbong kereta, suaramu kagak terdengar sama sekali," ucap Sultan yang kini mulai membercandai Rere dengan candaan agak sedikit menyentuh hatinya.


"Kesentuh banget gue Tan, dengan apa ucapanmu itu, emangnya engga ada kata lain gitu selain tiada?" tanya Rere sembari mengernyitkan dahinya.


"Lagian masih aja baperan! gue kan cuma bercanda, tapi kalau emang elu mau seperti itu pun gue engga akan mempermasalahkannya kok."


"Apa elu bilang Tan? enak banget elu berucap ya, awas aja elu Tan! pokonya setelah pulang dari sana elu harus datang ke rumah gue secepat yang elu bisa."

__ADS_1


Rere membalikan sikap tidak perdulinya kepada Sultan, soalnya prianya pun sama seperti itu, jadi Rere beranggapan dia juga harus bisa bersikap menyebalkan seperti Sultan.


__ADS_2