Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 192 : Sikap tegas


__ADS_3

Sebelumnya Sultan sempat dituduh tersenyum-senyum sendiri, entah beliau menganggap senyuman Sultan itu sebagai apa, namun yang jelas Sultan memang pria murah tersenyum kepada siapa pun orangnya.


"Woii, kamu yang senyum-senyum sendiri dari tadi, maju ke sini, pimpin mereka," ucap beliau meremehkan Sultan sembari menunjuk Sultan dengan sikap tegasnya.


Sultan sempat bingung, tujukan itu sepertinya bukan mengarah kepadanya, lantas Sultan pun bergumam dengan nada suara ciri khasnya, yang di mana suara rendah hatinya ia tunjukan kepada beliau.


"Malah celingukan kayak orang bingung lagi! iya kamu, sini maju," ucap beliau masih saja menggunakan nada suara tegasnya.


"Iya Pak," ucap Sultan singkat, ia tak mau banyak membantah ucapannya sedikit pun.


Sultan maju menghampiri beliau tanpa adanya kata ragu. Sepertinya beliau sedang memilih seseorang untuk mendampingi Sultan di depan sana.


Nama Aisyah disebut-sebut oleh beliau, dan kembali lah Sultan dibuat bingung olehnya, kenapa beliau memilih Aisyah untuk mendampinginya.


Suara sorak bergemuruh, sepertinya beliau tidak cukup mengetahui sorakan mereka untuk siapa. Beliau baru menyadarinya setelah satu orang siswa membuka mulutnya bahwa sorakan tersebut tidak lebih untuk mereka berdua, dikarenakan sebelumnya mereka berdua sudah pernah bertugas bersama.


"Kenapa kalian ciee, ciee hah! emangnya ada yang salah dengan bapak di sini?" tanya beliau sembari memegang kedua pinggulnya.


"Mereka berdua pernah menjadi petugas apel Pak, makanya kita menyoraki mereka berdua karena rasanya ini bukan suatu kebetulan mereka bisa menjadi petugas apel bersama lagi," ucap teman Aisyah, di mana dia merupakan sosok wanita paling cerewet, kata itu Sultan dapatkan dari Aisyah sendiri.


Beliau menatap Sultan dan juga Aisyah, beliau pun tak menyangkanya kalau mereka berdua pernah menjadi petugas apel bersama.


"Kamu sengaja mempermainkan saya kan hah! makanya kenapa kamu dari tadi tersenyum-senyum sendiri ya, karena ini yang kamu mau kan? kamu jangan main-main sama saya," ucap beliau menuduh Sultan tanpa bukti yang jelas.

__ADS_1


"Bukannya bapak yang memilih Aisyah untuk menjadi petugas apel ya, Pak, tapi kenapa bapak malah nuduh saya hanya karena saya tersenyum," ucap Sultan dengan lantangnya.


"Kamu mau melawan saya hah! emangnya kamu berani sama saya! jangan macam-macam kamu terhadap saya! kamu cuma anak baru di sini," beliau masih saja menuduh Sultan melawannya, namun pada dasarnya Sultan hanya berbicara sesuai paktanya, memang dia lah yang memilih Aisyah untuk menamani Sultan di depan sana.


"Sepuluh orang kayak bapak pun saya tampung! soalnya saya bisa melihat titik lemah bapak dari sikap pemarah bapak ini," ucap Sultan dalam hati sembari menundukan pandangannya.


Semua siswa terdiam di sana, mereka pun sama seperti Sultan, di mana pandangan mereka sekarang semuanya ditundukan.


"Maaf Pak, tapi tuduhan bapak itu tidak benar, saya pun tidak mengetahui jelas kenapa bapak bersikap seperti ini terhadap saya, padahal saya hanya tersenyum saja, tapi kenapa bapak malah menuduh saya yang tidak-tidak," ucap Sultan membela dirinya sendiri, dikarenakan ia tahu apa yang harus dia pertahankan sekarang.


Sultan adalah orang yang paling tidak suka diremehkan apalagi direndahkan dengan orang yang sama rendahnya seperti dirinya.


"Bapak suka sama sikap kamu yang tegas seperti ini, siapa nama kamu?" tanya beliau mulai menunjukan sikap empatinya kepada Sultan.


"Nama saya Sultan Pak," ucap Sultan singkat.


"Jadi Sultan, bapak cuma bercanda, bapak hanya ingin melihat sikap kamu seperti apa, dan sekarang bapak telah mengetahuinya kalau kamu memiliki sikap tegas sama seperti bapak," ucap beliau yang membuat semua siswa di sana merasa panik.


"Terima kasih Pak, saya pun sudah menyangkalnya dari awal bahwa bapak sedang membercandai saya, lagipula ucapan bapak takan pernah masuk ke dalam otak saya yang lemot ini," ucap Sultan penuh percaya diri memberikan candaannya kepada beliau.


Semua siswa tertawa di sana, dan lagi-lagi Sultan membuat mereka tertawa selepas itu, ini merupakan suatu poin bagi Sultan untuk mengambil hati beliau.


"Kamu boleh ambil Aisyah dari saya Tan, sebelumnya saya ingin menjaga Aisyah, tapi berhubung kamu mewariskan sikap saya, jadi saya serahkan saja Aisyah kepada kamu, jaga dia baik-baik ya, Tan," candaan beliau membuat Aisyah tersenyum, bahkan semua siswa wanita di sana pun ikut tersenyum lebar seperti Aisyah.

__ADS_1


"Saya akan menjaganya sesuai dengan hati yang selalu berbicara kepada saya Pak, yakni jaga dia dengan sikap manismu saja, tak perlu menegasinya, dikarenakan rasa sayang hanya ingin dibalas dengan rasa sayang juga, bukan melainkan dengan tegasan," Sultan mulai mengeluarkan kata-kata manisnya, sampai-sampai beliau menyuruh Sultan mengulangi ucapannya agar dia bisa merekam suaranya.


Teman bawel Aisyah merasa tersentuh dengan apa ucapan yang telah Sultan lontarkan tadi. Dia pun tak dapat menahan gombalan dari Sultan, lantas dia juga ikut serta dalam meramaikan perbincangan hangat Sultan bersama dengan beliau.


"Aww, soswit banget dah si akang ini, saya juga mau dong Kang, digombalin seperti itu," ucapnya membuat pimpinan Perusahaan memberikan ucapan yang sangat geli untuk didengarkan olehnya.


"Soswit, soswit, kamu sama bapak aja, jangan sama dia, bapak tahu dia udah punya pacar di Kotanya."


"Maaf Pak, bapak terlalu tua untuk saya."


Semua siswa kembali tertawa lepas, namun Sultan masih saja menunjukan sikap rendah hatinya di sana tanpa mau menertawakan umur tua beliau.


"Bapak curiga sama kamu Tan! jangan-jangan kamu pakai pelet ya," ucap beliau tak logis.


"Hati saya selalu berseru kepada saya sendiri Pak, jangan pernah mengejar cinta menggunakan ilmu apa pun, apalagi ilmu hitam, dikarenakan cinta sudah ditakdirkan, bukan dikorbankan untuk mencintai seseorang dengan paksaan," Sultan menjeda ucapannya.


"Andai saja bapak tahu, kalau di Kampung saya kata pelet itu adalah umpan untuk menangkap ikan di sungai," ucapan Sultan terakhir membuat semua teman satu Kotanya tertawa tipis.


Mereka hanya menahan tawanya, dikarenakan mereka semua tak mau mencari-cari masalah dengan beliau, apalagi sikapnya itu sudah hampir sama seperti Pak Mukhsin, walaupun sikap tegas Pak Mukhsin lebih menyeramkan daripada beliau.


Sultan mulai memimpin barisan para siswa sesuai arahan dari beliau, namun di sana Sultan sempat dibuat terkejut oleh Aisyah, yang di mana dia masih saja menyimpan pulpen milik Sultan, bahkan dia masih menggunakannya untuk mencatat absensi kehadiran siswa di sana.


Sultan sempat tertawa tipis sembari tersenyum, namun pandangannya tak langsung memandangi raut wajah Aisyah.

__ADS_1


"Cerita dong sama Aisyah, apa yang lucu, soalnya Aisyah lihat dari tadi kamu tersenyum-senyum sendiri seperti itu," ucap Aisyah menunggu jawaban dari Sultan.


"Senyum itu ibadah, emangnya engga boleh ya, kalau saya tersenyum seperti ini? lagian senyum saya itu manis loh, emangnya engga mau di senyumin sama saya," ucap Sultan mencoba membuang pertanyaan dari Aisyah.


__ADS_2