Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 231 : Arti kata kuat


__ADS_3

"Kamu tahu engga Be, Lapang Merdeka adalah tempat yang telah mempertemukan aku dengan dia, sebenarnya kita udah lama kenal di Facebook sih, tapi aku baru bisa bertemu pas lagi ada acara memperingati hari lahir Pramuka sedunia, dan itu pun engga terlalu lama, waktu itu aku hanya bisa mengikutinya dari arah belakang saja."


Sultan berucap sambil melihat raut wajah Rere dibalik kaca spion motor tuanya, di mana terlihat dia masih saja membuang wajahnya itu dari pandangan Sultan.


Dia mulai mengembalikan pandangannya, Sultan tanpa henti terus menatap raut wajah Rere, hingga pada akhirnya dia baru bisa menyandarkan kepalanya itu dibahu Sultan ketika ia melanjutkan ceritanya.


Rere tak mau berkata-kata apa pun kepada Sultan, dan dia terus saja menyuruh Sultan untuk menceritakan kenangan pada masa itu kepadanya.


"Selvita juga sempat melihat wajah aku Be, di belakang sana, namun aku menyuruh dia untuk tetap berjalan bersama dengan temannya itu saja, dan hanya dengan gelengan kepala aku, dia udah paham apa maksud aku Be."


"Setelah sampai di tempat tujuan kita berpisah di sana, dia berjalan ke arah atas lapangan upacara, dan sementara aku berjalan lurus ke depan, soalnya teman-teman gue berkumpul di taman yang ada di Lapang Merdeka itu Be."


Diamnya Rere ternyata ada alasannya, Sultan berpikir dia terdiam bukan karena dia hanya merasa malu saja, akan tetapi dia sengaja menyuruh Sultan untuk bercerita panjang lebar tentang masalalunya tersebut agar supaya dia bisa mendapatkan celah untuk menuduh Sultan yang tidak-tidak.


Rere mulai memainkan dramanya dengan cara melepaskan pelukannya ditubuh Sultan itu. Rere kembali menjauhkan pandangannya setelah Sultan selesai menjelaskan cerita yang ingin Rere dengarkan dari mulut Sultan langsung.


"Ohh, jadi begitu ya, Tan, ternyata elu masih mau menceritakan sosok dia karena sebenarnya elu masih sayang sama dia, yaudah sana! temuin dia sampai dia jatuh hati lagi sama kamu Tan," canda Rere ingin melihat apakah prianya itu akan marah kepadanya.

__ADS_1


Sultan mulai menunjukan senyuman jahatnya, sebenarnya ia sudah tahu apa maksud Rere berbicara seperti itu kepadanya.


Sultan seharusnya terlihat takut, tapi dia malah membuang semua rasa ketakutannya itu hanya demi membalikan candaan dari Rere.


Sekarang posisi mulai berbalik ke arah Sultan, dan memang di sana Sultan lebih unggul dalam segi apa pun itu, apalagi dalam membuat Rere merasa jengkel kepadanya, semua itu adalah keahlian sosok Sultan.


"Gue sayang sama dia, kalau itu bisa diulang gue akan memilih dia Be, Selvita lebih lembut, dan dia lebih paham cara mencintai prianya sendiri, dia engga akan pernah berani memukul wajah pacarnya sendiri sampai bengkak seperti kamu memukul wajah gue itu," canda Sultan mulai membuat Rere terpancing.


Yang tadinya Rere ingin membercandai Sultan sampai mana ia benar-benar merasa jengkel terhadap sikapnya itu, namun sekarang malah dia sendiri yang merasa jengkel terhadap sikap Sultan itu di sana.


Rere menepuk helm Sultan dengan sangat kuat sampai ia dibuat terkejut, bahkan ia pun memberhentikan lajuan motornya di tengah jalan, untung saja jalanan tak seramai seperti malam yang telah berlalu, jadi ia tak harus mengkhawatirkan kejadian ketika dia berkelahi dengan para anak jalanan sewaktu ia pergi ke Pelabuhan Ratu bersama dengan Rere.


"Sayang! jangan begitulah, gue kaget! untung aja jalanan lagi sepi pengendara, bagaimana coba kalau kejadian waktu itu sampai terulang kembali, emangnya kamu mau melihat pacarmu ini dihajar habis-habisan sampai gue tergelat sendirian di tepian pantai," ucap Sultan mengeluarkan nada suara terkejutnya, tapi dia tak membentak Rere, melainkan sebelumnya ia sempat merespon pukulan itu dengan senyumannya.


Rere menunduk dan meminta maaf kepada Sultan, Rere sempat mengira kalau Sultan benar-benar marah kepadanya, namun itu tidaklah benar.


"Maafin aku Tan, abisnya kamu nyebelin sih! kamu marah sama aku bukan Tan? aku engga sengaja loh padahal, kalau emang kamu beneran marah, kamu bisa kok, turunin aku di sini, biar aku pulang sendirian aja," ucap Rere berbicara dengan nada suara rendahnya.

__ADS_1


Sultan tertawa lepas, ia tak habis pikir dengan apa yang ada di dalam pikiran Rere, bilamana ia mengeluarkan nada suara yang agak sedikit tinggi, kenapa dia selalu menganggap kalau Sultan tengah memarahinya.


"Makanya Be, kalau mau membercandai seseorang itu lihat dulu lah orangnya itu siapa, kamu engga akan bisa menirukan gaya menyebalkan yang gue miliki ini tanpa berlatih terlebih dahulu," ucap Sultan masih saja tertawa sambil melihat raut wajah Rere di balik kaca spion motor tuanya.


"Kenapa ya, aku selalu menjadi beban bagi kamu Tan, perasaan setiap kali kita bertemu, setiap kali kita merasa bahagia seperti ini selalu aja ada problem yang sering datang," ucap Rere merasa tak enak hati kepada Sultan.


"Promblem tersebut memang ada pada dirimu Be, contohnya seperti rindu, meskipun aku sering bilang kalau rindu itu adalah panggilan dari Allah agar kita tak melupakannya, tapi rasanya memang tetap sama, yaitu tetap sulit untuk menghilangkan rindu tersebut itu padamu Be, dikarenakan foto raut wajahmu yang sengaja aku jadikan wallpaper di handphoneku ini sering kali menatapku selayak kamu menatap raut wajahku sendiri."


Ucapan panjang Sultan membuat Rere tersenyum, sekarang dia mulai memahami nada suara tinggi Sultan bukan mencirikan kalau dia tengah memarahi dirinya.


Rere kembali memeluk tubuh Sultan sambil berkali-kali meminta maaf kepadanya, hingga mana Rere melontarkan ucapan yang membuat Sultan lebih lepas dalam mengeluarkan bunyi suara tawanya itu di sana.


"Ucapan kamu itu benar-benar nyatakan Tan, kalau kamu lebih sayang sama Selvita daripada aku?" tanya Rere singkat, dia hanya ingin mendengar lebih cepat jawaban yang akan Sultan berikan kepadanya.


"Masa iya aku lebih sayang sama pacar orang! kamu ini aneh Be! mana mungkin aku melakukan hal tersebut kepada wanita yang selalu aku anggap sebagai salah satu dari ketujuh bidadari surgaku yang sengaja Allah turunkan untuk membantuku merubah sikapku ini."


Rere merasa lega, ternyata candaannya itu dibalikan oleh pacarnya, mungkin memang benar, bahwa apa yang dia lakukan itu percuma saja, dan pastinya Sultan takan pernah semudah itu termakan oleh candaan Rere yang tidak jelas asal-usulnya seperti apa.

__ADS_1


"Kamu tetap menjadi yang terbaik Be, kasarnya kamu akan tetap aku terima, dikarenakan sikap itu harus lebih kamu tanami sedalam seperti kamu mencintai aku, dan aku ingin sekali melihat kamu dapat melawan semua orang yang memang mereka ingin melukaimu," ucap Sultan dengan harapan ingin sekali melihat seorang Rere dapat berkembang menjadi sosok wanita yang lebih kuat lagi, dan arti dari kata kuat itu tidak lain adalah dia yang tak dapat dikalahkan meski lawannya seorang pria.


__ADS_2